JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kadal Api


__ADS_3

Dewi Mawar Hitam langsung melompat dan melesat menuju semak-semak. Mukanya memerah menyadari bagian atas tubuhnya telah terbuka sepenuhnya karena pakaian yang digunakannya hangus. Keadaannya sebenarnya sama dengan yang di alami keempar ketua aliansi lainnya. Bedanya, Dewi Mawar Hitam adalah satu-satunya perempuan.


Menyadari ketua perguruannya kabur menuju semak-semak, lima orang pendekar perempuan Mawar Upas yang berada tak jauh dari tempat tersebut saling pandang sebelum memutuskan menyusul ketua mereka.


“Kasmini, Cepat carikan pakaian untukku!” terdengar teriakan Dewi Mawar Hitam dibalik semak dan jelas ditujukan kepada salah satu dari kelima pendekar yang menyusulnya.


Kasmini, pendekar yang diperintahkan segera masuk Kembali ke medan pertempuran. Bukan untuk bertarung, namun melucuti pakaian salah satu mayat yang paling dekat untuk dipakai ketuanya.


Pertempuran sengit yang belum diketahui siapa lawannya tersebut terus berlangsung. Korban jiwa dari pihak aliansi aliran hitam terus bertambah. Mpu Jangger, Gandos, Kalapati, dan Piyut sedang disibukkan dengan puluhan kadal besar yang terus menerus menyemburkan api, membuat mereka kewalahan hanya untuk mendekati para pengendali hewan tersebut.


Mpu Jangger mengerutkan dahinya saat menyadari kelompok yang menyerangnya terasa tidak asing baginya. Tentu saja, karena para pendekar aliran hitam di pulau Padi Perak mengetahui bahwa hanya Putra Ki Renggolo sajalah satu-satunya tetua dari Sembilan Iblis Darah yang memiliki pasukan Kadal Api tersebut.


“Panunggul Sewu! Tunggu!.. Tahan seranganmu!” Empu Jangger berseru, mencoba menarik perhatian dari pimpinan kelompok yang menyerang mereka. Berharap bisa berdiskusi.


“Mpu Jangger! Rupanya sesepuh Segoro Geni bergabung untuk melawan Sembilan Iblis Darah!” reaksi tidak bersahabat justru ditunjukkan oleh Panunggul Sewu setelah melihat keberadaan Mpu Jangger di antara kelompok yang sedang diserangnya.


Tentu saja pernyataan tersebut mengejutkan tidak saja Empu Jangger yang makin kebingungan dengan maksud kata-kata Panunggul Sewu, namun juga anggota aliansi lainnya.

__ADS_1


Ternyata, ada dendam khusus antara kelompok Sembilan Iblis Darah dengan kelompok Segoro Geni. Anggota kedua kelompok Pendekar aliran hitam dari pulau seberang tersebut memang beberapa kali terlibat bentrok. Semua diawali dari peristiwa terbunuhnya salah satu putra dari petinggi kelompok Sembilan Iblis Darah oleh sesepuh Segoro geni karena perebutan pusaka Keris Kolocokro.


Melihat Panunggul Sewu bukannya berhenti menyerang malah justru kini mengarahkan senjatanya kepada Mpu Jangger ke tiga pimpinan aliansi lainnya segera mengambil Gerakan berpencar. Mereka lebih memilih melindungi kelompok masing-masing dengan cara menghadang serangan yang datang menuju kelompoknya.


Medan pertarungan kemudian menjadi semakin meluas setelah arah serangan dari pasukan kadal tidak lagi berpusat pada sisi belakang pasukan aliansi yang didominasi kelompok dari Segoro Geni tersebut. Kini arah serangan justru terbagi-bagi kepada setiap kelompok.


Suasana makin kacau. Usaha Mpu Jangger untuk membuka ruang dialog kandas. Mencoba berbicara sementara anak buahnya terus diserang jelas bukan sebuah pilihan yang baik. Maka, melawan dan balik menyerang adalah jalan satu-satunya.


Mpu Jangger yang awalnya ragu untuk menyerang balik karena khawatir akan menambah besar api permusuhan kedua kelompokpun akhirnya tidak memiliki pilihan lain. Pendekar sepuh itu melepaskan aura bertarung yang sangat besar. Namun ternyata, aura tersebut hanya berpengaruh terhadap manusia dan sama sekali tidak mempan bagi para kadal api.


Pertukaran serangan yang sama-sama berunsur elemen api segera terjadi. Ledakan-ledakan dari pertemuan dua kekuatan itu menghancurkan areal disekitarnya. Setidaknya, radius dua ratus meter di sisi pertarungan itu hancur dan menjadi lautan api.


Para pendekar segoro Geni tentu belum mengetahui, bahwa Kadal Api adalah hewan setengah siluman yang hidup dengan menyerap energi panas dan api. Mereka tinggal di kawah-kawah gunung berapi tertentu karena melimpahnya sumber panas dari lava maupun lahar.


Serangan-serangan dan pukulan energi dari kelompok segoro Geni, meskipun mampu mendorong para kadal api termundur satu-dua Langkah, namun justru hal itu membuat mereka bertambah kuat karena energi panas tersebut terserap ke dalam tubuh para kadal. Menjadi sumber energi baru bagi mereka. Ditambah dengan lingkungan sekitar yang kini telah menjadi lautan api, kekuatan para kadal itu semakin meningkat.


Kendatipun para kadal api tersebut seolah kebal terhadap serangan energi panas dari Segoro Geni, namun tidak demikian dengan para pengendalinya. Mereka ada yang mampu menangkis dan bertahan menerima serangan. Namun, ada juga beberapa yang tewas terkena pukulan tersebut.

__ADS_1


Kadal yang pengendalinya tewas kemudian menjadi liar dan semakin buas menyerang. Hal ini membuat para pendekar Segoro Geni semakin kerepotan dan terdesak.


Kelompok Mawar Upas tampak paling kerepotan menghadapi serangan yang diarahkan pada mereka. Senjata utama kelompok ini adalah racun yang diselipkan dalam serangan melalui benda-benda dan senjata kecil yang biasanya efektif digunakan pada manusia. Namun menghadapi kadal-kadal berkulit tebal yang bahkan tidak bisa ditembus oleh pedang biasa tersebut, membuat kelompok ini frustasi. Semua serangan mereka mental begitu saja saat mengenai kulit tebal hewan tersebut. Sedangkan serangan api dari kelompok kadal itu selalu memakan korban di pihak mawar Upas.


Dewi Mawar Hitam sendiri, sejauh ini baru bisa membunuh dua orang pengendali para kadal. Sialnya, kadal yang telah kehilangan tuannya tersebut menyerangnya dengan semakin liar dan ganas. Luka cakaran kadal api itu telah menghiasi beberapa bagian tubuh pendekar sakti tersebut sebelum dia berhasil membunuh satu di antara dua kadal tanpa pengendali ini. Sayangnya, saat dirinya berhasil membunuh salah satu kadal, kadal lainnya telah melemparkannya dengan sabetan ekornya ke tengah-tengah barisan para kadal lainnya.


Dewi Mawar Hitam sempat mendarat kasar dengan mengorbankan punggungnya yang membentur tanah keras. Perempuan tersebut berhasil menghindari hujan bola api sedetik kemudian dengan cara bergulingan di antara kaki-kaki para kadal besar tersebut, dan melentingkan tubuhnya Kembali ke tengah pasukan aliansi yangsedang berjibaku melawan ketakutan dan putus asa.


Kelompok rambut iblis juga tak kalah menderita. Kemampuan mereka yang biasanya efektif karena bisa membuat musuh bekerja untuk mereka, kini dibuat tak berkutik. Bermacam senjata yang biasa ampuh digunakan untuk menembus kulit musuh, pukulan tenaga dalam, bahkan perisai yang selalu melindungi tubuh mereka semuanya kandas. Lapisan logam pada perisai mereka bahkan meleleh saat digunakan menahan semburan api dari kadal. Satu-satunya senjata andalan mereka yang seharusnya efektif menghadapi para kadal hanyalah pasukan hantu. Namun, pasukan hantu tersebut tidak bisa digunakan di siang hari seperti saat ini. Benar-benar ini adalah hari terburuk bagi mereka dalam sejarah setelah bergabung dengan aliansi.


Gandos, sang Pendekar Belati Setan yang biasanya tidak pernah gagal dalam pertempuranpun menjadi kalang kabut dibuatnya. Senjata Belati yang biasanya mampu membunuh puluhan orang saat dilemparkan karena seolah memiliki ‘nyawa’ dan jiwa sendiri itu dibuat tak berkutik. Sejauh ini, dirinya hanya berhasil membunuh dua orang pengendali kadal dan seekor kadal api tunggangan mereka. Namun sebagai bayarannya, belati kesayangannya kini menjadi baja merah membara. Senjata itu Kembali menjadi seperti baja mentah yang belum diolah dan jatuh begitu saja di antara kawanan kadal. Tidak lagi bisa terbang seperti biasa.


Panunggul Sewu yang menyaksikan senjata terbang itu jatuh setelah terkena semburan bola api pasukan kadalnya, segera memungut dan menyimpannya. PEndekar tersebut ternyata memiliki mata jeli dan tahu betul nilai sebuah senjata, membuat mata Gandos kedutan sebelah menahan tangis.


Dari semuanya, tampaknya hanya kelompok dari perguruan Kala Merah dan Kelabang Hitam tampaknya yang cukup baik memberikan perlawanan. Berkat senjata mereka yang juga berupa hewan kecil, yaitu kelajengking, lipan, lebah beracun dan ular, gabungan kekuatan dua perguruan pengguna senjata biologis tersebut berhasil mengimbangi para kadal. Meskipun harus kehilangan lebih dari separuh hewan peliharaan yang mereka bawa kali ini, namun kedua kelompok aliansi ini berhasil membunuh setidaknya lima ekor kadal api berikut pengendalinya. Hanya lima ekor dari lebih seratus ekor kadal api. Namun itu jumlah yang lebih baik daripada tiga kelompok lainnya yang bahkan kewalahan sekedar menghadang bola-bola api yang disemburkan tanpa henti dari para kadal.


Saat kondisi semakin tidak menguntungkan pihak aliansi aliran hitam, tiba-tiba dari sisi belakang pasukan kadal api tersebut tampak melayang sesosok lelaki tua berambut putih dengan jubah hitamnya.

__ADS_1


Kehadiran sosok tersebut membuat udara tiba-tiba menjadi berat dirasakan semua manusia di dalam radius seratus meter dari sosok tersebut.


__ADS_2