
“Senior Lou, maafkan kami karena datang tanpa diundang..” Dana Setra diikuti Montawiraba segera memberi penghormatan kepada sosok yang baru saja datang.
Sosok ini datang dalam wujud seorang pria yang melayang di atas selembar daun teratai. Lengkap dengan air di bawah daunnya setebal tak lebih dari 10 senti.
Anehnya, sekalipun air itu terus menetes ke bawah dan membuat genangan mulai berkumpul di bawahnya, air yang melekat di daun teratai sendiri tidak berkurang.
“Apakah ini adik Dana Setra dari Gurun Barat?? Ah,.. kufikir kamu sudah tidak berada di dunia ini lagi..” Lelaki berjubah hijau di atas teratai perlahan melayang turun bersama teratainya sambil terkekeh.
“Maksud senior, senior mengira aku sudah kembali ke Lemuria?” Dana Setra mendekat ke arah Pendekar Lou yang kini telah turun dari atas teratainya, melangkah ke arah Dana Setra.
“Kufikir kamu sudah mati.. hahahaha...” Pendekar Lou memeluk sahabat lamanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Mereka berpelukan cukup lama. Keduanya adalah veteran sebuah misi perang melawan Mislan Katili hampir seribu tahun lalu. Keduanya memang sudah sangat jarang bertemu.
Terakhir kali mereka bertemu lebih dari dua ratus tahun lalu, saat Lou Shisan menjenguk Dana Setra di gurun barat.
Saat itu, Dana Setra kembali terluka akibat serangan seekor hewan iblis berjenis belalang pemakan kehidupan. Gurun barat tengah diserang kelompok hewan siluman berjenis belalang dalam jumlah besar. Menewaskan ribuan penduduk.
Serangan itu, langsung menurunkan angka populasi manusia gurun. Peradaban agung ribuan tahun, lenyap dalam waktu kurang dari dua bulan serangan.
Untungnya belalang itu berhasil dimusnahkan berikut ribuan telurnya berkat kerjasama lima orang pendekar Penjaga Gerbang yang tersisa. .
“Senior Lou, selama senior Lou masih ada, rasanya kematian akan sulit menemuiku.. hahahaha..” kini Dana Setra yang gantian tertawa.
Meskipun jika menyebut pendekar Lou di hadapan orang lain Dana Setra akan menggunakan panggilan ‘saudara Lou’, ketika berhadapan langsung Dana Setra akan memanggil Lou Shisan dengan sebutan senior.
__ADS_1
Hal itu karena umur mereka memang terpaut jauh. Di samping itu, kemampuan bertarung pendekar tabib itu juga sedikit di atas kemampuan rata-rata Ksatria Naga Gunung. Kendati belum pernah bertarung menghadapi pendekar Lou sendiri, namun Dana Setra meyakini dia tidak akan bisa menang tanpa luka parah.
Gelar Dewa Obat yang disematkan kepadanya juga bukan gelar asal sebut saja. Terbukti, kemenangan para pendekar Penjaga Gerbang saat melawan Mislan Katili ratusan tahun silam adalah berkat kemampuan pendekar Lou dalam memulihkan luka mereka secara ajaib.
Tanpa peran pendekar Lou, maka kematian para Pendekar Penjaga Gerbang ketika melawan Mislan Katili hampir bisa dipastikan.
“Senior terlihat awet muda. Ah, andai jarak kita dekat, maulah saya seawt muda senior ini..” Puji Dana Setra tanpa sungkan.
Yang dipuji justru tertawa lebih keras mendengarnya.
“Kau memang paling pandai mengambil hati, adik. Hahahaha..! Oh iya, siapa saudara junior kita ini?” Lou Shisan memang pendekar berkemampuan tinggi yang ramah. Dia tidak akan mengabaikan siapapun di sekitarnya sekalipun orang itu berkemampuan rendah.
“Hormat pada senior, saya Montawiraba dari generasi Muda Ksatria Naga Gunung! Sebuah kehormatan karena bisa berjumpa langsung dengan Dewa Obat!” Montawiraba menghormat lebih dalam, tak menyangka sang Dewa Obat akan menegurnya.
Li Jiang yang telah kembali siuman dari pingsannya keheranan melihat Dana Setra dan Montawiraba berbincang-bincang dengan seekor katak raksasa di atas teratai yang melayang. Dia sama sekali tidak mengetahui, bahwa katak yang dilihatnya adalah wujud lain dari sang Dewa Obat yang dikiranya sudah mati. Kakek Guru dari gurunya.
Memang, Lou Shisan akan dikenali sebagai seekor katak raksasa oleh mereka yang berkemampuan di bawah pendekar sakti. Dia sengaja melakukan hal itu, agar orang yang menjadi murid langsungnya paling tidak berada di level pendekar sakti.
Di bawah level itu, para murid hanya akan dibimbing oleh murid dari ketiga muridnya yang kini mulai tersebar di beberapa wilayah. Kendi Emas sendiri, guru dari Li Jiang adalah satu dari tiga murid langsung Dewa Obat. Sayangnya kemampuannya terhenti hanya di level pendekar sakti. Sama seperti kebanyakan pendekar di dunia ini.
Satu murid Dewa Obat yang lain cukup beruntung karena berhasil menembus level berikutnya dari pendekar bumi, setelah tanpa sengaja terseret arus energi teleportasi yang digunakan Pendekar Lou saat kembali ke Dunia Danyang. Murid inilah yang kemudian mendirikan padepokan Pinang Mas, sekaligus guru dari Nyi Suntari.
Satu murid lainnya adalah murid misterius. Tidak dikenal oleh dunia persilatan. Namun, konon murid ini adalah yang paling hebat di antara ketiganya. Bahkan disebut-sebut bahwa murid ini karena kemampuannya yang langka akhirnya diambil murid oleh guru dari Dewa Obat sendiri. Artinya, sang murid kini telah menjadi adik seperguruan dewa obat.
Dana Setra dan Montawiraba dibawa oleh Pendekar Lou menuju sebuah tepian kolam, tak terlalu jauh dari tempat mereka bertemu. Seluruh permukaan kolam itu dipenuhi oleh tanaman teratai, bukan hanya satu warna tetapi berwarna-warni.
__ADS_1
Sepertinya, seluruh jenis teratai di dunia saat ini ada di kolam ini.
“Kolam teratai ini adalah karya murid terakhirku. Entah kenapa dia begitu menyukai tanaman teratai. Dia bahkan menciptakan sebuah pil obat dengan dasar tanaman teratai. Karena hal itu pula, guruku tertarik untuk menjadikannya murid langsung. Luucu sekali.. hehehe...” Pendekar Lou terkekeh sendiri mengenang muridnya.
Dia mengajak kedua tamunya untuk segera memasuki air kolam, namun keduanya terlihat ragu-ragu.
“Apakah Kalian menyadari bahwa murid sialan tadi melihat kalian dengan aneh karena berbincang denganku? Hahahahaha...! Dalam pandangannya, aku hanyalah seekor katak besar, hahahahaha...!” Pendekar Lou menjelaskan situasinya.
Montawiraba dan seniornya hanya diam mendengarkan.
“Tidak ada manusia di sekitar sini yang menyadari kehadiranku, kecuali Kendi Emas. Orang mengenalnya sebagai tabib terhebat di wilayah ini. Bagi mereka, aku gurunya sendiri sudah mati. Toh tidak juga masuk akal bagi manusia di sini kalau ada yang mengatakan aku masih hidup, bukan? Orang yang hidup ratusan tahun adalah mustahil di dunia ini. Jadi, aku lebih senang menyembunyikan diri dalam wujud katak besar dari pada sebagai manusia..” Pendekar Lou menghentikan ceritanya. Lalu menoleh ke belakang.
Dua orang itu masih di belakang sana, tidak mau memasuki kolam teratai.
“Senior.. Apakah kami akan menjadi katak juga kalau memasuki kolam ini?” Dana Setra memberanikan diri bertanya.
Bukan apa-apa, dirinya dan Montawiraba baru saja melihat, seekor celeng hutan berubah menjadi katak hitam saat moncongnya menyentuh permukaan kolam. Bukan hanya itu, seekor burung bangau putih juga berubah menjadi katak di depan mata mereka.
Seolah, kolam ini adalah kolam kutukan katak!
“Telan ini!” Lou Shisan melemparkan dua buah pil berwarna perak ke arah Dana Setra dan Montawiraba.
Keduanya memandangi pil di tangan masing-masing, sedikit bingung.
“Telan itu, dan kalian akan tetap menjadi manusia” Lou Shi San menjelaskan karena melihat kebingungan di wajah dua sahabatnya itu.
__ADS_1