JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Segel Apa?


__ADS_3

Di salah satu sudut desa, seorang laki-laki tua tampak sedang menghadapi pasukan mayat hidup. Dia tampak berusaha melindungi seorang lelaki lain di belakangnya yang seumuran dengannya. Mayat hidup yang dihadapinya tersebut adalah bagian dari mayat-mayat hidup lainnya yang menyerang desa Air Katuan. Lelaki tua itu adalah tabib Mo You yang saat itu sedang menangani proses pengobatan bagi tetua Shou dan kebetulan melintasi desa tersebut. Nahas, mereka melewati desa justru saat desa itu diserang.


Tetua Shou sendiri, untuk memulihkan kekuatannya harus kembali ke sektenya karena luka yang dialami tetua shou paling berat adalah kerusakan pada kekuatan roh-nya. Secara fisik, lukanya sudah sembuh lebih dari 70 persen, namun memulihkan kekuatan tetua shou harus dilakukan beberapa orang secara bersama.


Dalam perjalanannya, mereka berhadapan dengan mayat-mayat hidup yang menyerang mereka dengan brutal. Beruntung, tabib Mo mampu menghadapi serangan itu dengan kemampuan beladirinya yang mumpuni. Bahkan mereka sudah bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan sebelum sebuah tekanan besar tiba-tiba mendominasi udara di sekitarnya. Tak lama kemudian, muncul sosok lelaki berambut putih namun dengan tubuh yang cukup berotot, sekalipun tidak kekar seperti orang berusia muda. Sosok itu adalah Karang Setan.


“Hahahahaha... Akhirnya aku bertemu lagi dengan tikus-tikus ciptaan si curut Liu Feng!” Suara Karang Setan Menggelegar mengahadang perjalanan keduanya.


Liu Feng adalah leluhur pendiri Sekte Naga merah, tempat bernaung dari tetua Shou. Entah ada dendam apa antara Karang Setan dan Liu Feng ini, yang jelas sepertinya Karang Setan sangat menginginkan kematian dari tetua Shou yang dikenali sebagai orang-orang sekte Naga Merah.


“Kau... kau.. Berani lancang menyebut nama leluhur kami!” Tetua Shou tentu saja emosi leluhurnya digelari tikus curut oleh orang yang tidak dikenalnya. Selesai mengucapkan kata-katanya, tetua Shou ambruk ke tanah dan berlutut tanpa dikehendakinya. Rupanya tekanan dari Karang Setan memaksanya untuk berlutut.


“Serahkan segel itu!” Kembali suara Karang Setan terdengar disertai kilatan energi menyambar dari jari telunjuknya ke arah dada tetua Shou.


Melihat ini, Tabib Mo segera bertindak dengan memblokir serangan kilat tersebut.


‘Blesss..’


Kilatan energi serangan karang setan berhasil ditangkis.


“Segel apa maksudmu, orang asing?” Tetua Shou akhirnya bicara.


“Jangan mencoba menipuku dan pura-pura tidak tahu! Serahkan!” Kembali Karang Setan menghardik tetua Shou diikuti serangan kilatan energi lainnya yang muncul dari jarinya.


Untuk kedua kalinya, Tabib Mo menghalangi serangan tersebut.


Namun, kali ini tindakannya membuat Karang Setan menjadi murka. Diarahkannya telapak tangannyake arah Tabib Mo dengan tatapan kemarahan.


“Jangan coba ikut campur!!” Bentak Karang Setan kepada Tabib Mo diikuti melesatnya energi hitam keunguan dari telapak tangannya menghajar posisi tabib Mo You. Serangan pertama dihindari Tabib Mo dengan berguling. Namun pada serangan kedua yang hanya memiliki jeda kurang dari satu detik itu, Tabib Mo terlambat mengelak. Tabib Mo menyilangkan kedua tangannya ke dada mengerahkan kekuatannya untuk memblokir dan menangkis serangan itu.


‘BHUM! BHUM! DUAR!!


Ledakan hebat terjadi saat energi pukulan Karang Setan bertemu dengan tubuh tabib Mo. Bola api serupa cendawan membumbung ke angkasa seusai benturan. Tubuh tabib Mo terpental ke belakang beberapa puluh meter dan tabib tua itu tewas seketika.


“Baiklah! Kufikir benda itu tidak ada padamu. Mungkin, kau bukan tetua Naga Merah yang dimaksud anak buahku!” Karang Setan hanya berkata dengan dingin sebelum kembali menghilang tanpa jejak seperti kemunculannya. Namun, selepas Karang Setan menghilang, tetua Shou memegangi perut dan dadanya bergantian. Rupanya Karang Setan telah menyerangnya untuk membunuhnya sebelum menghilang pergi.


++++++++ +++++ +++++ ++++++ ++++++++


‘Aku tidak akan mati di sini, bukan? Heh,.. setan tua ini, bagaimana dia bisa sekuat ini?’ Gentayu membatin, mencoba berdiri tegak. Matanya menatap Karang Setan yang mulai melayang turun.

__ADS_1


“Hei bocah! Kau apakan tongkat pencabut sukmaku?!” Karang setan memandang Gentayu dengan sorot mata penuh kemarahan. Tongkat yang menjadi salah satu senjata rahasianya teronggok seperti barang rongsok begitu saja. Tidak bisa digunakan lagi.


“Hei, tua busuk! Bahkan kau juga akan kubuat seperti tongkat butut itu!” Gentayu berseru dan melepaskan seluruh aura kekuatannya. Dengan melepaskan aura kekuatannya itulah, dia berhasil melepaskan diri dari tekanan karang Setan yang seolah membuat udara di sekitar menjadi lebih berat!


Gentayu meluncur menerjang ke arah Karang Setan. Secepat kilat dia memunculkan pedang satam di tangannya dan menebaskannya ke arah Karang Setan dengan kekuatan penuh. Kilatan-kilatan energi pedang satam yang tidak lagi berkilau putih melainkan menjadi berwarna hitam keunguan menerjang dan menebas ke arah Karang Setan.


Namun serangannya hanya mengenai udara kosong karena pendekar tua itu tiba-tiba menghilang dan telah berpindah tempat. Namun dampak dari serangan itu bagi lingkungan sekitarnya cukup mengerikan. Setiap kali pedang tersebut menebas udara, energinya menghancurkan apapun yang dilewatinya. Rumah penduduk, mayat hidup yang terus bermunculan, batuan besar bahkan gundukan tanah yang menjadi tempat jatuhnya Gentayu beberapa saat lalu semuanya hancur dan menjadi debu beterbangan di uadara malam. Ternyata energi hitam Gentayu lebih cocok saat memainkan pedang satam tersebut dibandingkan menggunakan energi aliran putih yang selama ini dipelajari dan dimilikinya.


Tidak ada lagi penduduk yang berada di sekitar area pertarungan itu. Bahkan Kardak yang beberapa saat lalu ikut bertarung melawan karang Setan harus mengungsikan rekannya, Winamar ke tempat aman agar tidak menjadi korban salah sasaran dari pertempuran kedua manusia berenergi hitam itu. Demikian juga mayat hidup yang semula menyerang desa sepertinya memiliki kesadarannya untuk menghindari arena pertempuran itu.


Menghadapi pedang Satam milik Gentayu, Karang Setan terlihat waspada. Pendekar tua berusia ratusan tahun itu tampak lebih memilih menghindari tebasan pedang tersebut daripada menangkisnya. Melihat hal itu, Gentayu mendapatkan sebuah ide di kepalanya. Dia segera memperpendek jarak dengan Karang Setan, karena sepertinya pedang pusaka warisan milik gurunya ini begitu ditakutinya.


Gentayu mempercepat tempo permainan pedangnya. Bagaimanapun juga lawannya adalah pendekar senior dengan kekuatan yang lebih besar. Gentayu merasa bahwa sebentar lagi, pasti energi yang dimilikinya juga segera terkuras mengingat setiap tebasan pedangnya menggunakan tenaga yang cukup besar. Maka kecepatan adalah satu-satunya peluangnya untuk bisa bertahan hidup saat ini.


Kecepatan Gentayu yang meningkat nyatanya belum cukup untuk mengimbangi kecepatan lawannya. Ketika jarak pertarungan itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba Karang Setan menghilang dari pandangan mata. Benar-benar menghilang seolah tak pernah ada. Bahkan energinya pun tidak dapat dirasakan kehadirannya. Gentayu mengedarkan pandangannya ke sekitar, telinganya menjadi lebih mawas dan genggaman tangannya pada pedang semakin erat. Gentayu mewaspadai pergerakan tiba-tiba dari Karang Setan. Gentayu berfikir, pendekar tua itu akan membokongnya dari belakang.


‘Kemana dia menghilang?’ Gentayu celingukan setelah beberapa saat lamanya tidak ada pergerakan atau tanda-tanda Karang Setan akan melakukan serangan tiba-tiba. Posisinya berdirinya saat ini telah bergeser menjauh dari titik awal pertarungannya.


Gentayu bermaksud hendak menurunkan pedangnya, saat tiba-tiba terdengar sura ledakan dan dentuman di tempat lain, cukup jauh dari tempatnya berdiri.


‘BHUM! BHUM! DUAR!!


Gentayu segera melesat untuk memeriksa apa yang terjadi saat tiba-tiba kakinya menjadi berat.


“Mau kemana kau?” Suara Karang Setan kembali terdengar saat Gentayu hendak melangkah pergi.


Gentayu menoleh, dan menemukan sosok pendekar tua itu melayang di tempat dia menghilang barusan. Tangannya kini telah menenteng tubuh seseorang dan dilemparkannya ke arah Gentayu.


‘Bruk!’


Sesosok tubuh tak bernyawa dilemparkan dan segera tergeletak begitu saja di dekat kaki Gentayu. Tubuh Gentayu bergetar begitu melihat sosok mayat tersebut. Dia mengenali sosok ini dari pakaiannya. Ini adalah jenazah Tabib Mo. Tidak salah lagi, ini memang jenazahnya! Apa yang terjadi dengan tabib Mo? Bagaimana dengan tetua Shou? Bagaimana.... sederet pertanyaan menggayut di kepala Gentayu. Namun tentu musuh di depannya saat ini lebih penting untuk diurus saat ini.


“Jangan harap bisa kabur dari tempat ini, bocah! Orang ini bermaksud mencampuri urusanku, sama seperti dirimu! Jadi aku membereskannya terlebih dahulu sebelum menghabisimu!” Suara Karang Setan menggelegar. Masih dipenuhi kemarahan dan kebencian kepada Gentayu.


Gentayu tidak lagi menyahut. Diangkatnya pedangnya tinggi mununjuk ke angkasa. Mulutnya berseru:


““*Wahai jiwa-jiwa lemah.


Melangkah tiada arah

__ADS_1


Dalam noda-dosa sejarah tiada sudah


Engkau pongah selaksa gagah


Namun akulah


Akulah Sang penebus darah


Dalam langkah pedang para ksatria


Aku datang dari gelap jiwa durjana


Rembulan kubelah dan Mentari kucacah


Dengan lantunan nada syair berdarah


Maka menjadilah syairku


Syair Kematian*...”


Ya, itu adalah bait syair kematian yang melintas begitu saja di kepalanya dan terucap secara spontan dari mulutnya seolah ada yang menggerakkannya untuk melafalkannya.


Awalnya, Karang Setan hanya mendengarkan saja karena mengira bahwa syair tersebut hanyalah ucapan putus asa. Namun dia menjadi terkejut saat merasakan energi asing dan sangat kuat mendadak menyergapnya. Dia segera sadar, itu bukan syair biasa, namun syair beladiri. Tepat saat Gentayu menyelesaikan syairnya, Karang Setan merasakan seluruh inderanya tidak berfungsi.


Gentayu sendiripun terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan Karang Setan akibat pengaruh dari jurus Syair Kematian ini. Iblis tua itu tidak langsung menyerang Gentayu, malah terduduk dan segera mengambil posisi meditasi. Karang Setan sedang berusaha menetralisir pengaruh dari syair kematian yang terlanjur bersarang di panca inderanya yang kini sudah tidak berfungsi.


‘ini kesempatanku’ batin Gentayu.


Kali ini, Gentayu mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa pada dirinya. Ini akan berarti satu diantara dua kemungkinan, Karang Setan yang kalah atau Gentayu yang musnah.


“Matilah Kau, tua busuk!!” Gentayu Segera mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Karang Setan.


‘Trakkk!!!’


‘BLARRRRR....!!!’


Pedang Satam berhasil menyentuh batok kepala Karang Setan yang sedang dalam posisi seperti bermeditasi. Suara seperti batok kelapa keras yang pecah terdengar saat terjadi sentuhan kulit kepala Karang setan dengan pedang satam, diikuti dengan ledakan energi yang dahsyat! Ledakan energi tersebut bahkan menghancurkan areal sejauh hampir 1 kilometer memanjang di depannya searah tebasan pedang..


Gentayu sendiri langsung terpental ke belakang!

__ADS_1


Dadanya terasa sesak, merasa seperti tertekan benda berat. Rasa ngilu menjalar disetiap tulangnya. Jantungnya berdegub dengan kencang. Bukan karena takut. Bukan karena khawatir apalagi berdegub seperti laki-laki yang melihat wanita cantik, bukan seperti itu. Degub jantungnya menjadi lebih cepat karena memang tubuhnya telah mencapai ambang batasnya. Seluruh energinya dipaksakan untuk serangan pamungkasnya barusan. Kini nafasnya mulai tersengal. Keringat telah mebasahi sekujur tubuhnya. Matanya mulai kabur. Gentayu akhirnya roboh ke tanah.


__ADS_2