
"Apa sebenarnya ini??"
Wajah Gentayu menjadi lebih buruk setelah menyadari upayanya menghancurkan buih aneh itu menggunakan energi petir sia-sia.
Di sisi lain, saat melihat ukuran buih yang menjadi setidaknya tiga kali lipat lebih besar dari ukuran awalnya, Gentayu seolah mendapatkan sebuah pemahaman.
'Apakah benda aneh ini membesar karena petir tadi, ataukah memang sejak awal benda ini memadatkan diri seukuran ibu jari, lalu terpaksa kembali ke ukuran semula karena petir?
Lagipula, energi dinginnya terus meningkat seiring ukurannya yang membesar.. Jika suhu dingin ini terus bertambah, aku mungkin akan benar- benar mati karena darahku membeku'
Gentayu merasa tak berdaya, namun dia menolak menyerah.
Diangkatnya sekali lagi 'Karambuik Halilintar' miliknya ke langit.
Awan petir sekali lagi berkumpul dan melonjak dengan suara gemuruh yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
'JELEGAR!!. '
Suara ledakan petir menyambar kembali terdengar ketika Gentayu menggerakkan Karambuik Halilintar atau kerambit petirnya.
Arus petir sebesar lengan menyambar ke arah ujung jari Gentayu, di mana buih aneh itu menempel seolah tak mau lepas.
Saat petir ganas itu menabrak ujung lengannya, meskipun tidak terkena kontak langsung, tapi seluruh tubuh Gentayu menegang dibuatnya.
Sel-sel di tubuhnya, bahkan darah dan tulangnya serasa dihancurkan oleh sambaran petir tersebut.
Mungkin andai petir itu menghantam langsung tubuhnya, Gentayu akan benar-benar hancur.
Beruntung, perasaan dihancurkan itu hanyalah efek sisa saja dari sambaran petir dahsyat ke buih aneh tersebut, bukan serangan langsung.
Karena memiliki elemen petir di dalam tubuhnya, Gentayu tidak mengalami luka berarti dari menerima efek sisa serangan petir ini, sekalipun kekuatan petir itu sebenarnya sudah jauh di luar kemampuan tubuhnya untuk menahan.
Buih putih aneh tersebut hancur tersebar begitu petir menghantamnya.
Namun, seperti kejadian sebelumnya, beberapa saat setelah sambaran petir, buih aneh yang telah buyar ke segala arah itu kembali menyatu.
__ADS_1
Ukurannya juga menjadi tiga kali lebih besar dari sebelumnya yang hanya seukuran setengah kepalan tangan, kini telah tumbuh membesar tiga kali lipat menjadi seukuran dua genggaman tangan orang dewasa.
‘Apa?! Apakah.. apakah energi petir tersebut membuat buih aneh ini tumbuh membesar?’
Gentayu tergagap melihat betapa cepatnya buih aneh menyatu kembali setelah tercerai berai, sekalipun sebenarnya telah memperkirakan kemungkinan seperti ini sebelumnya.
'Bukankah itu berarti, buih ini bahkan tidak bisa dihancurkan oleh energi merusak dari petir?' gumam Gentayu seraya tersenyum pahit.
Hati Gentayu tiba-tiba bergidik, terlebih ketika menyadari bahwa hawa dingin kini menyengatnya puluhan kali lipat lebih kuat dari awal pertama buih itu menempel di ujung jarinya.
Saat ini, hawa dingin itu bahkan dengan cepat mulai perlahan-lahan menggerus kesadarannya.
Merasakan dingin tak tertahankan yang serasa membekukan darah bahkan cairan otaknya itu, Gentayu segera dengan paksa mengerahkan seluruh kemampuan energi apinya sekali lagi, dan mengedarkannya ke seluruh tubuhnya guna mentralisir hawa dingin di tubuhnya.
Namun, bahkan setelah seluruh tubuhnya berhasil diselimuti oleh energi api yang kekuatannya cukup untul melelehkan batuan menjadi cair itu, pekatnya hawa dingin itu tak kunjung berkurang.
Seolah-olah hawa dingin yang dahsyat ini memang bermakaud untuk membekukan seluruh tubuhnya, sehingga suhu dinginnya terus meningkat mengikuti arus perlawanan tubuh Gentayu.
Setelah saling menekan antara panas dan dingin selama kurang dari tiga menit, Gentayu merasakan energi apinya terus ditekan tanpa sanggup melawan lagi.
Kristal es perlahan mulai terbentuk di seluruh bagian tubuhnya. Bahkan, keringatnya pun kini telah berubah menjadi bulir-bulir es. Energi apinya sama sekali dibuat tak berdaya di hadapan buih aneh itu.
Upayanya menggunakan energi api untuk mentralisir dingin benar-benar sia-sia. Karena semakin ditekan oleh api, energi dingin buih itu bukan berkurang justru makin kuat menyengat.
Saat rasa putus asa dan tak berdaya mulai menyelimuti hatinya, kejutan lainnya terjadi.
Buih aneh itu tiba-tiba saja melompat dari ujung jari Gentayu, lalu melesat secepat kedipan mata dan menabrak dadanya.
Gentayu tidak sempat melakukan blokade atas serangan mendadak buih aneh itu. Buih itu menabrak dadanya diiringi suara teredam ringan.
'BAM!'
Hasil tabrakan itu membuat tubuh Gentayu terdorong mundur beberapa langkah sebelum berhenti karena menyentuh dinding goa di belakangnya.
Tak ada erangan kesakitan, karena kesadaran Gentayu memang mulai memudar saat itu. Hanya matanya terlihat mendelik menahan sakit.
__ADS_1
Namun, Gentayu tidak segera pingsan. Bahkan hawa dingin yang menyerangnya perlahan mulai menghilang bersamaan dengan lenyapnya buih tersebut dari pandangan Gentayu.
Gentayu celingukan mencari ke bagian dadanya, namun buih itu benar-benar telah menghilang.
Dirinya baru akan bernafas lega karena gangguan telah menghilang, namun suara asing bergema di benaknya.
“Terimakasih sudah membebaskanku dari segel! Walau masih ada dua segel lagi, namun aku sudah bisa menggunakan sebagian kekuatanku! Hahahaha...!”
Gentayu memeriksa dirinya sekali lagi dan akhirnya tertegun ketika menemukan bahwa ada hawa dingin di dadanya saat ini.
“Jangan khawatir, bocah! Aku telah melihat bahwa tubuhmu cukup unik dan kuat. Mampu menyerap, mengaktifkan bahkan menggunakan energi api dan petir bersamaan. Tidak buruk, tidak buruk!
Tubuhmu memang telah tumbuh cukup kuat kecuali bagian hatimu. Maka aku memilih bersemayam di sini dan melindunginya! Setidaknya, bahkan jika kamu harus menghadapi musuh terkuat dan jantungmu dihancurkan sekalipun, kamu tidak akan mati selama aku di sini! Hahahaha...!!”
Mendengar kembali suara asing itu, Gentayu tak tahu lagi harus berbuat apa.
Dia tentu saja tidak akan mempercayai begitu saja benda asing yang tiba-tiba berdiam di salah satu organ pentingnya.
Belum lagi, benda asing itu tidak berhasil dihancurkannya dengan kekuatan terkuatnya sehingga perasaan terancam terus membayanginya sebelum dia berhasil menyingkirkan buih itu dari tubuhnya.
Mendesah tak berdaya, rasa penyesalan benar-benar menetap di hati Gentayu saat ini. Menyesal karena ceroboh menyentuh buih misterius yang akhirnya menjadi rasa cemas menghantui selama hidupnya sejak itu.
Dengan lesu, Gentayu akhirnya beringsut meninggalkan mulut goa itu setelah beristirahat sebentar.
Keinginannya untuk memperkuat elemen petirnya telah menghilang karena insiden buih aneh tersebut.
Dirinya bermaksud untuk segera keluar dari hutan petir, namun sebelum benar-benar meninggalkan lokasi goa itu, suara langkah kaki yang berat terdengar samar-samar dari kejauhan, membuatnya menghentikan langkahnya.
Gentayu menoleh, dan menemukan pohon dan semak belukar di belakangnya bergetar sebelum tersibak ataupun roboh ke tanah.
Seiring makin dekatnya suara langkah berat tersebut, tanah di sekitar tempat itu mulai bergetar. semakin lama, getaran terasa semakin kuat seiring mendekatnya suara langkah itu.
'Masalah apa lagi, ini?'
Gentayu mengeraskan rahangnya seraya mengepalkan tangannya erat-erat.
__ADS_1
Perasaan terancam perlahan mulai bangkit dari dalam dirinya saat menatap ke arah sumber suara.
Saya upload chapter ini sejak Jumat pagi sekitar pkl.05.30, Namun sampai detik ini jumat sore pkl.16.35 naskah blm juga di approve. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya