
Kini El dan juga Umi Abahnya sudah berada di dalam pesawat mereka semua duduk di bangku bisnis class
El duduk si sebelah Uminya, sedangkan Abahnya ada di bangku sebrangannya
Zain awalnya ingin di sebelah Jihan, secara mereka gak bisa di jauhkan, tapi El tadi sudah duduk duluan, di sebelah Uminya
Awalnya mereka sempat berebut kecil, cuman mata tajam Jihan langsung melotot pada keduanya hingga akhirnya Zain yang ngalah
Bukan hanya Al dan Zain yang berebut Jihan sewaktu Al masih kecil, tapi kedua ornag dewasa itu sampai saat ini masih memperebutkan bidadari sat satunya di rumah
Pesawat sudah take Off setengah jam yang lalu, El dan Jihan masih ngobrol ringan, dan membicarakan masalah kuliah mereka yang sebelumnya terpotong karena panggilan untuk boarding pesawat yang mereka tumpangi
" Terus sama Heny kamu masih komunikasi kan nak??" tanya Jihan pada El
El tidak langsung menjawab , karena jujur saja El susah hampir 1 bulan tidak mengetahui kabar Heny,
Selain sibuk, Heny juga di pesantren dan Tidak leluasa kalau mau mengetahui kabarnya,
Terutama kalau hari Jum'at di hari Libur kekhilafan El terus muncul untuk menyaksikan Live dari Zula yang hanya seminggi sekali
Di Hari selasa sebenarnya Heny juga libur, tapi El justru sibuk dengan jadwal kuliahnya yang sangat padat, sehingga tidak bisa menemani atau menghubungi Zula hanya sekedar memberi dan mengetahui kabarnya
" El... Kamu gak lagi ada apa apa kan sama Heny " tanya Jihan lagi pada El melamun
El langsung terbuyar lamunannya, dan kaget serta bingung mau jawab apa
" Ya baik baik aja, tapi kan saat ini kami masih LDR mi, ya jarang komunikasi, apa lagi jumpa" jawab El apa adanya
Dan El juga was pada akan dirinya yang bakalan kena omelan dari Umi kesayangannya itu
Pluk......
Satu kali lemparan bantal dari Zain mengenai muka El yang ada di seberangnya
El seketika menoleh pada Zain dan
" Pindah sini gantian Abah yang situ.." ucap Zain pada El untuk pindah tempatnya
El tidak langsung menjawab dan masih mematung berfikir sejenak
" Okey lah... Dari pada Umi tanya lebih lanjut, mending pindah aja, gak kena amukan dan omelan " batin El mencari aman
" Iya ya... Baru setengah jam.. udah gak tahan aja sih Bah..." ucap El sembari berdiri
__ADS_1
Jihan yang melihat langsung geleng geleng kepala karena tingkah suaminya yang memang gak mau jauh darinya
" Iya Bentar..." jawab El sambil melepas seatbelt nya dan berdiri menghampiri Abahnya
" Sana Pindah.... Serakah.." ucap El pura pura kesal padahal dalam hati bersorak ria
" Tiap hari juga udah berdua, cuman 9 jam masih gak mau di pisahkan lagi" gerutu El pada Abahnya yang juga sedang berdiri
" Anak sholeh.." jawab Zain singkat sambil menepuk pundak El lembut
Dan Zain kini sudah menempelkan bokongnya di kursi sebelah istringa
" Segitunya gak mau ngalah sama Anaknya?" tanya Jihan pada Zain dengan tersenyum jahil
" Ya Abahnya juga mana tahan, 9 jam gak dekat dan gak peluk Umi" jawab Zain santai sambil menggoda Jihan
Cuiiit..... Satu cubitan langsung mendarat di pinggang Zain dari tangan kepiting Jihan yang tidak pernah mau beribah menjadi tangan cumi
" Akh........." Desah Zain di telinga Jihan
Bukan sebuah keluhan kesakitan tapi melainkan suara lembut yang membuat Jihan merinding
" Apaan Sih.... Bah..." ucap Jihan geli
Jihan langsung melotot tajam, suaminya sudah mulai kumat lagi mesumnya dan
" Enggak...." jawab Jihan cepat
Zain tersenyum jahil dan memencet tombor kursi milik Jihan, sehingga membuat tempat kursinya membentuk tempat tidurr atau berbaring lurus
" Bah.... Gak usah aneh aneh... di tahan" ujar Jihan pada Zain
Zain tidak menjawab dan terus tersenyum sambil meluruskan kursinya agar sejajar dengan milik istrinya, tak lupa menutup pembatas kursinya agar tidak di lihat orang lain
Zain langsung menyelimuti Jihan dengan lembut dan duduk di hadapan Jihan,
Jihan masih tercengang polos dan mempersiapkan apa yang akan suaminya lakukan padanya
Jihan gak mau menolak, takut dosa dan takut kehilangan kesenangan dunia atau surga dunia
Zain masih terduduk dengan menghadap Jihan, yang mana kakinya juga di selimuti , selimut tebal yang di sediakan oleh maskapai
Tangan Zain Mulai mengelus lembut wajah ayu Jihan, yang nampak putih bersih tanpa ada jrawat maupun kerutan yang menjafi penghalang mulusnya wajah Jihan
__ADS_1
Cup cup cup.....
Beberapa kali kecupan Zain berikan pada Jihan, mulai bagian pipi kanan dan kiri kening serta kepalanya dan menempelkan kedua hidung mancung mereka
Zain lanjut menggeser kebawah penghadang antarankursi dirinya dan juga kursi Jihan, agar bisa tidur berdua dengan istrinya tanpa ada penghadang di antara keduanya
" Di pesawat serasa di kasur ya..." sindir Jihan di saat Zain sudah mulai mendekat dan memasang bantalnya di dekat bantal Jihan
" Gimana? Mau sewa kamar pesawat sekalian?? Biar tuntas sekalian?" Tanya Zain balik membuat Jihan kembali melotot tajam
" Apanya yang di tuntaskan?" Sentak Jihan cukup kaget
" Apa lagi kalau bukan surga dunianya sayang.... Udah lebih dari 20 tahun lho kita menikah, gak peka amat masalah ranjang" kawab Zain santai sambil menaik turunkan alisnya
Jihan tidak menjawab dan menolehkan wajahnya ke samping agar tidak terlihat merah wajahnya yang sudah merona karena malu
" Sebenarnya Emang gak peka apa pura pura gak tau sih" kesal Zain sambil mendekap Jihan
" Hadap sini coba... Sini hadap sini..." ucap Zain menolehkan wajah Jihan kehadapannya
Jihan malah pura pura merem tanpa mau menoleh pada Zain
" Hadap sini lho..." ucap Zain lagi sambil menggelitiki Tubuh Jihan
" Hahaha... Apaan sih.... Bah... Hahha.. Geli bah... " ucap Jihan tertawa kegelian
" Makanya hadap sini" jawab Zain berhenti menggelitiki Jihan
" Kenapa??" Tanya Jihan pasrah
" Ayo bobok... " Jawab Zain kembali mendekap Jihan dan menutup tubuh keduanya dengan selimut untuk tidur dan sambil menunggu pesawat landing
Di sebelah El masih bingung dengan perasaannya saat ini kepada Heny, dia merasa bersalah, tapi El gak bisa memungkiri lagi kalau saat ini dia juga merasa gimana dengan hatinya pada Heny
Jujur saja, setelah mengenal Zula dalam dunia maya saat ini, El merasa kalau Heny justru terabaikan, dan malah fokus pada Zula dan lupa dengan janjinya pada Heny tentang waktu yang siap menemani Heny dan menjadikan Heny sebagai halalnya
El makin bimbang saat ini, dia tau kalau Zula selalu menunggunya bahkan setia kepadanya,
Dan dia tau kalau Dirinya juga salah malah memindahkan hatinga pada orang lain,
Di satu sisi El kasian pada Heny, tapi hati tidak bisa di bohongi lagi, hati El mengajak untuk mendekati Zula, bahkan meminta untuk memperjuangkan biar bisa mendapatkan Zula
Padahal sampai saat ini El sendiri belum mendapat kontak pasti dari Zula karwna masih sama dengan followers lainnya yang hanya di anggap sebagai pendukung Zula,
__ADS_1
" Apa gue akhiri aja ya hubungan gue dengan Heny??" batin El bertanya pada dirinya sendiri, yang merasa kasian aklau Heny mungkin gelisah sudah lama tidak mendapat kabar darinya