Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
Putune Toha


__ADS_3

Yasmin mamin tercengang mendengar ucapan Al yang begitu serius, bahka sampai terlupa kalau kado hadiah dari calon ibu mertua belum juga di buka, bahkan terhenti karena ucapan Al barusan


" Khitbah??" tanya Yasmin gugup


Al melihat jelas wajah gugup Yasmin yang begitu menggaskan, kasian juga sepertinya Yasmin mendapat serangan jantung yang dadakan kali ini


" Mau gak?? " goda Al lagi


Al tau, Yasmin belum siap apa lagi mereka pacaran juga belum lama, baru beberapa bulan bahkan minggu, dan itu waktu cukup singkat kalau harus menuju ke jenjang serius


" Habis itu langsung ??" tanya Yasmin masih belum percaya dan menutup kedua tangannya


" Nikah... Setelah Abang Wisuda nanti" jawab Al santai makin membuat Yasmin merona cemas ketakutan


Yasmin ingin mengiyakan tapi dia masih sekolah, baru beberapa bulan kuliah, takut mengganggu cita citanya yang mana jiga mau sampe S2 di sana, lha ini tiba tiba Al ngajak nikah seperti kayak ngajak beli gorengan


" Abang bercanda kan???" tanya Yasmin makin gugup


" Iya..." jawab Al singkat dengan cengengesan


Yasmin sontak langsung kesal, karena di buat sport jantung pagi pagi sama pacarnya yang tiba tiba berubah jadi rese


Ya jelas, mengikuti gaya El yang begitu selow, tapi tetap jauh dong kalau di banding El, masih di level terendahnya malah


Plak... plak.... 2 pukulan dari paperbag mendarat di lengan Al


" Sorry sorry...." ucap Al meminta maaf


" Bikin sport jantung aja" kesal Yasmin


" Tapi kira kira kalau betulan mau gak??" tanya Al lagi dengan manatap Yasmin


" Enggak..... Yasmin masih mai sekolah dulu Bang, nikah masih di atas langit bayangannya" jawab Yasmin benar adanya


Yasnin gak mau nikah muda, dia mau menitih karirnya dan juga cita citanya


Al tersenyum dan mengangguk, karena dia juga sama masih mau mencapai cita cita yang baru saja akan dia langkahi step stepnya


" Tapi apa Abah sama Umi Abang udah tau??" tanya Yasmin malu malu


" Tau apa??" polos Al


" Tau hubungan kita"

__ADS_1


" Oh.. Udah, Abang gak bisa menyembunyikan sesuatu dari mereka, dan terus terang.. makanya Umi nitip tuh untuk calon menantunya katanya" jawab Al sambil senyum menggoda Yasmin


Yasmin makin merona, sama haknya dengan cewek lainnya, atau juga dengan Heny saat menerima hadiah dari calon ibu mertua mereka


Belum calon sih, dari Ibu dari pacar mereka,


" Coba buka" ucap Al dan Yasmin lanjut membuka


" Masyaallah.... JA??" kaget Yasmin


" Kenapa?"


" Impianku menjadi BA jadi brand JA lho Bang, tapi mustahil, bahkan penasaran sama pemilik Brand ini, " heboh Yasmin


" Kagumnya??"


" Brand ini itu brand yang tetap bertahan dan istiqomah di busana dan produk produk muslim, digsain baru juga tetap dalam tujuan utama" jawab Yasmin yang sama sekali tidak mambuat Al kegeeran karena itu produk Uminya


Ya Al gak tertarik juga dengan bisnis tersebut, dan gak peduli juga dengan pujian orang lain dalam produk tersebut, walau dirinya juga memakai produknya


" Mudah mudahan besok kita bisa jadi salah satu pemegang sahamnya ya" ucap Al dan tanpa sadar dan semangat Yasmin mengaminkannya


Di sisi lain, Kini Jihan dan Zain serta kedua orang tua mereka menuju rumah Utinya,


" Lho ya Allah.... Udah sampe sini lagi mbak Ul?" tanya salah satu tetangga yang dari dulu mulutnya sangat nyinyir


Bahkan orang tersebut udah klewat umur masih aja nyinyir gak ingat kalau besok mungkin malaikat maut datang mencabut nyawanya, tapi masih saja nyinyir


Dia bertanya bukan karena bahagia, tapi dia bertanya kok dengan cepat Ulfa sudah sampai jawa lagi


" Perasaan baru beberapa bulan udah sampe sini, ini kok usah sampai sini lagi, cepet banget mbak" nyinyir orang tersebut


" Alhamdulillah mbak... Saya di beri menantu dan juga rizqi yang cukup, dengan cepet bisa senantiasa menjenguk ibukku.." jawab Ulfa santai tanpa mikir bahkan baper dengan ucapan orang tersebut


" Oh ya, anak ibuk yang di Sulawesi udah pulang belum? perasaan kalau saya sering pulang kampun gak pernah lihat anak ibuk " tambah Ulfa bertanya balik dengan maksud tertentu


" Kalau anak saya sih, jarang pulang, maklum jauh, " jawab orang tersebut tanpa sadar


" Oh.. Gitu ya buk? kasian ya ibuk, udah tua anak aja sampe lupa" jawab Ulfa dengan tersenyum puas


Kemudian orang tersebut langsung melengos dan meninggalkan Ulfa dan yang Lain


" Kapok tuh... kebiasaan sih, ada tetangga senang di nyinyir" kesal Jihan karena dia sendiri sering kali jadi korban

__ADS_1


Dan bukan itu aja, saat pertama Jihan menjadi istri Zain, juga menjadi bahan cibiran baginya, dari mulut embernya


Di bilang matre lah, memeras lah, mengambil kesempatan lah, untung pinter kalau gak pinter mana mau si Zain,


Apa lagi saat dalam konflik panjang, dan jarang main ke sana, asumsinya sudah seperti rel kereta yang puanjang..


Di tambah Al dan El yang pernah di sana seminggu, cukup menjadikan orang tersebut mulutnya berbusa karena kebanyakan menggibahkan Keluarga Jihan


Jihan dan Ibunya mendorong koper mereka yang sudah di turunkan oleh Zain dari bagasi mobilnya, serta menantu dan mertuanya juga kompak membawa oleh oleh yang sempat mereka beli dari supermarket tadi


" Assalamualaikum...." ucap Jihan saat masuk kedalam rumah neneknya


" Waalaikumsalam..." jawab Atifa yang ada di ruang tengah sana


" Bude.. Pakde.. Udah sampe" ucap Atifa bersalaman dengan mereka semua


" Pakde Sultan datang...." Teriak anak anak Atifa dan juga Alif yang melihat Zain dan Jihan datang dari balkon lanrai 2


Jihan dan Zain langsung mendongkak ke atas keasal suara, ya hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka yang girang saat melihat Jihan dan Zain datang,


Gimana tidak kalau Jihan dan Zain datang mereka bukan hanya dapat jatah uang saku, tapi pasti oleh olehnya semobil penuh untuk mereka


" Hem.... Mulai kui, putune Toha kok" ucap Charir yang juga menyusul ke sana


" Putumu juga Bund.." saut Toha yang juga baru bergabung dengan mereka


Jihan dan Zain hanya tersenyum pada mereka yang, memang bikin seru suasananya kalau sedang kumpul di sini


Walau rumah ini tak semegah dan sebesar rumah mereka, tapi seenggaknya rumah ini terhuni dan rame, kalau rumah mereka sepi sunyi karena cuman berdua


" Pakde Sultan bude Sultin..." sapa anak anak dari sepupu Jihan


Mereka memanggil Jihan dan Zain dengan sebutan sultan, karena ajaran dari kakeknya, siapa lagi kalau bukan Toha, yang walau sudah tua tetap kocak bawaannya


" Iya sayang... " jawab Jihan dan mereka bersalaman pada Jihan Zain dan kedua orang tuanya itu


Zain langsung mengeluarkan senjatanya apa lagi kalau bukan kembaran uang, bukan berarti mengajari hal yang buruk atau meminta,


Zain tau mereka berani juga padanya dan juga Jihan istrinya, karena mereka yang memang sangat royal pada siapapu dan seneng melihat orang bahagia


Plak.... tangan Jihan menyamplek tanga Alif yang ikut menadah mengantri uang dari Zain


" Aku juga mau kali mbak..." keluh Alif yang kembali menadahkan tangannya

__ADS_1


__ADS_2