Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
Moment Hamil


__ADS_3

Zula yang sedang rebahan di sebelah Uminya merasa tergugah dan tertarik dengan cerita yang akan abahnya ucapkan tadi


" Emangnya kenapa? Abah sakit apa? dan apa hubungannya dengan melahirkan Mi?" kepo Zula membuat Abangnya ikut menoleh


Jihan dan Zain saling pandang, dan Jihan mengangguk, karena beberapa waktu lalu, setelah datangnya Zula bergabung bersamanya Jihan sudah menceritakan semuanya tapi tidak ke pada anak anaknya


" Di saat itu , tepat bersamaan dengan kelahiran kamu Il" ucap Jihan lembut sambil mengingat masa lalu yang cukup menyakitkan


" Umi sudah merasakan melahirkan dengan proses yang berbeda" tambah Jihan bercerita membuat ketiga anaknya tertarik untuk antusian mendengarkan


" Dulu Umi melahirkan anak pertama Umi, Muhammad Haidar Al Musthofa, dengan proses yang gak mudah, alias harus melalui bukaan demi bukaan sampai tuntas, dengan jangka waktu 2 hari semalam" tambah Jihan lagi


" Kalau proses kehamilannya semua sama, mabok teler dan menyiksa" tambahnya lagi membuat Zain tersenyum dan mengelus pundak Jihan


" Untuk Yang kedua, Umi di paksa melahirkan"


" Kok bisa?" kaget Zula


" Karena baby, atau kakak kalian, adeknya bang Al, keguguran, dan harus segera di kuret, dan betapa hancurnya hati Umi saat kehilangan buah hati Umi" tambah Jihan lagi melanjutkam ceritanya


" Jadi Zula juga punya kakak selain bang Al dan Bang El?" tanya Zula lagi dan Jihan mengangguk


" Iya dia harus gugur gara gara goncangan saat naik pesawat" jawab Jihan yang menahan air matanya yang sudah mau jatuh


" Mungkin kalau dia masih ada, Umi udah mau punya mantu kali ya Bah, " lanjut Jihan, dan Zain tersenyum sambil mengelus pundak Jihan

__ADS_1


" Anak perempuan kan cepet nikahnya, pasti sudah lulus kuliah dan sudah mau menikah" tambah Jihan sambil membayangkan betapa bahagianya dia dulu kalau mempunyai anak gadis


" Maafkan Abah dulu yang gak bisa menjaga Umi, dan adeknya Al, " jawab Zain terus mengelus pundak Jihan


" Kok Umi tau kalau dia cewek" tanya Zula


" Di usia kehamilan 4 bulan, kelamin janin sudah bisa di lihat, dan Umi kan dulu kerja di Rumah sakit, terus dokter kandungan di sana sudah Umi anggap seperti kakak Umi sendiri, jadi setiap bulan, bahkan seminggu sekali Umi di beri pengecekan gratis olehnya" jawab Jihan mengingat dokter kandungan nya dulu yang sampai sekarang masih bersilaturrahmi dengannya


Jihan gak pernah memutus silaturrahmi dengan siapapun, karena baginya silaturrahmi adalah hal yang penting, bahkan gak boleh di lepas, sekalipun jauh dan baru kenal,


Tapi kalau sama Rani, dia sama sekali gak pernah mau kenal yang namanya Rani, wanita yang pernah menghancurkan keluarganya yang menjadikan dirinya dan anaknya sebagai korban


" Wah jadi loe tuh punya Kakak juga bang El, dan adek cewek loe bukan gue aja bang Al" ucap Zula sambil menunjuk kedua abangnya


" Gue tau itu, makanya karena sekarang tinggal Elo adek cewek gue, gue gak mau menyia nyiakan elo, sebelum elo nanti di ambil orang lain, kan waktu anak cewek tuh gak sepanjang anak cowok" jawab Al kembali merangkul Zula


" Lanjut yuk Mi... gimana tadi soal kelahiran anak anak Umi, kan seru tuh gam ada Abah lagi" saut Al sambil menutup mulut Zula yang ember itu


Jihan belum lagi membahas dan melanjutkan ceritanya karena kepo juga dengan celotehan Zula tadi,


" Ayo lanjut lagi, Mi.." tambah El yang masih merasa takut dengan pembahasan mantan yang mana dia masih enggan membahasnya


" Haa.. Apa tadi Il, Mantan? jumpa di mana?" kepo Jihan tak terpancing dengan kedua jagoannya


" Anak Mi.... Lanjut" ucap Al dan El kompak sambil menyekap Zula

__ADS_1


Zula berusaha memberontak tapi tentu kalah dengan kedua abangnya, dan Zain gak mau diem dong melihat putri kesayangannya itu


" Al El" ucap Zain seketika membuat mereka melepasnya


Tau lah namanya juga anak kesayangan tentu mereka akan mendapat ancaman dari abahnya nanti


" Okeh lah, PR buat kalian berdua, jelaskan pada Umi tentang mantan" ancaman Jihan pad Al dan El


Mereka saling pandang dan tak mejawab sama sekali karena itu beban hati


" Pas hamil Kakak Aisyatul Khodijah Al Musyhofa, karena Umi dulu udah tau kalau cewek, jadi Umi kasih nama cewek, Umi merasakan mual yang seperti Umumnya orang hamil, tapi tidak separah waktu hamil Kamu Al, karena yang ngidam parah Abah Zain, dia kualat sama Umi, iya kan abah" ucap Jiha mencoba ceria walau dalam hatinya masih merasakan kesakitan yang mendalam


Al, El dan Il, kompak menatap abahnya yang nyengir kuda


" Untung pas Umi mendarat Abah Udah di bandara sebagai pahlawan kesiangan, dan Ada yang bantuin Umi untuk selamat sampai rumah sakit" tambah Jihan menatap Zain yang langsung mengecup kepalanya


Ketiga anaknya seraya bertepuk tangan meriah, dan bersorak gembira seperti yang Uminya lakukan di hadapannya untuk menutupi sakit hatinya


" Yang parah pas hamil dan lahiran El sih, udah hamil sambil gendong, sambil kerja, Abah Koma, lari kesana kemari, menyelesaikan urusan Abah, masih merawat abah juga, masih mual mutah gak karuan, mengabaikan anak gak pernah pulang dari rumah sakit, terbang keluar negri dakwah menggantikan semua scedul abah, lha pas selesai Umi pulang, Eh abah udah pulang sama istri barunya, Umi terkejut dong, bukannya trimaksih di maki di hina, gak di akui juga, mana udah sakit hati, di tabrak juga pake motor, sakit belum hilang karena di srempet motor dengan keras, harus melahirkan secara secar, di tambah bayi yang prematur, yang berusaha bertahan untuk hidup menguatkan Uminya, yang sangat kritis keadaannya, ya Allah.. Alhamdulillah semua berlalu, dan kini dia masih tetap bertahan hidup bahkan sehat kuat, dan nanti menjadi seornag dokter yang bisa menangani semua pasien ya El, terimaksih kamu udah mau menemani Umi untuk berjuang, di waktu itu" ucap Jihan panjang tanpa Jeda sambil menepuk pundak El, yang kini sudah memeluknya


" Umi hamil ke 3 anak Umi, sama sekali tidak mulus mujur dan bahagia, semua ada ujian berat yang menghampirinya, semua bertaruhkan nyawa, dan maka dari itu, Umi waktu hamil kamu sayang, Umi tidak memberitahu siapapun, tentang kehamilan Umi, walaupun Umi juga merasakan mutah dan Mual, tapi Umi selalu menutupi itu semua, karena Umi gak pernah mau, kejadian dulu terulang lagi, Umi udah capek menderita, Umi udah capek hidup sengsara, dan Maaf kalau kamu menjadi keegoisan Umi, menjadi pelampiasan kecapean Umi ya Nak" Tambah Jihan sambil memeluk Zula yang sudah terharu mendengarnya


" Dan Allah memberikan keselamatan mujur mulus di kehamilan Umi saat mengandung kamu, Hingga melahirkan Umi di beri kemudahan, kelancaran tanpa merasakan kesakitan sama sekali, dan semua ganjran sakitnya di berikan kepada Abah, pas kebetulan abah berada di sini, di situ Umi yang melahirkan, tapi Abah yang merasakan sakitnya " Tambah Jihan lagi mengakhiri ceritanya


Maaf ya Lur... baru up, Author mengikuti kegiatan di luar jadi gak pegang hp dari kemaren, 🙏

__ADS_1


Insyaallah 2 atau 3 hari ke depan author akan louncing season 4 nya, di tunggu ya, Cinta 3 bersaudara


__ADS_2