
Di rumah Zain juga sudah siap siap tapi kali ini Zain tidak ke kantor, Zain mau menemui keluarganya dan juga keluarga Jihan, tentu tanpa sepengetahuan Jihan juga,
Zain ber maksud akan meminta maaf pada keluarganya dan keluarganya, serta mengabarkan kalau dia ternyata punya putri cantik jelita Nazula lailal Musthofa
" Abah ke Kantor kan?" tanya Jihan melihat Zain siap siap
" Enggak, Abah mau surfai ke travel dulu" jawab Zain bohong
Zain masih takut kalau dia berkata apa adanya, sikis Jihan kembali kambuh, karena Zain pikir Jihan bakal kembali ketakutan lagi kayak kemaren
" Sama aja ke kantor" jawab Jihan cepet
" Mau ikut,? ajak Zain
" Dari pada ke kantor Umi mending kerumah sakit" jawab Jihan yang sudah sangat cinta dengan rumah sakitnya
" Di rumah dulu, istirahat, bobok sepuasnya kayak di pondok dulu lho, kalau sekolah aja molor mulu" ucap Zain sambil menarik hidung Jihan gemas
" Udah tua bah, jangan belagak muda" senggol Jihan pada Zain
" Yang penting Jiwa muda Mi" jawab Zain sambil menggoda Jihan
" Ya udah hati hati ya, jangan lama lama pulangnya" ucap Jihan mencium tangan Zain
" Kenapa gak mau jauh dari abang, udah takut kangen?" goda Zain
" Kangen.... Jelas dong" gombal Jihan dan Zain justru tertawa
" Ya udah Abah berangkat dulu ya, pokoknya di rumah aja" ucap Zain mewanti wanti
" Iya abah sayang..." jawab Jihan lembut dan Zain mencium kening Jihan dan tak lupu juga bibir ranumnya
" Assalamualaikum" ucap Zain
" Waalaikumsalam.." jawab Jihan lembut
Zain keluar dan mengendarai salah satu mobilnya, untuk ke rumah Umi Zahra,
Zain gak bisa menyimpan rahasia dengan keluarganya, dan dia orang paling heboh dan paling gak sabar untuk hal yang sangat penting
__ADS_1
Dan dari kemaren saat dia mengetahui punya anak, rasanya sudah ingin langsung di bongkar dengan keluarganya
Tapi karena Jihan langsung pingsan dan trauma berat Zain semalem hanya meminta Irfan agar mengirimkan pesawat jet untuk menjemput keluarga Fani dan juga Rizqi,
Dan malam tadi mereka sudah sampai dan sudah berkumpul dengan keluarganya
Dan pagi ini Zain bermaksud akan meminta pengertian dan menyampiakan apa yang sebenarnya terjadi pada semuanya, Sebelum mengenalkan putri cantiknya pada mereka
Kini Zain sudah sampai dirumah Umi Zahra dan Abah Hasan, dan baru pertama kalinya Zain kembali kesana sendiriam tanpa Jihan, setelah masalah dulu yang membuatnya hancur kala itu
Karena setelah itu Zain tidak mau pergi sendiri lagi
Zain memarkirkan mobilnya di parkiran biasanya, dan turun secara perlahan, dan berjalan ke pintu utama keluarga Al Musthofa
Di dalam rumah Al Musthofa, semua sudah pada ngumpul, mulai dari Baha' se anak cucunya, dan Juga Fani yang makin beranak pinak, begitu juga dengan Aisyah yang gak mau ketinggalan
" Kira kira ada apa sih? tumben banget tuh bos satu nyuruh kita ngumpul" ucap Fani yang sedah berumur banyak tapi masih cantik
" Warisan Mi" saut Aisyah yang duduk di sebelahnya
" Hidup kok mikirin harta mulu" sindir Baha' yang makin tambah tua, tapi tetap masih perkasa
" Paling lagi pengen kumpul kangen aja sama kalian" jawab Umi Zahra yang sebelumny kaget dengan kedatangan anak cucu cicit semuanya
" Mau bagi bagi warisan, yang bisnis mau di atas namakan kita, secara El di kedokteran Al di pendidikan, bisnis gak ada penerusnya" asumsi Baim anak fani
" Ngaco" saut Adam anak Baha'
" Mana tau, di lotre keluar namaku" jawab Baim
" Lagian harta Om Zain sama Umi Jihan, gak habis kalau di pindah kepemilikan ke pada kita, masih banyak, 0,02 % aja gak apa apa gue di kasih" tambah Zulaiha adeknya Baim yang seumuran dengan Zula
Karena anak Fani dan Hamzah bukan sampe ke seumuran El saja, tapi masih punya adek adek lainnya, dan memang bener Fani di jadikan pabrik oleh Hamzah
" Iya juga sih, mudah mudahan juga ya, kita dapat" jawab Feli kakaknya Baim
Zain tidak menemukan satu pun keluarganya di depan, yang bukain pintu tadi juga mbak santri, walaupun rumah sendiri, Zain jarang slubang slubung, sebelum di bukain pintu oleh santri atau yang lain
Dan Zain langsung menuju lantai dua, sepertinya keluarganya pada kumpul di ruang keluarga di lantai 2,
__ADS_1
Sebenarnya rumah Umi Zahra sekarnag sudah di renovasi begitu juga dengan pondoknya juga, dan makin di buat meningkat tinggi, dengan makin banyak kamar di sana, karena saat kumpul seperti ini pasti makin banyak kamar lagi untuk menampungnya
" Nah Tuh... Yang baru di omongin datang" ujar Baha' yang melihat kedatangan Zain
" Assalamualaikum" ucap Zain pada mereka
" Waalaikumsalam.." jawab mereka kompak
" Kok sendiri, Jihan mana? gak biasanya?" tanya Umi Zahra yang ada di antara mereka
Umi Zahra paling sayang pada Jihan, bukan dulu aja, bahkan sampai saat ini, apa lagi habis kejadian dulu, Umi merasa sangat bersalah banget pada Jihan, dan kalai Jihan dalam seminggu gak ada datang bahkan telat bentar Umi Zahra langsung telfon
" Ada di rumah" jawab Zain santai dan bersalaman pada Umi Zahra
" Gak ke rumah sakit?" tanya Cirana
" Tak suruh istirahat di rumah dulu mbak, dia lagi kurang enak "jawab Zain dan duduk di dekat Uminya
" Gak ada apa apa kan Nak?" tanya Umi Zahra lembut dan sangat khawatir
" Ada Mi, makanya Zain ke sini, ada yang mau Zain sampaikan, sampai sampai Zain datangkan mereka juga" jawab Zain sambil menggenggam tangannya
" Mau bagi bagi warisan kan Om" ucap Aisyah cepat
" Cepet kali kalau ngomongin warisan" sindir Adam anak Baha'
" Kalau loe gak mau bisa sumbangkan ke Gue Mas" jawab Aisyah lagi
" Oh... Jadi kalian tadi ngumpul di sini ghibahin Om ya, gibahin masalah harta Om?" tebak Zain yang paling hafal dengan gimana ghibahan keponakan dan kakak kakaknya
Mereka justru tertawa dan gak kaget juga Zain, entah apa yang ada di pikiran mereka padahal setiap kakaknya udah di pegangi resto 1 dan juga butik 1
Gitu kalau kumpul kayak gini masih aja mereka ghibahin harta Zain
" Anak gue bagi warisan Zain, " usul Baha'
" Warisan itu dari Abahnya, bukan dari Omnya, Omnya besok juga bakal punya anak cucu cicit banyak juga" jawab Zain santai
" Paling enggak jatah lah bulanan" saut Fani gurau
__ADS_1
" Lho lho.. Bukan kewajiban gue itu mbak, " bantah Zain dan mereka masih lanjut bergurau basa basi sampai ke pokok utama maksud kedatangan Zain tadi
" Jadi gimana Nak? ada apa yang mau kamu sampaikan? kamu gak ada apa apa kan sama Jihan, gak saling bertengkar kan? gak ada masalah lagi kan nak?" tanya Umi Zahra yang sudah parno sendiri