
Sella dan Selli langsung noleh pada El yang tiba tiba berucap seperti itu,
" Kalau di jodohinnya sama Abang gue gak bakalan Nolak" jawab Sella anak Mega yang sama genitnya kayak simboknya
Al langsung tertawa ngakak, begitu juga dengan Jihan yang mendengar jawaban Sella
" Gak mau bang Al aja? yang lebih tampan tuh?" ujar El lagi menjadikan Al sebagai acuan karena Al yang tertawa paling kenceng tadi
Sella langsung menoleh pada Al yang ada di sebelah El
" Boleh.... Bang Al mau kan di jodohkan sama gue? biat kayak di novel novel gitu, perjodohan dini" jawab Sella makin menjadi
Al langsung melotot dan kesal pada Al yang sengaja memajukannya
" Gue?? " ulang Al bertanya
" Iya lah, mau kan? gak apa apa lah, bang Al terpaksa, nanti kan lama lama jadi cinta" jawab Sella sangat percaya diri
Para orang tua hanya mendengarkan saja obrolan aneh bin lucu dari para anak anak mereka, apa lagi Al yang sekarang salah tingkah
" Gak ah... Gak enak, enakan yang sama sama Cinta makin syahdu..." jawab Al santai
" Iya sih.... Ya udah mulai saat ini kita PD kate yuk, biar saat gue lulus SMA nanti kita sudah sama sama suka" jawab Sella makin Percaya diri
" Betul tuh bang El... Ya, Abang sama gue ?, dan bang Al sama Sella, " saut Selli mambumbui Sella
Uhuk uhuk uhuk.....
Al dan El sama sama batuk dan tersedak ludahnya sendiri, mendengar ucapan kedua bocil yang terlalu percaya diri dengan keputusan masing masing
" Gimana Beb, tuh anak anak udah mulai PDKT" ucap Mega pada Jihan yang hanya menjawab dengan senyuman
Jihan tentu tidak akan melukai hati sahabatnya, dan menjawab dengan terang terangan kalau mereka sudah punya pacar masing masing,
__ADS_1
Biar Al dan El sendiri yang menjawab, atau nanti suaminya yang mungkin sebentar lagi akan datang menyusulnya
Dan benar Zain datang, bareng dengan Heri dan Beni, yang tadi keluar dari kantornya bareng
" Tanya tuh sama anak anaknya sendiri, mereka yang menjalani Beb" jawab Jihan santai
" Menjalani apa sih?" ucap Zain yang tiba tiba dari belakang dan menciun kepala Jihan, di hadapan banyak orang
" Ih... so sweeet.... Pasti kalau Bang Al jadi laki gue, tiap hari gue di perlakukan se so sweet itu ya kan bang Al" ucap Sella membuat Al menggidik ngeri
" Oh... Pasti ngobrolin masalah perjodohan.." ucap Zain langsung tanggap, dan duduk di sebelah Jihan
" Iya pak Ustadz... Gimana jadi kan kita jodohin anak anak kita?" jawab Mega santai
Beni dan Heri sebenarnya merasa gak enak dengan Zain, walau bagaimanapun mereka bawahan Zain, dan gak mungkin perjodohan itu terjadi,
Bukan hanya mereka aja, istri istri mereka juga bawahan Jihan di rumah sakit, tapi karena Jihan dan Zain tidak memperlalukan dan menimbang drajat, membuat Mega dan Melisa hilang kendali sampai saat ini
" Kalau Sella sama Selli, udah mau, Sella memilih Al dan Selli memilih El, tinggal Al dan El gimana? apa mau tukeran juga gak apa apa" jawab Mega dan di angguki Melisa
" Gimana Al El, " ujar Zain santai membuat Al dan El melotot senpurna dan saling oandang kemudian
" Enggak..... " Ucap mereka kompak menolak perjodohan itu
" Lho kenapa? anak Tante kurang apa Al?" ucap Mega kaget
" Gak kurang apa apa Tante, tapi maaf banget ya, belum saatnya anak tante di ajak bicara mengenai perjodohan, mereka lho masih SMP, " ucap El menjelaskan
" Betul tante, dan gak ada yang namanya nikah paksa dalam kamus kami, kalaupun di paksa, kalau kami menolak, untuk menjawab ijab qobul juga, gak jadi nikahnya" sambung Al membela
" Ya biar seperti di novel novel dong" jawab Melisa
" Jalan hidup novel beda dengan jalan hidup kita tante, Allah memberi skenario kehidupan mahluknya yang berbeda beda, jadi jangan paksa kami maaf" bantah El makin kekeh karena Selli juga bukan tipe dia banget jauh
__ADS_1
" Say.... Pak Ustadz jangan diam mulu dong.." ucap Melisa pada kedya orang tua Al dan El
" Kan gue udah pernah bilang say, beb,.. Mereka yang menjalani dan mereka yang menentukan, kita sebagai orang tua mah hanya berdoa dan memberi dukungan, bukan begitu Abah Ustadz?" ucap Jihan dan Zain mengangguk setuju
" Jadi bocil bocil Imut, cari pacar sendiri ya... Yang jauh lebih baik dari abang abang ganteng ini" ucap El terang terangan
Dan Sella juga Selli merasa malu sendiri di tolak mentah mentah oleh Al dan El,
Gimana tidak, semua wanita tentu mendambakan sosok imam seperti keduanya, apa lagi di zaman sekarang ini banyak wanita yang memandang harta di banding cinta, naudzubillah mindzallik...
Setelah itu mereka lanjut makan siang lagi, dengan Heri dan Beni yang menahan malu pada bos mereka, dan menahan marah pada anak dan istri mereka
Di sisi lain, sama seperti mereka, IL yang sudah tumbuh remaja, di akhir sekolahnya di jenjang sekolah menengah pertama
IL juga sedang makan siang sama seperti mereka, beda dari santri yang lain yang makan siang nanti kalau sampai pesantren,
IL justru makan siang terlebih dahulu di kantin sekolah, menurutnya kemewahan dalam hidupnya selalu di nikmati, dan gak di menyianyiakannya
Sama dengan kedua Abangnya, IL jauh di beri kemewahan dari Abang Abangnya,
IL selalu hidup dengan terlalu santai tanpa peduli dengan orang lain, hidupnya ya hidupnya, gak mau mencampuri urusan orang lain, bahkan dia gak pernah mendengar ucapan orang lain, baginya dia, yang penting hidup tenang
Bersosialisasi dengan teman temannya tentu, tapi gak pernah mau tau masalah dan urusan teman teman yang sesekolah maupun se pesantren dengannya
Ya kalau sudah makan di kantin sekolah, biasanya jatah makan dari pesantren IL berikan pada teman temannya yang mau dan membutuhkan
Karena di pesantren tersebut tidak semua anak orang kaya sepertinya, ada juga yang miskin dan sengaja ambil jatah makan sekali cuman 1 kali dari pesantren, biar lebih ngirit,
Ya namanya pesantren tradisional, mereka sama satu pesantren, dengan tujuan yang sama untuk menuntut ilmu, tapi porsi ekonomi yang tak sama, dan berbeda beda,
Walau IL anak berkecukupan, dan berlebih lebih dia tidak pernah menganggap yang miskin bukan levelnya, dan justru IL malah dekat dengan mereka yang apa adanya, walau dirinya yang serba ada
IL justru lebih cerdas dari kedua abangnya, dia juga sudah menghafal Al Qur'an sejak di bangku SD, dan baru 1 tahun khatam Sab'ah dengan pengasuh pondoknya sendiri,
__ADS_1