
Kini mereka sudah berada di bastmant apartemant, dan El sudah menauh koper kopernya di bagasi mobilnya di bantu oleh Della dan juga Imam
" Udah semuanya gak ada yang kurang?" tanya Imam saat mengecek ulang barang bawaan El
" Udah bang, ini kunci mobil El, nanti sering sering di panasi" ucap El sambil menyodorkan
" Emang sayur di panasi" elak Dellah melawak
" Bukan mbak... Tapi mantan... di panasi sama pacar baru.." jawab El yang menimpali gurauan Della
" Kamu bawa Mobil aja El, biar motornya Abang yang bawa" ucap Imam kasian anak sultan harus bawa motor
" Eh gak apa apa bang Biar El saja" jawa El cepat
" Kamu gak terbiasa naik motor butut, takutnya oleng" jawab Imam dan langsung menunggangi motor metik yang sudah lama
" Eh kata siapa?"
" Udah di rumahmu gak ada kan motor kayak gini, sana bawa mobilnya sama Embak" ujar Imam dan langsung melajukan motornya keluar dari basment
Imam sudah hafal area jakarta dan sudah hafal juga masjid yang di sebutkan oleh El sebelumnya,
Ya masjid AN NUR, tempat El yang mana akan menjadi tempat tinggalnya nanti,
Imam menunggu El di depan apartemant, dan El kini berada di mobil yang sama dengan Della
Gak apa apa ya semobil berdua, mereka gak ada maksud apa apa kok, kan El sama Della udah seperti anak sendiri, dari bayi sudah di rawat oleh Della
Tin.....
Klakson di bunyikan oleh El sebagai tanda untuk mengajak Imam agar jalan duluan atau bersamanya
Di mobil El dan Della saling ngobrol dan bercerita, serta nostalgia masa Kecil El yang dulu juga tinggal di Jakarta walapun cuman 2 tahun saja
__ADS_1
" Bang Al gimana El sekarang?" tanya Della basa basi
" Dia udah mau selesai S2 mbak, dan sekarang udah jadi tuh kampus serta asrama yang dia minta" jawab El bercerita
" Kampus apa sih?" tanya Della bingung
" Kampus PTIQ, khusus Al Qur'an, " jawab El sambil fokus pada jalanan kota
" Oh... sama kamu nanti yang ngajar di sana?" tanya Della lagi
" Ogah.... Biar dia sendiri lah, dia yang minta, sekalian tuh sama sekolah BNT sama Abah du kasih dia semua, biar dia yang kelola" jawab El paling males kalau barengan sama Al yang ada Eker terus jadinya
" Ya kan kamu sama, bisa juga di bidang Ilmu Al Qur'an" jawab Della
" Iya, tapi sekarang kuliah El kan di kedokteran mbak, lanjutin keinginan Umi lah, " jawab El yang sebenarnya lebih tertarik di dunia ala ala sak karepe dewe
Gimana tidak? El lebih suka bebas dibanfing harus mengikuti aturan yang orang tuanya berikan,
Ya... Sebenarnya sudah enak juga di, Jihan dan Zain juga gak pernah mengekang keinginan anaknya,
" Sebenarnya El belum mau kulaih sih mbak... masih pengen mainan dulu, masih muda kan, gak mau juga waktu El habis untuk terus belajar, kayak bang Al tuh, terlalu sepaneng belajarnya, gak lulus lulus lagi" tambah El lanjut bercerita
" Terus kok langsung masuk di UI dan langsung ke kedokteran?" tanya Della lagi
" Ya karena Umi lah, awalnya El bantah, tapi Umi bercerita kalau El harus jadi dokter, harus bisa menyembuhkan orang, dan di tambah Meningingat masa kecil El yang harus terus terusan minum obat dan keluar masuk rumah sakit, El jadi prihatin, dan jangan sampai ada orang yang mengalami seperti El ini" jawab El panjang lebar
Della mengangguk tanpa menjawab, teringat dengan masa lalu Jihan dengan kedua anaknya yang harus berjuang untuk menuju kebahagiaan,
Gimana dia siang malam harus bekerja keras untuk anak anaknya, tanpa mikir gimana kondisinya sendiri yang kecapean bahkan gak peduli kalau dirinya sakit maupun kelelahan
" Iya.... Umimu dulu kalau kamu nangis langsung ikut nangis" jawab Della nostalgia
" Maksudnya mbak?"
__ADS_1
" Dulu kamu El kalau nangis tuh langsung sesek, biasanya kalau anak bayi nangis di kasih n*nen langsung diem, tapi kamu langsung sesak nafas, dan kalau di beri ne*en justru tersedak dan langsung muntah karena sesak tadi" jawab Della dan El mengangguk, karena El juga di rayu sama Jihan dengan menceritakan hal itu
" Iya sih mbak, Umi cerita juga gitu, makanya El bisa mau langsung kuliah kan juga motifasi dari Umi yang cerita masa kecil El dulu yang lahir prematur" jawab El yang semangat karena dia dulu yang pernah penyakitan
Di sisi lain, Il masih sama dengan kegiatan pesantrennya, yang saat ini dia sedang belajar untuk sekolah nanti pagi, sedari sore dia sudah menelfon Uminya sampai berjam jam,
Il yang semakin dewasa, karena saat ini sudah masuk ke jenjang sekolah Menengah Atas, Atau SMA, tapi Il saat ini sekolahnya di Madrasah Aliyah atau MA
Sebenarnya, Il minta untuk pindah sekolah dan pondok setelah usai lulus di sekolah menengah pertama SMP ataupun Mts, Madrasah Tsanawiyah,
Tapi Jihan selalu memberi pertimbangan lagi, kalau istiqomah itu lebih baik, dan di manapun kita menuntut ilmu, mau di pesantren di sekolah semua itu sama, tidak ada bedanya, tergantung kita yang menjalani
Dan Jihan juga menegaskan kalau di area baru juga harus adaptasi kembali, Il yang cueknya kelewatan takutnya akan menjadi bahan omongan dan menjadi mental lagi baginya,
Hingga akhirnya Il masih mau menetap di sana, dan lanjut sekolah, dengan jurusan IPS, dia sebenarnya masuk ke IPA cuman Il males saja, karena dia mau menjadi pembisnis, males berfikir tentang alam walaupun dia pecinta alam, tapi dia lebuh suka menikmati dari pada memperlajari
" Mbak.... Makan yuk" ajak salah satu temannya saat menghampiri Il yang sedang menghadap buku
" Makan apa?" tanya Il sambil menoleh kepadanya
" Mie Instan..." jawab temannya ramah
" Hem.... Mau mau" jawab Il cepat karena kesempatan,
Sebenarnya Il di larang keras Uminya untuk mengkonsumsi mie instan, tapi bukan anak Jihan namanya kalau tidak membawa keturunan Uminya, yang kadang membangkang dan suka ngumpet ngumpet
Il boleh makan mie instan, tapi yang harus bermutu, mie instan yang bergizi, dan pastinya tidak se nikmat mie instan yang di bawa temannya saat ini
Kembali ke El yang masih bersama dengan Della, di jalanan ibu kota yang terang benderang dengan lampu kota yang menerangi Jalanan
" Mbak.... Kok di cerita masa kecil El, Abah sepertinya gak pernah mau cerita? kok dari cerita yang El dengar Abah gak ada perannya sama sekali, Abah apa gak tau kalau El dulu sakit dan harus bolak balik rumah sakit? sesibuk apa sih abah dulu, hingga sepertinya gak ada waktu untuk ikut membantu Umi merawat El" tanya El yang sangat penasaran dan bertanda tanya besar tentang hal itu,
Gimana tidak, setiap El bertanya pada Uminya tidak pernah mendapat jawaban, dia yang tingkat kepekaannya tinggi selalu ingin tau dan mencari tau apa yang dulu sebenarnya terjadi pada dirinya
__ADS_1
" Dan kenapa El bisa lahir prematur mbak?" tambah El lagi