Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
Bawel Jihan


__ADS_3

Setelah sarapan, semuanya pada kumpul, dan acara peresmian PTIQ Al Musthofa sudah terlaksana dengan lancar


Dan kini semua ikut pulang ke rumah Zain, untuk makan siang bersama, tapi kali ini bukan mereka saja, melainkan sekuruh para dewan pengajar di PTIQ dan Yayasan sekolah BNT untuk meresmikan sekalian perkenalan pemegang Yayasan terbaru


Kini Jihan dan Zian sudah berada di dalam mobil mereka, hanya berdua saja karena yang lain bawa mobil masing masing


" Gak nyangka ya Mi, sekarang anak kita sudah menjadi generadi ke 4 penerus Yayasan BNT " ucap Zain sambil fokus pada setirnya


" Iya Bah Alhamdulillah... Sekarang sudah makin maju, makin tambah bidangnya, makin sukses, " jawab Jihan dengan mara yang sudah berbinar haru


Zain menoleh sekilas dan tersenyum pada Jihan, serta membawa Jihan kedalam pelukannya


" Bahagia dong, jangan nangis" ucap Zain mengusap lembut mata Jihan


" Umi Udah waktunya menangis bahagia gak sih?" tanya Jihan manja


" Harus toh, harus bahagia, tapi jangan menangis, tersenyum.." ucap Zain layaknya anak muda yang memanjakan pacarnya


Jihan langsung melirik tajam pada Zain yang tersenyum sambil mencium kepala Jihan


Cuuiit...... Satu cubitan mendarat di pinggang Zain


" Senyam senyum, Kalau ketemu abangnya aja gak mau senyum cuek banget.." ucap Jihan menyindir Zain


" Habisnya, " jawab Zain terpotong


" Habisnya apa?? deket lengket sama mas Baha' cemburu?? " tanya Jihan bolek balik, pada Zain yang masih terlalu posesif


Zain terdiam dia gak mau bicara saat dalam keadaan cemburu, secara Zain takut kembali berteriak dan berkata kasar


Walau dalam hati masih mengumpat kesal, tapi dia takut kehilangan kalau sampai melanggar janji dan sumpahnya


" Mas Baha' abangmu lho bang, bertahun tahun Abang selalu kayak gitu, dia yang membantu Umi, dia yang menjadi tameng Umi, dia yang selalu membela dan menemani Umi, dia orang yang selaly percaya sama Umi, " Ucap Jiha terlalu sakit mengingat kembalu kenangan yang gak akan pernah terlupakan


" Gak boleh Lho bah sama Abangnya kayak gitu, dulu Jihan kalau.." Ucap Jihan terpotong oleh Zain


" Umi.... No Jihan lagi" potong Zain

__ADS_1


Zain gak terima Jihan memanggil dirinya dengan sebutan nama saja, Hal itu juga mengingatkan pada Zain kalau Jihan sudah memanggil dirinya dengan nama saja, itu artinya Jihan udah menganggap kalau Zain gak sayang lagi padanya


" Ya makanya, sikapnya di rubah dong udah tua, udah punya anak, udah dewasa bentar lagi mau punya mantu, bentar lagi mau punya cucu, masak kalah sikapnya sama cucunya nanti? Iri dengki cemburu" jawab Jihan mengomel


Zain tidak menjawab sama sekali, Zain terdiam membisu dan fokus pada setirnya


" Dulu kalau Jihan tidak ada Mas Baha' Mungkin Umi sudah ambruk... dan gak bisa bangkit lagi Bah, dia yang tau di mana Umi, dia yang mensuport Umi, yang manguatkan Umi, seharusnya Abah juga harus verterimakasih sama Mas Baha'," tambah Jihan kembali ngomel


" siapa yang bantu Abah Hasan sama Umi Zahra, di saat saat abah sudah terlepas pikirannya? di saat abah sudah abyar dan mletre dulu?" Jihan lanjut meluapkan isi hatinya kembali


" Mletra mletre.... Aku mletre karena sakit Hati" saut Zain santai


Kalau gak di saut dan dia ajak.bercanda yang ada Jihan makin menjadi ngomelnya


Bener Jihan langsung berhenti berucap dan.


Muuuuuuaaccch..... 1 kecupan panjang mendarat di bibir cantik milik Jihan


" Ehm..." Jihan mengerang untuk di lepas dari pugatan Zain


Plak..... Jihan kemudian memukul pelan pundak Zain dengan muka yang sudah merah merona


" Kan merah, mau lagi tuh..." ucap Zain sembil kembali meraih pinggang Jihan lagi


Jihan pun kembali jatuh kepelukan Suami tampannya, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Zain


" Jangan ngomel ngomel terus sayang" ucap Zain sambil mengelus kepala Jihan


Jihan semakin tua justru semakin ngomel, hati dia tidak seperti dulu lagi yang mudah santai


Sekarang justru semakin Panik, cepet kaget dan cepet emosi


Perasaan Jihan juga sudah tidak sesantai dulu lagi, cepet panik cepet ketakutan


Karena semua berawal dari trauma yang dia punya saat ini, trauma yang masih ada dalam dirinya hingga saat ini


" Jangan sakiti Umi lagi" ucap Jihan menahan air mata

__ADS_1


" Gak akan pernah, apapun yang terjadi, Abah Udah sumpah, sudah janji sama bapak sama Ibuk, " jawab Zain menenangkan Jihan


" Wes ngerti" jawab Jihan ketus dan Zain mengelus kepala Jihan dan mengecup dengan lembut


" Di ulang ulang terus eg.." jawab Jihan lembut dan Zain lanjut melajukan mobilnya


Setelah lebih dari 40 Menit mereka akhirnya sampai di pekarangan rumahnya yang saat ini sudah penuh dengan mobil mobil dari semua guru dan Dosen yang mengajar di Yayasan BNT


Lain dengan Zain dan Jihan yang ikut kumpul dengan para guru dan Pengurus bidang pendidikan miliknya


Kedua anak Jihan dan Zain, El dan Il masih lanjut belajar di tempat belajar masing masing,


Di pondok AL-JQ, Heny baru saja kembali ke Pesantren setelah Seminggu Resmi putus dari El,


Terus terang saja, Heny sempat kehilangan semangat belajarnya maupun ngajinya,


Secara 2 tahun lebih bersama, El yang selalu menemani dan memberi semangat pada dirinya, dan El yang menjadi penyemangat belajar dan ngajinya


Kini Seminggu yang lalu, El datang dengan kegembiraan dan pulang dengan memberi luka yang mendalam sedalam dalamnya dalam hatinya


Dan Kini Heny pasrah, Gak tau gimana semangat belajar dan ngajinya nanti,


Di rumah okey dia bisa bilang Iya gak apa apa, baik baik saja, dan santai aja pada kedua orang tuanya, tapi dalam hati dia masih belum terima dengan keputusan El yang dengan alasan tidak masuk logika itu


Heny yang saat ini masih dalam masa Haid terdiam membisu dan melamun dalam kamar di bagian pojokan,


Sore tadi Heny sampai di Pesantren AL-JQ di antar orang tuanya, dan di sowankan juga sama orang tuanya


Di habis Magrib seperti inu para santri AL-JQ semua setoran Al Qur'an, Heny merasa kurang nyaman di kamarnya hingga akhirnya dia memilih pindah tempat ke bagian rooftop pesantren di lantai paling atas, atau lantai 4


Heny dengan pandangan kosong dan senyum palsu yang terpancar di bibirnya


Heny menaiki satu persatu tangga yang menunu ke lantai selanjutnya, melewati para santri yang masih tadarusan masih murojaah dengan setoran yang akan mereka bacakan di hadapan Umi Ilma nanti


Tiba akhirnya Heny di lantai paling atas, di tempat favoritnya yang menjadikan tempat pemandangan yang indah, yang menambah semangatnya untuk bikin setoran,


Semua bayangan ke Indahan masa itu terlintas di pikirannya hingga membuat Heny tiba tiba melotot tajam dan ....

__ADS_1


__ADS_2