Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
Melanggar peraturan


__ADS_3

El dan Heny kini menikmati makanan yang tersedia di sana, yang seperti El sering pesen kalau tiba tiba sedang berkunjung ke sana


Mereka juga sambil ngobrol dan tak terasa waktu sudah sore, karena mereka pergi tadi dari jam setengah 2 siang, dan kini sudah jam 4 sore,


Kini Heny sudah berdiri terlebih dahulu untuk membayar makanan seperti yang dia katakan sebelumnya, kalau dia yang mau bayar untuk makan siangnya


" Mau kemana ?" tanya El pada Heny


" Mau bayar lah, sesuai apa yang aku ucapkan tadi" jawab Heny santai dan masih berdiri di sebelah El


" Coba duduk dulu" ucap El lagi


Heny tidak langsung duduk dan malah mengerutkan keningnya karena heran dengan El


" Apaan sih? " tanya Heny dan duduk kembali


" Coba anteng, tangannya di lipat kedepan, " jawab El lagi


" Aku bukan anak TK ya bang, suruh lomba anteng saat mau pulang" bantah Heny


" Udah duduk dulu..." pinta El lagi dan Heny akhirnya nurut


" Pinter.... Anak sholehah..." ucap El sambil tersenyum paksa


" Ck apaan sih...?"


" Dengerin abang dulu, "


" Iya apa? dari tadi udah di dengerin lho"


" Kamu tadi bilang, kalau kamu takut di katain matre sama orang kan?" tanya El Heny mengangguk


" Sekarang apa kata dunia kalau kamu bayarin makan abang" ucap El dan Heny tersenyum kikuk


" Udah sini aja dulu, gak usah aneh aneh.... Abang masih mampu, dan gengsi juga kali di bayarin cewek" jawab El langsung berdiri dan berjalan menuju kasir untuk totalitas doang


Bukan bayar ya... Mereka tau El anak dari bos mereka, karena tak jarang El juga makan di sana kalau pas libur sekolah maupun pesantren


Di sisi lain, tepatnya di hotel tempat Il Dirawat, Il masih asyik dengan laptop di pangkuannya,


Ya... Salah satu hobi dan kesukaan para remaja di jaman milebial seperti ini, di tambah mesepian karena sendirian di kamar


Jihan cukup lama meetingnya hari ini, dan balik cuman untuk makan siang sholat sekalian periksa keadaan Il

__ADS_1


Il sudah mendingan, dan lumayan sehat kembali, karena kebawaan ingin di peluk dan di temani tidur sama Uminya, sampai kebawa sakit seperti ini


Dan tak selang lama Jihan kembali ke kamar setelah selesai meeting, dan mengakhiri kerjaannya setelah nanti fokus pada anak bungsuhnya


Yang mana jadwal pertemuan itu seharusnya 3 kali pertemuan, Jihan yang bertanggung jawab, serta memprioritaskan anak, tentu semua bisa di ubah agar tetap anak yang utama


Dalam arti selalu di dampinginya dalam keadaan apapun, walau setiap harinya dia selalu jauh karena anaknya sedang menuntut ilmu, tapi kalau udah sakit Jihan gak bisa diam aja


Al yang sudah dewasa, kalau pun di Mesir sedang sakit atau tidak enak badan pikiran seorang ibuk gak bisa di pungkiri lagi, dan Jihan ingin segera cepat menyusul ke sana


Apa lagi kalau El yang sakit, Jihan sudah gak bisa di tahan lagi, anak nya yang memang punya kelainan dari kecil, walau sekarang sudah normal lagi, tapi rasanya di hati seorang ibu itu sangat berbeda, bahkan ikut merasakan apa yang anaknya rasakan saat sakit


" Gak bobok nak?" tanya Jihan saat mendekat pada Il dan mencium kening Il


" Capek kali Mi bobok terus...." jawab Il santai sambil kembali ke laptop di pangkuannya


" Terus mau apa nak?? mau makan apa sayang? lagi pengan apa?" tanya Jihan lagi sambil mengelus rambut anaknya


" Apa ya Mi? boleh gak sih, Il makan jungfood? lagi pengen banget ini" ucap Il yang lagi kepengen pizza


" Boleh, tapi sedikit ya... Dan jangan keseringan, ini pasti sering banget makan jungfood ya??" tanya Jihan lagi dan Il hanya cengengesan


" Mau apa? biar Umi pesenkan ? " ucap Jihan dan Il langsung menjawab kalau dia pengen Pizza


Setelah itu Jihan kembali pada Il lagi, dan membantu Il untuk melaksanakan sholat asar, untuk mengambil wudhu, dan kembali lanjut di pakaikan mukena dan melaksanakan sholat dengan duduk ,


Saat Il sholat Jihan langsung gantian ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat


Tak lupa keduanya dzikir dan berdoa, dan Jihan lanjut mendekat pada Il dan kembali mengelus kepalanya


" Jangan sering makan jungfood ya, nanti jadinya seperti ini, boleh tapi jangan setiap hari" ucap Jihan tidak mengekang dan harus rapi agar di kurangi


Sikap di kengkang dan di haruskan itu beda dengan mengurangi, karena hal yang menjadi kebiasaan itu bisa hilang dengan sendirinha kalau kira mengurangi sedikit demi sedikit, berbeda dengan yang langsung hilang mungkin rasanya akan beda dan sulit


" Habisnya Enak sih mi.." jawab Il ngebantah


" Tau , tapi kalau sakit enak juga gak?" tanya Jihan lagi dan Il menggelangkan kepala


" Ya makanya, Di jaga ya sayang... di kurangi, " pinta Jihan lagi


" Baik Umi...." jawab Il nurut akhirnya


Di sisi lain..

__ADS_1


Kini mobil El sudah masuk ke area kampung pesantren dan sudah melewati sekolah NU tempat dia belajar dan juga Heny


Hati Heny sudah gak bisa di pungkiri lagi, makin menjadi debaran jantungnya atas peraturan yang barusan dia langgar


El sudah peka dengan gelagat Heny yang kembali seperti awal tadi,


" Udah lho jangan di pikir, nanti Abang yang tanggung jawab, kalau sampai kita kena hukuman" ucap El yang makin faham


" Aku takut kalau sampai di panggil ke Ndalem" jawab Heny sudah mulai berkaca kaca matanya


" Eh.... Kalau di panggil ke Ndalem panggil Aku juga, sebut namaku, di hadapan Abah Tasim dan Umi Ilma" ucap El sangat tanggung jawab pada kesalahannya


" Adek ini Abang yang ngajak.... " tambah El gak mau Heny dalam ketakutan


" Tapi Aku takut bang...... Gimana ini nanti...?" jawab Heny makin menjadi tangisannya


El gak bisa melihat Heny nangis seperti ini, Hingga akhirnya El menghendikan mobilnya sebentar untuk menenangkan Heny


" Jangan takut.... Ini gak akan ada apa, Ini biar jadi urusan Abang..." ucap El makin meyakinkan Heny


Dan kini El memajukan mobilnya lagi, karena gak enak juga berhenti di pinggir jalan yang ada akan jadi makin fatal dengan pandangan orang kampung lainnya


Dan El menghentikan mobilnya jauh dari area pesantren, ya seperti itu lah kelakuan santri dablek seperti El,


" Bersihkan air matanya dulu, gak boleh nangis lagi, aku gak mau lihat kamu menangis lagi" ucap El mengelap air mata Heny dengan tissu


" Bismillah.... Selamat .." ucap Ek menenangkan Heny yang ketakutan


" Iya bismillah..... " jawab Heny yang sudah terlihat senyumnya lagi


" Di bawa ya ini..." ucap El dan Heny mengangguk


" Masuk dulu ya..." pamit Heny


" Iya Jangan takut.... Abang anter nanti kalau takut..." ucap El


" Jangan...." saut Heny cepat


" Ya makanya, hati hati ya.. jangan khawatir.." ucap El dan Heny mengangguk dan tersenyum


" Assalamualaikum...." ucap Heny


" Waalaikumsalam...." jawab El sambil melambaikan tangan

__ADS_1


Heny berjalan menuju area pesantren, dengan menenteng beberapa paperbag dan ternyata sampai gerbang asrama putri, tak jauh darinya Umi Ilma dan juga Abah Hasan udah memantaunya...


__ADS_2