
" Sebelas sebelas udelmu" kesal Jihan pada Zula
" Kan biar jadi kesebelasan sepak bola, setelah abah punya perusahaan sebesar ini nanti langsung bikin club sepak bola, denga pemainnya anak anaknya semua" jawab Zula santai tanpa mikir
" Nanti kamu aja ya, yang bikin 2 kesebalasan sekalian, " jawab Jihan sambil berdiri dan langsung di tertawakan oleh anak dan istrinya
Kini mereka lanjut pulang karena sore nanti Zula akan di pamitkan oleh Abahnya dari pondok pesantren sesuai permintaan Zula kemaren
Kini mereka meniki mobil Al semua sesuai permintaan Jihan, mobil Zain dan Jihan masih di tinggal di kantor dan akan di antar nanti sama orang kantor
" Jadi gini ya, jadi anak sultan, punya mobil sendiri sendiri, di tinggal di sembarnag tempat lagi, nanti pulang udah ada yang nganter, tau tau pulang sendiri mobilnya" ucap Zula karena cukup kaget juga, biasanya dia hidup sendiri bahkan jauh dari kata mewah
Paling naik mobil Uminya, dan biasanya pesen taxi online, bahkan dia sendiri gak bisa yang namanya naik motor dan apa lagi mobil
" Putri Abah mau mobil?" tanya Zain lembut
" Haa...Yang bener aja bah? nawarin Zula mobil kayak nawarin permen" ucap Zula gak percaya
Begitu mudah hidup yang serba ada dan berkecukupan, dan itu lah roda kehidupan, tidak semua orang berkecukupan juga bahagia
" Ya kalau mau gak apa apa" jawab Zain santai
" Enggak ah... Zula ingin kerja, di kantor abah sendiri bisa beli mobil sendiri" jawab Zula justru memilih mandiri
" Cocok.... ini baru inspiratif" jawab Jihan mengacungkan kedua jempolnya pada Zula
__ADS_1
" Abah gak mau anak abah jadi karyawan Abah" jawab Zain cepat karena dia juga gak rela kalau putri kesayangannya itu menjadi karyawannya
" Ini nih.... Pasti Abang Al dan abang El juga sudah kebiasaan seperti itu kan? manja tinggal mangadahkan tangannya, bah uit mi uit, makanya lembek" jawab Zula yang berfikir lebih dewasa
"Hem.... Bener tuh, gak boleh gitu kan Il, harus bangkit dan tau kan gimana capeknya proses untuk sukses, " saut Jiha merasa ada kawan
Pasalnya selama ini, kalau Jihan ingin anak anaknya berusaha sendiri biar maju sendiri, walaupun Al dan el juga pasti akan berjalan sendiri kalau udah lulus kuliah, seperti Al saat ini sudah berdiri sendiri, walau dapat modal awal dari abahnya
Begitu juga dengan El, yang sudah mulai mengelola restoran dari mulai SMA, tapi yang Jihan inginkan anaknya bisa tau gimana prosesnya, dan tidak instan seperti ini,
Tapi terkadang Jihan mengalah karena Zain yang terus memanjakan anak anaknya, atas dasar penyesalannya yang gaj pernah bisa bahagiakan mereka
" Enggak, pokoknya enggak, putri abah satu satunya ini gak boleh ngapa ngapain, gak boleh kerja, setelah sekolah udah duduk manis di rumah, jalan jalan okeh mau kemana okeh, biar sama Abah, waktu putri abah ini terbuang lama sama abah" jawab Zain masih pada prinsipnya
" Maksudnya Zula gak boleh sekolah kuliah tinggi dan berpendidikan seperti kalian semua" jawab Zula langsung peka
" Okey... itu biat jadi kita aja Mi, kita dulu banting tulang, kita yang jungkir walik, untuk siapa untuk anak kan ? dan sekarang semua udah ada, anak anak biar menikmati dong," bantah Zain lagi
Al El Il, hanya menjadi pendengar perdebatan mereka dan Zula maju sikit kedepan untuk membisiki abang abangnya
" Kalian tim siapa?" tanya Zula konyol dan langsung di tonyor oleh El
" Gue tim Abah" tambahnya lagi
" Kita tim Umi aja ya El, gue yakin abah akan kalah sama Umi" jawab Al yang tau kalau perempuan gak akan mau kalah
__ADS_1
" Lanjut sis...." ucap El sambil nyengir dan fokus pada jalanannya
Dasar mereka bertiga memang anak anak konyol, bukan merasa kebisingan malah menjadi tim suporters dari perdebatan mereka
" Okey... Fun, tapi buka begitu cara mendidik anak bah, abah salah" jawab Jihan gak terima
" Salah gimana? abah kan gak tega sama anak anak, dati kecil udah Umi taruh pesantren tanpa persetujuan Abah, okey abah ikuti, kalau udah besar apa sih salahnya, apa lagi Zula tuh, Abah tau dia apa Mi, salah abah mau manjain dia?" jawab Zain lagi
" Ini Nih... Untung Dulu Umi trauma Il, kalau enggak kamu udah jadi anak rumahan yang manja, dan cingek, gak punya mental baja" jawab Jihan sudah saking kesalnya
" Ya makanya Mi, sekarang abah gak mau, dari kecil abah gak pernah tau siapa Zula ,bahkan nafkah juga gak pernah abah berikan, saat ini biar lah dia manja, kalau masalah ekonomi, di mana kalau perusahaan kita terus berjalan, insyaallah drngan duduk manis di rumah sambil makan gorengan dan teh anget juga uang terua masuk Mi" jawab Zain menggampangkan
" Okey... Kita ada bah, kita sekarang ada, tapi sekaya apapun kita, Umi tetap mau anak anak Umi berpendidikan, sekalipun itu anak perempuan, " jawab Jihan dan Zain akan menjawab langsung di saut Jihan lagi
" Okey sekarang gini aja, mau ijazah itu kanggo atau enggak, seharuse abah berfikir, kita udah tua, di saat kita gak ada ada anak anaknya yang bisa meneruskan, kalau tanpa ilmu apa bisa?" ucap Jihan masih belum bisa di sangkal
" Dan Il ,okey, dia cewek gak wajib cari nafkah, iya besok kalau suaminya berada dan punya gaji Alhamdulillah, dia bisa taat sama suaminya bisa jadi istri yang bisa merawat suaminya, " tambah Jihan lagi
" Abah yang akan kasih Umi" bantah Zain masih kekeh
" Okey, Abah bisa bilang gitu saat ini, kalau Abah sama Umi udah gak ada, gimana? Al El sibuk dengan keluarganya sendiri, bisnisnya sendiri, dan iya kalau suaminya sehat terus kalau enggak" bantah Jihan lagi tetap gak mau kalah dari Zain karena dia merasa benar dengan pendiriannya
" Ya jangan doain gitu lah mi" saut Zula
" Ya bukan gitu Nak, cuman kita gak tau hidup kita kedepannya seperti apa, gak tau juga jalan hidup dan takdir kita gimana" jawab Jihan lembut
__ADS_1
" Kalau nanti akhirnya seperti Umi, di luar mikir Umi dulu beruntung, bahkan sampe di rendahkan dan di pandang sebelah mata, karena anaknya petani yang gak punya apa apa, dapat suami putra kyai yang kaya raya," jawab Jihan santai
" Untungnya Umi di anugrahi otak yang cerdas, bisa lulus cepat dapat ilmu yang barokah manfaat, kalau enggak, apa Umi gak bawa kalian hidup di bawah kolong Tol? tiap hari nyuci gosok baju orang lain, kayak gitu abahmu mana mikir, udah di beri pelajaran hidup kaya harta melimpah tapi gak bahagia juga, sepertinya gak pernah meresapi deh" tambah Jihan lagi sambil melirik kesal pada Zain