
Kini El sudah tiba di bandara, dan dia menggunakan taxi untuk tiba di bandara, motornya sudah di titipkan pada Dani yang selama El pergi dia harus bisa bagi waktu banget untum menjadi Imam di masjid tersebut
El berjalan masuk ke pintu kedatangan dan sambil menyeret kopernya,
Dengan menggunakan celana pendek, selutut, dan juga hoodie lengan panjang, dengan kepala yang di tutupi, serta kaca mata hitam yang menambah penampilannya yang makin cool
Kulitnya yang putih, tanpa menggunakan sepatu dan hanya memakai sendal andalannya menjadi pemandangan indah bagi kaum hawa yang melihat dari atas ke bawah
El terus berjalan santai tanpa menoleh kanan kiri, dan sesekali melihat ponselnya untuk mencari keberadaan Abah Uminya yang sudah menunggunya
Secara Bandara nomer 1 di Indonesia itu adalah bandara yang cukup luas, Internasional dan tempat transit dari berbagai negara, dan juga antar pulau, di sana tempat transitnya dan juga kumpulnya ratusan tibu penumpang setiap harinya
Tiba di mana El menemukan tempat kencan kedua orang tuanya, ya masih di kafe yang sama, El menjumpai Abah dan Uminya
Jihan dan Zain tak sadar siapa yang datang, mereka berdua sibuk sendiri membahas bisnis,
Ya mereka kompak dalam menjalankan bisnis, apa lagi Zain yang sering kali meinta pendapat pada Jihan,
Tapi tidak dengan Jihan yang sama sekali tidak pernah memibta bantuan dalam bidang kesehatan, dan bahkan tidak pernah melibatkan dalam perusahaan rumah sakitnya sama sekali
Selain bukan besiknya Zain, Jihan maish bisa menangani sendiri, dan itu menjadi hal mudah bagi Jihan
Walau dalam keadaan membahas bisnis Jihan dan Zain masih bisa saling mesra, dan membuat El yang berdiri di sebelah mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat orang tuanya yang jaraknya begitu dekat
" Assalamualaikum...." ucap 3l pekan dan santai
" Waalaikumsalam..." jawab Jihan yang tanpa mengalihkan pandangannya
Zain langsung menoleh dan melihat siapa yang datang, tapi Jihan masih sibuk dengan laptop di hadapannya
Zain tersenyum dan hampir saja berdiri, tapi El mencegah dan memberi isyarat agar tidak memberi tahu Jihan
Zain mengangguk dan kembali fokus dan berdrama pada Jihan yang melanjutkan persentasinya
Cup......... 1 kecupan mendarat pada pipi Jihan dari putra ke sayangannya
Jihan melotot dan menoleh ke samping dengan menunjukkan wajah marah besar
Tangan sudah mengepal dan ingin meninju El yang masih menjongkok di sebelahnya
Jihan belum sadar kalau itu adalah anaknya, secara El masih menggunakan kacamata dan menutup kepalanya dengan tutup hodie yang dia pakai
Melihat wajah marah Uminya, El seketika langsung tersenyum nyengir dan
" Astagfirullahaladzim..... El " ucap Jihan sadar dengan senyuman buah hatinya yang sudah dia hafal
__ADS_1
" Hehehe... Sorry Mi, " jawab El dan mencium tangan Uminya dengan Jihan yang memeluk buah hatinya yang sudah tinggi jangkung lebih darinya
El juga mencium tangan Abahnya dan Zain berdiri memeluk buah hatinya yang sudah hampir 4 bulan tidak pulang kerumah
Zain menepuk pundaknya lembut dan juga mencium kening El lembut
" Kok gak panggil apa salam dulu sih nak..." ucap Jihan saat El duduk di sebelahnya
" Eleh... Udah salam tadi kan bah? Umi sih terlalu fokus sibuk sendiri" jawab El santai sambil bibir yang seolah mencibir
" Betul..." jawab Zain mengacungkan jempolnya
" Kalau udah depan laptop gak peduli siapa yang datang" tambah El lagi yang tentunya hafal
" Betul..." Saut Zain lagi
" Sibuk sama kerjaan"
" Betul.."
"Gak peduli sama orang di sekitar "
" Betul.."
" Gak peduli anaknya Datang"
" Betul.."
" Betul.."
El dan Zain saling saut sautan dengan kebenaran Uminya yang kalau dalam satu pekerjaan harus fokus tanpa peduli siapapun
" Ck... Apaan sih, kenapa jadi malah mojokin Umi" elak Jihan merasa terpojokkan
" Kenyataannya begitu" jawab El santai dan Zain lagi lagi mengacungkan jempolnya
Jihan langsung melotot pada Zain yang ada di sampingnya
" Tapi gimana? bener gak apa yang anaknya katakan?" tanya Zain lagi dan Jihan akhirnya pasrah dan tersenyum cengengesan
" Mau makan dulu gak nak?" tanya Jihan pada El
" Gak lah Mi, barusan sarapan di kantin langsung kesini kok " jawab El menolak lembut
" Okey lah... " jawab Jihan kembali menghadap ke Laptopnya
__ADS_1
" Lanjut lagi....." Ucap El menyindir Jihan
" Nanggung lhi El," jawab Jihan masih aktif
" Kalau kayak gitu gak ada habisnya kan El" tambah Zain membela El
" Betul..." jawab El mengacungkan jempolnya
" Apa......" ucap Zain terpotong
" Apa apa.... Lanjut betul betul betul.... terus" potong Jihan membuat El dan Zain tertawa
Dan mereka lanjut ngobrol tentang El dan keadaan serta kuliah El hingga tak terasa panggilan untuk pesawat mereka siap untuk boarding
" Eh udah boarding tuh Mi" ucap Zain pada Jihan
" Eh Iya... kita lho belum ke loket, jauh jalannya Bah di gate 9F tuh" ucap Jihan terlupa mungkin kalau jalan juga akan telat
" Ck.... Ya ngapain aja kita tadi ngibrol di sini, seharusnya di ruang tunggu juga kan bisa" keluh El yang tidak tau jam terbangnya
" Udah udah... Ayo berdiri senua" jawab Zain dan membuat El dan Jihan berdiri cepat
Mereka masing masing menyeret kopernya sendiri sendiri
Setelah membayar makanannya Zain langsung menggandeng pundak Jihan untuk keluar dari Kafe tersebut dan
" Stop Bang.." ucap Zain menyetop mobil golf yang kebetulan lewat di hadapannya
Yang pasti Zain juga gak mau jalan terburu buru dan capek nantinya untuk menuju ke Gate 9F
Hingga akhirnya mereka menaiki mobil tersebut agar cepet sampai ke Gate untuk menuju ke Pesawat
" Tak kira pake Jet Abah" ucap El santai saat naik mobil tersebut
" Lagi di bawa Om Irfan ke London, Kita pake pesawat Umum aja" jawab Zain memberi pengertian
" El justru malah seneng pake Pesawat Umum Rame gak sepi, apa lagi di penumpang Ekonimi, temannya banyak" jawab El yang tentunya sama sekali belum pernah naik pesawat di kursi Ekonomi, ya namanya sultan mah bebas
" Tapi kan gak nyaman nak..." jawab Zain yang ingin memberi hal terbaik untuk keluarga
" Sama aja, sama sama satu pesawat tujuannya juga sama, kalau El yang penting sampai dengan selamat" jawab El cuek dan Zain enggan menjawab
Hingga akhirnya mereka sampai di gate 9F dan langsung masuk untuk menukar boarding pas, agar bisa masuk ke pesawat
Kini mereka ber 3 langsung berlari ke arah boarding pas di pintu yang di tuju, dan menyusul penumpang lainnya yang sudah duluan jalan
__ADS_1
" ya Allah ya Robbi.... Seperti ini rasanya hampir Telat" ucap Jihan setelah berlari dan ngos ngosan
" Yang ada kita tambah capek El, karena terburu buru" omel Jihan lagi dan El malah nyengir kuda ✌