
Setelah membeli semua perlengkapan camping beserta baju dan juga bahan pokok selama hidup di atas bukit Il dan teman temannya kini udah sampai di bawah dan hendak mendaki gunung dengan perlengkapan yang cukup banyak
Ya.... Semua itu karena Il yang nyemil dan makan, tapi teman temannya siap untuk membantu membawa, mengingat Il yang termuda dan terkecil diantara mereka jadi udah menjadi kewajiban bagi mereka yang mambantu Il toh semua itu juga karena Mereka juga nanti ikut menikmati bekalnya juga
“ Bisa Der.....” tanya Ucup pada Il yang mau memakai tasnya
“ Aman Beb...” jawab Il santai
“ Kuat kan sampai atas nanti?” tanya ucup khawatir
“ Kan ada kamu Beb... Aman kan?” jawab Il santai san ucup mengacungkan kedua jempolnya
Ucup tau kemampuan Il dan dia juga faham siapa Il dan gimana cara menanggapi Il nanti di saat kecapean, dan hanya Ucup saja yang tau selahnya Il, soalnya Il itu gak bisa di paksa saat sedang jengkel maupun capek, jadi disaat Il ingin mucak Ucup selalu siap sedia menemani dan mendampingi Il sampai kapanpun
Seperti saat ini Il gak mau jauh jauh juga dengan Ucup, dan jalannya berdampingan dengan Ucup, dengan Tasya yang berada di depannya
“ Ini tadi udah bilang sama Umi kan sebelumnya?” tanya Ucup
“ Ya harus lah Beb, kalau enggak mana bisa sampai sinni gue, yang ada nanti di blok kartuku,” jawab Il santai dan membuat Ucup mengangguk
“ Loe mbahnya gimana beb... nanti loe maksa lagi” tanya balik Il
“ Harus kalau itu, hehehehe Gue gak bisa biarin loe pergi tanpa gue” jawab Ucup sambil tersenyum
“ Siip...... Sayang bebeb...” ucap Il sambil menggondeli ransel Ucup
“ Sayang balik....” jawab Ucup sambil merangkul pundak Il
Il tersenyum dan lanjut berjalan naik mendaki gunung dengan sambil ghibah dan bercerita
20 menit sudah mereka mendaki gunung, dari gelagat IL ucup sudah mengerti kalau Il sudah lelah dan terlihat capek
“ Istirahat dulu ya, capek kan..?” ucap Ucup lembut
Il pun mengangguk dan menghentikan jalannya, dan berhenti dan Ucup menggendengnya mengajak duduk, istirahat
“ Wooy...... Ayo lanjut” teriak Afdal yang belum tau siapa dan bagai mana karakter IL
__ADS_1
Afdal adalah teman Ucup yang baru gabung satu club dengan IL saat ini, beberapa minggu lalu mereka juga sudah mengadakan pendakian dan camping, tapi Il gak ikut karena sibuk sendiri
“ Loe jalan aja dulu” jawab Ucup sambil duduk menemani Il
“ Yah..... payah, makanan aja sih yang di pentingin” teriak Afdal mencibir Il
Il tidak menjawab tetap duduk karena dia memang sangat capek
“ Woy...... Ayo” teriak Afdal gak sabar
“ Loe duluan aja sana, gak usah teriak teriak” jawab Ucup ngegas dan keluar kejantanannya
“ Udah udah ayo kita jalan lagi” lerai Il merasa gak enak dengan yang lain
“ Enggak di sini aja, istirahat dulu gak usah ladeni mereka” jawab Ucup tau kalau Il nanti akan fatal
“ Alah modus loe Cup.....” teriak Afdal makin meledek
“ Loe bisa diam gak.....” kesal ucap berdiri akan menghamapiri Afdal
“ Udah lho beb.....” cegah Il menarik ransel Ucup
“ Enggak udah loe duduk dan istirahat saja” jawab Ucup kembali mengajak Il duduk
Tasya mulai mendekat pada Afdal, dan menjadi penengah bagi Afdal dan juga Ucup
“ Udah kalau loe mau jalan, ayo jalan aja dulu, gak usah bantah ucup, dan ganggu Adek kesayangannya itu, kalau elo gak mau masuk jurang untuk mengakhiri hidup loe” ucap Tasya uyang tau gimana sayangnya Ucup pada Il
Tasya memang gak tau kelemahan Il, tapi Tasua tau perhatian Ucup pada Il bagai mana, dan bahkan Tasya sendiri yang kenal dengan Ucup lebih lama kadang merasa cemburu dengan kedekatan IL dan Ucup, tapi lambat laun akhirnya Tasya bisa memahami dan gaham akan hal itu
" Udah loe tenang aja di sana Beb, Ini orang baru buar gue yang urus" ucap Tasya pada Jihan
" Enak Aja, dia yang baru" bantah Afdal
" Eh.... Elo yang baru, baru kemaren sore loe gabung sama kita" bantah Adi membela Il
" Dia gak pernah aktif gitu kok" elak Afdal gak mau kalah
__ADS_1
" Eh Bisa diem gak loe? apa mau gue cempuling ke jurang?" muraka Ucup pada Afdal
" Woy.... Udah udah, gue turun aja kalau gitu deh, malah lada bertengkar kayak gini" teriak Il merasa gak enak jadi bahan masalah di antara mereka
" No..... Biar dia aja yang turun kalau gitu" ucap Ucup mencegah Il
" Gue selama ini gak pernah ada kayak gini ya Dal, kalau mendaki, loe jadi orang jangan egois, harus tau kondisi teman lainnya, jangan mentang mentang loe kuat" ucap Sri ikut murka,
" Ya dia juga yang seharusnya gak usah ikut kalau memang lemah, baru bentar udah istirahat" ucap Afdal makin pedes
Il susah gak bisa menahan emosi kalau kayak gitu, dan dia langsung berdiri menaruh ranselnya dan berjalan mendaki menghampiri Afdal
" Apa loe bocil" tantang Afdal
Il langsung mekin mendekat dan berdiri serta mencekal kuat kesah kemeja Afdal
" Jangan mentang mentang loe laki, dan loe kuat bisa merendahkan cewek kecil seperti gue ya, " ucap Il santai tapi tajam
Hal itu sangat di takutkan oleh Ucup, kalau Il sudah kesal dan Emosi susah di kendalikan, dan jangan tanya apa yang akan terjadi sama Afdal berikutnya
Tapi tidak dengan Afdal yang belum tau Il sebenarnya, dia justru tersenyum mengejek dan membiarkan Il mencengkeram kedah bajunya
" Elo mau gue cemplungin ke jurang apa nyempung sendiri?" ucap Il makin menjadi amarahnya
" Hahaha.... Nantang lagi, apaan sih loe cil.. Gak lucu, sadar diri dong..." ejek Afdal masih berfikir santai tentang siapa Il
Di sisi lain Heny dan El masih jalan bareng dan saat ini sedang menikmati sepoy sepoy angin di siang hari tepi pantai
“ Sayang... Seumpama, kalau nanti adek udah lulus sekolah tak ajak nikah mau gak?” tanya El pada Heny
“ Nikah...?” kaget Heny dan IL mengangguk
“ Emamg Ayah tadi nyuruh cepet cepet nikah ya..?” tanya Heny balik
“ Ya enggak, maksud Abang nanti kalau Adek udah lulus kita kulaih bareng satu kampus, sekalian satu tempat tinggal, gimana... menurut Adek?” tanya bEl balik memberi pertimbangan
“ Iya kalau Adek keterima di UI, kalau enggak? Kan Adek gak secerdas Abang” jawab Heny Ragu
__ADS_1
“ Ya nanti Abang yang pindah, tapi mau kan tak nikahin setelah lulus nanti...?” tanya El serius