
Setelah pamit dengan kedua orang tua Heny, El langsung pukang dan waktu sudah menunjukkan hampir magrib,
El mengendarai mobilnya santai dan dia berniat mampir sholat kerumah neneknya dulu, mbah Umi sama mbah Abah,
Ya Ke pondok pesantren Al Musthofa yang saat ini makin berdiri kokoh, dan makin megah dengan ribuan santri yang menjadi penghuninya
Abah Hasan Dan Umi Zahra bukan hidup sendiri di sana, maksudnya bukan mengajar sendiri, tapi sudah ada adam dan istrinya cucu abah Hasan dan Umi Zahra anak dari Baha' yang membantunya
Sebenarnya mereka juga masih enggan, tapi gimana lagi neneknya sudah tua mereka yang membantu sebagai pengasuhnya
Karena Jihan dan Zain masih sibuk dengan bisnis mereka, yang seharusnya Zain sebagai pendamping abah dan Umi Zahra saat ini
Tapi mengingat Jihan yang masih mau tetap bekerja dan menjalankan Rumah sakitnya, membuat Zain tak berani memaksa lagi, cukup sekali dulu Zain menyakiti Jihan, hingga membuar Jihan kabur kaburan
Hingga saat ini Zain gak berani mengarahkan dan mengajak Jihan lagi, rasa takut selalu menghantui,
Zain berfikir terserah apa ke inginan Jihan, asal membuat Jihan bahagia
Umi Zahra dan Abah Hasan sebenarnya pengen ngomong dan meminta langsung pada Jihan, tapi keduanya di cegah Zain untuk itu agar Jihan menjalankan apa yang dia mau tanpa paksaan lagi
Iya, belasan tahun kejadian pemaksaan dengan cara membacklist semua perusahaan dan meminta Jihan untuk pulang dalam keadaan tidak baik baik saja itu cukup ikut menyayat hati Zain
Dan kata minta di suntik mati sampai saat ini masih terlintas dalam benak Zain, di kala ingin mengajukan sesuatu yang sekiranya Jihan tidak akan setuju.
Kini El sudah sampai di halaman rumah Pondok pesantren Al Musthofa,
El memarkirkan mobilnya di parkiran biasanya tempat dia parkir VIP, begitu El menamakan, karena selama dia berkunjung kesana, tidak pernah ada 1 mobil maupun motor yang berani parkir di sana, walau dalam keadaan rame sekalipun
El mematikan mesin mobilnya yang bahkan tidak terdengar siapapun, dan El kemudian turun dan lanjut berjalan ke pintu utama Ndalem Al Musthofa
"Assalamualaikum...." ucap El sambil membuka pintu tanpa menunggu di bukakan orang lain
" Waalaikumsalam...." Terdengar sautan dari arah dalam
El kemudian melepas sepatunya dan berjalan menuju ruang makan yang biasanya tempat kumpul para keluarga
__ADS_1
" Lho... Loe di sini bang?" sapa El yang melihat Al juga berada di sana dan berkumpul dengan nenek dan kakeknya
" Iya lah, Ngapain di rumah sendiri , males lah, " jawab Al sambil makan
Al setelah di tinggal El tadi memilih untuk pergi dan berkunjung ke rumah mbah Uminya, dari pada di rumah sendirian sepi dan gak ada makanan walau rumahnya bersih juga sih
" Lha kamu dari mana El?" tanya Adam yang ada di sebelah Al
" Mutusin cewek" saut Al cepat
El sontak melotot tajam, secara El takut hal itu akan di laporkan oleh adam pada Uminya, yang paling terkenal anti mantan
" Emang udah punya pacar?" tanya Helsa istri Adam
" Weh.... Jangan tanya, gue aja kalah" jawab Al cepat
" Kok di putusin emanganya kenapa?" tanya Helsa lagi
Al sudah akan angkat bicara tapi..
" Mana ada putus, gak jadi gue masih sayang sama dia, gak tega mutusin dia" jawab El cepat yang pastinya akan menyeret Al nanti untuk di tindak lanjuti
" Bener... Udah ah, gue mau sholat dulu, udah magrib dari tadi" jawab El langsung berlari menuju tangga dan ke kamarnya
Al tidak curiga apa apa, tapi dia kepo apa tentang cerita Al yang membatalkan acara putusnya dengan Heny
Al sudah sholat sejak tadi sebelum dia makan, dan kebetulan malam ini malam selasa, dan jadwalnya istimaul qur'an bagi para penghafal Al Qur'an di ponpes Al Musthofa ini
Dan Al dengan kilat melanjutkan makannya dan ingin segera menyusul El dan mendengar cerita El
Di lantai 2, El langsung masuk kamarnya, dan sebelumnya dia tidak berjumpa dengan mbah Umi sama mbah abahnya, karena beliau masih pada wiridan atau dzikir toriqoh di kamar masing masing
El langsung masuk ke kamar mandi untuk bebersih, dan lanjut untuk wudhu dan siap siap sholat
Jarang banget bagi anak cucu abah Hasan dan Umi Zahra sholat jauh dari waktunya, mereka tidak pernah menunda nunda sholatnya
__ADS_1
Di bawah Al masih lanjut makan dengan buru buru, dan Adam heran melihat Al yang justru terburu buru
" Ngapain kamu buru buru Al, nanti tersedak lho" ucap Helsa mengingatkan Al
" Entah tuh, ini juga masih banyak ngapain buru buru" lanjut Adam sambil menggelengkan kepalanya
" Hehe Gak apa apa Mas, gue mau nyusul El dulu" jawab Al sambil meneguk minumnya dan lanjut berlari menuju kamarnya dan El
Mereka kalau di rumah memang beda kamar tapi kalau di sini, walaupun pinya kamar masing masing yang sudah di siapkan oleh Abah Zain tapi mereka memilih untuk berdua saat di rumah Al Musthofa, karena mereka jarang di kamar dan kalau nginap sering kali tidur bareng kang santri
Al terus berlari buru buru, dengan hati yang sudah di hantui rasa penasaran, hingga akhirnya .
" Astagfirullahaladzim..... Al" ucap Umi Zahra hampir saja katabrak oleh Al
" Hehehe afwan mbah Umi, " jawab Al terhenti sejenak yang hampir saja membuat neneknya jantungnya copot
" Mau ngapain buru buru gitu? mau buang air toh?" tanya Umi Zahra pada Al
" Bukan mbah Umi, ini mau nyusul El" jawab Al apa adanya
Padahal, kalau Al bilang El ada di sini yang ada malah gak jadi mergoki El untjk kepoin hubungan El dengan Heny
" Lho El di juga di sini?" tanya Umi Zahra kaget
" Iya magrib tadi baru kesini mbah, masih sholat dia" jawab Al kurang peka
" Ya Udah mana? mbah Umi mau nyusul" jawab Umi Zahra langsung berbelok berjalan menuju kamar El
Melihat hal itu Al baru sadar yang ada dia gak akan bisa mendengar cerita El masalah Zula,
" Ya Allah... Salah jawab gue, " gumam Al sambil nemepuk Jidatnya
" Baner kata El, berbohong kadang sangat di perlukan " batinnya sambil berjalan terpaksa menusul Umi Zahra ke kamar El
Di rumah Heny, Heny masih termenung di atas sajadahnya, dia masih merasa apa yang membuat El segampang itu melepaskan dan mengakhiri hubungannya
__ADS_1
Dia sebagai perempuan cukup penasaran, apa yang sebenarnya terjadi selama mereka LDR
Pikiran Heny sudah mulai menebak nebak, dan bersuudzon dengan El, tapi dia mencoba untuk tetap tenang dan berfikir positif saja tentang El walau air mata keikhlasan belum pernah Heny keluarkan,