
Hari kian berganti, El kembali beraktifitas denga kegiatan kampus dan masjidnya lainnya
Sedangkan Al baru akan meresmikan PTIQ yang dia ajukan pada Abahnya
Jihan dan Zain baru sempat pulang beberapa hari yang lalu,
Semua persiapan peresmian sudah di persiapkan, ada sebagian keluarga yang ikut hadir di sana,
Dan sebagian lagi sibuk dengan urusan masing masing,
Tapi saat ini nenek dari Al udah ada, ya siapa lagi kalau bukan dari sesepuh kucluk?? Ulfa Hamdan , toha dan Charir si pasangan somplak
Kini mereka sudah kumpul di kantor PTIQ, kantor khusus tempat Al dinas nanti, dan Kampus Tersebut juga terhubung dengan sekolah BNT, yang mana kantor tempat Al tadi sebagai pembatas di antara kedua gedung pendidikan itu
" Kamu beneran sanggup mangku semua gedung ini Al?" tanya Toha merendahkan Al
" Harus sanggup dong, dia yang minta kok" sela Zain
" Tapi kalau aku ogah Zain, mumet mikirin anak orang segitu banyak" bantah Toha yang merasa sudah gak kebayang apa yang harus di pikirkan
" Kalau kamu Yah, semua di bikin mumet karena gak pernah mikir panjang" saut Charir kesal sendiri sama Suaminya
" Orang Om Toha cuman kelon aja kok Tan yang di pikirannya" saut Jihan mengejek Toha
" Entah tuh, padahal udah tua, udah mau peloh kelon aja" sambung Hamdan
" Enak kok mas,... " jawab Toha cepat
" Enak.ya Enak, tapi jangan keenakan, udah tua, nanti bengek" tambah Zain makin mengojlok Toha
Ya mereka walau sudah pada tua, tapi masih sering bergurau parah dan makin koclok
" Gak apa apa dong, bengek masih punya istri yang ngurusin" jawab Toha gak mau kalah
" Ra butoh.." ucap Charir terhenti
" Udah..... Shollualan nabi Muhammad" cegah Jihan yang paling pusing kalau mereka berdebat
" Gini kok, gimana anak anak gue gak ikut debat kalau kumpul, orang ada pimpinannya" tambah Jihan kesal
" Gak apa aoa kan nampakkan kalau keturunan Om Toha, betul gak Al?" bangga Toha
" Enggak.... Gue juga malu kali kalau keturunan Om" jawab Al sengaja cuek
__ADS_1
" Hqhahahahaha.... Makanya jangan bangga sama kekurangan yang memalukan itu" saut Ulfa pada Toha
Mereka makin tertawa dan lanjut ngobrol santai sambil masih dalam fase perdebatan Rumah tangga somplak
Acaranya memang masih beberapa jam lagi, soalnya mereka juga belum sarapan dan baru hanya kumpul saja,
Apa lagi mereka jarang berjumpa, dengan padatnya kegiatan Zain dan Jihan membuat mereka jarang kumpul
Dan acara itu berlangsung nanti setelah mereka sarapan pagi yang mungkin masih dalam perjalanan denga via jogeer
" Al kamu tuh salah besar" ucap Toha tiba tiba di sela obrolan mereka
" Kok bisa salah besar bodih lagi ?? orang Al gak ngapa ngapain Mbah Lho" jawab Al kaget
" Ya tau, tapi perusahaan Abah sama Umimu banyak, yang menghasilkan Uang dari sekolah jauh lebih banyak dan besar lagi, tapi loe malah minta yang ini, kenapa gak lanjut bisnis aja, gimana gak salah besar dan bodoh coba" ucap Toha masih menyahalkan Al
" Ya bisa aja, tapi Al kan bidangnya di sini, kalau semua jadi pembisnis, terus siapa yang ngurus pendidikan Abah?" jawab Al masuk akal
" Betul tuh Al, terus siapa yang bodoh?" tanya Charir sengaja membela Al
" Mbah Toha lah, bodoh sendiri gitu masih sempet bodohin orang lain" jawab Al cepat langsung menjadi bahan tertawaan mereka
" Iya kan Al, mbahmu itu memang Tuman" tambah Hamdan membela cucunya dan menonyor kepala Toha
Kali ini makanannya bukan dari resto Zain, melainkan dari tempat catrering yang dekat dengan sekolahnya
" Assalamualaikum.. Selamat pagi pak Buk" ucap sang petugas kampus mengantarkan kurir katering
" Waalaikumsalam.." jawab semuanya yang ada di dalam dan menoleh ke arah suara
Jihan Kemudian berdiri menyambutnya,
" Oh.. Silahkan masuk Pak, " jawab Jihan menghampiri mereka
" Ini untuk sarapannya Buk" ucap petugas menyampaikan
" Oh Iya silahkan taruh di sana Ya, " jawab Jihan sopan sambil menunjuk di salah satu karpet yang sudah di sediakan untuk sarapan
Ya begitulah, semua makan di karpet itu lebih nikmat menurut keluarga Zain dan Jihan, walau mereka punya ruang makan dan meja makan, apa lagi punya Jihan yang pastinya lebih mewah, tapi kalau makan bareng bareng seperti ini enakan lesehan di karpet saja
Setelah menu sarapan di hidangkan para petugas pamit undur diri, dan tiba tiba datang rombongan dari Keluarga Musthofa yang baru hadir
" Assalamualaikum..." Ucap Baha' yang di susul beberapa saudaranya
__ADS_1
" Waalaikumsalam.." jawab semuanya menoleh pada Sumber suara
" Hay pakde Kepo..." sapa Al menjengkelkan
" Hay juga anak Es balok" jawab Bqhq' gak mau kalah mengejek Al
Ya sengaja Baha' memanggil Al anak es balok, walaupun kalau sama dia Ak gak dingin, tapi kalau sama santri putri dan orang belum saling kenal lama Al cueknya minta ampun alias Dingin dan Es balok
Mereka kemudian berkumpul bareng dan duduk di karpet yang di tengahnya ada banyak hidangan tersedia
" Kok Es balok, terus abah dan Uminya Es apa Pakde?" tanya Sulaiman anak terakhir Fani dan Hamzah
" Es teler" jawab Toha cepat dan cuek
Mereka semua langsung tertawa, apa lagi Sulaiman yang polos super polos di usianya yang sudah 15 tahun
" Emang ya kalian semua ini, datangnya telat sampe sini langsung makan" ucap Fani menunjuk pada saudaranya yang datang telat
" Lho justru itu yang enak seperti ini iya gak Han?" tanya Baha' pada Jihan
" Betul mas, emang gitu nanti kan tukang doanya" jawab Hamzah
" Ada Al Mukarrom Abah Hasan Musthofa Zah, jangan ngurang ngurangin jatah amplopnya loe" bantah Baha' sambil melirik Abah Hasan yang sedang ngobrol dengan besannya
" Apa Ha'?" tanya Abah Hasan menoleh pada Baha'
" Gak apa apa Bah, nanti kalau Abah dapat amplop dari Zain bagi dua ya," jawab Baha'
" Lambemu Ha' " jawab Abah Hasan dan Baha' tertawa tanpa merasa bersalah
" Mas Baha' ini kebiasaan " jawab Cirana merasa gak enak
" Efek lapar Mi, dari tadi Zain diem aja nawarin makan aja enggak" saut Baha' beralasan tanpa masuk akal
" Gak seperti biasanya aja sih Mas, makan tinggal makan aja kok ribet" jawab Zain cuek
Zain memang gitu setelah dia ada masalah dengan Jihan, Zain tidak bisa seperti biasa
Karena kedekatan Jihan dengan Baha' yang luar biasa,
Ya... Memang Jihan bukan hanya seperti saudara ipar saja dengan Baha', tapi melebihi batas bahkan nelebihi suaminya sendiri, bukan berarti mendua
Jihan sudah seperti dirinya sendiri kalau sama Baha' di tambah Zain yang super posesif menjadi terlihat aneh dan cuek
__ADS_1