
Semua orang menoleh pada Irfan yang tiba tiba masuk kedalam ruangannya tanpa permisi
" Ck.... Salam dulu kek Om Irfan" elak El
" Udah salam... Gak ada yang dengar.." jawab Irfan memang benar tadi dia salam sama sekali gak ada yang dengar
" Oh ya kebetulan loe kesini Fan, tolong urus pertanahan di dekat sekolah BNT, sekalian carikan kontraktor sekalian" ucap Zain memerintah Irfan
" Warisan dulu dong pak" gurau Irfan
" Minta sama Al, itu kerjaan Al" jawab Zain santai dan langsung berdiri
Irfan langsung melirik pada Al, Al yang menyadari langsung mengalihkan pandangannya
" Pulang yuk... Abah mau istirahat dulu, capek, " ajak Zain yang belum waktunya pulang
Jihan pun langsung ikut bangkit, dan menerima uluran tangan Zain yang memintanya untuk menggandengnya
" Bah.... Kan El belum jadi tadi" protes El
" Iya nanti di rumah aja, " jawab Zain langsung menarik pinggang Jihan agar makin dekat padanya
Al dan El gak heran, karena mereka sering melihat Abah dan Uminya yang selalu bertingkah mesra di hadapan mereka
" Fan sekalian ya beresi berkas berkas nanti kalau mau jemput Ismi di rumah, bawa sekalian " ucap Zain sebelum keluar dengan menggandeng pinggang Jihan yang masih ramping
Jihan berjalan seperti biasa, tapi cukup aneh dengan sikap suaminya yang agak agresif saat ini
Jihan menatap wajah Zain saat berjalan di sebelahnya, menatap dengan tatapan seksama, tapi tidak dengan anggapan Zain kalau Jihan saat ini sedang menggodanya
" Kenapa sih?" ucap Jihan sambil menatap Zain
" Ck..... Biasa" jawab Zain santai yang mana saat gerah gerah seperti ini sebenarnya dia sudah gak tahan kalau melihat wajah Jihan yang cukup menggodanya
Karena menurut mata Zain, semakin Jihan bertambah Usianya jutru semakin menggoda menurutnya..
" Kebiasaan.... cuiit....." ucap Jihan sambil tersenyum kesal dan mencubit pinggang Zain
" Siapa suruh jemput dan nyamperin kesini" jawab Zain gak mau kalah
" Nanti di rumah ya.." jawab Jihan lembut yang sudah mengerti
" Makasih Umi.." jawab Zain sambil mencium lembut kepala Jihan
Kedua anaknya di belakang sama sama mengelus dada untuk sabar menerima cobaan di hadapannya, cobaan masih menyendiri dengan kemesraan orang tuanya
__ADS_1
Rasanya mereka pengen berteriak manggil nama pasangan masing masing, sambil berhayak bermesraan sendiri
Tiba mereka di parkiran mobil, mereka pake mobil Al dan kini Al yang bawa dengan El di sebelahnya, dan kedua orang tuanya di bangku belakangnya
" Sesuai aplikasi ya mas.." canda Jihan pada Al
" Baik buk..." jawab Al dan menjadikan tawa dalam mobilnya
Jihan kembali ngelendot di dada bidang Zain, begitu juga dengan Zain yang sedari tadi selalu menarik pundak Jihan agar mepet dan bersandar dengannya
Kedua anak bujangnya merasa kepanasan karena melihat kemesraan Umi dah Abahnya yang tak menghargai keberadaan yang masih bujang dan belum punya pasangan halal
" Bah Mi.... " panggil El sudah gak tahan menahan panas walau AC mobil sudah kenceng
" Hem...." jawab Jihan masih bersandar mesra di dada Zain
" Umi merasa gak sih? ini ada 2 bujang nganggur di sini, panas Mi...." teriak El kepanasan membuat Zain makin membawa Jihan dalam dekapan
Seketika Al dan El berteriak....
" Henyyyy......."
" Yasmiinnnnn...."
Kompak memanggil kedua nama pacaranya, Jihan dan Zain serasa bodo amat menanggapi kedua putranya yang sudah tumbuh dewasa itu
Walau bergurau dan hanya santai tapi capek juga, karena sama sama kerja bagi Jihan dan Zain, sama sama habis perjalanan bagi Al dan El
" El.... " panggil Zain yang tiduran di pangkuan Jihan
" Iya Bah..." jawab El menolah pada Abahnya
" Kamu tadi mau minta apa?"
" Oh... Itu.." jawab El langsung mendekat pada Abahnya
Jihan heran dan menautkan kedua alisnya melihat El yang dekat dekat dengan Abahnya
" Hahahaha..... Sepertinya ada mode baru Al" sindir Jihan yang langsung faham
" Lebay.." ucap Al singkat sambil memaikan ponselnya
" Bah... Boleh kan ganti mobil?" tanya El merayu
" Emang kenapa mobilmu?" tanya Zain heran pasalnya belum lama Zain membelikan mobil untuk El
__ADS_1
" Punya bang Al lebih keren lho Bah, " rayu El lagi
" Jelas lah... Mahal punya Bang Al kok" saut Jihan santai
" Kan... Ya bah... boleh kan? kalau gak boleh El gak mau kuliah, " ancam El sebelum Abahnya menjawab,
" Belum di jawab udah di kasih ancaman," ucap Zain
" Mau jadi apa gak kuliah? langsung skak Jihan, karena Jihan sendiri merasakan, kalau dia dulu gak kuliah, gak tau jadi apa hidupnya dulu, saat anak anaknya masih kecil kecil
" Ya makanya.... Ya Mi..." rayu El lagi
" Jadi mau mobil kayak punya Abang?" tanya Zain dan El mengangguk
" Iya boleh.." jawab Zain santai El langsung ber Yes ria
Semahal apapun barang yang di minta anak anaknya, Zain gak pernah merasa keberatan ataupun melarang, karena menurut Zain uang masih bisa di cari, tapi kebahagiaan anaknya lebih utama, dan Zain gak mau kehilangan dan melewatkan kesempatan itu,
Apa lagi sama El, yang dulu pernah dia sia siakan, dan pernah di campakkan walau tanpa sadar, Zain sampai saat ini masih sangat menyesali hal itu, di mana saat El dalam kandungan, dia gak pernah ada, bahkan sampai besar saat ini jarang berkumpul dengannya
Walau hanya sebuah mobil itu sangat gampang dan mudah bagi sultan satu itu
" Tapi tuker tambah sama mobilmu yang lama" ujar Jihan gak mau banyak banyak mobil dongkrok di rumah seperti dulu
" Aman..." jawab El santai dan langsung bangkit naik ke lantai 2 menuju kamarnya, begitu juga dengan Al yang ikut menyusulnya
Kalau udah di ACC semuanya mah aman, dan kembali ke kamar masing masing
" Kamar yuk...." ajak Zain
" Ngapain?" tanya Jihan
" mandi bareng" ajak Zain dan langsung menggendong Jihan
" Bah bah.... ancok nanti Bah.... Turunin encok Abah kumat nanti... Baah....." teriak Jihan kaget dengan gendongan Zain yang tiba tiba
Zain gak peduli karena dia masih cukup kuat untuk menggendong Jihan walau udah berumur tua
Malam harinya, mereka kembali berkumpul di ruang tv sehabis makan malam, mereka saling nvobrol dan bercerita kalau mereka punya pasangan masing masing di sekolah atau kampus tempat mereka menuntut ilmu
" Tapi mereka kalau sama Umi masih cantikan Umi kan?" tanya Jihan memastika setelah mendengar curhatan dari anak anaknya
" Iya...." jawab mereka kompak mengiyakan saja apa kemauan Uminya, karena kenyataannya emang begitu,
" Siiip..... pokoknya gak boleh ada yang lebih cantik dari Umi untuk para menantu menantu Umi " ucap Jihan menegaskan
__ADS_1
" Dan lagi, jadikan mereka cinta pertama dan terakhir kalian, dan jadikan juga JODOH DUNIA AKHIRAT bagi kalian, Umi gak mau dengan adanya mantan pada kisah cinta anak anak Umi" tambah Jihan makin tegas karena sangat trauma dengan datangnya sang mantan pada kehidupan rumah tangganya