
Al dan El makin mendekat karena Kepo, Jihan makin melotot tajam pada Zain, dan Zain tertawa santai akan bernostalgia mengingat idola sang istri yang cukup mengganggu pikirannya waktu itu
Yang sering membuatnya posesif dan cemburu sampai sekarang, gimana tidak,? istrinya masih sangat cantik dan terlihat muda sampai saat ini, hingga dirinya sering kali tidak bisa menahan diri kalau sudah berjumpa di kamar
" Lanjut....." sindir Jihan gak peduli semakin membuat Zain tertawa
" Bah.... Siapa sih?" heran Jihan makin menjadi
" Ada dan orang orang tersebut sekarang menjadi suami dari sahabat Umi kalian sendiri, " jawab Zain memberi teka teki
" Masak Iya Om Heri dan Om Beni penggemar Umi?" tebak Al polos
" Ya Enggak lah... Mereka sadar diri kali Al, mau di smekdown sama Abah? apa kehilangan pekerjaan?" bantah Zain yang pasti makin murka
" lha terus? " bantah El kenceng
" Ya .... Ya Umi ya.." goda Zain pada Jihan yang sudah kesal padanya
" Iya kalian tau.... anak anakku... Penggemar Umi itu, Om Fahri, Abah Tasim, Om Veri, ke 3 nama itu yang menjadi momok pertengkaran dan keributan Abah sama Umi dulu, karena Abah kalian yang sangat sangat posesif sama Umi, " jawab Jihan cepat karena menurutnya kelamaan kalau nunggu Zain yang bicara dan makin kesal aja
" Sumpah Mi?? Masak Iya Abah Tasim juga?" kaget El langsung tanggap
" Iya... Kamu tau El, dia ngungkapin perasaannya tepat di hadapan Abah, kalau itu gak sahabat Abah, udah tak hajar habis habisan" jawab Zain teringat waktu di rumah sakit
" Kok di hadapan Abah, Emang gak tau kalau Umi istri Abah?" tanya Al bingung
" Umi kalian dulu nikah Muda, masih sekolah dan masih di pesantren, Umi gak mau semua temannya tau, karena Umi dan Abah dulu gak bisa nikah secara hukum, karena belum ada KTP, jadi masih sirri atau rahasia, jadi Umi minta untuk merahasiakannya, dari semua orang, dengan Umi yang masih tetap sekolah dan Mondok" cerita Zain kala itu
" Terus kalau masih tetap sekolah maupun mondok, kenapa harus menikah?" bantah Al
" Agar gak menjadi fitnah dan gak keblabasan saat ketemu Al, takut Khilaf" jawab Zain apa adanya, toh anaknya udah pada dewasa
" Jadi Umi udah gak prawan lagi dong waktu sekolah" ucap El asal nyeplos
" Lambemu..... " umpat Jihan cepat
" Masih prawan ting ting sampai lulus ya El, dan nikah sah secara hukum dan negara," bantah Jihan menjelaskan
__ADS_1
" Tahan Bah??" bisik El menggoda Abahnya
Memang El itu sangat peka terhadap apapun, dan pemikirannya jauh lebih panjang dari pada Al, dengan Al yang justru lebih polos darinya
Plak..... Satu pukulan mendarat di lengan El, dengan sebuah benda yang ada di hadapannya
" Hehehehe..... Bener sih Mi ! Emang abah tahan harus menunggu Umi sampe lulus dulu" ucap El tanpa rasa berdosa
" Loe ngomong apaan sih Al, tahan tahan, tahan apa?" saut Al yang begitu polos
" Anak gerang diam dulu, salah siapa kalau ngaji kurrotul uyun malu malu, " bantah El pada Al yang begitu polos
Jihan dan Zain justru tertawa sendiri, mendengat ucapan El yang justru mengejek Abangnya
"Gimana Bah?" tanya El makin kepo
" Apaan sih kepo banget deh El..." elak Jihan
" Udah lah Mi, ini urusan cowok, kalau bukan Abah gak El tanya lho Mi" bantah El yang memang terlalu santai pada siapapun, apa lagi sama Orang tuanya sendiri
" Tahan gan tahan harus tahan dong El, mau gimana lagi, kamu tau kan harimau betina di sebelah Abah ini? kalau ngamuk gimana" jawab Zain santai lagi lagi menyindir Jihan
" Jangan dong.... Gepeng nanti" jawab Zain yang makin menjadi
Tapi tidak dengan Al yang memilih pura pura gak dengar aja, karena belum waktunya menurutnya, saking polosnya sikap Al
" Udah ah Udah... Bahas mantan penggemar Umi aja lagi biar seru" ucap Al mengalihkan pembicaraan
" Gak seru Bang, orang cuman 3 doang" bantah El mengejek
" Siapa bilang cuman 3, sepondok... Abah kalau sowan sama Umi, harus tahan mental, dan tahan hati, saat para penggemar primadona pesantren ini, menunggu dan menyapanya" bantah Zain yang masih teringat semuanya, di kala harus menahan hati dan Jiwa
" Wah kalau gitu kita sama Mi, Tos dulu" Pede El mengajak ber tos ria pada Jihan,
" Tapi Umi bukan santri dablek kayak kamu..." bantah Jihan menolak
" Dablek sebagai bumbu kebosanan Mi.." jawab El sungguh santai seperti berjemur di pantai
__ADS_1
Zain dan Jihan hanya bisa menggelengkan kepala tanpa berkata, karena sungguh Unik sikap anaknya yang satu ini
Mereka masih lanjut membicarakan masalalu Jihan di pesantren, dan El masih asyik menggoda Abah dan Uminya secara terang terangan
" El sepertinya sudah minta di nikahkan tuh Bah Mi" saut Al karena El yang pembicaraannya kelewat batas menurut Al
" Emang loe mau bang, gue langkahin dulu,? " goda El sambil menaik turunkan Alisnya
" Ya enggak lah... Enak aja, Gue duluan " bantah Al gak terima
" Ya elo bang, kirain mau, kalau mau gue gas poll nih, qobiltu.." goda El lagi membuat Al makin kesal
" Terus gue harus nunggu loe kapan dong? loe aja masih kaku, gue gak yakin pacat loe tahan lama" cibir El pada Al yang memang sangat kaku, walau menurut Yasmin Al sudah cukup manis sikapnya padanya
Gimana tidak dengan Yasmin yang sama sama baru mengenal Cinta saat ini
" Tau Ah El.... bodo amat.." kesal Al yang memilih menyingkir
El justru tertawa ngakak mihat sikap Abangnya yang seperti itu, tidak bisa slow dan santai sepertinya
" Bang ..... Jangan pergi dulu, loe harusnya berguru sama gue dulu sini" ucap El saat Al pergi dari sana
" Berguru berguru, gurunya sesat gini" bantah Jihan pada El yang begitu percaya diri
" Bukan sesat Mi... Ck.. Umi ini paling tipe tipe polos kayak Abang, iya kan Bah?" cibir El makin santai
Ya memang begitu sikap El, sopan tetap di bawa, tapi kalau dengan orang tuanya, apa lagi orang terdekatnya El santainya kelewat batas,
Tapi Jihan dan Zain maklum karena itu karakter dan watak anaknya, justru membuat keseruan tersendiri bagi mereka dalam candaan keluarganya
" Iya... Polos banget dulu tuh, sekali merasakan ketagihan.." jawab Zain sengaja dan El tertawa
" Pantesan Abang nurun.. El rasa besok kalau sudah nikah, pasti gak tau harus ngapain saat malam pertama" ucap El terlalu panjang pikirannya
" Ini lho ngomong apa?? dan anak siapa sih ini, nurun siapa pikirannya makin cerdas aja kalau ngomongin masalah begituan..." ucap Jihan sambil membawa El ke bawah ketiaknya
" Aduh Mi..... Aduh...." keluh El kesakitan
__ADS_1
" Udah... Ini nurun Abahnya, cerdasnya masalah pria dewasa" jawab Zain membela El,
Walau anak santri, El juga faham begituan, karena di pesantren juga di ajarkan, dan ada kitab yang mengajikan tentang masalah malam pertama, seperti kurrotul uyun, fathuk izar dan lain sebagainya..