
Kalau udah bahas tentang Rani Zain memilih untuk diam dari pada nanti jadi bahan pertengkaran Jihan dan Zain, yang akhirnya Jihan yang menangis dan diem sakit hati
“ Bisa bahas lainnya aja?” ucap Zain yang tau Jihan akan sensitif
“ kenapa harus yang lain? Itu aja belum di jawab” jawab Jihan pura pura santai padahal hatinya jangan tanya
Dulu sama Dira Jihan memang bisa memaafkan, begitu juga dengan geng Lapis , Lesti, Vira dan juga Farah, tapi tidak untuk Rani, yang benar benar menghancurkan rumah tangganya, dan hampir berkali kali menjadi pembunuh dirinya dan juga anak anaknya
Walaupun udah mendapat karma atau hukuman di penjara Jihanmasih belum bisa membuka hatinya sama sekali untuk Rani, orang yang paling dia benci sampai kapanpun, karena masalah yang menyangkut Rani pada Jihan bukan mulai kapan, bahkan sebelum Jihan tau dan kenal siapa Rani Jihan sudah sering menjadi korban keegoisan Zain
“ Orang gak tau, apa yang mau di lanjutin?” tanya Zain santai
“ Ya mana tau, setiap bukan minggu atau harinya datang menjenguknya, kan dekat dengan kantor abah” jawab Jihan jutek
“ Sedangkan bulan, tahun aja Abah gak pernah jenguk dan tau kabarnya” bantah Zain cepat
“ Mana tau kan Umi gak sekantor sama abah, mana tau masih ada rasa kasian sama dia, kan sudah gak punya siapa siapa, kasian ya kan Aisy sama mantan” jawab Jihan lagi masih memutar kata untuk menggoda Zain, dan Aisyah malah mengangguk dan tersenyum
“ Udah ah, apaan sih, nanti sampe rumah nangis lagi” jawab Zain membawa Jihan dalam pelukannya
“ Bisa nangjs juga Han?” tanya Hamzah pada Jihan yang selalu terlihat tegar dan sangar
“ Hem..... Jangan tanya, cengeng sekarang” jawab Zain cepat
“ Setelah kejadian bertahun tahun yang lalu, dia paling cengeng gak bisa jauh dari gue mas, kalau teringat masa lalu, langsung masuk kamar nangis gak henti henti” sambung Zain yang memeluk Jihan yang memang sudah menitikkan air matanya dalam pelukannya
“ Kan udah nangis, lihat nih” ucap Zain sambil mempererat pelukannya pada Jihan
Fani tersenyum dan mengelus pundak Jihan lembut, Fani tau rasanya Jihan bagai mana, sulit untuk di lupakan, apa lagi bukan waktu yang singkat untuk merasakan keepedihan itu,
__ADS_1
Karena kadang kita sebagai manusia, seribu kebaikan orang lain, akan hilang dengan setitik keburukan, apa lagi itu bukan sedikit, dan bukan orang lain tapi suami sendiri, tentu akan sulit untuk di hapus dan dilupakan
“ Om sih, kalau gue ada di posisi tante gue udah ogah untuk balik lagi sama Om” jawab Aisyah yang juga mengelus pundak Jihan
Jihan bangkit dan mengusap air matanya sendiri dan duduk kembali serta menampilkan senyumnya pada semuanya,
“ Gue itu bukan setegar yang kalian lihat, Jihan yang kalian kenal ini sebenarnya rapuh mas, bahkan gue punya rumah sakit aja gie belum pernah menginjakkan kaki gue ke ruang laborat, gue takut gue trauma, setelah semuanya tau, dan justu membela gue semua, justru gue yang ambyar dan gue semakin rapuh karena merasa semua membela gue “ ucap Jihan yang memang sangat rapuh setelah kembali pada Zain
“ Okey udah ya kita bahas yang lain ya, mbak juga gak kuat kalau mengingat kejadian itu” jawab Fani gak mau berlarut dalam kesedihan
“ Bude, minta santrinya satu dong” ucap El yang tiba tiba datang dari arah dalam
“ Eh.... Ngomongnya El” ucap Jihan kaget dengan ucapan El barusan
“ Minta minta kayak minta makan aja El” jawab Aisyah sambil menyenggol El yang duduk di sebelahnya
“ Ada yang cantik lho mbak” jawab El santai sambil bersa ndar di sandaran sofa
“ Ya gak bisa dong” jawab El narsis
“ El emang kalah ganteng dengan Bang Al, tapi setelah El, udah gak ada yang nyaingi, putra Abah Zain dan Umi Jihan itu the bast semua, terutama Azmi Alfi Syahr El Musthofa” bantah El sangat narsis
“ Ya Allah ya robbi, kamu daapat turunan dari mana ini Zain, perasaan Umi sama Abahnya kualem, gak banyak tingkah, lha ini masyaallah” ucap Fani yang heran dengan El, karena memang jarang ketemu El sih, El lebih sering di pesantren
“ Siapa lagi pakdenya? Pakde Baha’ tambah ada tuh mbahnya, om nya Uminya ada orang paling nyeleneh tuh, kayak dia” jawab Zain yang menyangkutkan Baha’ dengan Toha
“ Oh suaminya Tantemu itu Han?’ tanya Fani
“ Iya kan dia pulangnya kesana kalau di pesantren, makanya nular “ jawab Jihan menjelaskan
__ADS_1
“ Asal El gak ketularan bloonnya Om Alif aja lah Mi” jawab El membela dirinya sendiri
“ Ya jangan lah” bantah Jihan cepat
“ Tapi jangan salah lho mbak, dia tuh kalau gombal nurun Uminya, bikin orang lain baper, jadi kalau selama dia kuliah di sini nanti hati hati, kalau santrimu habis kena gombalan El” saut Zain dan membuat mereka geleng geleng kepala
“ Oh berarti bukan kayak pakdenya dong, kayak Uminya suka bikin baper orang lain, “ ucap Hamzah yang baru tau kalau Jihan tukang Gombal
“ Mungkin, sampai gue dibikin cemburu, dia tersenyum aja para laki laki tu8h udah kebaperan” jawab Zain cepat
“ Huuuueekkkkkk....” ucap El mendengar ucapan Zain yang terlalu lebai
“ Di bukan cemburu sih, tapi posesif” jawab Jihan santai dan di tarik Zain pada pelukannya kembali
“ Terus loe gak mau mewarisi sifat abahmu El” ucap Aisyah santai
“ Udah, matahnya” saut Jihan cepat
El dan Zain saling pandang dan langsung memandang Uminya kompak yang spontan dan semangat kalau bahas kesamaan mereka
“ Masak iya?” tanya Fani gak percaya
“ Hem.... Jangan tanya, Apa lagi kalau ngajak debat dan debat sama Abangnya, serasa udah mau tak calonkan semua jadi anggota dewan” jawab Jihan bercerita membuat Semua tertawa kecuali El dan Zain
“ Mana Abahnya gak pernah ikut debat ya, Uminya aja yang tukang ngomel” jawab Zain juga membela diri
“ Setuju, betul banget itu” jawab El membela abangnya
“ Mentang mentang perempuan sendiri, jadi paling rame sendiri” tambah El
__ADS_1
“ Tapi mbah gajk percaya tuh El kalau Al mau debat sama Elo, secara Al lho paling kualem sendiri, kalau main kerumah aja diem gak kayak elo” jawab Aisyah karena Al yang sering main tempat Aisyah kalau lagi senggang
Karena jarak daerah Al sama tempat tinggal Aisyah gak jauh dari tempat Al, walaupun beda negara, cuman gampang lah kalau sultan macam Al kalau hanya berkunjung ke Rumah Aisyah yang sama sama di daerah arab