
Setelah sarapan Kini Jihan dan Zain berangkat bareng untuk kerja, mereka searah tapi beda lokasi
Masih sama seperti waktu kuliah dulu, Jihan berangkat ke kampus dan Zain ke Kantor, tapi kali ini Jihan ke Rumah sakit dan Zain masih sama ke Kantor
" Mi...." Panggil Zain lembut
" Iya bang" jawab Jihan tak kalah lembut
" Cealah Abang..." ucap Zain meledek
" Hahahaha... Mostalgia ya.." ucap Jihan yang ikut tertawa ngakak
" Kenapa Bah?" tanya Jihan setelah tertawa ngakak
" Bentar lagi puasa, Umi gak mau gitu puasa di Mekah? Di Arab sana" ucap Zain yang ingin mengusyukkan ibadah puasanya
Ya dia merasa sudah tua dan enggan kalau bulan puasa kalau harus kerja ngoyo, inginnya khusuk dengan ibadahnya apa lagi dia juga punya bisnin di Mekah dan ada tempat tinggal juga yang artinya bisa dia tempati dan anteng khusuk beribadah
" Abah pengen kesana?" tanya Jihan dan Zain mengangguk
" Kita sudah tua Mi, Abah gak mau ngabisin hidup abah hanya untuk bekerja, 11 bulan kita sudah bekerja, dan abah gak mau membebani hidup abah di bulan puasa hanya untuk bekerja saja" kawab Zain lembut sambil menatap jalanan kota yang sudah mulai padat dengan kendaraan di depannya
Jihan terdiam dan menatap Zain sendu, sudah bertahun tahun mereka habiskan waktunya untuk bekerja, dan sesekali libur saat pergi keluar negri, itupun untuk bisnis juga, kalaupun Ke Arab untuk Umroh juga sambil chek Bisnisnya juga
Dan Jihan jadi teringat suasana Romadhon di pesantren, yang full 24 Jam ngaji, kecuali saat sahur dan berbuka puasa,
Di jam selanjutnya full dengan kajian kitab dan murojaah Al Qur'an
Dan Kini dia justru menyiakan masa tuanya hanya sibuk dengan hal dunia, bukan berarti Jihan lupa akan akhirat karena sibuk perihal dunia,
Jihan dan Zain tetap menjalankan hal akhirat dan gak full seminggu untuk bekerja, cuman 4 hari saja, 3 harinya mereka gunakan untuk mengaji dan membantu menyalurkan Ilmunya di pesantren Al Musthofa,
__ADS_1
Dan mereka juga masih bisa menghatamkan Al Qur'an sehari sekali, kalau pas lagi sibuk mungkin 2 sampai 3 hari sekali Hatam,
Dan kita juga sebagai manusia khususnya orang muslin di bulan Ramadhan bulan suci dan barokah ini kita mempunyai kewajiban yang datang setahun sekali yaitu puasa di bulan romadhon
Kita di minta untuk menahan lapar dahaga dan navsu, dan emosi untuk menjalankan puasa tersebut
Dan itu hukumnya wajib, tidak boleh untuk di tinggal, apa bila di tinggal sudah pasti dosa besar, dan azab neraka balasannya
Ada satu pintu di surga yang namanya pintu Ar rayyan, yang pintu itu khusus untuk orang yang berpuasa atau orang yang tidak pernah meninggalkan puasa
Apa bila semua orang yang berpuasa sudah masuk, maka pintu tersebut akan di tutup kembali
Dan tidak ada alasan juga bagi orang muslim yang meninggalkan puasa karena tidak kuat saat bekerja, karena apa, kita di beri waktu 11 bulan untuk bekerja, dan menyisihkan sebagian uang kita untuk bekal di bulan puasa kalau memang tidak kuat bekerja saat puasa
Setahun sekali bestie, sayang kalau di tinggal, sehabis berpuasa sebulan penuh kita langsung di hadiahkan dengan hadirnya hari raya idul fitri, hari di mana yang sangat bermakna, ajang silaturrahmi, ajang perkumpulan sanak saudara
Bahkan dari sabang sampai merauke mereka selalu menyempatkan untuk bisa mudik dan bisa pulang agar bisa berkumpul dengan keluarga
Kalau saat hamil atau menyusui kita memang tidak kuat, dalam arti lemes kita cuman wajib khodho saja, tapi apa bila kita khawatir pada bayi dalam kanfungan dan anak yang di susui, maka kita bukan hanya mengganti puasa, tapi juga harus bayar fidiyah, juga
Fidiyab itu apa Author?? fidiyyah itu denda yang harus di berikan kepada kaum duafak,
Terus berapa fidiyah yang harus kita keluarkan? Yang harus kita keluarkan adalah beras 1 mutt atau setara dengan timbangan Indonesia itu 6 Ons, ada yang mengatakan 7 Ons
Terus gimana dengan orang tua jomponatau lansia yang sudah sakit dan tidak bisa menjalankan puasa ?
Beliau yang sudah sakit sakitan dan tidam ada harapan sembuh, maka cukup membayar fidiyah saja, karena tidak berkemungkinan untuk bisa mengkodhok ataupun mengganti puasa tersebut
Sedikit perihal puasa ya lur, kalau ada kurangnya mohon maaf, Next ke Jihan dan Zain kembali
" Mau gak Mi??" tanya Zain lagi dengan Jihan yang masih menatapnya lembut
__ADS_1
" Boleh, .. sama siapa aja nanti Bah?" tanya Jihan lagi mana tau Zain mau mengajak keluarganya juga
" Abah hanya mau kita berdua saja" jawab Zain sambil tersenyum lembut
" Siapa tau nanti pulang dari Mekah dapat oleh oleh baru di sini" tambajnya sambil mengelus perut rata Jihan dan nyengar nyengir gak jelas
" Yang ada saat jadi dan kekuar anaknya kaget, ini kakeknya apa abahnya?" jawab Jihan bergurau
" Kok kebagian abah udah tua gini ya..., enak kali kecil kecil sudah kebagian warisan banyak kali" tambah Jihan sambil menyindir Zain yang sudah memajukan mulutnya
" Hahahaha... Jangan gitu dong Bah, nanti lama lama tuh mulut panjang ngalahin panjangnya hidung abah" tawa Jihan sambil menarik hidung mancung Zain
" Ya Umi... Abah gini gini masih Jiwa muda lho, " ucap Zain percaya diri
" Muda.... apanya yang masih muda?" jawab Jihan bertanya balik
" Muda saat di ranjang, gak kenal lelah gak kalah saat masih muda dulu" bantah Zain cepat kalau masalah ranjang ya jangan tanya
Hanya satu satunya wanita yang bisa membuat juniornya berinteraksi ya Jihan ini, yang selalu membuat Zain terpesona sampai sampai hingga masa tua kini gak mau kalau pergi pergi anaknya ikut karena menurutnya mengganggu dan menyita waktu berdua di kamar
" Jadi kalau mau ke Mekah kapan kita berangkat?" tanya Jihan akan merancang rencana
" Puasa 3 Hari lagi, nanti malam kita berangkat" jawab Zain cepat dan sangat antusias
" Enak aja, belum peking bah, gak usah ngadi ngadi udah ngajaknya dadakan, langsung berangkat jug" jawab Jihan spontan memukul lengan Zain
" Bawa paspor aja, Visa masih aman, bawa kartu tinggal berangkat, di sana yang jual baju banyak, gak usah repot repot bawa banyak banyak barang apa pakaian, " jawab Zain santai, ya namanya juga sultan
" Terus anak anak?" jawab Jihan.lagi karena mikirin Al yang sekarang tinggal di rumah
" Udah besar, ngurus sekolah banyak orang bisa masak ngurus diri sendiri gak bisa, dulu hidup di negara orang aja bisa masak di negara sendiri gak bisa, Umi mikirin Al kan?? " jawab Zain yang sduah bisa menebak pikiran Jihan
__ADS_1