Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
Kondisi Jihan


__ADS_3

" Ya Allah sayang...." ucap Zain kaget dengan kondisi Jihan yang tiba tiba pinsan


Dengan El langsung menggendong Jihan, El seketika merasa bersalah banget, dan menyesal atas perkataan kasarnya tadi


Mendengar ucapan Uminya sebelum lari, yang menyebutkan kata gila, membuat sentilan keras bagi El,


El sadar Uminya sakit hati atas perkataannya, El baru sadar pasti Uminya ada alasan besar di balik kejadian ini semua,


El tau, semua bukan karena alasan, apa lagi tak jarang dia sering kali mendengar pembahasan aneh dari kedua orang tuanya, bahkan tak jarang dia melihat Jihan yang kadang sering menangis


Kepekaan El sangat kuat sehingga bisa menyimpulkan kalau ini bukan hal sengaja, berbeda dengan Al yang masih bingung dan mengira Uminya pinsan karena merasa bersalah


El membawa Uminya ke bangku belakang, di gak peduli teriakan Zula maupun Abahnya


El hanya ingin mendekap Uminya, El angat merasa bersalah banget dnegan Uminya, Umi yang tadi dapat tatapan tajam dan benci darinya, Umi yang mendapat bentakan kasar darinya juga mungkin cukup sakit hati


" El biar di belakang Umi, kasian nanti kesakitan, " ucap Zain panik


El tidak menjawab, dan mulai memakaikan seat belt untuk Jihan, dan dia langsung mengemudikan mobilnya kencang, dengan tangan satu yang terus mendekap Jihan,


" Maafin El Mi, Umi sakit hati karena El, Umi tersinggung karena El" batin El dengan lanjut dan fokus juga lada stirnya dengan cepat dan kencangnya berkendara,


El gak pandang klakson dari beberapa kendaraan yang di selib olehnya


Hingga sampai kembali di rumah sakit milik Uminya, El langsung turun dan pindah posisi untuk kembali menggendong Uminya menuju UGD


El tak peduli pada Abah dan abang serta adeknya lagi, dan tidak mendengar teriakannya


" Tangani Umiku" ucap El datar pada dokter yang akan membantu Jihan


" Ya Allah... Kenapa dokter Jihan mas" tanya Dokter pada El


" Tangani dulu" bentak El langsung esmosi


Donterpun kaget dan gugup, bahkan yang tadinya saat pemeriksaan akan meminta El keluar dia urungkan , karena takut melihat raut wajah El yang menyeramkan hari ini


Zain Al dan Zula juga langsung masuk ke ruang UGD, tanpa ada yang berani melarang mereka, bahkan sama Zula yang tidak pernah meraka kenal aja tidak berani meminta untuk di luar, secara keluarga CEO rumah sakit lagi


" Gimana dok?" tanya Zain datar

__ADS_1


" Ini yang nangani harus dokter Gita" jawab Sang dokter yang tau apa yang terjadi pada Jihan


Zain tidak kenal satu persatu dokter di sana dan masih bingung dengan penjelasannya


" Panggilkan dia sekarang" ucap Zain masih dengan nada yang sama


Tentu semua dokter dan perawat di sana langsung bergerak cepat, apa lagi melihat tatapan Zain yang sekarang sangat menyeramkan, jauh dari biasanya


Sesaat kemudian Dokter Gita, dokter psikiater, dokter yang menangani gangguan mental


Jihan sangat keganggu mentalnya sejak lama, sejak dia kembali baik dengan Zain, di mengalami trauma yang sangat berlebihan


Tapi Kini Jihan langsung di pindah ke ruangan pribadinya, di mana tempat biasanya keluarganya di rawat, dan khusus dari keluarga Jihan dan Zain


Dokter Gita mulai menangani Jihan yang memang hampir setiap bulan bahkan 2 kali dalam sebulan selalu konsultasi dengannya,


Dokter Gita juga tau apa yang di alami Jihan, tau dengan gangguan mental Jihan selama ini , dan sudah 15 tahun dokter Gita bekerja di rumah sakit dan juga menjadi dokter psikiater pribadi Jihan


" Dokter" Ucap Gita saat mengetahui kalau Jihan sudah mulai sadar


" Enggak.... Gue gak mau, jangan Jangan, Gue minta maaf gue salah" ucap Jihan sambil menutup kedua telinganya dan juga mata yang masih terpejam


Jihan tidak menanggapi, dan masih menutup telinganya, tapi lambat laun kepanikan Jihan sudah makin berkurang karena efek suntikan yang Gita berikan


Cuman sayang Jihan masih takut untuk membuka mata, karena takut untuk melihat raut wajah Zain dan juga naka anaknya yang menurutnya sudah benci padanya


Setelah setengah Jam menangani Jihan , Dokter Gita keluar untuk menemui Zain dan yang lain,


Ceklek...


Terdengar suara pintu yang akan terbuka Zain dan anak anaknya segera mendekat pada dokter Gita yang baru mau keluar


" Dokter gimana keadaan istri saya?" tanya Zain sigap


Il sudah menangis tersendu sendu, baru kali ini dia melihat Uminya yang lemah, Uminya yang rapuh, dan baru kali ini Dia melihat Uminya sakit


Il merasa sangat berdosa, ternyata selama ini dia kurang perhatian dengan Uminya, Kurang mengerti keadaan Uminya


Umi yang selalu mendampingi menyayangi dan tersenyum tulus padanya, Umi gak paling gak bisa melihat anaknya sakit, Umi yang paling gak bisa melihat anaknya menangis

__ADS_1


Umi yang selalu membangkitkan semangatnya, Umi yang selalu menjadi warna dalam dunianya, Kini Sakit kini hatuh dan lemah di kala dia menemukan kebahagiaannya


" Dokter boleh saya menemui?" tanya Zula sebelum gita menjawab pertanyaan Zain


" Silahkan, " jawab Gita bingung dan heran saat melihat sosok baru di rumah sakit ini


Zula langsung masuk dan tak lupa permisi sopan dengan dokter Gita


Al dan El juga langsung menyusul masuk kedalam Ruangan Jihan


Zula perlahan duduk di sebelah Jihan dan menggenggam tangan Jihan dengan kembali ber DERAI AIR MATA


" Umi.... Umi kenapa seperti ini? Umi gak mau lihat Il bahagia? Umi gak mau Lihat Il kumpul sama Keluarga?" tanya Zula kembali menangis


Al dan El merasa tak asing dengan sebutan nama Il pada Zula, tapi mereka terlupa karena berjumpa dengan Il saat Il masih berusia 1 tahun,


" Umi bukan gak bahagia La, Umi sakit hati dengan bentaan Gue saat tau kalau Elo ternyata adek kandung gue" jawab El yang sadar akan kesalahannya


Deg.....


Al merasa kena sambaran petir kali ini, Dia tadi sempat membentak Uminya juga bahkan dari kecil sampai saat ini Jihan gak pernah yang namanya membentaknya , paling El yang sering kena Omel karena sering ngebantah


" Ya Allah berdosanya diriku sudah menyakiti hati Umiku" batin Al menyesal telah berkata kasar pada Uminya sendiri


" Kenapa Abang Bentak Umi?? Zula sendiri dari kecil sampai saat ini gak pernah yang namanya di bentak Umi, bahkan berkata kasar pun gak pernah, gimana sakitnya hati Umi tadi bang?? Umi gak akan pernah melakukan kayak gini tanpa alasan, semua pasti ada sebab musababnya , Cuman Umi gak pernah cerita, karena Umi gak pernah mau melihat anaknya sedih, bahkan menangis sekalipun" ucap Zula panjang dan menyadarkan kedua abangnya


Bener kata Zula, mereka berdua salah pada Uminya, sedari tadi mereka cuman menyidutkan Jihan, bahkan sempat gak peduli pada Jihan, hingga Uminya drop seperti ini


Kini Zain berada di ruangan Gita, dan sedang mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi pada Jihan


" Buk Jihan mengalami trauma yang berat pak, Cuman buk Jihan gak bisa terus terang, dan gak pernah cerita apa yang beliau khawatirkan apa yang beliau takutkan dan cemaskan, " ucap Gita mulai menjelaskan


" Selama 15 tahun sudah, dan selama saya bekerja di sini, beliau sering konsultasi dengan saya, dan selama itu pula beliau hanya tergantung dengan obar saat rasa trauma dan kecemasannya kembali muncul " tambah Gita lagi seolah mejadi tamparan bagi Zain


15 tahun Gita mulai bejerja, dan masih ada sebelumnya sebelum gita masuk, itu artinya sudah 16 tahun, Jihan sama sekali tidak merasa hidup tenang, dan penuh ketakutan dan kecemasan


Zain kembali frustasi, dia begitu tidak peka pada Jihan yang seperti itu, Zain tau cuman Zain gak faham kalau sudah separah ini


" Jadi kemungkinan besar, untuk saat ini Bu Jihan sudah sadar, tapi sayang, tidak bisa membuka matanya," tambah Gita lagi

__ADS_1


" Maksud dokter?" kaget Zain sangat panik


__ADS_2