
Tepat habis isya' dan selesai jamaah isya' Heny sudah berada di Ndalem Abah Tasim memenuhi panggilan Umi Ilma
Heny kini sudah berhadapan dengan Umi Ilma sebagai pengasuh pondok pesantren
Heny sendirian karena memang permintaan Umi Ilma dia di suruh sendirian saja bahkan Heny tanpa pamit maupun bilang sama Tiara sebagai teman dekatnya
Heny sudah sport jantung, dan air matanya sudah mulai menerobos bendungan yang di pertahankan sedari tadi,
Dia tau dia di panggil ke Ndalem karena kesalahan yang sudah di perbuatnya siang tadi bersama El, dan dia sudah kapok cukup sekali pergi dalam keadaan masih di dalam pesantren
" Mbak Heny...." Panggil Ilma lembut
Memang karakter Ilma yang sedari dulu lemah lembut, dan kalem cocok untuk jadi bu nyai panutan
" Njeh Umi..." jawab Heny tanpa mengangkat kepalanya
" Mbak Heny pasti sudah tau kenapa Umi panggil Mbak Heny kesini" ucap Ilma dan Heny hanya bisa mengangguk sebagai jawaban
" Mbak tau itu hal yang di kharamkan di pesantren ini? dan itu peraturan ketat dari pesantren mbak.." ucap Ilma masih dengan nada lembut
Heny hanya diam dan terus menangis mengeluarkan air matanya karena merasa bersalah banget dengan kejadian yang dia langgar siang tadi
Ilma masih sendirian di luar, karena Tasim masih didalam dan belum ikut keluar
" Assalamualaikum...." ucap El yang baru datang menyusul
" Waalaikumsalam...." jawab Ilma menoleh pada El
" Masuk bang..." ucap Ilma yang beda saat memanggil El
Karena Ilma tau dari keluarga Jihan gak ada yang di panggil Kang, mengingat Jihan dulu sering manggil Zain Bang, jadi Ilma ikut memanggil El bang, sebagai panggilan dari anak anaknya
" Terimakasih Umi..." jawab El sopan dan dudul di jarak yang lumayan jauh dari Heny
Setelah duduk El melirik pada Heny yang juga ada di sana, yang mana El juga tau kalau Heny sedang menangis saat ini
Hati El terasa terpukul, keinginannya membahagiakan Heny justru membuat sebaliknya,
El sadar itu salahnya, El sadar semua itu karena keegoisannya, tapi nasi udah menjadi bubur, El harus bisa merubah bubur itu gimana caranya bisa enak di makan, dan makin lezat, dalam arti bisa mengembalikan suasana agar bisa kembali seperti semula
" Bah.... Abah..." panggil Ilma pada Tasim
__ADS_1
" Dalem..." jawab Tasim dari dalam
" Ini El sudah kesini" ucap Ilma yang sebelumnya di peseni Tasim agar memanggilnya saat El datang
" Oh.... El..." ucal Tasim santai seolah gak akan ada hukuman buat El
Bahkan Tasim sengaja membawa laptopnya agar bisa mengvideo call Zain dan Jihan, untuk melaporkan langsung anak anaknya
El sudah pasrah, dia tau dia salah, dan Kini El juga bersalaman pada Tasim dan mencium tangannya
" Gimana El??" tanya Tasim yang justru membuat El sama Heny bingung
Tasim langsung membuka laptopnya dan malajukan jari jarinya di atas kayboard laptop untuk menghubungi Zain
" Sebelumnya El minta maaf Bah, Ek datang kesini pertama untuk memnuhi undangan Abah, dan El sadar El di sini yang salah, El sudah melanggar peraturan pondok, El juga minta maaf Abah Umi, El sudah lancang membawa dan mengajak Heny keluar " ucap El tegas mengucapkan kata maafnya
" Di sini El yang salah, El yang maksa untuk mengajak Heny keluar walau hanya sekedar makan siang saja" ucap El lagi masih sambil menundukkan kepalanya
Padahal tanpa El sadari, karena El di sebelah Tasim, yang mana Tasim sengaja mendekat pada Tasim agar saat Video call Terlihat jelas gambar El
Seperti saat ini, sambungan video call sudah terhubung dan El belum sadar kalau Abah Uminya juga mendengar semua pengakuan El barusan
Sudah jelas kalau Jihan marah maupun emosi pada anak anaknya, langsung di sebut nama lengkapnya
El kaget langsung mengangkat kepalanya karena mengenali suara dan khas panggilan untuknya
" Anak orang itu El, gak usah ngawur..." tambah Jihan makin emosi
Ilma yang di sana ikut kepo kenapa tiba tiba ada suara Jihan di sana,
Berbeda dengan Jihan justru Zain tersenyum bangga pada anaknya yang gantel, seperti dirinya dulu
" Gak usah senyam senyum bah.... Gak usah bangga punya anak yang berani bawa pergi anak orang saat di pesantren" ucap Jihan kesal pada Tasim
" Itu namanya cowok gantel Mi" jawab Zain yang masih di mesir
" Gantel udelmu sowek...." marah Jihan makin menjadi
Tasim dan Ilma langsung tertawa ngakak mendengar umpatan Jihan barusan, yang membawa kata udel sowek (pusar sobek)
" Gantel itu datang melamar langsung ijab" saut Ilma yang juga ikut bergabung
__ADS_1
El dan Heny kini masih saling diam dan gak berani berkutika apa apa
" Nah.... Gimana El, mau abah lamarkan dan ijabkan sekalian?" tanya Zain pada El
El masih tidak menjawab, masih gak enak dengan keberadaan Tasim yang juga di sana, gak seperti kalau sedang di rumah yang justru bantah bantahan
" Enak aja di ijabkan, kasih hukuman dan takziran aja mbak Ilma, tuman tuh anak kalau gak di kasih hukuman..." bantah Jihan marah pada El
" Tapi jangan untuk Nak siapa yang di bawa El tadi mbak?" tanya Jihan terluoa nama calon mantunya
" Gimana toh buk... Sama calon mantu sendiri lupa namanya" sindir Tasim santai
" Bukan lupa gus... Orang belum di kelankan kok sama El " jawab Jihan apa adanya
" Oh gitu.... Gimana toh El, kok gak di kenalkan dulu sama Uminya" senggo Tasim pada El yang ada di sebelahnya
Mungkin kalau dengan santri lain Tasim bisa marah dan mungkin wejangan dan sidiran pedas Tasim berikan
Tapi kalau menyangkut anak sahabatnya Jihan dan Zain, Tasim gak bisa kalau di bawa serius, apa lagi El , dia saksi kelahiran El yang justru dulu pernah Zain berikan padanya, dan dirinya juga yang mengkomati saat El masih bayi,
Tasim masih teringat itu semua dan bahkan gak akan pernah telupakan tentang kejadian yang membuat Jihan berjuang sendiri
El masih diam dan menundukkan kepalanya
" Jangan di takzir anakku Sim, kasian anak gantengku itu, nanti gue ganti aja lah, sama 1 lantai ke atas" tawar Zain yang masih gak akan pernah rela anaknya kena takziran yang mengerikan pastinya
Sesuai cerita pengalaman Jihan selama menjadi ibu lurah pondok putri dulu sudah menghukum beberapa santri yang melanggar peraturan dan kasus yang berbeda
" Enggak...... Semua itu gak ada tawaran ganti rugi, kalau mau niat bangunin 1 lantai, gak perlu pake ngurangi takziran El ya bah..." bantah Jihan dengan terus mengomel
" Takzir aja Gus, kalau mau di takzir dengan guyuran air sapiteng ya silahkan... Di kelilingin desa juga gak apa apa, sekalian 2 kali lipat, takziran nak Heny biar El yang nanggung..." ucap Jihan sudah makin kesal sama El
" Ya El.. Tanggung jawab, " ucap Jihan lagi pada El
" Iya Mi..." jawab El lirih tanpa menatap Uminya yang sudah menjadi singa cantik
" Jangan dong..... Gue juga gak rela kali Han kalau El di guyur air sapiteng... Gini gini El juga anakku lho, dulu gue yang qomati El waktu itu" ucap Tasim justru membela El dan merangkul pundak El
Dan Zain sudah terbiasa akan hal itu, karena benar adanya El dulu Tasim yang nolong, karena dirinya dulu yang pernag edan waktu itu
" Tapi jangan senang dulu El, untukmu tetap akan ada takziran khusus, " tambah Tasim lagi dan kira kira apa hukuman yang akan El terima setelah ini
__ADS_1