
Al dan Zain juga sedang berfikir seperti itu, karena gak mungkin nenek Jihan yang sudah tua harus hidup sendirian di sana, dan gak mungkin juga di titipkan pada orang lain, nanti sama saja hidup di panti jompo dong,
Anak anak mereka gak mau juga kalau di perlakukan seperti itu, prinsip dari mereka tetap akan merawat sampai kapanpun, walau Ulfa jauh dari beliau, dia tetap merawat, dan sering kali menyanbanginya, dan tak kekurangan kasih sayang sama sekali dari mereka
Karena bagi mereka, ibu 1 mampu mengurus kedua anaknya sampai besar, masak iya ke dua anaknya gak ada yang sanggup
" Udah jangan terlalu di pikir, nanti kita cari solusinya sama sama, mana tau Ibuk atau Liloh ada yang mau hidup di sana" jawab Zain kembali menenangkan Jihan
Jihan akhirnya mengangguk dan menenangkan pikirannya, dan mencoba untuk tetap tenang, dan pasrah semua pasti akan ada jalannya
" Betul tih Mi, Al juga mau balik sore malam nanti kan, Al mau makan sepuasnya makanan Umi, Umi masak apa tadi?" tanya Al santai yang gak tau Umi dan Abahnya ngapain aja tadi
" Hehehe... Umi belum masak" jawab Jihan cengengesan
" Ya Allah... Lha jadi ngapain aja seharian??" Tanya Al kesal
" Ya jangan marah gitu dong Al, Jangan tanya ngapain aja, tanya Abahmu sendiri nih " jawab Jihan sewot untuk menutup malunya
" Ngapain Bah??" tanya Al datar
" Bikin Adek lah buat kamu.." jawab Zain tanpa rasa malu dan Al menepuk Jidatnya sendiri
" Gitu gak jadi jadi kok bikin Adek aja.." kesal Al langsung keluar dari kamar Abah Uminya
" Ya kan Abahmu belum siap hamil dan melahirkan Al.." teriak Jihan makin membuat Al kesal
Setelah mengeringkan Rambut, Jihan baru turun langsung untuk masak buat anak dan suaminya tercinta
Entah apa yang membuat mereka rela menunggu masakan Uminya, padahal kalau di bilang di resto mereka juga tetap lahap, tapi mungkin masakan Umi Jihan yang sederhana jauh lebih nikmat di bandingkan masakan resto miliknya
" Dah yuk... Makan dulu, Umi sama Abah juga belum sarapan dari pagi" ucap Jihan sambil menyajikan makanan untuk suami dan juga anaknya
" Dari pagi gak sarapan? betah gak laper?? Ngapain aja emangnya??" tanya Al dengan berderet deret pertanyaan
Jihan dan Zain saling pandang, dan saling tersenyum dan...
" Keppoooooo......" ucap Jihan dan Zain kompak
__ADS_1
" Kepo lah, seenak apa sih?? sampai tahan lapar juga " Ucap Al makin kepo
" Makanya nikah, biar tau rasanya " jawab jawab Zain singkat dan membuat Al terdiam pasif
Sore harinya, Kini Al di antar oleh Zain dan Jihan menuju bandara karena Al nanti transit dulu di Jakarta
Dan Kini mereka dalam perjalanan ke Bandara masih saling ngobrol,
" Oh ya Al, ini nanti nitip ya sama siapa pacarmu?" tanya Jihan sambil memberikan papgerbag pada Al yang ada di jog belakang, karena Zain yang nyetir saat ini
" Yasmin... Apa ini?" jawab Al tanya balik
" Cuman hijab doang, " jawab Jihan santai
" Hijab?? " Tanya Al sambil membuka paperbag yang Uminya berikan
" Iya Untuk Yasmin ya, kemarena pacar El juga udah Umi beri, nanti Umi nitip sama buat Yasmin ya, salam kenal" jawab Jihan sama dan adil pada kedua calon menantunya
" Beneran ini Mi untuk Yasmin?" tanya Al meyakinkan
" Iya nak.... Bener, salam lho buatnya, " jawab Jihan santai
Gak nyangka aja kalau Umi dan Abahnya mendukung tentang hubungan mereka, bahkan sangat mendukung, dan sampai detik ini Al tidak pernah menadapat penolakan sama sekali dari Abah dan Uminya
" Al pagi tadi udah kenalan kok sama pacar El" jawab Al kembali bercerita
" Maksudnya?" tanya Jihan dan Al menceritakan apa yang terjadi pagi tadi
" Oh... Jadi kalau sama pacarmu masih cantik pacarmu, berarti kalau sama istri Abah masih cantik istri abah kan??" goda Zain yang gak mau kalah dengan anak anaknya
" Aman.... Istri Abah pokoknya the best gak ada duanya, kan ini Umiku juga, jadi aman, kalau masih ada yang seperti Umi, Al juga mau Bah" jawab Al sambil memeluk Uminya dati belakang
" Jangan dong, kan udah ada Yasmin, Umi gak mau anak Umi punya mantan lho Al" jawab Jihan mewanti wanti
" Iya mi, doakan Al cukup 1 saja ya, " jawab Al pasrah, karena jalan hidup gak pernah ada yang tau
Kini mereka sudah sampai di Bandara, dan Al akan segera Chek in, karena Al gak menggunakan pesawat pribadi, melainkan pake pesawat umum seperti yang lain
__ADS_1
Al lebih suka seperti ini, karena menurutnya kalau pake jet pribadi sepi dan hanya dirinya sendiri
" Abah Umi Al balik dulu ya," pamit Al pada Kedua orang tuanya
" Iya sayang.... Hati hati ya nak.." Jawab Jihan mencium Al
Jihan mencium mulai dari kedua pipi Al, kening Al, hidung Al dan kepala Al,
Begitu juga dengan Al yang sama melakukan hal tersebut dan memeluknya berkali kali hingga Abahnya sendiri mungkin cemburi melihat kemesraan anak dan Umi yang dari dulu sampai saat ini gak pernah surut
Terakhir Al mencium tanga Jihan bolak balik, dan tambah mencium pipinya lagi
" Bah... Al balik dulu ya, " ucap Al dan Zain mengangguk setta memekuk dan menepuk punggung Al pelan
" Baik baik di sana, jaga kesehatan, " ucap Zain pada Al
" Siap.... Al lulus IPTQ milik Al siap di resmikan ya Bah" ucap Al sambing tersenyum bangga
" Siap..... Aman ituz janji 1 tahun harus lulus" ucap Zain memberi syarat
" Al usahakan tahun depan Wisuda S2" Jawab Zain semangat dan penuh janji
" Okey... Hati hati, giat cita cita menunggu depan mata" ucap Zain makin membuat Al semangat
Al mencium bolak balik tangan Zain, dan..
" Assalamualaikum..." pamit Al
" Waalaikumsalam...." jawab Jihan dan Zain kompak serta melambaikan tangannya pamit..
Al berjalan masuk menuju loket dan naik ke eskalator masih dengan melambaikan tangannya
Seperti biasa yang sering terjadi kalau Al balik ke Mesir, atau anak anaknya berangkat dan pwrgi jauh,
Tak terasa air mata Jihan mulai mengalir, dan berlinang,
Zain hanya tersenyum melihatnya dan membawa Jihan pada pelukannya
__ADS_1
" Anaknya udah besar udah tau pacaran, di tinggal pergi masih aja nangis" ucap Zain pada Jihan yang makin menjadi tangisnya dalam pelukannya
" Namanya juga seorang ibu, jauh dekat sama saja tetap terharu kalau anaknya pergi" jawab Jihan yang gak bisa di pungkiri lagi naluri keibuannya