
Jihan tak kuasa menahan air matanya lagi, di segera mendekap putrinya erat, dengan terus menciumnya
" Suutt..... Sayang... dengerin Umi dulu" ucap Jihan lembut
" Mi... Umi kenapa nangis? Umi gak di ancam mereka kan? Umi gak terpaksa kayak Il juga kan?" tanya Zula khawatir
Nama Zula adalah sebutan dari teman temannya dan orang lain, sedangkan Il adalah nama panggilan Jihan untuknya
" Bapak, Bang Al bang El, plis, Zula akan beri jawaban, tapi jangan tekan Umi Zula," ucap Zula pada Zain Al dan El
Jihan kembali mendekapnya dan memeluk Zula penuh rasa bersalah
Jihan tau dia salah, tapi dia gak bisa dan gak pernah siap untuk menghadapi traumanya, ingin rasanya dia mati saja, dia kabur saja, dari pada harus menghadapi ucapan kasar Zain nanti dan melakukan tes DNA
Banyangan masa lalu terus terlintas di benaknya, tapi dia tetal berusaha kuat dan menahan gejolak yang paling menyakitkan dalam hidupnya
" Il Dengarkan Umi ya nak" ucap Jihan tetal tenang dan menangkup lembut wajah cantik putrinya
" Hari ini detik ini, Umi akan menjawab pertanyaan Il selama ini pada Umi" ucap Jihan lagi dengan hati bibir dan jantung yang makin bergetar hebat
" Beliau" ucap Jihan menunjuk pada Zain yang sedang berdiri di dekatnya
" Bapak Muhammad Zain Musthofa, adalah sosok Abah, sosok ayah, dan cinta pertama kamu Nak, dia laki laki yang selalu kamu tanyakan, yang selalu kamu rindukan " ucap Jihan lirih penuh lembut dan makna, dengan DERAI AIR MATA tentunya
Zain di dekatnya dia gak bisa berkata apa apa lagi, dia berasa sedang merasakan mimpi buruknya yang menjadi nyata
Dulu dia sempat mengira saat Jihan pergi akan membawa anak anaknya jauh, dan gak akan pernah mempertemukannya lagi dengan anak anaknya lagi
Tapi dulu Jihan masih berbaik hati dan masih mendekatkannya pada anak anaknya lagi, dan mungkin sakit hati Jihan dulu sangat mendalam, makanya Jihan sengaja menjauhkan bahkan tidak memberi tau kalau dia punya seorang putri
Zain sadar semua berawal dari dirinya sendiri, dari sikapnya yang egois dan gak bisa menghargai istrinya,
Dan dia gak bisa bayangkan gimana sakitnya Jihan duku saat jauh dari anak anaknya, dan gimana repotnya Jihan dulu hamil dan melahirkan tanpa dirinya
Hati Zain sakit banget, bukan karena di bkhongi dan di hianati oleh Jihan, sakit karena dia gak bisa menjadi suami yang sempurna, dia gak bisa menjadi ayah sepenuhnya, gak pernah tau gimana perkembangan anak anaknya dulu,
Zula kini memandang Zain penuh haru, dan mencoba untuk berdiri dan menghampiri Zain
" Abah..." Panggil Zula lirih dengan DERAI AIR MATA yang sudah membasahi pipinya
Bibir Zain kaku, dia gak bisa berucap sama sekali, putri cantiknya ada di hadapannya, putri yang selama ini tak di kenalnya, putri yang hampir saja dia jadikan menantu ternyata putrinya sendiri
" Boleh Zula peluk Abah?" tanya Zula lirih
Zula sebenarnya takut kalau Zain tidak mau menerimanya, tapi dia percaya apa kata Uminya, dia memveranikan diri untuk minta peluk abahnya dengan penuh ketakutan
Zain mengangguk dan langsung memeluk Zula cepat, dengan Tangisan keduanya yang sama sama membasahi pundak mereka
" Putri Abah, huu huuu huu.." ucap Zain dengan tangisan yang gak pernah dia alami sebelimnya
__ADS_1
Tangisan kebahagiaan penyesalah merasa bersalah campur menjadi satu, tangisan bertemu buah hatinya yang tau tau sudah tumbuh dewasa
" Maafin Abah nak.... Huu huu huu, maafin Abah" ucap Zain penuh penyesalan
Hanya maaf maaf maaf dan Maaf yang bisa Zain ucapkan pada Anaknya,
Mungkin janji Zain dulu kalau punya anak perempuan akan di jadikan seperti ratu, dan akan di manjakan seperti nyonya, sesuai yang di ucapkan kala itu
Tapi dia gagal, dia telat mengetahui ratunya, telat mengetahui putrinya,
Cukup lama mereka berpelukan, hingga kini Zain menatap lekat wajah Zula
Benar saja, putri cantinya ada kemiripan padanya, mukai dari hidungnya dan juga bibirnya, di tambah senyumnya yang persis dengannya
Perlahan Zain mengusap air mata Zula lembut, dan tersenyum lebar kepada Zula dengan tulus, Zula masih memegangi tangan Zain dengan lembut, dirinya yang akhirnya mempunyai ayah, akhirnya dia bisa merasakan hangatnya pelukan ayah, syahdunya bertemu dengan Cinta pertamanya
" Love You Abah" ucap Zula lembut
" Love you to sayang" jawab Zain kemudian mengecup kening Zula, dan kedua pipi Zula
Setelahnya Zula memandang ke arah Al dan El yang berdiri tak jauh darinya
" Abang...." Ucap Zula langsung menghamburkan pelukannya pada Al dan El
" Zula punya abang juga, Huu Huu Huu.." tangis Zula semakin menjadi
Al sebenarnya cukup kecewa dengan kenyataan saat ini, dia belum terima dengan adanya Zula adalah adeknya, yang sebelumnya dia sangar berambisi untuk menjadi pendampingnya JODOH DUNIA AKHIRATNYA
Berbeda dengan El yang justru sangat bahagia dan bangga punya adek seperti Zula, El sangat antusias dan memeluk erat Zula, tak jarang dia memberi kecupan lembut di kening adek perempuannya itu
Al masih belum sepenuhnya menerima rasanya masih berat dan belum siap akan serumah dengan Zula nantinya
Jihan tersenyum dan mendekat pada Zain, dengan perasaan penuh ketakutan,
Mungkinkah Zain akan lebih sadis? mungkinkan bukan hanya mulutnya yang sadis, dan akan kan bertambah ke tangannya yang akan maju
Tapi Jihan harus siap menerima itu semua, menerima hinaan dan pernyataan kasar Zain kembali, dan harus siap untuk membuktikan kalah Zula adalah anak kandungnya juga
Tubuh Jihan semakin bergetar hebat, dianya yang akan mendekat pada Zain justru merasa makin ketakutan, dan berbelok berjalan keluar dengan perasaan yang makin tidak menentu
Mereka semua melihat kepergian Jihan dengan tatapan wahah Jihan yang sudah lain
Mereka semua justru curgia dengan Jihan, apa ini semua betul apa justru sebaliknya masih ada yang Jihan sembunyikan dari mereka
Kini Jihan masuk ke dalam mobil El, yang kebetulan tidak terkunci karena buru buru, Jihan bahagia melihat semua keluarganya kumpul, tapi rasa takutnya melebihi semuanya
Dadanya makin sesak, dan terus dia tekan dan tahan, di tambah ucapan kata " Gila" dan bentakan kasar dari anak anaknya terdengar jelas di telinganya,
Hatinya makin sakit makin teriris pedih, mengingat hal itu, seolah dia adalah ibu yang tidak berguna lagi, tidak di butuhkan oleh anak anaknya lagi
__ADS_1
Sesaat kemudian mereka semua menyusul Jihan dan masuk ke dalam mobil El, tak lupa Zula yang sudah membawa ponsel dan juga mengunci pintu rumahnya
Kini semua sudah masuk ke dalam mobil menyusul Jihan, tanpa ada satu katapun dari mereka yang keluar dari mulut masing masing
Semua terdiam, dengan tatapan tajam Al dan El pada Uminya
Hati Jihan semakin pedih, ingin dia berhenti bernafas saat ini, dengan tatapan kebencian dari anak anaknya
Zula duduk di antara Jihan dan zain, dengan Zain yang terus memeluk putrinya, dan El sebagai pengemudi dan al berada di sampingnya
Bahagia rasanya, melihat kumpulnya keluarga Umi Jihan dan Abah Zain,
Tapi kebahagiaan itu tidak bisa menandingi rasa sakit dan ketakuran hati Jihan
Mobil mulai berjalan tanpa aba aba, dan kini sudah berada di tengah jalnan
Jihan yang sedari tadi menahan sakit dan ketakutan sudah gak tahan lagi dan..
" Berhenti El" ucap Jihan lirih dengan nada berat
El tidak menjawab dan langsung menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan
" Abah, Al El Il, " ucap Jihan dengan suara sudah sangat berat banget
" Umi minta maaf, udah merahasiakan ini semua" tambah Jihan makin berat dengan tangisan yang kembali hadir
" Umi pamit, Umi minta maaf" ucap Jihan dan bermaksud untuk membuka pintu mobil
Jihan gak kuasa melihat raut kebenciaan dari anak anaknya, di tambah Zain yang pasti sudah sangat marah padanya pastinya,
" Mau kemana?" tanya Zain datar
Deg... Mendengar nada bicara Zain, Jihan semakin ketakutan, dan spontan menutup telinganya yang sedari tadi terlintas suara kasar dari Zain
" Jihan wanita gila bah, Jihan Ibu dan istri yang jahat, Jihan gak pantes berada di dekat kalian yang sempurna ini, Jihan gila , dan di sini tempat Jihan, di jalanan, beradaptasi dengan teman teman Jihan yang lain" ucap Jihan cepat yang menahan rasa sakit hati karena di anggap gila oleh Al dan el tadi
" Kalian kalau gak percaya sama Umi, bisa tanyakan langsung sama mbak della dan Mas Imam, mereka saksi Umi dan tau semuanya, " tambahnya cepat dengan getaran tubuh yang tak menentu
" Umi pergi dulu, jaga diri baik baik ya... Assalamualaikum.." ucap Jihan langsung keluar dari mobil cepat
" Umi... Umi..." teriak Zula dan ikut mengejar Jihan
Hingga semuanya ikut keluar dan mengejar Jihan, Dan Zula yang berhasil menangkap Jihan
" Umi jangan tinggalan Il, Il baru jumpa dengan abah, Il gak mau kehilangan Umi " ucap Zula memeluk Jihan erat
Tangisan Jihan makin menjadi hingga lemas dan
" Umi......." Teriak Zula karena melihat Uminya yang sudah terjatuh pingsan
__ADS_1