Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
Keseruan pertama


__ADS_3

Kini Zain makin bangga dengan putri satu satunya itu, dan kembali memeluknya dan mencium pucuk kelapa Zula


" Zula acem kan bah bauknya" ucap Zula sambil menyingkir sekejap dari abahnya


" Sepertinya asem semua itu bauknya belum pada mandi semua kan dari pagi" saut Jihan yang sudah kembali bangun


" Umi kok udah bangun, istirahat dong" ucap Zula bangkit dari duduknya dan menghampiri Uminya


" Capek istirahat mulu, Umi pengen pulang" jawab Jihan mengelus tangan Zula


" Umi kan belum sembuh" jawab Zula paling khawatir dari pagi tadi


Pasalnya Zula yang gak pernah melihat Uminya sakit bahkan sampai terbaring di bangkar rumah sakit tentu sangat khawatir banget


" Hem... Sok tai deh" ucap Zula mendekat pada Uminya


" Heh... Lupa siapa Uminya ya??" jawab Jihan pura pura cemberut


" Iya iya Bu dokter pribadiku" jawab Zula memeluk Jihan lagi


" Siapa bilang dokter pribadimu, Itu dokter pribadi abah lho" jawab Zain ikut mendekat pada Zula dan Jihan kemudian dengan sigap langsung mendaratkan ciumannya pada kening Jihan


" Hemm So sweet.." ucap Zula kagum kedngan keromantisan abah Uminya


" Udah ah... Yuk pulang yuk.." ucap Jihan yang sudah gak tahan di rumah sakit, padahal setiap hari disana dan dia juga di rumah sakit miliknya sendiri di tambah ruangan khusus keluarga, dan bisa di katakan di atas VVIP


Zain menatap Jihan lekat, kebiasaan istrinya kalau jadi pasien ingin terus cepet pulang, kalau jadi dokter, hm.. jangan tanya, kalau masih ada kerjaan dari pagi sampe pagi lagi paling betah dan lupa anak suami


" Kenapa gak krasan ya??" tanya Zain sambil tersenyum manis pada Jihan


" Huum...." jawab Jihan manja


" Ruang rawat kayak hotel gini masih bilang gak krasan, fasilitas melebihi hotel juga" saut El yang mendekat pada Uminya juga


" Hotel hotel, Emang Zula kalau sakit gak mau merumah sakit mintanya ke hotel" jawab Jihan mulai ada bau bau perdebatan dengan anak kesayangannya


El langsung merubah sudut pandangnya pada Zula yang tepat di sambingnya, dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Zula


" Ck... Apaan sih bang," salah tingkah Zula mendorong muka El


" Enak ya, sakitnya di Hotel," ledek El pada adeknya

__ADS_1


" Kenapa? Gak masalah kan? kan di obati sendiri sama Umi dokter pribadiku" jawab Zula santai sambil kembali mendekat dan memeluk Uminya


Jihan tersenyum dan mengelus lembut kepala Zula yang mulai kembali manja padanya


" Eleh alesan, biar biasa baring baring di kasur hotel," jawab El mencibirnya kembali


" Gak masalah, dari pada kaku di rumah sakit" bantah Zula sambil menjulurkan lidahnya pada El


Al masih duduk di sofa yang sibuk dengan urursannya sendiri, dan tidak ikut nimbrung pada mereka,


" Eh pak ketua yayasan, anteng vanget serius banget..." teriak Zula pada Al


Al menoleh dan kembali fokus pada ponselnya,


" Pak Guru nyebelin" ucap Zula kesal


" Udah udah... Abangmu yang satu itu memang kaku" jawab Jihan pada Zula


" Kaku apanya kalau godain Zula aja lemes sok manis, dan sok ganteng sok peduli lagi" jawab Zula kembali mencibir dan membuka aib Al


" Apa apa apa.... Ck... Gak jelas ini" jawab Al yang akhirnya ikut mendekat pada Zula


" Gak apa apa, Aib malu sendiri nanti" jawab Zula santai


" Bisa lah, " jawab Zula yang terhenti karena sudah di bungkam mulutnya oleh tangan kekar Al


El sudah ngakak sama dengan Zain yang ngakak juga dan penasaran gimana cara manis Al pada Cewek, yang setiap harinya terlihat kaku, dan paling paling santai saat debat dengan El


" Al... lepas, pengap adeknya" ucap Jihan akhirnya Al melepas bungkamannya


" Diem Zul..." ucap Al tajam


" Iya kang mas.." jawab Zula sok manis kembali menciptakan tawa bagi El lagi


" Diem El.." tajam Al


" Udah... Mulai kan, tambah satu tambah Rame ini" lerai Jihan yang sangat bahagia melihat kekompakan ke 3 anaknya yang bakalan menambah keramaian di rumahnya nanti


" Sesekali biar rame Mi, sepi ini, tambah satu lagi makin rame betul gak?" ucap Zain yang dari dulu menginginkan hadirnya bayi dalam rumahnya


Apa lagi saat ini dia yang merasa gagal menjadi seorang ayah ingin rasanya menemani Jihan mulai dari hamil pertama sampai melahirkan dan tau proses pertumbuhan anak anaknya yang selama ini terlewatkan

__ADS_1


" Maksudnya dedek bayi?" tanya Zula dan di angguki ke 3 cowok ga teng di hadapannya


" Kalau itu Zula setuju,... Biar ada mainan buat Zula" jawab Zula membuat Uminya melotot


" Udah El tolong lepas infus Umi" jawab Jihan mengalihkan pembicaraan


Kebiasaan Jihan kalau sedang mati kutu ya seperti itu, memilih untuk mengalihkan pembicaraannya lagi


Dan Jihan juga tau apa yang ada dalam perasaan suaminya saat ini, perasaan yang selalu di ungkapkan dari dulu, dari pertama mereka kembali damai, apa lagi saat ini dia berjumpa dengan Zula yang mungkin menambah beban penyesalannya yang semakin dalam


" Eh.... Apa bisa dia mi, jadi baret baret nanti kalau di lepas Bang El, luka tangan Umi" saut Zula yang gak tau kalau El adalah calon seorang dokter


" Heh Bocil.. Diem, " selak El yang gak terima


" Awas minggir" tambahnya lagi saat ingin membantu melepas jarum infus Jihan


" Mau apa jangan sakiti Umiku" bentak Zula cepat


" Bang El calon dokter nak, bisa dia" jawab Jihan menjelaskan


" Tapi gak Umi juga kali yang jadi mal praktek dia" jawab Zula masih khawatir


" Umi yang bimbing sayang..." jawab Jihan menenangkan Zula yang nampak gelisah


" Gak percayaan sih..." senggol El pada Zula


" Iya ya... Hati hati" ucap Zula parno sendiri


Zula akhirnya menyingkir dan mendekat pada Abah Zain, bahkan ngumpet di balik tubuh Zain karena takut melihat Uminya yang akan jadi mall praktek abangnya


" Hehehe... Kenapa takut ya? Khawatir sama Umi?" tanya Zain yang kembali membawa Zula dalam pelukannya


Zula menjawab dengan menganggukkan kepalanya, dengan mengumpet dalam dekapan di dada bidang Zain


" Lebay, " cibir Al pada Zula


" Brisik..." bantah Zula cepat


" Ayo bah, kita keluar aja, Zula temani untuk urus adminitrasi Umi, dari pqda lihat bang El yang sok pinter sama Umi" ajak Zula masih sambil ngumpetin mukanya


" Apa bayar adminitrasi?" tanya Al yang ikut mendengar

__ADS_1


" Iya lah, mau pake BPJS? tenaga kerja? gak mungkin kan di rumah sakit kamar kayak hotel pake BPJS " jawab Zula yang menghadap pada Al tapi tidak melihat El yang sudah selesai melepas jarum infus Uminya, dan memasang plaster pada bekas suntikan jarum infus tadi


" Wkwkwkwkwkwkwk" tawa Al dan El kompak dengan sangat lepas saat mendengar dengan polos Zula mengajak abahnya untuk urus adminitrasi biaya rumah sakit Uminya, di rumah sakit sendiri


__ADS_2