
Zain langsung menelan ludahnya kasar karena dia terlupa kebahagiaan selama belasan tahun yang dia daoatkan setelah goncangan yang menimpa rumah tangganya hingga terlupa kalau dia juga punya apartemant yang sudah dia beli sejak dulu untuk Jihan dan anak anaknya
“ Bah....” ucap Jihan pada Zain
“ Iya umi, maaf... Itu dulu Abah yang beli secara diam diam, habis Umi marah terus kaau Abah keluar uang untuk kalian, Umi juga tetap marah, dan menolak makanya abah beli secara diam diam biar Umi juga gak repot repot ngontrak” jawab Zain akhirmya ngaku
“ Maksudnya kenapa Umi harus marah kalau abah sendiri bisa belikan Umi tempat tinggal, Apa lagi harus n gontrak?” saut El bingung sendiri dengan penjelasan abahnya
“ Gak apa apa itu masa lalu” jawab Jihan cepat karena dia juga masih gak mau untuk memberi tau bahkan bercerita tentang masalahnya dulu
“ Apaan sih Mi sampe segituanya “ ucap El makin kepo
“ Udah gak perlu di bahas lagi, itu urusan orang tua” jawab Jihan masih kekeh gak mau bercerita
Jihan langsung berdiri dan menghindar untuk naik ke lantai atas kamarnya
“ Apaan bah” tanya El makin kepo
“ Tadi Umi bilang apa? Urusan orang tua” jawab Zain ikut berdiri dan mengelus kepala El dan juga menciumnya
“ Ck...... El udah besar kali bah, gak apa apa tau gituan” ucap El yang pikirannya malah jauh melayang
Zain gak menjawab, karena itu sangat berpengaruh dengan hati dan perasaan El, apa lagi pada saat itu poin utama masalahnya ada di El, yang sempat dia tolak dan membuat Jihan sakit hati dan hancur hingga berada dalam titik terendah kehidupannya
Di dalam kamar, Jihan gak bisa dipungkiri lagi, tangisannya kembali memenuhi matanya, rasa sakit hatinya kembali muncul tat kala melihat kejadian seperti itu yang berkepanjangan, sakit hati yang tidak pernah dia lupakan lagi, bahkan mungkim tidak akan pernah bisa di lupakan
6 tahun bukan waktu singkat untuk menjalani rasa dan perasaan yang penuh siksaan, bahkan rasa bahagia jarang dia rasakan, pengorbanan untuk anak anaknya yang sangat berat,
Bahkan terlupa rasanya lelah ,maupun letih, tersenyum di atas tangisan yang selalu mengiris hatinya, pura pura hidup bahagia di hadapan orang lain dan pura pura kuat di balik senyuman yang selalu di ukir di wajah cantiknya
Ceklek.......
Zain menyusul Jihan yang sudah duduk di atas ranjang kamar tidurnya,..
Zain tau, Jihan akan seperti ini di kala Jihan ingat dengan apa yang bersangkutan dalam masa lalu penuh DERAI AIR MATA itu,
Zain berjalan perlahan mendekat pada Jihan yang masih terisak tangis, dan Zain memeluknya dari belakang penuh kelembutan
“ Sudah ya....” ucap Zain lembut pada Jihan
__ADS_1
Jihan membalikkan badannya dan membalas memeluk Zain dengan lembut
“ Maafin Umi....” ucap Jihan lirih dalam pelukan Zain
“ Abah yang minta maaf, semua berawal dari abah” jawab Zain lembut dan mencium kening Jihan lembut
“ Umi dulu yang selalu menolak pemberian abah, umi yang selalu merasa bisa semuanya, tapi semua itu bohong, dan itu cuman ambosi saja, umi gak bisa seperti apa yang Umi tunjukkan , umi lemah, umi cengen dan Umi tidak sekuat yang orang lihat, Umi rapuh Bah...” kawab Jihan masih dengan isak tangis yang sudah menjadi
“ Enggak.... Umi orang hebat, umi orang kuat, dan Umi ibu yang luar biasa” jawab Zain yang bangga pada Jihan
Walaupun memang sebenarnya benar Jihan itun orang yang gak bisa mengulang kembali apa yang di ungkitkan dengan Zain kala itu
Contoh, dengan butik, sekalipun Jihan gak pernah mau ikut campur dengan butik itu, bahkan mengijaknya jugangak pernah mau, kalau ambil barang dan memakainya tentu msih karena semua itu dulu Jihan yang menciptakan, Jihan yang mencapainya, tapi karena sebuah penghinaan yang pernah Zain lontarkan membuat Jihan enggan banget dan gak mau tau masalah keuangan butik dan perkembangan butik
Zain gak pernah mempertanyakan soal itu, dan bahkan gak pernah minta bantuan masalah perbutikan, semua Zain serahkan pada pihak kantor dan Zain serahkan pada yang bersangkutan tanpa harus menjawil Jihan lagi
Kalaupun menjawil tentu peningkatan dan kemajuannya pasti akan semakin meningkat pesat dan bahkan akan menjadi brand yang jauh lebih mendunia dari brand brand lainnya
Jadi saat ini Jihan hanya aktif di rumah sakit saja, kalau un mau bantu bisnis juga palingan sebenatar saat Zain merasa kualahan
Di sela sela tangisan dan pelukan mereka tiba tiba pintu kamar merek di ketuk oleh El yang mau mengajaknya pulang karena malam ini memang jadwalnya mereka pulang karena besok sudah kerja, dan lusa mau mengantar EL ke Jakarta
“ Mikum... Umi Abah...” panggik El dan
Ceklek.... El langsung membuka pintu tanpa permisi
“ Salam.... “ jawab Jihan sambil menghapus air matanya dan Zain beralih duduk di sebelah Jihan
“ Katanya mau pulang” ucap El mendekat pada kulkas abahnya yang ada di kamar situ
“ Ya ayo, Abah sama Umi juga udah siap kok” jawab Jihan santai
“ Kok kelihatannya Umi habis nangis kenapa?” tanya El curiga
“ Di bentak Abahmu” jawab Jihan ngasal dan Zain tersenyum
“ Emang sakit ya kalau cewek di bentak cowok?” tanya El polos karena ingin membuktikan saja apa ucapan Heny siang tadi
“ Sakit lah... Gundulmu itu” jawab Jihan asal nyeplos
__ADS_1
“ Pantes” ucap El nyeleneh
“ Kok pantes? Gimana?” tanya Jihan malah kepo
“ Enggak nanti aja kalau di mobil El ceritain” jawab El santai dan langsung keluar dari kamar abah Uminya
Zain dan Jihan saling pandang mendengar jawaban El yang langsung pergi tanpa penjelasan,
“ Huh....” keluh keduanya membuang nafas kasar dan siap siap untuk pulang
Bukan siap siap sih tepatnya, tapi cuman ambi dompet dan ponsel doang untuk pulang karena baju mereka memang sudah ada di sana, hanya menggunakan daster doang dan hijab, dengan Zain yang menggunakan sarung dan juga kaos pendek seperti biasa
Dan sampai akhirnya mereka pulang dan tak lupa pamit dulu npada abah Hasan dan Umi Zahra
“ Pulang dulu ya mbah Umi” pamit El salim pada neneknya
“ Iya nak, hati hati ya, kapan berangkat keJakartanya?” tanya Umi Zahra pada El
“ Kapan Mi? lusa kan ya?” Tanya El dan Jihan mengangguk
“ Umi ikut kan nanti?” tanya Jihan sambil mencium tangan Umi Zahra juga
“ Enggak lah nak, Umi dirumah aja, El paling sabtu minggu juga bisa pulang kan, orang El aja kok” jawab Umi Zahra yang tau kalau El itu tukang kelayapan
Apa lagi El nanti juga bawa mobil sendiri yang mungkin bisa dia tempuh sekitar 4 sampai 5 jam dari Jakarta ke SRG, apa lagi semua jalan to tanpa macet, kalau engak juga bisa pake pesawat yang tiap hari pasti ada jadwal penerbangan
“ Iya mbah.... Kan ceweknya di sini” jawab EL santai dan Umi Zahra menggelengkan kepalanya
“ El pamit ya mbah Abah” ucap El salim dengan Abah Hasan
“ Iya hati hati jangan seenaknya kalau di Daerah orang, jaga diri, selalu renda hati, jaga sikap, jangan sak karepe dewe” ucap Abah Hasan dan El tersenyum dan mengangguk
“ Dan semoga apa yang kamu harapkan menjadi kenyataan, dapat ilmu yang barokah manfaat” ucap Abah Hasan sambil mengelus kepala El lembut
“ Amin....” jawab semuanya yang ada di sana
“ Ya udah hati hati ya nak, abah sama umi gak bisa ikut, hanya bisa mendoakan saja” ucap Abah Hasan lembut
“ Sangu mbah?” tanya El sengaja minta sangu dan pastinya bergurau
__ADS_1
Jihan langsung tersenyum dan menggelengkan kepalannya melihat tingksh anaknya yang bisa bisanya minta sangu sama embahnya, padahal mbah nya juga setiap bulan yang jatah Zain abahnya El