
Heny hanya tersenyum nyengir menanggapi ucapan El yang sepertinya kesal dengan dirinya yang terlalu lama di dalam dan siap siap
El mulai melajukan mobilnya dan mundur dari pekarangan rumah Heny dan tak lupa menghidupkan klakson dengan kedua orang tua Heny yang melambaikan tangan pada mereka
“ Tadi sebenarnya ngapain aja sih?” tanya El sambil fokus dengan jalanan pegunungan
Karena rumah Heny memang tepat di lereng gunung yang cukup sejuk di hari masih terbilang pagi ini
“ Mandi ganti baju make up tipis tipis saja” jawab Heny santai
“ Segitu lamanya...”
“ Lama apanya sih? Orang bentar doang lho”
“ Sejam lho Yang Abang nunggu adek bener...” jawab El sudah hampir pasrah tadi
“ Begitu kalau mandi di pondok apa gak di gedor gedor orang sepondok?” tambah El lagi
“ Sejam tuh bentar lho bang, kalau di pondok ya cukup 5 meni sudah” jawab Heny santai
Karena memang kalau di pesantren yang semuanya serba ngantri memang harus sabar, dan harus tau diri dan gak bisa lama lama di kamar mandi kalau gak mau di demo orang sepesantren
“ Nah tuh bisa cepet kenapa harus lama lama juga tadi?” tanya El lagi
“ Abang ganteng, kan Abang tau kalau di pegunungan seperti ini airnya dingin, di tambah kalau mau jalan sama abang, Heny juga tau diri kali bang harus tampil perfack untuk abang” jawab Heny santai sambil menampilkan senyum pol manisnya yang bisa membuat El tak bisa marah dan ngomel lagi
Dan benar El gak bisa marah lagi karena sudah meleleh dengan senyuman Heny yang membuatnya juga ikut tersenyum dan mengelus kepala Heny serta khilaf membawa Heny dalam dekapannya
“ Seminggu gak jumpa kangen gak? “ tanya El pada Heny yang masih bersandar di dadanya
“ Banget ....” jawab Heny sambil memandang wajah El
Heny kemudia bangun dari sandaram di dada El karena takut nanti ganggu kefokusan nyetir mobilnya
“ Kok bangun...” ucap El kembali fokus pada jalanan di hadapannya
“ Iya Abang lagi nyetir nanti ganggu perjalanan” jawab Heny merasa gak enak
“ Abang ini supir handal lho yang, aman kalau itu” jawab El bangga pada dirinya sendiri
‘’ Iya sayang, tapi perlu hati hati juga, udah lah fokus sama jalan aja ya, Aku takut keblabasan nanti” jawab Heny malu malu
“ Iya juga sih... maaf ya, Abang khilaf” jawab El tersenyum dan Heny mengangguk
“ Mau kemana kita ini bang?” tanya Heny menanyakam tujuan mereka
__ADS_1
“ Maunya kemana sayang” jawab El yang juga masih bingung dngan tujuan mereka
“ Kita ke pantai cocok gak siih? Aku kok bosen di gunung terus” jawab Heny yang memang anak gunung
“ Iya ya yang mentang mentang anak gunung” jawab El dan malah membuat Heny tertawa
“ malu gak punya pacar orang gunung”
“ Kenapa harus malu?”
“ Mana tau anak kota anak sultan, pacarnya orang gunung”
“ Ck..... Siapa yang anak Sultan?”
“ Abang lah, hebat banget lho ngumpetinnya sampe sepondok aja gak tau”
“ Orang abang bukan anak sultan kok, sama kayak kalian, manusia biasa “ jawab EL paling anti disebut anak sultan
“ Abah Zain sama Umi Jihan itu terkenal sultan bang, Abang anaknya jadi Abang anaknya lho, berarti abang anak sultan kan..’
“ Sekarang apa bedanya sultan sama manusia lainnya?”
“ Jelas beda sultan punya apa aja, bebasa mau ngapain saja,”
“ Tapi Abang juga kan biasa sih sayang, apanya yang berkelas? Sama kan sam Adek dan kita kita juga sama sama makan nasi, bahkan Abah Umi bahkan kami itu lebih suka kalau makan yang hanya pake sambel sama ikan asin tahu tempe, nikmat lagi kalau pake sambel bawang sama ikan asin atau ceplok telur” jawab El yang paling enggan kalau dibangga banggakan apa lagi perbedaan masalah kehidupan
“ Masak sultan mau sama ikan asin sih bang”tanya Heny heran
El tak menjawab dan langsung memandang Heny dengan pemandangan yang tidak seperti biasanya, El sangat sensitif kalau di sebut sebut tentang Sultan, dan senyum tipis tanpa nucapan apapun yang terlihat di mata Heny saat ini
“ Adek kira anak sultan itu gak mau iakan asin lho bang, makannya ya burger, pizza, salmon yang berkualitas, yang bermerk gitu” tambah Heny makin membuat El diam tak berkutik
Ini yang paling El males dalam sejarahnya di ketahui oleh orang laina kalau dia di panggil anak sultan, dari segi apapun pasti orang membedakan dirinya, pasti lagi lagi bawa anak sultan seperti nyang barusan dia dengar saat ini bahkan dari mulut pacarnya sendiri
El lebih nyaman menjadi orang biasa dan dikenal sebagai orang biasa tanpa di kenal sebagai anak sultan maupun anak orang kaya, selain mencari teman yang tulus dia juga risih kalau i beda bedain seperti ini
“ Tapi mungkin ikan asinya belinya bukan di pasar ya yang, di super market mana tau ikan asinnya merk supermen apa kremes, ada kan bang, apa import juga ikan asinnya?” cerewet Heny tanap di jawab sama El sama sekali
Bahkan saat ini muka El sudah tidak menemukan senyuman walau setipis apapun dan bahkan sudah datar mukanya sambil fokus dengan jalanan yang hampir memasuki area pesisir pantai dan tak lama lagi akan sampai ke tujuan
“ Pasti abang gak pernah makan di pingir jalanjuga kan? Apa gak doyan ya bang?” tanya Heny masih cerewet dan El sama sekali tidak menjawab hingga mobil mereka parkir di depan area paekir hotel
Sengaja memang El parkir di sana biar nyaman dan gak mau nanggung nanggungbngajak kencan pacarnya di tempat sembarangan apa lagi barusan dengan ucapan Heny yang terus terusan membawa nama sultan untuk El
“ Turun yuk...” ucap El sambil membuka pintu untuk Heny
__ADS_1
El berjalan beriringan dengan Heny yang terkesima dengan pemandangan indah di depan matanya
Pantai yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya dan bahkan sama sekali belum sampe sini kalau pun kepantai juga bukan kedaerah sana dan ternyata dekatpun ada bahkan lebih indah
“ Abang kenapa sih dari tadi diem mulu” ucap Heny mulai aneh dengan El
Heny muter muter sambil melihat pemandangan dan menoleh belakang dan terlihat tulisan HOTEL ANYA bintang 5
“ Ya Allah bang kenapa ke sini, mahal nanti ini ‘ Heboh Heny sendiri
“Kan anak sultan gak level lah kalau mantai di sembarang tempat” jawab El dater dan.....
DEG,,,,,
Heny langsung mematung dan peka apa maksud jawaban El barusan, dan dia tau itu sebagai sindiran untuk Heny yang sedari tadi ngomong masalah sultan pada El yang di anggap penuh kemewahan
“ Abang....” ucap Heny lembut memanggil El dengan mata yang sudah berlinang air mata di pucuk matanya
Heny sadar kalau ucapannya selama di mobil menyakiti hati El yang mungkin gak mau di singgung bmasalah dunia kesultanan keluarganya
El yang awalnya menghadap pada pemandang didepannya mendengar panggilan Heny langsung menoleh dan....
“ Ya Allah “ Ucap El dan langsung menghampiri Heny
Heny masih diam di tempat bahkan saat ini sudah keluar air matanya
“ Maaf....” ucap Heny lembut
“ Duduk dulu yuk....” ucap El sambil menggandeng Heny duduk di salah satu bangku terdekat dengannya
El dan Heny saat ini sedang duduk berdua dengan Heny yang masih menangis karena baru kali ini selama pacaran El yang marah biasanya Heny yang serung ngambek dan itu sudah biasa bagi kaum wanita saat berpasangan
“ Minum dulu’ ucap El sambil menyodorkan minum yang sudah El pean sebelumnya
“ Kenapa”
“ Abang yang kenapa?”
“ Adek minta maaf ya...”
“ Tau kan salahnya di mana?” tanya El pada Heny yang langsung mengangguk
“ Itu alasan kenapa selama ini abang gak pernah memperlihatkan orang tua abang di depan umum, pacar abang aja secara mudah ngomong gitu dan membedakan drajat sultan sama yang lain kok, gitu kan?” ucap El yang sebenarnya masih dongkol
“ Kamu gak sekalian minder pacaran sama anak sultan?” tambah El makin pait dan pedes
__ADS_1