
Zain pun tersenyum dan mengelus kepala Zula lembut
" Emang Uang endors Putri Abah Ini da berapa sih?" tanya Zain sambil tersenyum menatap Zula
" Belum banyak makanya" jawab Zula masih melihat lihat dulu
" Coba yang limitet aditionnya mbak" pinta Zain lagi
" Bentar ya pak" jawab pegawai ramah dan Zain mengangguk
" Bah.. Mahal.." ucap Zula sambil melotot lebay
" Nanti Minta Uang Umi, kan Umi punya rumah sakit" jawab Zain santai dengan kepolosan putrinya yang sama sekali tidak mengetahui latar belakang Abahnya
" Yah.... Emang abah gak malu minta uang Umi? Abah kan udah beberapa hari gak kerja semenjak jumpa Zula" jawab Zula yang masih belum faham dan mungkin terlupa
Padahal tadi Zain sempet bilang kalau Jihan kuliah di luar itu rencana dia karena untuk mengambil hati Jihan, dan otomatis uang Zain juga dong
" Iya ya.... " jawab Zain garuk kepalanya yang gak gatal
" Udah ah yang lain aja" jawab Zula masih gak enak
" Maaf ini pak yang Limitet edition" ucap Sang pegawai sebelum Zula menarik abahnya
" Enggak jadi mbak" jawab Zula cepat
" Eh... Lihat dulu sayang, gak boleh gitu malu, kasian mbaknya" jawab Zain merangkul Zula lagi
" Tadi udah cincin lho bah, nanti uang abah habis" jawab Zula yang justru mendapat senyuman dari para pegawai yang sudah mengenal Zula
" Nyicil boleh kan mbak?" tanya Zain bercanda dan mereka mengangguk sambil tersenyum lucu
" Abah Ih, masak nyicil" protes Zula
" Kan Abah udah beberapa hari gak kerja, belum gajian lagi" jawab Zain bergurau
Dan para pegawai makin menahan tawa mendengar tingkah Zula dan jawaban Zain yang cukup konyol
" Ini mau gak?" tanya Zain lagi
" Mau, tapi besok aja lah, jangan kasih siapa siapa ya mbak, nanti Zula kesini lagi kalau ada uang banyak" jawab Zula sambil berjalan cepat dan menarik tangan Zain
" Sayang sayang... jangan gitu, sini coba di lihat di tamatkan dan di coba, " tarik Zain balik agar Zula melihat ditail jam barunya
Zain terus memaksa dan akhirnya Zula menyerah dan mulai mengamati dan meneliti jam tangan tersebut dengan ditail
__ADS_1
" Cocok...? Mau?" tanya Zain lagi dan Zula mengangguk
" Kasihkan mbaknya biar di pakaikan ke tangan putri Abah" jawab Zain sambil mengelus kepala Zula
" Apa biar abah yang pakaikan?" tanya Zain lagi dan Zula mengangguk haru
Dan akhirnya Zain mengambil dan memakaikan pada Zula dengan lembut
Dan Zula terasa terharu menggunakan jam itu apa lagi di pakaikan langsung sama Abahnya
" Makasih abah" ucap Zula yang air matanya sudah hampir tumpah
" Sama sama Sayang" jawab Zain sambil mencium kepala Zula
" Udah, sana kawani ucupnya dan abah bayar itu dulu" jawab Zain dan Zula mengangguk
Zula berjalan menghampiri Ucup yang sedari tadi mendengar obrolan Zula dan abahnya, dan juga pegawai lainnya
Ya sengaja karena Ucup juga sangat kepo dengan harga jam yang super duper wow harganya,
Secara dia sendiri juga belum pernah melihat langsung bahkan memegang apa lagi masuk tokonya dan malam ini seperti mimpi
" Berapa mbak?" tanya Zain ramah
" Okey.. Ini kartunya mbak" jawab Zain menyodorkan salah satu kartu dari dompetnya
Kini Zula dan Ucup telah duduk berdua, dengan Ucup yang masih melototi jam tangan di tangam Zula sambil kesusahan menelan ludahnya
" La.. loe gak berat bawa rumah sama mobil di tangan loe gitu?" tanya Ucup masih melototi tangan Zula
" Maksud loe apa?"
" Jam tangan elo kalau di belikan rumah dapat tuh sama mobil" jawab Ucup serius
" Ah.. Elo cup, kalau bercanda jangan kelewatan dong" jawab Zula gak percaya
" Lah Elo la... Seleb tapi gak tau harga brandet" jawab Ucup meledek
" Ya gue takut sebenarnya masuk toko ini tadi, kan loe tau sendiri kalau gue shoping seringnya di merk sebelah, " jawab Zula yang gak pernah masuk ke toko ternama yang dia kunjungi saat ini
Karena Biasanya dia merk sebelah, karena di mall yang biasa dia kunjungi gak ada brand seperti saat ini
" Tapi tunggu La, emang benar sebelumnya loe belum tau siapa bapak loe itu, pak Zain, loe polos kali tadi?" tanya Ucup yang gak heran dengan sikap sahabatnya yang gak berkurang sama sekali
" Ya tau lah, pak Zain pemilik yayasan sekomah gue, pak Ustadz kenapa? emang loe tau? bilang gue polos lagi" jawab Zula santai dan gak terima di katai polos
__ADS_1
" Tau lah, Elo ini yang kurang update, seluruh dunia juga tau siapa bapak Elo, " jawab Ucup yang tentu faham
" Iya sih, karena beliau kan usyadz pak kyai pendawah kondang" jawab Zula yang hanya tau tentang itu
" Huu...... Sok tau, taunya ternyata cuman itu itu aja" jawab Ucup sambil menonyor kepala Zula
" Ucup ih.. kebiasaan.." protes Zula membalas tonyoran Ucup
Zula manyun dan Ucup cengengesan sambil menggoda Zula
" Tapi ngomong ngomong loe tau siapa Abah gue?" tanya Zula lagi
" Tau lah, loe tau gak tangan abah loe itu bau dolar" jawab Ucup berbisik
Plak....
" Ada ada aja loe" jawab Zula menonyor kepala Ucup lagi
" Ck... Loe gak percaya, kalau cuman belikan loe jam tangam haduh, itu mah se upilnya aja" jawab Ucup meyakinkan
" Loe tau kan Upil... Nih Upi" tambah ucup sambil mengorek hidungnya dan melihatkan lada Zula
" Ih... Jorok deh loe kebiasaan" jawab Zula dan Zain baru datang padanya
" Udah bah?" tanya Zula
" Udah sayang, mau kemana lagi sayang?" jawab Zain mengulurkan tangannya pada Zula
" Pulang lah, Zula udah capek" jawab Zula yang ladahal gak mau merepotkan Zain
" Lagian kirang asyik juga sih, gara gara elo ja deh cup, gangguin orang kencan aja" tambah Zula lagi dan menyalahkan Ucup
" Ya Sorry dong bestie, namanya gue gak tau" jawab Ucup cengengesan
" Ayo pulang aja Bah, lain waktu kita kencan lagi, " Tambahnya sambil Menggandengn tangan Ucup
" Saat ini Zula mau kencan dengan abang congek Zula ini" tambah Zula lagi sambil menarik Ucup keluar toko
Zain menggelengkan kepalanya dan faham serta wajar kalau anak perempuannya sebegitu dekatnya dengan Ucup yang selalu menemaninya sejak dulu hingga sekarang
Tiba di bastmand Zula dan Ucup harus berpisah karena Ucup yang menggunakan sepeda motor dan Zain mobil
Tadinya Zula mau bareng Ucup, menaiki sepeda motor, Cuman Zain melarang keras karena sudah hampir magrib
Hingga kini Zula dan Zain dudum berdua di mobil dan Ucup mengikuti mobil Zain dari belakangnya
__ADS_1