
Kini Il sedang melakukan sholat asar dan di jamak dengan sholat dzuhurdengan jamak takhir dan serta di kosor karena jarak dari tempat Il sudah memenuhi syarat untuk di perbolehkan sholat jmak kosor
Dan Il bersuci menggunakan air karena tak jauh dari tempat camping Il ada sumber air yang sangat jernih dan bisa untuk mandi dan bebersih juga
Setelah sholat Il lanjut bantuin teman temannya untuk banguntenda selama mereke camping disana,
“ Beb..... Tenda elo kalau untuk penghalang di sumber air situ gimana?” tanya Il pada Ucup
“ Maksudnya....” tanya Ucup balik
“ Kan elo udah gue belikan tenda baru kalau tenaelo untuk kamar mandindadakan gimana?” tanya Il lagi dan Ucup berfikir sejenak
“ Ya..... Nanti punya gue yang di rumah ambil aja deh gak apa apa” tambah IL lagi dan akhirnya Ucup mengangguk
“ Namanya orang Camping seadanya lah kalau fasilitas mau kayak di hotel ya jangan punya hobi pendaki” nyinyir Afdal lagi
“ Kalau Camping rasa hotel kenapa? Elo keberatan?” tanya Il cepat
“ Fasilita gue sendiri yang ciptain lho, gue gak nuntut dan minta sama elo, repot kali jadi orang, sayang lah mulut cowok kayak cewek” sambung Il cepat dan cuek serta santai seperti Uminya saat menanggapi orang penyinyir
Afdal kalah telak, dan gak bisa menjawab lagi, malah diem dan gak taun harus bantah apa
“ Diem kan...... Mending gitu lah, dari pada elo ngoceh akhirnya kalah” saut Sri yang sebenarnya ikut geram dengan Afdal
Setelah tenda jadi IL dan Sri serta Tasya sedang siap siap masak, denga kompor mini yang di bawa oleh Adi dari rumah, dan panci yang di bawa oleh Sri
Mereka masak Mie instan yang snagat praktis untuk mereka karena gak mungkin masak nasi gak ada listrik apa lagi ricekuker jadi telur mie sosis jadi andalan mereka di setiap camping
Sebenarnya mereka itu Camping cuman berenam saja, dan Il memilih sewa mini bus biar longgar dan tidak umpel umpelan, dan muat barang banyak
Dan kini masakan mereka sudah siap di sajikan denga menu mie goreng dan telur goreng yang cukup menggugah selera karena dari bawah tadi belum pada makan
Dan piring sudah tersedia yang di bawa oleh Tasya yang kebagian peralatan makan, dan menu sudah di bawa mendekat pada kelompok laki laki yang sedang beberes di tenda masing masing
“ Ayo makan makan” Ucap Il pada mereka
“ yuhu.... laper laper” ucap Afdal tanpa sadar siapa yang baa makanan
“ Laper kan? Makany jangan jadi tukang ngomet gak jelas biar gak boros tenaga dan abab” jawab Il santai
Afdak terdiam dan heran saja Il sepertinya gak ada dendamnya sama dirinya, bahkan malah santai, sedangkan kalau pacar Afdal kalau terwinggung sedikit langsung ngambek dan bahkan beberapa hari mendiamkannya
Lah ini Il yang di maki dan di hina justru seperti mendengar angin lewat saja, tanpa ada dendam dan beberapa jam kumpul Afdal langsung bisa men yimpulkan kalau Il bukan orang sembarang, dan punyan hatinyang jauh lebih besar darinya
Afdal ingin meminta maaf tapi melah gengsi, dan mencoba untuk cuek saja
“ Oh elo yang masak, okey deh gue beli aja kalau kayak gitu” ucap Afdal gengsi
“ Gue gak butuh uang loe” jawab Il cepat dan santai
“ Hahahaha Elo ngomonginuangnya salah tempat “ ujar Adi dari belakang Afdal
“ Sultan di tawarin uang, nolak lah... sini loe bayar sama gue aja” ucap Tasya sambil menadahkan tanganya
__ADS_1
“ Ogah” jawab Afdal cepat
“ Heh.... Gue paling risih lihat orang kayak gitu, besar gengsinya doang” sindir Il halus tapi sadis
“ Ya udah ini gue bayar makanannya” ucap Afdal gerang
“ Gue gak butuh uang, tinggal makan aja kok ribut sih, susah amat jadi orang” jawab Il santai dan lanjut mengambilkan makanan untuk Ucup
“ Makan dulu beb, biar siap menghadapi kenyataan hidup” Ucap Il sambil menyodorkan piring pada Ucup
“ Makasih Der....” jawab Ucup sambil mengelus kepala Il
“ Okey” jawab Il sambil mengambil makan juga
Hingga akhirnya mereka berenam sama sama mengambil makan dan membuat lingkaran untuk makan bersama dengan Afdal yang akhirnya ikut makan juga bahkan paling banyak, dan Il sama sekali gak peduli dan bahkan santai minta untuk teman temannya kembali nambah
Setelah makan mereka gilirsn cowok yang mencuci peralatan masak dan makannya, dan sambil menunggu magrib tiba, Il dan yang lain sedang menunggu matahari yang mau undur diri, dan akan berganti malam yang gelap dengan penerangan yang mereka ciptakan masing masing
“ Kita disini kira kira berapa lama mas Adi?” tanya Il pada Adi
“ Seperti rencana awal, paling cuman 2 malam saja beb, Gimana mau nambah?” tanya Adi balim
“ Cukup lah, tapi gimana kalau kita pindah tempat,” usul Il pada mereka
“ Gak capek nanti Beb?” tanya Tasya
“ Besok kalau udah turun kita istirahat dulu cari penginapan, habis itu kita trafeling kembali ke Jateng” jawab Il santsi tanpa mikir biaya temannya
“ Ke Jateng kemana?” tanya Sri lagi
“ Gue tau elo sultan, tapi elo juga tau keuangan kita juga kali “ bantah Afdal yang belum tau siapa El dan seperti apa royalnya Il
“ Tadi makan aja mau di bayar, giliran ke karimun bingung, sejak kapan loe belajar mengerti teman, naik gunung aja egois kok” jawab Il membalikkan ucapan Afdal
Afdal terdiam dan bener juga ucapan Il dia sadar dia sendiri gak mengerti keadaan temannya tapi maunya di mengerti sami temannya
“ Okey gue salah, gue minta maaf” akhirnya Afdal yang meminta maaf duluan
Afdal mengulurkan tangannya pada Il tapi...
“ Gue udah punya wudhu nanti batal” jawab Il santai dan akhirnya Afdal menaik kembali
“ Gimana beb....” tanya Il pada Ucup
“ Masih mau liburan?” tanya Ucup balik dan Il mengangguk
“ Okey kami temani” jawab Ucup dan Il langsung bersorak gembira
“ Elo ikut gak bang?” tanya Il pada Afdal
“ Gue gak punya ongkos sampai sana
“ Gue gak tanya ongkos elo, elo mau ikut gak?” tanya IL lagi
__ADS_1
“ Emang mau loe bayarin?” ketus Afdal
“ Udah..... diam, ayo iku gitu aja repot” saut Adi cepat
“ Kalau loe bayarin gue ikut” jawab Afdal danyang lain bersorak karena sok sokan Afdal sebelumnya
Di sisi lain setelah solat isya’ dan makan El lanjut perjalanan mau mengantar Hny pulanag, karena sudah malam dan gak mungkin di ajak nginap karena belu apa apa dan siapa siapanya
Di sepanjang perjalanan mereka saling ngobrol dan El yang juga fokus dengan jalanan malam yang cukup ramai karena pada habis pulang liburan juga
“ Ohya bang, besok kalau kuliah di Jakarta abang rencana tinggal dimana?” tanya Heny kepo
“ Entah ya sayang, abang juga belum bahas soal itu sama abah dan umi, jadi belum tau juga” jawab El yang memang terlalu santai hidupnya
“Okey... Oh ya, Umi kan dokter hebat, bahkan Umi kan punya Rumah sakit sendiri, dan sekaligus pemimpinnya, dulu Umi kuliahnya di mana sih, masih bisa sambil ngurus anak juga lho ternyata” kepo Henyn yang tentu mengidolakan calon mertuanya
“ Iya menurut cerita umi juga kayak gitu, dulu umi nkulaih di Unes dekat dari rumah juga sih, tapi S2 nya umi di Oxford University” jawab El menceritakan apa yang pernah Uminya ceritakan juga
“ Wow Oxford....” Kagum Heny yang juga sangat kegum dengan Universitaa tersebut
“ Iya Umi cuman setahunlhi selesai S2 di sana, itu juga waktu itu bukan cuman ambil 1 jurusan doang, sama bisnis juga” jawab El kanjut membanggakan uminya sendiri,
“ Karena mungkin menjadi pemimpin rumah skit juga harus berjiwa bisnis paling ya” tambah El yang belum tau cerita uminya tentang kasus fakultas bisnis yang penah um inya ambil
Mereka lanjut ngobrol hingga sampai dirumah Heny, dan El juga sudah sempet mampir dan ngobro; sejenak untuk mengembalika Heny dengan selamat setelah seharian dibawanya
El lanjut pulang krumah abah Hasan karena Uminya dan abahn ya juga masih pada di sana
Setelah memarkirkan mobilnya El langsung masuk kedalam dan..
“ Assalamualaikum” salam El saat masuk ke rumah simbahnya
“ Waalaikumsalam....” jawab Umi Zahra dan Abah Hasan yang sedang ngaji di ruang depan
“ Mbah Umi mbah Abah” ucap El sambil bersalaman dengan kakek neneknya
“ Baru pulang El?” tanya neneknya
“ Iya mbah, Abah mana?” tanya El balik
“ Ada lagi makan sama Umimu di belakang” jawab Umi Zahra dan El langsung pamit kebelakang
Kini El sudah duduk dengan abah uminya dan ikut makan kembali dengan merusuhi keromantisan makan abah uminya yangb sepiring berdua, bahkan minta suapm juga pada uminya
“ Oh ya bah, nanti El kalau kuliah di Jakarta tinggal dimana ya?” tanya El teringat pertanyaann Heny
“ Apartemant dulu” jawab Zain cepat
“ Dulu mana? Emang punya” saut Jihan kaget
“ Itu lho, yang dulu Umi tempati sama anak anak waktu tinggal di Jakarta” jawab Zain dari dulu sampai saat ini kelupaan bilang kalau itu apartemant miliknya yang di beli untuk Jihan dan anak anaknya dulu
“ Maksud Abah?” tanya Jihan belum faham
__ADS_1
” Jangan bilang kalau itu milik Abah yang dulu Sengaja Abah beli diam diam tanpa sepengetahuan Umi lho nya” ancam Jihan sebelum Zain menjawab