
Jihan sudah hampir menitikkan air mata melihat neneknya yang lemah dan pucat,
" Iya Uti " Jawab Jihan akhirnya lolos air matanya
" Kamu sampe sini nak?" tanya Utinya lemah dan Jihan mengangguk
" Jihan mau obati Uti" jawabnya Masih berkucuran air mata
" Uti harus sembuh ya" tambah Jihan sambil menggenggam tangan Utinya lembut
" Uti mau nyusul kakung nduk" ucap nenek Jihan sambil tersenyum tipis
" Enggak Uti, Uti harus sembuh, sehat kembali " jawab Jihan langsung meminta alat medis ke suster yang menemani
Dengan telaten Jihan mulai memeriksa neneknya dengan lembut, sang nenek juga tersenyum pada cucunya yang selalu siap sedia untuk keluarganya
Setelah selesai memeriksa, neneknya sudah lumayan dan mulai setabil kembali kondisimya dan bisa langsung di pindah ke ruang rawat
Saat pintu terbuka, keluarganya langsung menghampiri dokternya, dan Zain langsung menghampiri dan menanyakan dengan menggunakan bahasa arab
" Gimana keadaan nenek kami dokter?" tanya Zain pada dokter yang memeriksa
" Maaf tuan, Alhamdulillah semua kembali stabil, dengan bantuan beliau" jawab dang dokter sambil menunjuk pada Jihan
" Kami permisi ya, biar kami pindah dulu pasienhya keruang perawatan" ucap perawat menggunakan bahasa sambil mendorong bangkarnya untuk di bawa ke ruang perawatan
Sebelumnya Jihan juga meminta pada mereka untuk memindahkan neneknya di ruang VVIP, agar lebih nyaman
Jihan bersandar di pintu sambil tersenyum dan mengilangkan kedua tangannya di dada,
Zain menatapnya dengan lembut tersenyum bangga, keadaan kritis neneknya yang membuat khawatir semua orang ternyata bisa di kendalikan dengan seorang Jihan aulia
" Kok Umi gak di tanya" ucap Jihan cemberut dan Zain tersenyum ramah
Dari belakang Zula langsung maju dan mendekat pada Uminya
" Terimakasih dokter" ucap Zula konyol sambil menjabat tangan Uminya
" Sama sama" jawab Jihan sambil mesam mesem
Keluarga lainnya sudah pada mengikuti bangkar ibunya, seperti Charir dan Ulfa, beserta suami mereka
Sedangkan anak turun Jihan masih berada di dekat abah dan Uminya
__ADS_1
" Abah enggak tanya? apa hanya mau tanya sama dokter cantik tadi iya?" jelles Jihan pada Zain
" Enggak perlu dong, lagian Abah gak tau juga apa nanti yang di bahas kan, " jawab Zain sambil merangkul pinggang Jihan
" Ayo kita nyusul ke sana aja" tambah Zain sambil berjalan menggandeng Jihan
Begitu juga anak anak mereka yang ikut berjalan mengikuti langkah kedua ornag tuanya
Sesampainya di sana nenek Jihan masih istirahat, dan masih memejamkan matanya
" Assalamualaikum.. " ucap Jihan dan zain dan di ikuti ketiga anaknya
" Waalaikumsalam..." jawab yang ada di sana kompak
Dengan fa dan Charir yang berada di sebelah ibunya
" Ini ibuk kok gak bangun bangun Han, " tanya Charir khawatir
" Tadi udah bangun dan sadar Tan, sempet ngobrol bentar sama Jihan, tapi setelah Jihan periksa, ternyata penyakit Uti kambuh, dan kelelahan juga, makanya tadi Jihan kasih obat penenang dan biar tidur dan istirahat dulu aja, " jawab Jihan menjelaskan
" Tapi mata dokter tadi kritis" saut Toha
" Ya itu tadi penyakit Uti kambuh lagi, dan sudah berlebihan lah ibaratnya, imun dan tubuh Uti gak bisa menerima dan membuatnya drop parah, hingga kritis, tapi masih bisa di tangani juga, dan Alhamdulillah sudah menurun dan melewati masa keritis" jawab Jihan santai sambil menjelaskan
" Kalau Zula sih enggak.." tambahnya membuat Uminya melotot tajam
" Sobek aja ijazah S2 umi Il, kalau gak percaya" ucap Jihan emosi
" Ck gitu aja emosi, maksud Zula, Zula gak percaya kalau yang menyenbuhkan Umi, karena Umi hanya lantaran, dan Hanya Allah yang maha segalanya" jawab Zula yang membuat Jihan kena mental
" Haha Kena mental deh kayaknya" jawab Al tertawa
" Tauk ah... Ayo bah pulang kerumah dulu , Umi mau mandi ganti baju dulu" ajak Jihan sudah di bikin salah tingkah oleh anak anaknya
Untung cuman di depan keluarganya saja, kalau di depan Umum haduh pasti sudah kalah cantik mukanya sama tembok
" Eh.. Pulang kemana Mi?" kaget Zula pasalnya belum tau kalau di sini Jihan dan Zain juga punya rumah
Ya jelas belum tau karena Jihan dan Zain belum pernah menceritakan harta ke kayaan ya pada Zula, kalah Al dan El sih sudah pasti tau
Jihan sudah enggan menjawab karena masih kesal di bikin salting sama anak sendiri
" Widih... Yang kena mental ngabek gaes" ucap Zula mencibir Uminya dan Zain menahan tawa dan langsung menggandeng putri satu satunya itu
__ADS_1
" Kami pulang dulu bentar ya Pak Buk, Om Tan, nanti telfon aja kalau ada apa apa" ujar Zain pamit pada mertuanya
" Ya udah hati hati, udah di jemput?" tanya Hamdan pada menantunya
" Al nanti yang bawa mobil" jawab Zain setelah selesai salaman
" Assalamualaikum" sala Zain dan keluar dari ruangan itu
Di jalanan lorong rumah sakit Zain terus menggandeng Zula dengan lembut, dan Al dan El sudah jalan duluan bareng Uminya
Ya begitu lah seperti kebiasaan anak dan orang tua umumnya, biasanya anak perempuan cenderung lebih dekat dengan abah atau bapaknya begitu juga sebaliknya anak laki laki lebih dekat dengan Ibunya
" Bah.. Kita gak pulang ke Indonesia kan?" tanya Zula yang sebenarnya masih menjadi tanda tanya
Dia masih penasaran tentang kota Makkah makanya masih gak mau untuk di ajak pulang ke Indonesia, karena baru sebentar sampai
" Enggak dong, baru sampe masak mau pulang lagi" jawab Zain lembut
" Kok katanya tadi mau pulang, rumah kita lho di Indonesia" jawab Zula masih belum mengerti
" Kita pulang ke Kantor abah, rumah Abah ada juga di sini" jawab Zain lembut dan Zula kaget dengan kekayaan Abahnya
" Yang bener?" tanya Zula lagi
" Bener dong, mau berapa lama di sini gak masalah, " jawab Abahnya santai dan Zula begitu girang gak menyangka bisa berlama lama di tanah suci Mekkah ini
Kini Semua sudah di dalam mobil dengan Al sebegai pengendara, karena dia yang sudah punya SIM Internasional, sedangkan El belum, dan Zula boro boro bawa motor aja gak bisa,
Walaupun pecicilan dia sama sekali belum pernah belajar bawa motor apa lagi mobil, sedari kecil yang tinggal di pesantren tidak ada yang mengajarinya menaiki kendaraan
Tapi dia sudah janjian dengan kedua abangnya yang siap melatihnya nanti
Kini mereka sampai di rumah Zain, yang menjadi satu dengan kantornya yang berbentuk ruko,
Di lantai 4 teratas, mereka semua berkumpul, karena baru kali ini semua berkumpul yang sebelumnya tanpa adanya Zula
" Dulu Abah pernah 2 hari 2 malam kesakitan di sini sendirian" ucap Zain tiba tiba bercerita
" Mau di ulang ceritanya?" tanya Jihan yang sudah beberapa kali mendengar cerita itu
Karena itu hal yang membuat Zain gak akan pernah lupa dengan rasa sakit yang di rasakan saat itu
" Itu lah, sama seperti gimana rasanya wanita saat melahirkan, " tambah Jihan lagi
__ADS_1