
Heny langsung kaget dengan pertanyaan tajam El yang gak seperti biasanya,
" Suka sama Bang Al?" tanya El kembali judes
" Apaan sih? Cemburu?" goda Heny dengan senyam senyum
" Ya cemburu lah, yang bener aja kamu pacar aku, kamu suka juga sama Abangku" jawab El sewot
" Uluh uluh... Makin cakep aja kalau lagi ngambek.." goda Heny lagi sambil menatap El makin dekat
El yang gek pernah marah maupun ngambek kembali tersenyum dan..
" Aaaeett ...... " cegah Heny saat El hampir kebablasan mencubit pipinya
" Maaf.... Habisnya sekarang bisa aja kalau ngeprank orang" ucap El makin gemas
" Kan ada gurunya... kamu" jawab Heny sambil menampilkan senyum manisnya
" Gak naksir bang Al kan??" tanya El memastikan
" Enggak Abang.... Eh.. Kakak..." jawab Heny makin menggemaskan
" Abang aja gak apa apa, " jawab El cepat
" Kok gitu, kayak orang Jakarta atau Melayu aja Abang, Kita orang jawa Mas aja" elak Heny karena belum tau kalau neneknya Al ada di Riau
" Eh... Jangan salah, kami ada bau bau Melayu, Umi dulu kecilnya di Riau, dan Nenek kami orang Riau, makanya Umi juga dulu panggil Abah Abang, sama dengan aku dan Bang Al " jawab El dan Heny mengangguk
" Okey berarti Abang El ya.." jawab Heny makin mempesona
" Siap Adek Heny..." jawab El makin membuat Heny merona karena malu mendapat panggilan kasih sayang dari Abang tercinta
Di sisi lain... Al masih dalam perjalanan, dan dia masih memikirkan ucapan buyutnya yang tiba tiba ingin hidup di arab bersamanya
Dan Kini Al sudah memasuki komplek perumahan mewah miliknya, yang mana di sana berjejer rumah rumah mewah,
Zain dan Jihan juga jadinya gak berangkat kerja hari ini, karena Zain yang sudah mager dan keenakan di ranjang, jadi membuatnya enggan untuk berangkat bekerja, dan hanya ingin bermain dan kerja di kamar saja
Sesaat kemudian Mobil Al masuk ke dalam pekarangan rumahnya, dan Al parkir di tempat biasa,
Setelah memarkirkan mobilnya, Al turun dengan perlahan, karena capek Juga perjalanan begitu jauh dari pondok El sampai kerumahnya
" Assalamualaikum...." ucap Al saat masuk ke rumahnya
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab sama sekali, dan Al langsung duduk merebahkan tubuhnya di ruang tengah
" Umi.... Abah...." panggil Al, karena Al tadk tau kalau Abah Uminya di rumah, karena mobil mereka ada garasi
Zain dan Jihan masih asyik mandi berdua di kamar mandi, karena keromantisan mereka memang tidak ada duanya,
Dan Usia tidak membatasi keromantisan keduanya, bahkan adanya anak anak mereka yang sudah dewasa, tak mengurangi keasyikan mereka saat berdua saja
Al yang gak mendengar jawaban keduanya langsung naik ke kamarnya, untuk bersih bersih dan melaksanakan sholat Dhuhur, karena sudah masuk waktu dhuhur sedari tadi
Setelah mandi dan ganti baju, Al langsung melaksanakan kewajibannya, dengan khusuk dan tak lupa dzikir dan berdoa
Begitu juga dengan Jihan dan Zain yang baru selesai mandi lanjut sholat jamaah,
Dan setelah itu Jihan ganti baju dan lanjut ngeringin rambut, yang di ambil alih oleh Zain saat ini
Dan Al tiba tiba masuk, dan mengucap salam sebelumnya
" Assalamualaikum...." ucap Al yang menyusul mereka,
" Waalaikumsalam...." jawab Jihan dan Zain yang mengarah pada Al yang di depan pintu
" Lho Udah pulang?" tanya Jihan tanpa gugup,
Begitu juga dengan anak anak mereka yang gak pernah protes, paling cuman baper saja
" Udah dari tadi, Umi aja yang di panggil gak denger" jawab Al duduk di ranjang milik Abah Uminya
Zain dan Jihan hanya saling pandang dan tersenyum, mereka sadar mereka sedang enak enakan di kamar mandi
" Abah Umi gak ke kantor hari ini?" tanya Al lagi
" Enggak...." jawab Zain santai dan lanjut mengeringkan rambut Jihan
" Kenapa??"
" Lagi pengen istirahat saja di rumah, " jawab Jihan beralasan
" Oh...."
" Oh ya Bah Mi... Tadi Uyut bilang mau ikut Al kemesir lho" ucap Al mulai bercerita
" Gimana gimana? coba Ulang" kaget Jihan gagal fokus
__ADS_1
" Iya... Tadi Al mampir tempat uyut, tiba tiba uyut tanya, di Mesir dekat gak dengan Mekkah?" ucap Al mulai bercerita
" Terus??"
" Ya Al jawab Aja, lumayan seperti sini sama tempat Mbah Riau " jawab El lanjut
" Terus tanya lagi, Al di kasih fasilitas gak sama Abah di Mesir, tak jawab lagi, Al di fasilitasi semuanya, mulai mobil dan rumah juga, " jawab Al melanjutkan
" Habis itu?"
" Ya Uyut tiba tiba bilang mau ikut tinggal di sana, dan bahkan bilang kalau meninggal mau di kuburkan di dekat Uyut Kakung, di Mekkah" jawab Al santai tapi membuat Jihan kaget
Entah mengapa hal itu membuat Jihan hatinya terenyuh, Dan tentu tergerak untuk mengikuti kemauan neneknya
Nenek yang begitu setia pada suaminya, 20 tahun lebih di tinggal pergi dengan jarak makam yang gak jauh, bahkan hanya setahun sekali, bahkan kadang tidak untuk berziarah, dan bahkan sampai meninggal ingin juga di makamkan di dekat mereka
" Ya Allah ....." Ucap Jihan sambil meneteskan Air mata
Zain menghentikan aktifitasnya, dan membawa Jihan pada dekapannya
" Udah.... Tenang, Kita bicarakan dulu sama Bapak dan Ibuk" ucap Zain menenangkan Jihan
" Iya tadi Uyut juga bilang gitu" saut Al pada mereka
" Maksudnya??" tanya Zain lagi
" Uyut pesan sebelum Al pulang, suruh menyampaikan pada Abah dan Umi, dan Umi suruh bilang sama Uti dan kakung tentang masalah ini" jawab Al menjelaskan
" Tadi Mbah liloh tau gak?" tanya Jihan sambil sesenggukan
"Tau, tadi pas ngobrol juga ada mereka, dan mereka membujuk untuk tetap di Indonesia, tapi Uyut masih kekeh, jadi mereka mengiyakan, mungkin untuk menbahagiakan Uyut aja" jawab Al faham maksud Charir tadi
Jihan menganguk karena memang tugas mereka hanya membahagiakan orang tua, dan mengiyakan saja kemauan mereka,
" Paling Om sama tante juga udah ngomong sama bapak Ibu, apa gak nanti kita obrolkan lagi" ucap Zain masih menengkan Jihan
" Abah mau ngurus semuanya?" tanya Jihan lagi
" Kalau Umi dan yang lain mengiyakan gak masalah, gak di mesir malah, langsung di arab kalau mau" jawab Zain santai
Karena bagi Zain hal seperti itu hal mudah, bagi Dia yang mempunyai travel dan bekerja sama dengan pihak Imigrasi
Terlebih Zain sendiri juga memiliki perusahaan di Mekkah, jadi makin lebih mudah dan gampang untuk memindahkan kependudukan Nenek mertuanya,
__ADS_1
" Terus siapa yang mau merawat Uti nanti di sana?" pikir Jihan kembali khawatir pada Neneknya