
Heny masih terdiam sambil senyam senyum karena mendengar ucapan El yang tiba tiba mengajaknya menikah
“ Kok senyam senyum aja sih, mau gak...?” tanya El serius
“ Tapi bener Abang mau nunggu Adek?” tanya Heny kembali serius
“ Maksudnya mau gimana? “ tanya El bingung
“ Ya mau nunggu Adek hingga lulus, setahun bener abang betah LDRan sam adek?” tanya Heny masih dengan pertanyaan yang sudah dia tanyakan sebelumnya
“ Kok tanyanya itu lagi sih, emang kurang jawaban abang kemaren?” tanya El yang paling gemes dengan pertanyaan Heny yang selalu membahas kesetiaan
“ Ya Adek cuman takut aja, nanti kalau abang ketemu anak ibu kota langsung berpaling dari adek” jawab Heny dengan Alesan yang selalu dia pake
“ Ya makanya mau Abang nikah ya sesudah lulus sekolah “ jawab El santai
“ Insyaallah siap.... Tapi dengan syarat harus tetap setia menunggu Adek, jangan selingkuh dari adek” ucap Heny posesif
“ Ya Insyaallah juga, tapi kan mata juga bisa membedakan mana yang kinclong juga” gurau El pada Heny dan....
Plek......... 1satu pukulan spontan mendarat di lengan El cukup kuat
“ Aduh..... Sakit sayang...” ucap El mengeluh kesakitan
“ Itu masih belum seberapa di banding sakitnya hati adek saat abang tingal selingkuh nanti” jawab Heny ketus
“ Seumpama Abang selingkuh, apa yang akan adek lakukan paada abang ?” tanya El santai
“ Minta putus” jawab Heny cepat
“ Gak mau pertahankan Abang?” tanya El lagi
“ Untuk apa?”
“ Ya kan cinta butuh pengorbanan” jawab El sekenanya
“ Iya tapi ogah juga kalau harus berkorban hanya untuk memperjuangkan cinta yang pernah memberi luka” jawab Heny santai
__ADS_1
“ Pokoknya ya Bang, sakit hati seorang perempuan itu cuman 1, di katai dan di hianati apa lagi di duakan, kalau gak percaya tanya sama umimu, kalau di hianati ndi katai, apa lagi di selingkuhi rasanya bagai mana? Siap enggak?” tambah Heny makin serius
“ Kalau abang sayang dan cinta sama Umi, maka hargain dan sayangi setulus hati untuk Heny, atau perempuan yang abang sayangi naat ini “ tambah Heny lagi dan El menganguk dan mengelus kepala Heny lagi
Di sisi lain Il masih emosi jiwa, dan bahkan masih mempertahankan cengkeraman di leher Afdal, hingga Afdal sudah hampir tersungkar kebelakang tapi....
Kaki Il tiba tiba terpeleset dan....
“ aaa........” teriak EL dan...
Hap........ Afdal segera menangkap dan menari tangan Il dengan kuat, pandanga Afdal langung tertuju pada Il dan IL langsung tersadar dan bangun serta dberdiri tegak
“ Gue kalau sama cewek okey gue bisa maklum dan tau diri, tapi kalau cowok macem elo, ogah..... Elo bukan cewek, Tapi bencong, cowok yang berani mengatai gue” ucap IL penuh ketajaman dalam pandangannya
Afdal mengepalkan tangannya dan mengira kalau Il bukannya bertrimaksih saat di tolong olehnya justru balik mengatai dirinya dengan sebutan yang cukup menjijikkan bagi Afdal yaitu bencong
Il langsung kembali turun dan mengambil ranselnya lagi, dan dia langsung menarik Ucup untuk kembali mendaki lagi tanpa istirahat
Afdal sangat kesal dengan Il yang membuatnya penasaran dengan siapa Il yang sangat berani padanya dan intinya dia gak mau ditindas sama sekali,
“ Itu siapa sih sebenarnya?” tanya Afdal pada Tasya
“ Eh.... Kepo juga elo?” ucap Tasya sambil nyinyir dengan Afdal
“ Enggak juga sih, gue baru nemu orang macem itu,” jawab Afdal masih memandangi IL dari jauh
“ Hati hati lor, dia anak sultan tuh, santri juga, preman juga, lengkap dalam diri tuh orang” jawab Tasya menjelaskan
“ Elo tau, yang bayar bus yang kita naiki dari rumah tadi dia lho, cu an dia gak pernah ngungkit memang kalau masalah harta, bahkan menganggap itu tidak pernah ada, kalau dia tipe pengungkit mungkin loe nanti di tinggal di sini, dan njangan tanya kalau loe bisa makan nanti di atas” tambah Tasya bercerita tentang Il apa adanya
“ Maklum ya.... Dia masih anak anak juga, baru lulus SMP kemaren, kita yangblebih tua seharusnya memahami siapa dirinya, “ tambah Tasya lagi
“ Apa? Lulus SMP?” kaget Afdal masih sambil berjalan beriringan dengan Tasya
“ Yups..... Tpi dia hebat, dia sudah seperti dewasa kan?” tanya Tasya balik
__ADS_1
“ Kalau sekilas dia memang bongsor, gak nampak seperti anak remaja, apa kagi SMP, dia sangat dewasa, tapi ya gitu sedewasa dewasanya dia, kita yang lebih berumur juga harus mengetahi moodnya, seperti Ucup, dia sangat tau gimana karakernya, bahkan loe tau sendiri Ucup ada tugas penting kan ? kalau dia udah ngajak< jangan tanya ada penolakan dari Ucup, pasti Ucup selalu meng iyakan, bahkan jujur, pertama gue ikut komunitas seperti ini, gue cemburu pada Ucup yang begitu perhatian padanya, “ tambah Tasya bercerita
“ Alah paling si Ucup ngincar hartanya lah itu, makanya mau di perbudak jadi babunya” jawab Afdal menyangkal ucapan Tasya
“ Bukan gitu juga sih karena memang Ucup npeduli dsn perhatian banget sama dia, gak masalah harta dia juga, “ jawab Tasya yang tau kedekatan antara Ucup dan Il
“ Iya masak seperti itu, sampe segitu marahnya lho si ucup tadi” ucap Afdal sempat kaget
“ Ya karena dia sayang sama tuh anak, tapi gak masalah sih, emang tuh anak baik banget gak pernah mau cari masalah maupun dapat masalah,bahkan kalau kita pergi sama dia, apa yangbkita perlukan akan dia tanggung tanpa minta imbalan sama sekali, dan minta balasan sama sekali, langka ada orang kayak gitu” ucap Tasya yang terus membanggakan Il
Mendenagar ucapan Tasya membuat Afdal justru penasaran banget denga IL, dan pengen tau sehebat apa seorang IL
Ya Il adalah foto copy seorang Jihan aulia, yang marah dengan cowok yang hanya bisa menghina, sok jagoan dan merendahkan orang lain
Hingga akhirnya mereka sampai di puncak bukit setelah perjalanan hampir 4 jam, dan Il serta yang lain saat ini sedang beristirahat di bukit sambil menikmati sepoi sepi angin pegunungan
“ Alhamdulillah..... akhirnya selamat sampai tujuan, “ Ucap Il sambil menyelonjorkan tubuhnya
“ Hebat lho loe beb, baru kali ini full tanpa henti, 4 jam” ucap Sri yang biasanya IL berhenti di setiap 30 menit sekali itupun paling lama
“ Iya ya mbak.... kalau bukan ucapan tuh orang, guenmungkin gak sekuatb ini, “ ucap Il sambil trenga terangan sambil menunjuk langsung pada Afdal
Afdal sempat kaget, karena IL orangnya terang terangan bahkan ni edit no sensor padanya
“ Karena terkadang sebuah hujatan nitu menjadi motifasi bagi nkita untuk terus berjuang dan semangat lebih lanjut dan sukses kedepannya” tambah Il dan bener adanya
“ Oh ya.... Ayo makan bekalnya, Beb... mana bekal kita “ ucap IL sambil membuak ransel bekal yang di bawa oleh Ucup
Il membagi semuanya pada mereka, dan bahkan mengeluarkannya untuk mengisi bagian kampung tengah mereka,
“ Nyah bang.... makan lah, biar kenyang gak ngromet dan nyinyirin orang terus” ucap Il sambil memberi maknan atau bekal pada Afdal secara santai tapi sopan
Afdal yang justru makin penasaran siapa IL, dan kenapa masih baik padanya yang sebelumnya sempat diamaki habis habisan
__ADS_1