
Zula masih menundukkan kepalanya ingin rasanya dia menangis, tapi gak mungkin dan harus dia tahan, dia gak mau terlihat rapuh di hadapan siapapun
" Gimana nak apa kamu mau menerima lamaran Al?"tanya Zain lagi dengan Zula yang sedari tadi masih menunduk
Perlahan Zula mulai menegakkan kepalanya dan memgambil nafas dalam
" Maaf sebelumnya pak Zain, bapak sudah mengetahui latar belakang saya belum?" tanya Zula agar Zain bisa mempertimbangkan
" Sudah.. " jawab Zain lembut
" Abah sudah mengetahui semuanya, saat ini panggil bapak Abah aja ya" tambah Zain lagi dan...
Deg.... Zula cukup kaget dengan pernyataan zain, Dalam hati Zula kok mau seorang terpandamg sepetti Zain Musthofa mempunyai menantu sepertinya yang gak tau siapa walinya nanti
" Apa bapak.. Maaf Abah, tidak mau kalau mempunyai menantu seperti Zula? Zula tidak punya Ayah Bah, Zula bahkan tidak punya keluarga, Zula tidak punya Wali saat Zula akan menikah nanti" jawab Zula berterus terang apa adanya
Zula masih menahan air matanya yang sudah hampir jatuh, dengan segera dia menghapus cepat
" Abah dan Al akan menerima kamu apa adanya, Abah akan menjadi Abahmu juga, Abah akan menganggapmu seperti anak Kandung Abah sendiri" jawab Zain ingin rasanya memeluk gadis cantik calon menantunya itu
Zula sudah tidak kuasa lagi, di luaran sana banyak orang yang memandang sebelah mata dirinya,
Dan kali ini hanya keluarga Zain saja yang terang terangan bisa menerima dia apa adanya, menspecialkan dia, menghargai dia dan bahkan menganggapnya seperti keluarga sendiri
Selain keluarga besar abah kyai pengasuh pondok pesantren tempat dia mengaji
" Kalau kamu masih berat untuk memberi jawaban, gak apa apa, di pikirkan baik baik, soalnya jodoh itu bukan seperti cinta monyet di masa kecil, dan akan menjadi kenanga di masa depan, tapi jodoh itu harapan masa depan, yang selalu menemani dan mendampingi sampai akhir nanti" ucap Zain panjang agar Zula tidak merasa keberatan
Melihat Zula yang menangis Zain juga merasa bersalah takut kalau Zula terpaksa dan sungkan kepadanya
" Ini ada sebuah Cincin dari Al, kalau kamu menerima bisa di pake di jari kamu, dan bila kamu menolak nanti simpan untuk kenang kenangan" ucap Zain lagi sambil menyodorkan sebuah kotak cincin yang di sana terletak sebuah cincin cantik simpel dan manis di pandang
__ADS_1
Zula menerimanya dia belum punya jawaban apa apa, dia masih bibgung dengan hatinya, secara dia sendiri pasti menolak, tapi kebaikan Zain dan wibawanya tiba tiba menjadi benteng penolakan secara terang terangan
" Jangan di batek ya, jangan minder, kita semua sama, sama sama manusia biasa, kamu berhak bahagia, abah permisi dulu ya, abah masih ada pertemuan di kantor" ucap Zain pamit pada Zula
" Nanti kalau udah siap bilang sama Al ya, Biar Abah bertemu dengan Umimu" tambah Zain lagi
Zain mengelus pundak Zula lembut dan penuh ketulusan , rasanya ibgin sekali memeluk gadis cantik calon menantunya itu, tapi dia belum resmi jadi menantu ataupun anaknya, Zain masih belum berani
" Al abah pergi dulu, sabar dan jangan ambisius, kalau jodoh gak kemana" ucap Zain pada Al
Al hanya menjawab dengan anggukan saja, dan tersenyum kemudian mengantar abahnya keluar dari ruangannya
Setelah mengantar abahnya, Al masih was was takut dapat omelan dan depakan dari Zula yang pasti sudah tau kalau Zain membawa jalur pintas
" Zula kembali ke kelas dulu ya Pak" ucap Zula datar dengan mata yang terus berlinang air mata
" Zul Zula, Gue.." ucap Al menghentikan langkah Zula
" Gak apa apa Pak, Gue terharu sama keluarga kalian, " jawab Zula lembut dan pamit sama Al
Al terdiam kaku gak tau apa itu benar ucapan Zula apa justru sebaliknya cuman hanya sebagai sindiran saja?
" Assalamualaikum..." ucap Zula keluar dari ruangan Al
" Waalaikumsalam.." jawab Al masih berdiri mematung
Di rumah El baru bangun dan Jihan sudah berangkat sejam yang lalu, dan sudah berada di ruang oprasi rumah sakit,
Tapi setelah ini Jihan akan langsung pulang dan istirahat, dia akan menganbil malam dan memantau untuk praktek El malam nanti
Dan benar setelah selesai oprasi dan berjumpa dengan Zain untuk memberikan jasnya Jihan langsung pamit pulang dan justru Zain juga akan menyusulnya nanti setelah pulang meeting
__ADS_1
Ya dia juga memilih di rumah saja kalau istrinya di rumah lumayan nyicil nyicil kerjaan malam nanti
Kini El sudah siap siap mau ke KDS untuk kembali menemui Zula, dan saat ini sangat khawatir pada Zula, karena Zula tadi sempat mengirim pesan kepadanya agar segera menemuinya karena ada yang mau di omongkan dan penting
" Mau kemana El?" tanya Jihan santai saat selesai ganti baju dan siap masak makan siang
" Lho Umi gak ke Rumah sakit?" tanya El balik
" Di tanya malah nanya balik, gimana sih?" kesal Jihan pada anak bandelnya itu
" Ah Umi, Tadinya Al mau ke rumah sakit praktek, tapi Umi di rumah ya udah gak jadi" jawab Al enteng
" Modus, mana ada jam segini mahasiswa mau praktek? kamu pikir rumah sakit punya nenek moyangmu apa?" kesal Jihan dengan tingkah anaknya yang seenaknya
" Ah Umi ini, masih cantik pelupa juga, itu bukan punya nenek moyangku Umi, tapi punya Umi cantikku" jawab El menggoda Uminya
" Iya juga ya?" ucap Jihan pelan dan baru tersadar
" Ya kan.... Udah lah kalau gitu, El keluar dulu ya, calon mantu Umi udah menunggu" ucap El santai dan tak lupa memberi kecupan manis pada pipi Uminya
" Eh Eh... Dasar anak " ucap Jihan yang merasa di bohongi anakny
" Hahahaha... Assalamualaikum Umi" ucap El santai dan melambaikan tangannya untuk pergi dari rumahnya
Jihan geleng geleng kepala pada tingkah El, dia memvanggakan tapi dia juga mengesalkan ,
" Huh... Ya Allah... ini kenapa dari keluarga Om Toha sifatnya nurun gini sih ke anak gue, perasaan saat hamil dia jarang jumpa Om Toha deh" gumam Jihan yang terus menggelengkan kepalanya
El kini mengendarai mobilnya ke arah rumah Zula, El sudah tau di mana rumah Zula, karena kemaren sempat mengantarkan Zula pulang setelah mengajak Zula jalan
" Loe ada apa sih bocil cantik? bikin kepikiran aja" batin El sambil fokus pada kemudinya
__ADS_1
Zula sudah pulang sekolah, karena masih ada acara Mos di sekolah, dia yang gak pernah mau di jadikan anggota osis memilih untuk bebas dan pulang dengan perasaan yang penuh horor saat ini
Dia harus jelaskan lada El apa yang dia alami pagi ini,