Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
IL Sakit


__ADS_3

Jihan langsung menuju mobilnya dengan terburu buru, dan Alif merasa heran dengan tingkah Jihan barusan


" Mbak mau kemana?" teriak Alif


" Gue buru buru, mau pergi dulu" jawab Jihan cepat


" Loe gak ngampirin gue kerumah loe?" tanya Alif lagi


" Gak.... " jawab Jihan cepat dan segera melajukan mobilnya cepat


Perasaan Jihan sudah gak karuan, jantungnya berdebar kencang, cemas khawatir dan bergetar semua tubuhnya,


Zain barusan terbang, dan dia juga harus cepat cepat menuju lokasi yang membuatnya ingin menangis


Jihan mengendarai mobilnya dengan skil yang di luar batas usianya,


Kalau dulu Jihan sering ugal ugalan karena maklum usia masih muda, tapi tidak dengan sekarang yang sudah beranjak tua,


Tapi kecemasannya mengalahkan segalanya, kehawatirannya mengalahkan mobil mobil sport yang terlintas di sebalah kanannya,


Puluhan, bahkan ratusan kendaraan sudah di selipnya, tak jarang teriakan pengendara yang lain memarahinya karena ugal ugalannya


Jihan sama sekali gak peduli, perasaannya semakin menjadi, hingga kini dia sampai di salah satu pondok pesantren tempat IL menimba Ilmu


Perjalanan yang seharusnya 1.5 jam perjalanan, kini cukup singkat sekitar 35 menit telah di tempuh oleh Jihan


Jihan segera keluar dan berlari menuju tempat pengurus, sebelum menemui IL yang di kabarkan sempat pingsan karena sakit


Hati seorang ibuk gak bisa di pungkiri lagi, apa lagi Jihan yang seorang dokter gak bisa yang namanya dengar orang sakit maupun terluka


Pasti tindakan pertamanya adalah bergerak cepat memberi pertolongan


" Assalamualaikum...." ucap Jihan dengan nafas yang tidak beraturan


" Waalaikumsalam.... " jawab pengurus pesantren tersebut


Jihan langsung memberikan surat pertemuan ataup pengantar jemput IL, dengan nafas ngos ngosan sampai enggak bisa ngomong, karena di sana anggota keluarga harus menggunakan surat atau kartu wali santri


Pondok modern yang cukup ketat penjagaannya, semua santri dan wali santri ada kartu tersendiri, yang bisa menyambangi, menjemput maupun mengantar para santri


" Iya buk mari saya antar" ucap sang pengurus sudah faham


Jihan mengangguk dan mengikuti langkah santri tersebut menuju UKS Pesantren


" Cepet......" Teriak Jihan mengajak berlari santri tersebut


" Baik buk...." jawab santri dan akhirnya mereka berlari menuju UKS pesantren


Sesampainya di sana Jihan langsung membuka pintu UKS dengan cepat, karena perasaannya semakin tidak karuan dan....


Terlihat jelas anaknya yang masih tergeletak lemas di bangkar UKS pesantren


" Ya Allah anakku....." ucap Jihan menghampirinya karena IL di sana sendirian karena para teman temannya juga sedang sekolah

__ADS_1


Begitu juga para pengurus lainnya dan santri senior lainnya yang harus mengikuti kegiatan pesantren


Jihan berlari cepat menghampiri IL, dan langsung menangis memeluk anak kesayangannya itu


" Ya Allah nak.... Kenapa bisa begini?" tangis Jihan langsung pecah


Bahkan Jihan sendiri sangat panik, saking paniknya dia terlupa akan profesinya sendiri


" Huuuu.....Huuu..... Kenapa bisa begini tadi??" tanya Jihan lagi


" Sedari tadi sendirian di sini? gak ada yang menemani?" tanya Jihan pengen marah


" Maaf buk.... Saya yang menemani, saya sedang ketoilet sebentar" jawab salah satu santri yang barusan keluar darj toilet UKS


Tatapan tajam langsung Jihan berikan karena panik, Jihan gak menyangka pelayanan kesehatan kurang memadahi di prsantren anaknya saat ini


" Mana dokternya?" tanya Jihan lagi mengenai petugas kesehatan prsantren


" Dokter yang sering menangani belum bisa di hubungi buk, jadi belum bisa ke sini" jawab santri yang mengantarnya


" Peralatan medis ada?" panik Jihan lagi


" Ada buk..... Ada yang bisa saya bantu?" jawab santri dan bertanya balik


" Keluarkan semuanya" pinta Jihan dengan suara agak tinggi


Kadua santri yang ada di sebelahnya cukup kaget dengan suara Jihan yang meninggi,


Santri mulai memberikan beberapa peralatan medis yang tersedia,


Cukup konplit tapi sayang yang menanganindan bertanggung jawab tidak ada, bahkan dokternya yang seharusnya gerak cepat gak bisa di andalkan


" Eh Buk buk...." cegah santri saat Jihan akan memakai tetoskop


" Jangan buk nanti rusak" sambung yang lainnya mencagah


Jihan tidak menjawab dan lanjut menggunakan untuk memeriksa IL, mereka gak tau siapa Jihan sebenarnya,


Apa lagi ribuan santri di sana, dan juga pastinya ribuan wali santri yang gak mungkin dia hafal satu persatu


Walau Jihan sering kesana, tapi pengurus yang bertugas kan tidaj setiap hari mereka, karena bergantian dengan para santri dan pengurus lainnya


Kedua santri tersebut tercengang melihat Jihan yang begitu cekatan, walau dengan air mata yang berlinang di matanya


" Ya Allah nak.... Kenapa jadi seperti ini" ucap Jihan lagi kembali meratapi anaknya


Setelah memeriksa dan mengetahui kondisi yang Alhamdulillah tidak begitu parah, dan tinggal menunggu IL terbangun terpebih dahulu


" Gimana kejadiannya kenapa anak saya bisa seperti ini?" tanya Jihan tegas seolah meminta pertanggung jawaban


" Maaf buk karena keteledoran kami pihak pesantren, tadi pagi sehabis sholat subuh agak lemes, dan kami sudah mencoba untuk menangani sebisa kami, kemudian saat mau mandi berangkat sekolah kami juga sudah melarang agar tetap di pondok, tapi beliau malah menolak dan memaksa untuk berangkat sekolah, dan bilang kalau sudah enakan, pas tiba di gerbang tiba tiba pingsan,dan tidak sadarkan diri" jawab salah satu dari santri bercerita


" Kami sudah melakukan tindakan penanganan, dari pihak pengurus kesehatan pesantren, memberi pertolongan pertama pada beliau, seperti apa yang penah dinas kesehatan berikan pada kami, dan seperti apa yang kami tau untuk menangani, tapi beliau tidak sadar juga, dan masih terbaring lemah" sambung lainnya ikut bercerita

__ADS_1


" Terus kami menghubungi dokter tapi tidak bisa di hubungi, dan tidak nyambung, makanya ini kami masih menunggu beliau datang" sambungnya lagi penuh kecemasan


" Siapa dokternya?" tanya Jihan lagi yang mengenali hampir semua dokter besar di kota tersebut


" Dokter Imran " jawab santri petugas kesehatan


Jihan mengerutkan keningnya dan tidak mengenalnya sama sekali, bahkan tidak pernah dengar nama tersebut


" Ada ID atau CV nya sebagai petugas di sini?" tanya Jihan makin ditail


" Bentar ya buk coba saya cari" jawab santri dan Jihan menganguk


Jihan langsung mendekat pada IL, dan mengelus kepala IL dengan lembut dan menciumnya, tetesan air mata kembali hadir, di sertai doa dari hati Jihan yang paling dalam


Doa untuk buah hatinya yang masih berjuang mencari Ilmu, sama dengan Abang abangnya, yang mereka semua selalu di sebut namanha dalam doanya


" Maaf buk ini CV nya" ucap santri sambil menyodorkan CV dokter Imran


Jihan langsung menerima dan membukanya, serta meneliti tentang CV dan lantar belakang pendidikan serta pengalaman dokter Imran


Jihan cukup tercengang mengetahui semuanya, karena ternyata dokter Imran adalah Mantri bukan dokter seperti yang santri tadi sebut


" Ini mah mantri " ucap Jihan cepat saking kagetnya


Bukan untuk menghina atau merendahkan, tapi memang di pondok pesantren sebesar ini dan UKS yang cukup lengkap ini hanya di tangani oleh seorang mantri


Jihan sebagai petugas Medis merasa prihatin dan ingin menugaskan salah satu karyawan rumah sakitnya untuk bekerja di sana, biar mendapat fasilitas kesehatan yang memadai


Belum lagi santri tersebut menanggapi ucapan Jihan, IL sudah mulai siuman dan memegang kepalanya yang terasa berat


" Sayang....." ucap Jihan pada IL dan menggenggam tangannya


" Umi....." jawab IL menampilkan senyumnya


" Iya sayang.... " jawab Jihan sambil memeluk buah hatinya yang masih beranjak remaja karena memang masih kelas 3 MTs


IL yang mempunyai sikap sama seperti Jihan, tersenyum dan membalas pelukan Uminya


" Umi gak boleh nangis" ucap IL lirih


" Umi gak bisa sayang.... Lihat anak Umi sakit" jawab Jihan masih terus menitikkan air mata


" Kan Umi IL dokter, Ada yang ngobati" jawab IL dengan nada yang masih lemah


Kedua santri tersebut terlihat haru melihat kasih sayang yang begitu dalam yang Jihan berikan pada IL


" Kita kerumah sakit ya, Kamu butuh penanganan yang lanjut sayang.... Kamu di rawat ya di rumah sakit" pinta Jihan yang sudah gak tahan melihat kondisi IL yang seperti gejala yang dia lihat adalah gejala penyakit tipus


" Enggak mi... Gak mau kerumah sakit" jawab IL sambil menggelengkan kepalanya


" Jadi mau gimana sayang... Kamu perlu perawatan nak.." jawab Jihan makin gak tau kemauan anaknya ini


" Aku mau di rawat di Hotel saja" jawab IL santuy.. anak sultan...

__ADS_1


__ADS_2