
" Ya Allah Cup cup, lho gitu banget pertanyaannya, ya jelas lah loe tetap abang gue, sampai kapanpun, karena sebelum gue ketemu sama abang gue, loe sudah ada untuk gue" jawab Zula yang sangat sayang juga dengan ucup
" Kirain loe gak mau berteman lagi sama gue yang buluk ini La" jawab Ucup merendah
" Ya Allah... loe segitu banget suudon sama gue Cup, gak yes loe" hawab Zula dan Ucup tertawa
Mereka lanjut ngobrol berdua hingga Zula tertidur seperti biasanya saat di telfon sama El
Di kamar lain, tepatnya di kamar Zain dan Jihan, kini mereka sedang saling berpelukan, dengan Zain yang membawa Jihan kedalam dekapannya seperti biasa
Keduanya masih belum tidur, dan masih saling ngobrol tentang peristiwa beberapa belas tahun yang lalu
" Abah minta maaf ya sayang, Semua ini berawal dari abah, berawal dari trauma Abah, dan berakhir menjadikan anak anak dan kamu sebagai korban" ucap Zain kembali menitikkan air mata
Jihan tidak menjawab, dan masih meratapi peristiwa beladan tahun yang lalu, dengan DERAI AIR MATA yang membasahi pipinya
Jihan belum sanggup menjawab, dia terharu saat ini, dan justru merasa bersalah karena ketakutannya yang di hantui rasa suudzon pada Zain
" Hiks... Hiks.. Hiks" isak tangis Jihan makin terdengar jelas dalam pelukan Zain
" Abah ini laki laki bodoh, laki laki yang gak pernah ada gunanya, laki laki yang sudah menyia nyiakan istri dan anaknya, bukan hanya istri saja yang abah sakiti, tapi juga anak anak Abah, abah gak ada gunanya lagi Umi, Abah manusia paling bodoh sedunia, paling laknat sedunia" ucap Zain sangat menyesali perbuatannya di masa lalu, dan merasa sangat bersalah banget dengan anak dan istrinya
Jihan menangkap wajah brewok Zain, dan menggelengkan kepalanya perlahan sebagai isyarat itu sudah lewat,
" Enggak bah,.. Bukan, semua juga karena keegoisan Umi juga" jawab Jihan dengan terus berlinang air mata
" Umi yang egois, Umi yang merahasiakan Zula dari Abah, Umi yang menbuat Abah merasa berdosa dan bersalah," tambah Jihan kembali memeluk Zain yang makin menjadi tangisannya
" Umi dulu yang masih terlalu dendam, Umi yang masih selalu parno, Umi yang merasa sangat ketakutan, dan trauma yang gak masuk akan ini, seharusnya Umi mikirin sikis anak Umi, bukan egois memikirkan rasa trauma dan kerakutan Umi," tambah Jihan yang mulai sadar dan menyesal
" Tapi semua itu berawal dari abah Mi, dari abah yang selalu membuat Umi menangis, selalu membuat Umi sakit hati, Umi tidak pernah bersalah, tapi selalu Abah salahkan, Abah minta maaf, Abah paling berdosa dan paling bersalah pada Umi dan anak anak" jawab Zain yang tidak mau kalau Jihan menyalahkan dirinya sendiri
__ADS_1
" Udah ya Bah, Cukup ya, kita sama sama berdoa, untuk anak anak kita, mudah mudahan anak anak kita selalu mendapat JODOH DALAM ISTIKHOROH nya, yang tepat, yang sholeh sholehah, dan menjadi JODOH DUNIA AKHIRAT, tanpa adanya detikan dan bencana rumah tangga yang menjadikan kita penuh DERAI AIR MATA , " ucap Jihan menyakinkan Zain bahwa sekarang semua sudah baik baik saja
Menjalani hidup dalam cerita kisah novel dari season 1 hingga ke 3 ini tidak mudah, bila ada di kehidupan nyata, dan hanya keluarga Jihan dan Zain lah yang mampu menjalani kisah 3 season dalam cerita tersebut
Hidup adalah pilihan, dan juga takdir, takdir bisa di ubah, dengan cara memilih, tapi kalau itu hanya satu satunya jalan yang bisa di lewati apa boleh buat? dan jalan yang berliku berlubang dan gronjalanan adalah salah satu sentilan dalam kehidupan rumah tangga
Kita saat ini bahagia, tapi belum tau besok lusa dan seterunya, roda kehidupan terus berputar, ada kalanya kita di atas dan ada kalanya kita di bawah
Dan kita juga gak tau, kalau saat kita di bawah kita akan melewati jalan yang mulus atau sebaliknya
Dan semua itu harus di persiapkan, dengan cara apa? sedangkan kita gak tau kapan kita di atas dan kapan kita di bawah,
Cukup dengan cara ber syukur, dengan terus bersyukur dan menerima apa yang akan ada dalam jalan hidup kita, maka itu adalah suatu persiapan yang matang, karena di saat kita di bawah, kita tetap menikmati nikmat Allah, tetap mensyukuri apa yang ada, begitu juga saat kita di atas, rasa syukur justru semakin di tingkatkan, tanpa merasa sombong ataupun terbebani saat berada di bawah, intinya cukup Syukur
Gimana cara kita bersyukur, dan tanpa iri pada orang lain? dengan cara melihat orang yang ada di bawah kita, jadikan hal itu sebagai nikmat yang lebih yang Allah berikan pada kita, dan jadikan motifasi orang yang berada di atas kita untuk selalu semangat dan berusaha menjadi lebih baik lagi
" Amin amin amin ya Allah..." ucap Zain dengan menadahkan kedua tangannya dan lanjut merangkul Jihan kedalam dekapannya
Semua sudah bangun pagi, dan mereka sholat subuh berjamaah di musholla keluarga,
Zula tidak sulit saat di bangunkan, begitu juga dengan kedua abangnya, mereka mempunyai alarm masing masing untuk membangunkan tidurnya
Usai berjamaah, seperti biasa mereka murojaah Al Qur'an yang mereka hafal di luar kepala
" Putri Abah sudah Hafal 30 juz?" tanya Zain lembut
" Wah abah ini, ngejek apa gimana sih?" jawab Zula bergurau
" Ya enggak dong, Abah tau putri abah pasti cerdas kayak Umi" jawab Zain merangkul Zula
" Lebih jauh lagi dong, apa lagi tuh sama abang abang Zula, jelas cerdas Zula" jawab Zula santai sambil menyobongkan dirinya ya itu semua dengan bergurau ya
__ADS_1
" Eleh.... Ngapusi, emang elo udah hatam alfiah? udah hatam sab'ah?" cibir El pada Zula
" Weh... penghinaan loe Bang" jawab Zula dengan Jihan yang menyaksikan perdebatan yang dulu selalu dia nantikan
" Penghinaan apanya,? orang setiap hari main tik tok, IG, youtube kok bilang penghinaan, yang ada berapa kputa dan berapa tarif endosr loe hafal, lagu lagu dan joget joget juga loe hafal" jawab El yang gak percaya
" Itu kan hanya untuk hiburan gaes, kopyor lama lama ini otak kalau untuk belajar terus" bantah Zula yang termasuk selebram dan tiktokers serta youtubers yang mana tentu sudah berpenghasilan cuman gak pernah di ambil olehnya, itung itung buat tabungan pikirnya
" Jadi putri abah ini juga pemain sosmed aktif?" tanya Zain kaget
" Hem... Bukan hanya itu bah, uang dia banyak sebenernya, gamers juga lho, seleb tepatnya, gajiannya banyak pasti" ucap El yang menjawab pertanyaan Zain yang belum tau tentang Zula
" Gajian banyak juga belum balik modal kalau untuk beli camera, laptop dan alat alat lainya kali El" saut Jihan yang selalu menuruti apa yang Zula minta
" Namanya hobi Mi, jangan itung itungan dong" jawab Zula memeluk Jihan yang ada di sebelahnya
" Eh, sejak kapan Umi itung itungan ya..." bantah Jihan dan Zula tersenyum
" Abah dulu juga youtuber, masih aktif juga tuh sama editornya" sambung Al yang tau
" Weh... berarti Zula nurun dari abah" jawab Zula membanggakan dirinya
" Bukan nurun, Abah kontennya kan ngaji, sedangkam elo? pecicilan" jawab El mencibirnya
" Loe lain dong, beliau sudah tua masak mau pecicilan iya gak bah?" goda Zula sambil menaik turunkan alisnya
Zain tersenyum dan mengusap kepala Zula lembut
" Ngomongin ngaji, gimana putri abah udah hatam bil Ghoib dan sab'ah?" tanya Zain lembut dan Zula mengangguk
" Dulu Umi dan Abang, semua setor bis sab'ah sama Abah, begitu juga bil Ghoib, untuk menyambung sanat dari Abah, kira kira putri Abah mau gak setoran pada Abah lagi?" tanya Zain lembut
__ADS_1