
El terdiam dan mematung di tempat setelah melihat kepergian Heny dan juga Wion,
Di luar Heny langsung di tanya sama Wion, di perjalanan mereka menuju kantin kampus
" Dia siapa sebenarnya Hen? ada hubungan apa sama Elo, dia kelihatan syok banget waktu gue panggil Elo sayang" tanya Wion minta kejelasan
" Sampai kantin gue jelasin" jawab Heny santai dan lanjut berjalan ke kantin
Sesampainya di kanton merrka kembali duduk berdua dan memesan makanan serta minuman
" Gimana?" tanya Wion makin penasaran
" Elo tau dia siapa?" tanya Heny balik
" Dia putranya Dokter Jihan yang memberi motifasi tadi kan? soalnya pas baru datang dia bareng sama dokter Jihan, dan berbincang bincang juga, tapi belum tau sebenarnya soalnya di IG jarang nampak" jawab Wion menduga duga
" Iya bener, dia putranya dokter Jihan dan pak Zain, " jawab Heny santai
" Wah sultan dong,?" tanya Wion dan Heny mengangguk
" Terus ada hubungan apa sama elo, yang malah memibta gue berdrama seperti ini?" tanya Wion makin kepo
" Sebenarnya dia itu mantan gue waktu di pondok, di masa SMA, " jawab Heny yang sebenarnya sangat males mengakui hal itu
" Ha.... Yang bener? sultan yampan seperti dia mau sama elo?" ledek Wion terang terangan
" Apaam sih loe, emang gue nampak buruk banget dan jelek ya, sampe jelas gitu ngomongnya" jawab Heny kesal
"Hehehe Sorry sorry ... Ya enggak sih, biasanya mana mau anak sultan sama orang kamoung kayak kita" jawab Wion sambil menyerutup minumannya
" Dia walau anak sultan tapi sederhana banget, pokoknya special, dan luar biasan banget" jawab Heny terus terang
" Hahaha Jangan jangan loe belum move on sama dia" ledek Wion lagi
" Susah" jawab Heny terus terang
" Terus kenapa loe juga susah susah drama kayak gini, sepertinya dia ingin loe kembali" ucap Wion makin heran dengan sepupunya itu
" Gue masih sakit hati Mas, dia seudah itu mutusin gue dengan alasan yang gak logis, dan ternyata dia ada cewek lain yang mau di deketin, kalau gue mau di deketin dia lagi ancur dong harga diri gue sebagai cewek, makanya gue males dan milih mencoba move on aja" jawab Heny terus terang
Dan wion sekarang mulai faham, dan enggan untuk mengikut campuri urusan masa lalu sepupunya itu
Di sisi lain kini El sudah berada di mobil dan menunggu Uminya yang belum keluar juga
__ADS_1
El masih belum terima dengan apa yang dia lihat dan dia dengar tadi, secara dia sendiri masih sangat sayang dan cinta sama Heny, yang kini justru Heny sudah mempunyai tunangan
" Gue sadar gue salah, gak seharusnya dulu gue putusin dia" batin El frustasi
Dan gak selang lama Jihan sudah berjalan dan masuk kedalam mobil El dengan santai dan sumringah
" Kok gak masuk dulu tadi El?" tanya Jihan sambil membenahkan duduknya
" Lagi gak mood Mi" jawab El lesu
" Haa... Coba lihat Umi" kaget Jihan dan menatap El
El sama sekali gak menoleh pada Uminya, tapi Jihan yang peka justru menatap El makin dalam
" Ada apa?" tanya Jihan langsung faham
" Kita langsung pulang aja ya Mi" ucap El mengalihkan pertanyaan Uminya
Jihan mengerutkan keningnya dan makin mendalam menatap El
Di perjalanan El tetap diam tanpa bicara sepatah katapun, dan Jihan sudah bisa menebak kalau anaknya sedang tidaj baik baik saja perasaannya
" Kenapa ada apa El, cerita sama Umi, Umi hampa kalau kayak gini, " ucap Jihan membuka suara
" Tunggu tunggu, Elo sebenarnya ada apa ? kenapa jadi berubah drastis seperti ini ? tadi okey okey aja lho" ucap Jihan makin gak tau apa yang sebenarnya terjadi pada El
" Kalau bisa El mau segera di urus Mi, El mau pindah ke Luar negri aja" jawabnya tanpa peduli pertanyaan Uminya
" Umi sama Abah gak akan mindahin kamu, kalau kamu gak jawab pertanyaan Umi El" jawab Jihan tegas
El masih terdiam dan enggan bercerita dulu, mengingat dan melihat Heny jalan bergandengan tangan dengan Wion, yang setahu dia tunangannya cukup membuat dia sakit hati, dan semua berawal dari dia
Mungkin kalau dulu El gak mutusin Heny duluan sebelum di terima atau mengetahui siapa Zula, gak akan terjadi seperti ini
Dan El yang geram akhirnya gak jadi langsung kerumah dan justru malah berbelok ke kantor Abahnya
" Katanya mau pulang" ucap Jihan yang tak di hiraukan oleh El
Kalau Uminya gak bisa untuk pindah ke luar negri, El dengan sigap langsung ke abahnya yang selalu menuruti semua kemauan anak anaknya
" Huh... Sak karepmu El" kesal Jihan sambil membuka seatbelt nya dan turun dari mobil El karena sudah di bukakan pintu mobilnya oleh scurity
Jihan berjalan duluan dan menjnggalkan El yang cuek dengan Uminya, di sepanjang pintu masuk semua pegawai di kantor Zain tunduk dan menyapa ramah Jihan , yang ternyata di buntuti El dari belakang
__ADS_1
Jihan mulai menaiki Lift menuju ruangan suaminya yang tadi sempat memintanya juga untuk datang ke kantor
Dan El memilih menunggu naik selanjutnya saja dari pada di sepenjang jalan mendengar pertanyaan kekepoan Uminya
Setibanya di lantai paling atas Jihan berlewatan dengan Ryan yang baru selesai dari ruang meeting
" Ibuk" sapa Ryan sopan
" Eh Yan... bapak ada?" tanya Jihan balik
" Ada Buk, bapak ada di ruangannya " jawab Ryan sopan
" Ya udah Ibuk ke dalam dulu" pamit Jihan sopan
" Silahkan Buk" jawab Ryan ramah
Jihan kemdian berjalan menuju ruangan Zain yang ternyata sedang sibuk dengan tumpukan berkas di hadapannya
" Assalamualaikum..." ucap Jihan saat masuk
" Waalaikumsalam..." jawab Zain tersenyum sumringah melihat kedatangan istri tercintanya
Zain langsung berdiri dan menghampiri Jihan, tak lupa Jihan mencium tangan Zain dan Zain langsung menarik pinggang Jihan dan akan di cium bibirnya
" Assalamualaikum..." ucap El lesi dan menggagalkan ciuman mesra abah Uminya
Seketika Zain dan Jihan melepas pugatan maisng majsng dan bersalah tingkah
Melihat raut wajah El yang kurang semangat Zain sudah bisa menebak kalau El sedang tidak baik baik saja
" Waalaikumsalam.." jawab Zain dan jihan di saat El sudah duduk di sofa ruangan abahnya
" Kanapa Mi?" tanya Zain dan Jihan memgangkat kedua bahunya
" Pulang dari kampus tadi gitu aja, gak jawab di tanya" jawab Jihan dan Zain berjakan ke arah El
" Ada apa?" tanya Zain lembut
" Abah bisa pindahkan kulaih El ke luar negri gak?" tanya El to the poin, yanh tadi sempat di tolak oleh Uminya dia kini langsung pasang senjata ke Abahnya
Zain cukup kaget dengan permintaan El, mudah dan gampang sih hal itu untuk Zain, tapi tidak semudah itu juga kalau Ek tidak memberi alasan
" Dengan atas dasar dan alasan apa Abah Harus pindahin kamu ke luar negri?" tanya Zain mulai tegas
__ADS_1