Jodoh Dunia Akhirat

Jodoh Dunia Akhirat
Sama sama Egois


__ADS_3

Dari ucapan Zula barusan Al bisa menyimpulkan kalau Zula punya trauma berat dan kurang percaya pada siapapun, apa lagi orang baru sepertinya


Jadi Al bermaksud ingin menghilangkan rasa yang Zula rasakan saat ini, Al akan membuat satu dari ribuan murid di yayasan BNT semua baik baik saja, tanpa ada yang menyendiri seperti Zula saat ini


Karena dari itu Zula akan kehilangan sifat sosialisasi dan sifat toleransi kepada temannya maupun orang di sekitarnya


Semua itu Al tidak pernah tau siapa Zula sebenarnya bila di media sosial, justru rasa peduli dan sosialnya juga tinggi


Dan sebenarnya Zula juga merasa kasian dengan santri atau temannya yang tidak mampu, Zula sering kali diam diam membarikan makannya pada temannya yang tak kunjung dapat kiriman, Zula terkadanh diam diam memberi mereka makan dan titipan uang jajan pada temannya lewat ibu kantin sekolah maupun pesantren


" Eh... Malah mojok di sini" ucap Ahmed tiba tiba datang sambil membawa nampan berisi makanan


Zula hanya melirik kedatangan Ahmed guru kocak yang membuat Zula tetap datar tanpa ekspresi


Ahmed duduk di sebelah Al, dan kemudian melirik ke arah Zula yang tetap datar


" Eh.. Ada dedek Zula di sini, hay Zula" ucap Ahmed dan Zula tetap diem


" Diem aja.... Mas Ahmed temani makan ya" gurau Ahmed lagi dan Zula sama sekali tidak menjawab


Ahmed menghembuskan nafasnya kasar dan kembali menatik nafas untuk menghadapi ke cuekan Zula


" Okey Zula walaupun kamu cuek, Mas Ahmed akan selalu berusaha untuk membuatmu tersenyum" ucap Ahmed lagi tidak mau menyerah


Al yang di sebelahnya hanya tersenyum melihat usaha yang Ahmed berikan dan ternyata tetap gagal


Zula lanjut mengotak ngatik Laptopnya tanpa memedulikan keberadaan Al dan Ahmed yang mendekati mereka


Hingga membuat Ahmed dan Al saling pandang,dan menggelengkan kepala kompak

__ADS_1


Al tidak menywrah dan akan membuat Zula kembali tersenyum seperti ceritanya di masa kecilnya dulu


Di sisi lain, kali ini Zain ada tugas dakwah di Jakarta untuk penyambutan maulid Nabi,


Dan siang ini rencana Zain baru akan berangkat dan kali ini masih meminta Jihan agar mau ikut dengannya dan menemaninya


Zain masih sama seperti dulu manja bila dengan Jihan saja, tapi lain jika di hadapan orang lain,


Zain justru makin manja di kala Jihan yang cukup ada perubahan setelah pertikaiannya dulu,


Ya Jihan sama tapi ada satu hal yang kadang tiba tiba membuatnya terdiam tanpa mau di ganggu, dan Zain tidak tau itu, makanya Zain lebih manja lebih ingin selalu di temani saat pergi keluar kota karena dia gak mau nanti tiba tiba Jihan pergi lagi,


" Mi.... Ya.... Ayo lah temani Abah, Abah gak mau sendirian" ucap Zain manja yang sudah 30 menitan merayu Jihan


Zain kini datang kerumah sakit Jihan di mana Jihan bekerja, dan meninggalkan pekerjaannya demi merayu sang istri


" Abah lho Bisa pergi sendiri, kan udah besar, Umi ada Meeting besok" jawab Jihan lanjut dengan pekerjaannya


" Umi bisa beli sendiri" jawab Jihan enteng dan Zain langsung kikuk


Ya benar secara gaji dan penghasilan Jihan juga lumayan besar dan bisa beli apa yang dia inginkan


" Ya udah kalau gitu Abah cari Umi lain yang mau nemenin Abah Tusyiah" ucap Zain spontan membuat mata Jihan melotot


Tapi justru Zain yang merasa ketakutan sendiri karena keceplosan dan aslinya yang bermaksud bercanda itu


" Cari aja, tapi jangan cari Umi lagi ya" jawab Jihan santai dan sangat pedas


Ya secara, hal dulu masih membekas, dan Jihan gak rugi kalau melepas Zain, toh anak anaknya sudah besar besar, tapi semua itu kalau Zain berani berulah lagi, tapi hal itu tidak akan mungkin terjadi, karena bucinnya Zain saat ini semakin tua semakin kelewat batas bucinnya

__ADS_1


" Hehehe... Bercanda Umi sayang, Abah gak akan cari Umi kedua untuk anak anak, Kan Uminya cuman satu, makanya temani Abah ya, karena Abah gak mau jauh dari Umi" ucap Zain makin lebay dan manja


" Plis deh bah... Mengerti dong kerjaan Umi" jawab Jihan menolak Halus,


Jihan tau dan masih tau di mana batas dosa untuk kembali datar dan cuek pada suaminya dulu, dan Jihan juga gak bisa menolak secara kasar dan datar seperti waktu mereka di ujung masalah kala itu


" Tanggung jawab Umi ini lho bah, Abah mengerti dong" ucap Jihan meminta pengertian


" Abah sebenarnya gak mau egois sayang, " Ucap Zain tiba tiba tegas


" Tapi kira sama sama sudah tua, dan waktunya sama sama Istirahat, " tambahnya makin datar


Zain sebenarnya pengen pensiun dini, tapi tetap menganbil job dll, karena Zain ingin di sibukkan saja, karena Jihan belum mau di ajak pensiun dan istirahat,


" Abah menganbil semua ini juga karena Abah ingin selalu di temani Umi, kemanapun saat abah pergi, jadi Abah ada waktu berdua dengan Umi terus menerus, gak hanya ketemu di mana kita sama sama sudah capek dan sudah istirahat, " Tambah Zain makin membuat Jihan mengerutkan keningnya dia gak tau apa maksud tujuan ucapan suaminya


" Jangan salahkan Abah, dan Jangan bilang Abah Egois kalau Abah menutup Rumah sakit ini" ucap Zain mantap dengan kesabarannya yang makin menipis


Deg.... Hati Jihan terasa kembali teriris dan jantungjya berdetak kencang


Ancaman di waktu di kuliah dulu kini kembali di dengar, kabahagiaan pada satu hal yang membuatnya sibuk karena hobi dan prestasi yang dia dapat justru membuat suaminya tidak bangga, dan merasa terganggu dan merasa di duakan


Zain sudah berdiri, dan hendak keluar dari ruangan Jihan


Gak tau mau jawab apa, Jihan merasa bersalah dan merasa mementingkan kerjaan dari pada suami, begitu juga yang mungkin di rasakan Zain saat ini


" Apa Umi kurang kasih perhatian dan kurang menemani abah riwa riwi keluar negri? Apa Umi kurang bertahan? Apa Umi kurang perngertian pada Abah dan meninggalkan pekerjaan Umi sendiri demi membantu pekerjaan Abah Juga?" ucap Jihan membuat Zain menghentikan langkahnya


" Umi Bukan remaja dan anak muda lagi bah, yang bisa di ancam, yang bisa di perangi dengan keegoisan, Abah Egois umi juga bisa egois bah" jawab Jihan yang justru membalas keegoisan Zain

__ADS_1


" Umi tau, Umi wanita gak perlu kerja dan hanya duduk di rumah ngurus rumah saja, tapi Umi takut" ucap Jihan terhenti dan membuat Zain menghadapkan tubuhnya ke arah Jihan yang sudah tidak lagi bisa membendung DERAI AIR MATANYA


__ADS_2