
Pandangan Zain ke Jihan langsung berubah, yang awalnya merasa Menang dan Egois kini berubah menjadi takut dan kasian melihat istrinya
Zain makin merasa bersalah dan membuat Jihan kembali menangis, dan ber DERAI AIR MATA
" Umi udah tua, Dan Umi gak muda lagi, Umi Takut di kala Abah mengabaikan dan membiarkan Umi lagi, gimana dengan anak anak Umi, gimana dengan hidup Umi" ucap Jihan kembali teringat di waktu anak anaknya masih kecil
Bahkan Di saat trauma Jihan kembuh seperti ini, Jihan mengira anaknya masih kecil dan belum bisa bekarja bila di tinggal dirinya, dan mereka masih membutuhkan Uminya untuk mencukupi kebutuhannya,
Tapi Jihan sadar kalau dirinya sudah tua dan gak sekuat waktu muda dulu yang berjuang sendiri,
Dan padahal, apa bila hal itu sampai terjadi, sudah pasti justru Zain yang hidupnya kembali blangsak, karena semua aset atas nama anak anak dan juga istrinya, kecuali Butik saja
Semua itu yang memindah sesuai kemauan Zain setelah kembali bahagia bersama Jihan
Dan Jihan terlupa akan Hal itu, akan semua aset yang sudah banyak namanya, dan pastinya dia gak akan hidup sengsara lagi
Zain faham akan trauma Jihan yang belum sembuh sama sekali, dan masih melekat di hati, hingga mwmbuat Zain buru buru kembali memeluk Jihan erat
" Semua itu gak akan pernah terulang dan terjadi lagi" ucap Zain lirih dengan pelukan yang makin erat
Tapi beda dengan Jihan bayangan negatif masih melintas, dia membayangkan gimana hidupnya di kala dia belum lulus kuliah dan harus berjuang dengan anak anaknya, dia gak tau akan makan dan kerja apa untuk mencukupi kebutuhan anak anaknya di kala itu
" Udah ya sayang.... Cukup, semua sudah lewat, Umi sudah bahagia kembali bersama Abah, muuuaach.." ucap Zain sambil mengecup kepala Jihan lembut dan makin lama
" Ayo minum dulu, " ucap Zain membawa Jihan kembali duduk ke shofa
Dan Zain berdiri mengambil minum dan juga obat yang saat Jihan mulai panik dan ketakutan dalam traumanya untuk menengkan dirinya
__ADS_1
Zain tau Jihan punya trauma berat, Jihan punya kepanikan yang berlebihan, sekarang sudah agak mendingan setelah bertahun tahun menghadap psikolog dan sceater yang menangani dirinya
" Gak usah kerja dulu ya, Kita pulang, istirahat, Meeting di lanjut Zoom aja di rumah, sambil Istirahat" ucap Zain setelah membantu Jihan minum obat
Zain mengelus Jihan lembut, Jihan gak bisa di kasar di paksa dan di tekan, Zain tadi kelapasan, karena terlupa dan hampir tidak bisa mengontrol Emosi
Jihan begini karna dirinya, Jihan bukan depresi, tapi punya trauma dan rasa panik yang berlebihan bisa di tekan kembali oleh suaminya
" Kontrol Zain kontrol" ucap Zain dalam hati karena hampir kelapasan tadi
Hingga akhirnya Jihan mengangguk, karena kalau udah seperti ini dia gak bisa konsen lagi dan harus istirahat di rumah mengosongkan pikirannya
Dan Jihan ada trauma yang lebih parah lagi, yaitu trauma mendengar amarah Dan kata kata kasar Zain, yang membuatnya bukan marah lagi, tapi takut sangat takut
Kini Zain mendekap Jihan keluar dari ruangannya dan membawanya ke Lift khusus CEO rumah sakit, yang gak di lihat banyak orang
Ya.. Setelah kejadian yang menyakitkan Penuh DERAI AIR MATA, dan kembali bahagia, justru membuat Jihan lemah dan takut kejadian selama 6 tahun jungkir balik hidup yang penuh perjuangan dan menguras emosi jiwa dan air mata kembali terulang, membuat Jihan takut suatu saat hal itu terulang kembali walupun Jihan tau kalau Zain juga sudah sumpah di hadapan kedua orang tua Jihan
Karen tadi Al berangkat dengan Zain, tapi setelah Zain meeting Zain kembali ke Rumah sakit untuk mengajak Jihan menemaninya ke Jakarta, dan Jihan meminta supir kantor agar mengantar mobilnya ke sekolah Al, eh justru yang terjadi malah seperti ini, yang tadinya maunya di manja malah jadi memanjakan
Kini keduanya sudah sampai rumah Dan Zain tidak mau menuntun Jihan lagi, langsung menggendong Jihan yang sudah lemas dan pasrah ini,
Zain masih kuat masih sehat dan gampang kalau menggendong tubuh Jihan yang masih tetap ramping dan tak bertambah tambah timbangannya itu
Di sisi lain, di masjid An Nur, tempat El menjadi imam di sana kini sudah rame, karena malam nanti akan di adakan pengajian,
Ya... Zain akan mengisi tausyiah di sana nanti malam, dan El sama sekali tidak tau kalau abahnya sendiri yang mengisi
__ADS_1
Ya secara dia sekarang sedang sibuk sibuknya mengejar materi agar bisa ikut praktek di semester depan dan walau ini dia baru masuk semester ke 2 awal
Semua anggota dan remaja masjid serta para jamaah juga banyak yang membantu untuk persiapan acara malam nanti
El sebenarnya ada tugas dari kampus, tapi sekarang Al harus bantuin dan gak mungkin karena itu sebagian dari tangung jawabnya juga
" Gimana El Aman?" tanya Dani tau gimana tugas El yang gak pernah merem setiap malam
Ya maklum kuliah di kampus nomer 1 di Indonesia jurusan Kedokteran tentu gak mudah, apa lagi dirinya yang mengejar mata kuliah, karena termotifasi dari Uminya
" Aman Bang.." jawab El sambil mengangkat sofa untuk para tamu undangan
Ya seorang Azmi Alfi syahr El Musthofa, yang seharusnya duduk manis dan tinggal membayar orang sekarang rela angkat junjung dan menyekip tugas kuliahnya dulu untuk gotong royong
Hingga akhirnya semua selesai dan malam telah tiba, Zain sampai di Jakarta sore tadi, dan Akhirnya Jihan ikut juga, tapi Jihan gak ikut ke acara pengajian, tapi di hotel dan di temani oleh Della,
Tadinya Jihan dan Zain mau keapartemant El, tapi nomer El gak bisa di hubungi, dan Della juga memberi alasan kalau apartemannya di kunci oleh El dan di bawa,
Jihan memaklumi mumpung El sedang sibuk dengan tugas, seperti dirinya dulu,
Jihan lanjut cerita dan ngobrol serta curhat tentang dirinya yang belum bisa move on tentang masa lalunya yang cukup menyakitkan itu
Di sisi lain, Zain kini sudah sampai di area acara, dan di temani oleh Imam yang mendampinginya
" Masuk sini ya Mam?" tanya Zain yang menyetir malam ini
" Iya masuk pak, " jawab Imam ketar ketir karena pasrah
__ADS_1
Dia gak tau nanti gimana emosinya Zain saat tau kalau anak bujangnya menjadi imam di masjid tersebut selama ini, di tambah sedari tadi Imam mau beri kode nomer El juga gak bisa di hubungi lagi, karena sibuk dan kehabisan batarai,
" Hm.... Akankah ada pertemoyran setelah ini??" batin Imam pasrah