
Dari Jauh akan menuju ke arah panggung acara, Imam sudah mulai ketar ketir, dia juga melihat El yang sedang menyiapkan sesuatu,
Dan Sesaat kemudian El menoleh karena banyak orang yang berhamburan untuk bersalaman dengan Zain
Seketika mata El melotot tajam ke arah gerombolan orang orang tersebut, karena melihat sosok abahnya yang sedang di kerumuni banyak orang
" Bang yang ngisi pengajian beliau?" tanya El pada salah satu remaja masjid
" Iya.. Beliau KH. Zain Musthofa" jawab salah satu remaja masjid tadi
" Oh.... " jawab El sudah ketar ketir
Kamudian El mulai mencari akal agar bisa kabur dari sana sebelum berjumpa dengan abahnya
El tau siapa abahnya ada kemungkinan bisa juga bangga bisa juga ngomel, karena El saring saring selama ini Abahnya melarangnya untuk bekerja, dan sebagainya apa lagi mengganggu kuliahnya
" El kebelakang bentar ya Bang" ucap El pamit sama Dani
" Eh... Salaman dulu sama bapak Kyai" ucap Dani mencegah El
" Nanti aja udah kebelet ini" ucap El sambil berlari
" Eh bocah" ucap Dani menggelengkan kepalanya
El bukan kebelakang tapi justru ke Kamarnya, karena mau cari akal gimana nanti gak terlihat sama Abahnya,
Mau gak muncul juga gak mungkin nanti gak enak sama pak DKM, para takmir masjid, karena sebagai imam masjid El juga harus tetap berpartisipasi apapun keadaannya
" Kenapa gue bisa gak tau kalau yang ngisi Abah sih?" gerutu El pada dirinya sendiri
El kemudian membuka ponselnya dan mengjidupkannya karena mati seharian,
puluhan WA dan panggilan tak terjawab masuk di sana, termasuk dari abah dan juga Uminya, dan grubnya yang sudah memberi info, cuman dirinya terlalu cuek sibuk jadi tidak open sama pemberitahuannya
" Ya Allah.... Mampus gue, Umi juga banyak kali ini" ucap El bingung dan tidak melanjutkan membukanya takutnya Uminya makin ngomel dan khawatir padanya
Hingga akhirnya El mematikan ponselnya lagi dan mencari penyamaran untuknya
Untungnya malam ini dia tidak dapat tugas dalam acara tersebut, bila sampai dapat tugas Abahnya tau, udah berabe jadinya
__ADS_1
" Woy ngapain di sini loe?" tanya Miftah yang baru datang
" Mules gaes" jawab El spontan
" Ada aja, mules kamar mandi gaes" jawab As'ad yang menyusulnya
" Iya ya... salah alamat ini" ucap El sambil menggarukk kepalanya yang gak gatal
" Wah gak jelas ini" ucap Miftah dan El tertawa
" Ayo keluar udah mau mulai tuh" ajak As'ad
" Okey bentar gue agak flu pake masker dulu ya" ucap El mulai menyamarkan diri
" Flue apaan sih? sakit loe?" elak Miftah sambil memegang jidat El
" Dedek kecil demam ini?" tambah As'ad juga
" Haha.... Apaan sih kalian, Lebay deh, cuman bersin bersin nanti nular ke orang lain " jawab El sambil memakai masket
" Tau lah, yuk keluar, " ajak As'ad lagi dambil berjalan keluar
Mereka bertiga kemudian berjalan keluar dengan El yang tetap menenangkan wajahnya, karena untuk menutupi semuanya
El masih gak mau mengenalkan siapa dia sebenarnya di hadapan banyak orang,
El kini sudah berkumpul dengan teman temannya di depan panggung tapi tiba tiba
plak... Satu pukulan menimpa pundak El dari Belakang
" Astagfirulallah...." ucap El kaget
" Pake masker segala" ucap Imam pada El
" Mas Imam, " ucap El langsung menarik imam ke belakang
Imam langsung nurut kemana El mambawanya, repot memang berurusan dengan drama petak umpet El
Tapi bukan Zain namanya kalau tidak jeli, di saat Zain melihat segerombolan El dan temannya jalan, Zain sudah tau kalau itu anaknya, melihat dari cara jalan dan matanya yang jelas adalah El putranya
__ADS_1
Dan dengan Imam yang tiba tiba permisi jalan kebelakang tentu membuat Zain makin curiga
Siang tadi Zain sangat khawatir dengan nomer El yang gak aktif, begitu juga dengan Jihan, dan justru Zain khawatir nanti kalau Jihan kembali panik seperti siang tadi
Dan jawabannya sekarang Zain sudah lega, dan sudah melihat anak kesayangannya ada di antaranya saat ini
Senyum Zain terukir di bibirnya ini udah pasti ada sesuatu yang El sembunyikan darinya
Apa anaknya kembali menyembunyikan identitas sebagai anaknya sekarang, yang sudah sering El lakukan di luaran sana
" Mas Imam, kok gak bilang kalau abah yang ngisi di sini" ucap El sambil berbisik,
" Mau bilang gimana nomer gak aktif gak bisa di hubungi suruh bilang? kemana aja loe El?" jawab Imam membantah El cepat
El garuk garuk kepala yang tidak ada rasa gatal sama sekali itu,
" Gue banyak tugas Mas, jadi gak open sama ponsel, ponsel habis batrai dari pagi jadi masih di cas dan mati, tadi tak aktifin sebentar cuman ada banyak pesan dan oanggilan masuk dari umi yang ada nanti gue di omelin sampai ngelupas kulit gue" jawab El apa adanya
" Jadi loe matikan lagi?" tanya Imam dan El mengangguk
" Terus Umi di mana sekarang? gak lagi di apartemant gue kan mas?" tanya El takut uminya tau
" Enggak... Lagi di hotel sama mbak Della, tadinya mau ke apartemant, tapi loe gak bisa di hibungi, kunci di umpetin sama mbak Della, terus di suruh ke apartemant kami, Abahmu gak mau, jadi ke Hotel aja, mau di ajak kesini Umi juga gak mau" jawab Imam dan El mangangguk
" Tapi Abah gak tau kan mas kalau gue di sini, dan gue jadi imam di masjid ini?" tanya El lagi dan imam mengacungkan jempolnya tanda aman
" Okey sipp.... " jawab El
" Ya udah sok silahkan duduk mas Imam, gue mau lanjut sama kawan kawan dulu, nanti takut mereka curiga ada apa denganku dan asisten pak Kyai hahaha" ucap El smabil tertawa dan di geplak sama Imam dengan geplakaan bangga
El berjalan duluan ke arah teman temannya, dan Imam terus memandangi El yang terlihat santai
" Anak sultan yang sepertinya sudah bosan menjadi sultan ya itu" gumam Imam sambil menggelangkan kepalanya
El kini sudah berkumpul dengan teman temannya, dan pengajian sudah di mulai, Zain sudah mulai maju dan mulai menyampaikan tausyiah tausyiahnya
Di tengah acara, salah satu pak DKM selaku panitia, mendekat pada El dan Dani
" El tolong antarkan ini ke meja pak Kyai, sekalian minta barokahnya ya, kamu tadi belum ikut salaman kan?" ucap Pak DKM to the poin dan membuat El semakin ambyar pikirannya
__ADS_1
Ya tidak mungkin El menolak permintaan pak DKM, karena El juga bawahan mereka di masjid tersebut