
El kembali memencet nomer telfon El dan menghubunginya kembali
Sesaat kemudian El mengangkat panggilan telfonnya dan mulai bersuara
" Assalamualaikum wr wb" ucap Jihan yang mengangkatnya karena El sedang di kamar mandi
" Waalaikumsalam wr wb, " jawab Al dengan yasmin kompak
" Ada apa nak? El sedang di kamar mandi ini" ucap Jihan pada Al
" Oh iya Mi, emang El tadi mau ngomong apa sih mi?? " tanya Al pada Jihan
" Oh.... Sedari pagi dia tuh ngrengek minta kawin terus " ucap Jihan dan membuat Al dan Yasmin kaget
" Minta kawin?" tanya Al lagi
" Iya, Umi juga heran , udah Umi nasehatin berbagai macam, dan berbagai warna, tak suruh pertimbangkan malah ngajak debat Umi, makanya abah tadi bilang kalau berani minta izin sama Abangmu, karena kamu harus melangkahinya gitu" kata Jihan bercerita
" Apa sih yang membuatnya minta kawin?" tanya Al menahan tawa
__ADS_1
" Entah lah, alesannya karena kalau Heny udah lulus dia mau ajak kuliah bareng satu kampus satu fakultas, dan dia mau jaga Heny, agar tidak terjadi Zina dan maksiat katanya" jawab Jihan menyampaikan alasan El
" Alah alesan aja tuh anak, emang dia ruh sering khilaf lho Mi, tanya lah, anak model kayak El tuh mana bisa tahan, " ucap Al yang tau karakter El bagai mana
" Tapi gimana bang?? boleh kan gue langkahi duluan?" tanya El tiba tiba nongol dari belakang
" Enggak...... Enak aja, main langkah langkahi" jawab Al cepat dan menolak
" Ck.... Ya udah kira kawin bareng deh, biar adil, tahun depan kan loe juga udah lulus, nikahin aja kak Yasmi, biar nanti resepsinya bareng hemat biaya" jawab El tanpa beban
" Udelmu itu.... Enggak.... kalian semua ya, sekolah yang bener, belajar yang bener kerja yang bener, baru mikir nikah, cewek yang kalian mau nikahi lho, setahun yang lalu bisa jadi tidak mau sama kalian, entah tau gimana sifat bobrok kalian yang suka debat dan bawel itu" omel Jihan kesal sendiri pada anak anaknya, apa lagi El
Zain.hanya ngikut aja, dan tersenyum serta menggelangkan kepalanya, kalau kayak gini moment udah paling seru dan syahdu
Zain memilih untuk diam dari pada dapat semprotan dari istri tercinta
" Udah sayang..... " ucap Zain pada Jihan yang masih ngomel terus
" Iya bah.. sebel banget Umi sama mereka tuh, gak mikir apa nikah tuh berat, beban, pertama manis, tapi lama lama semakin bertambah Usia kita gak tau jalan hidup pernikahan itu, Umi gak mau anak anak Umi tuh merasakan apa yang pernah Umi rasakan dulu, senggaknya mereka punya pegangan lah, Ijazah minimal S1, kalau dia punya pengalaman dan ijazah, sesulit apapun pekerjaan pasti ada jalan, " tambah Jihan teringat hidupnya yang montang manteng di kala itu
__ADS_1
" Bisa untuk menghidupi keluarganya, iya kalau dia berani bilang sama Umi sama Abah, bisa dia kira bantu, tapi kalau prinsip mereka sama kayak Umi, yang saling menjaga satu sama lain aib mereka, sampai kita tidak tau kan gimana hidup anak anak Umi bah, " tambah Jihan makin ngeromet
" Ya makanya, Abah jangan terlalu membebaskan anak anak tentang perusahaan, kalau nikah gampang nanti biar abah yang tanggung, tarus anak anak kita kapan mandirinya, apa gunanya kita nyekolahin? mondokin? untuk nunggu waktu dia nikah saja?" tanya Jihan makin ngomel pada Zain
Zain terus menatap dan mendengarkan ucapan Jihan yang terus ngoceh kayak beo
" bukan gitu sayang, Abah tau abah salah, abah tau abah ambil langkah yang salah dan tidak tepat, tapi sayang, Abah gak mau Anak anak Abah menderita lagi, cukup cukup 6 tahun kamu bawa mereka hidup menderita, cukup kamu bawa mereka untuk memahami keadaan, cukup waktu itu saja sayang, kita kerja tiap hari kalau bukan untuk mereka untuk siapa lagi? kita banting tulang keluar masuk luar negri kalau bukan untik mereka untuk siapa? " jawab Zain yang mempunyai pemikiran berbanding balik dengan Jihan
" Umi suruh pensiun dini, istirahat di rumah juga masih belum mau, Abah bisa apa sayang?? Abah hanya ingin Umi bahagia dengan cara Umi sendiri, Okey abah turuti semua keinginan Umi, Umi mau tetap kerja dan menyembuhkan pasien, okey, silahkan kalau itu membuat Umi bahagia, Abah gak mau mengekang Umi lagi, Abah gak mau di anggap membuat hidup Umi seperti training di neraka, Abah tau kebahagiaan Umi ada di rumah sakit, di kantor dan depan laptop, semua kita lakukan untuk apa Mi?? untuk kebahagiaan anak anak kita, " tambah Zain yang memang sudah kapok banget tentang kejadian belasan tahun lalu, bahkan 20 tahun lalu, yang menjadi bencana besar dalam rumah tangganya
" Umi kerja, masak iya abah di rumah? ngapain? melamun? nungguin Umi pulang? sendirian di rumah? apa nyapu ngepel dan sebagainya?? otomatis Abah Juga ikut menyeimbangkan semuanya kan, Umi kerja okey abah juga ikut kerja, walau duduk di kantor depan laptop senggaknya masih bermanfaat bagi orang lain, masih memberi lapangan kerjaan bagi orang lain, masih bisa memberi gaji pada orang lain, sama dengan Umi yang selalu membabtu dan menolong orang lain, agar kita sama sama seimbang, " tambah Zain keluar semua unek uneknya
" Ya kalau Abah mau pensiun dini silahkan lah, Biar Umi yang kerja sendiri" jawab Jihan membantah pada Zain
" Hem... Kan terus gitu, udah sayang... Udah... Abah gak mau ini makin panjang, Abah udah gak bisa lanjut debat lagi, kalau mau Umi anak anak sekolah , okey sekolah, biar mereka lulus dulu, okey, gak masalah sayang, tapi 1 pinta abah, Abah hanya minta jangan batasi anak anak kita masalah duniawi, Abah tau mereka juga gak boros boros amat, mereka juga selalu menjaga dan menggunakan dengan sebaik mungkin, " jawab Zain gak mau makin lama berdebat masalah pensiun
" Mereka udah besar mereka pernah ngaji, dan udah pasti mereka tau mana yang terbaik untuk dirinya sendiri, abah gak mau mengulang lagi satu hal yang membuat abah menyesal menangis sampai saat ini, hanya sebuah sneck " tambah Zain teringat Al yang berebut dengan El hanya 1 bungkus sneck
" Umi ingat?? hanya sebungkus sneck jadi rebutan anak anak Mi, abah ingin menangis melihatnya, abah ingin ganti Al menolak, Al gak mau menyusahkan abahnya, sakit, hati abah sangat sakit kala itu Mi, abah waktu itu mampu belikan setoko dan sepabriknya, tapi abah gak kuasa, abah gak bisa maksa, dan Abah gak mau itu menjadi penyesalan kedua kalianya, di kala Abah di beri kesempatan untuk tetap bisa memberi nafkah anak anak Abah, dan juga Umi, abah gak mau hal itu akan terulang kembali, naudzubillah, Astagfirullah" tambah Zain terasa sesak dalam hatinya mengingat kehidupan dan penolakan nafkah dari anak dan juga istrinya
__ADS_1