
Pertemuan itu kuingin begitu manis,
Sebab penantian kini begitu pahit.
Semua tentang takdir-Nya.
Tak perlu selalu bertemu,
Semoga berjodoh pada waktunya.
Tak perlu sering diingat,
Semoga saling memiliki pada saatnya.
♡♡♡
*Prak
Akbar meletakan begitu saja satu kantung kresek besar ke atas meja. Suara beradu terdengar.
Agnia mendongak sejenak, ia yang duduk bersila menghadap laptop di atas karpet baru saja sadar akan kedatangan Akbar.
Buru-buru Agnia melihat isi dalam kantung kresek itu untuk sekedar mengecek, sementara Akbar langsung melempar bokongnya ke sopa.
Sadar dengan diamnya Akbar, Agnia menoleh, melepas kaca matanya. Menatap adik bungsunya bingung. "Kenapa?" tanyanya.
"Apa?"
"Wajah kamu."
"Ganteng?"
Agnia menggeleng malas, niatnya untuk mendengar keluhan Akbar urung. Kembali memasang kaca mata, lanjut menghadap laptop.
Akbar sedikit kecewa dengan reaksi Agnia yang B-Aja, tampak tidak tertarik untuk terus bertanya kenapa. Untuk beberapa saat bibir Akbar maju, menatap Agnia yang jelas tidak peduli.
"Hah!" Akbar menghela napas pada akhirnya, yang diulangi hingga tiga kali sebelum Agnia akhirnya mendongak, meliriknya.
"Akbar!" peringat Agnia. Padahal ia sudah berusaha untuk tidak peduli, tapi helaan Akbar memang luar biasa mengganggu. Apa maunya anak ini?
"Apa sih, Mbak?"
"Kalo kamu lagi serius, terus mbak dateng dan sengaja menghela napas kaya gitu. Gimana tanggapan kamu?"
"Gak papa. Bagus, lanjutkan!"
Agnia menggeleng takjub, Akbar memang menyebalkan. Entah apa yang ia mau. Sedetik kemudian, dari pada meladeni adiknya ini Agnia memilih mengemas barangnya dan pergi menuju kamar. Meninggalkan Akbar yang menghela napas karena itu, helaan yang entah keberapa kalinya di hari ini.
Sebagai seorang laki-laki ia juga bisa merasakan patah hati, dan seperti inilah wujud patah hati Akbar yang secara berkala terjadi setelah melihat Asma mengabaikannya.
*flashback
Fiki, Ardi, Akbar, juga Akmal bergegas bersama menuju parkiran. Ketika rapat selesai mereka spontan saja memisahkan diri dari yang lain, berjalan seakan empat sekawan yang tak terpisahkan.
Akmal yang berjalan paling kanan sedang menjelaskan sesuatu, tampak dari gestur tubuhnya meski dilihat dari arah belakang. Ketiga yang lain mengangguk, tanda menyimak.
"Akmal!"
Suara berasal sedikit jauh di belakang membuat empat orang itu berbalik hampir bersamaan. Asma, gadis berkerudung merah marun di hari ini yang memanggil berjalan mendekat. Ardi langsung menoleh ke arah Akbar, ini masalahnya. Akmal lagi. Sementara Akbar diam saja tak bergeming, mau cemburu tapi apa haknya.
Asma tersenyum, menatap ramah empat orang di hadapannya. Terakhir pada Akmal. Di tangannya terdapat jaket milik Akmal. "Punya kamu, kan?"
"Oh? Iya!" Akmal meraih jaket itu dari tangan Asma, yang memang miliknya. Ia sendiri baru sadar sudah meninggalkan barangnya tadi. "Makasih."
"Sama-sama."
Malang bagi Akbar, harusnya ia segera pergi saat itu. Harusnya binar mata Asma yang menatap Akmal penuh kagum sudah cukup untuk membuatnya pergi.
"Eumh..Boleh bicara sebentar?" tanya Asma, ditujukan pada Akmal namun dengan menatap ketiga orang yang baginya mengganggu.
Tak masalah bagi ketiganya, Fiki dan Ardi langsung bersitatap dan pergi. sementara Akbar lebih dulu menepuk bahu Akmal sebelum ikut pergi.
***
Lamunan Akbar tentang patah hatinya yang semakin terasa seiring langkah pergu meninggalkan Asma bersama Akmal berbincang tadi membuatnya tak sadar kehadiran sang ibu.
Ia terus berandai, jika saja yang Asma ajak bicara itu dirinya. Begitulah andai, hanya dipakai untul sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"De!" Khopipah mengulang panggilannya. Kali ini lebih keras dari tiga panggilan sebelumnya. Sederhana, ia bertanya apakah bungsunya sudah membeli semua yang ia minta atau tidak barusan. Tapi melihat Akbar yang tidak bergeming membuat Khopipah jengah, tak habis pikir.
"Eh, iya, Bu." Akbar gelagapan, memperbaiki posisi duduknya. "Gimana, Bu?"
Khopipah menghela napas, menatap Akbar keheranan. Terlambat sekali jawaban Akbar. "Kamu kenapa, sih?"
Nyengir, Akbar sendiri bingung dirinya kenapa. Bagaimana hendak menjawab pada orang lain.
__ADS_1
Agnia yang tepat keluar dari kamarnya untuk ke dapur saat itu, berdiri sejenak. tersenyum menengok ke arah Akbar.
"Lagi galau dia, Bu."
"Makanya. Ibu panggil tiga kali gak nyaut." Khopipah menatap jengkel anak bungsunya. "Zain tidur?" kini beralih menatap Agnia, masih dengan tatapan jengkel. terbawa suasana gemas pada Akbar.
"Tadi pas aku tinggal buka laptop di tidur, tapi baru aja bangun. Ini mau aku ambilin susu." jelas Agnia.
"Zain kesini?" tanya Akbar.
Agnia mengangguk. "Iya." singkatnya, sebelum kemudian melanjutkan langkah menuju dapur.
Buru-buru Akbar berdiri, berniat menemui Zain.
"Eit!" Khopipah menghentikan langkah Akbar. "Mau kemana?"
"Mau.. liat.. Zain." ucap Akbar ragu, ciut setelah mendapat tatapan tajam ibunya.
"Mandi dulu!"
Akbar menurut saja, langsung patuh. Bahkan tak berani menghela napas seperti sebelumnya. Padahal ia sangat ingin bertemu Zain yang sebelumnya sulit karena ada Hafidz, perempuan memang begitu. terlalu patuh aturan, dan urutan. Tidak saja Agnia tapi juga ibu mereka. Akbar hanya menunduk pasrah.
***
Akmal masih betah di mesjid, selepas berjamaah maghrib. Membuka Alqur'an, hendak menunggu isya berkumandang.
Tak hanya Akmal di mesjid itu, beberapa pria seusianya hingga pria yang lebih tua turut meramaikan mesjid dengan diskusi kecil. Hanya Akmal dan dua orang yang khusyu membaca qur'an.
Allah SWT berfirman:
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 35)
Suara lembut akmal mengalun, tak terlalu keras. Membaca penuh khidmat sembari menelaah arti dari ayat yang ia baca.
Hingga beberapa ayat lagi Akmal mengaji, membaca ayat indah mengenai kisah imran dan istrinya yang adalah orang tua dari siti maryam.
Ketika mengandung, istri imran bernazar yaitu jika anak yang dikandungnya laki-laki ia akan menjadikan anaknya sebagi seseorang yang sholeh, ahli ibadah yang terhindar dari urusan dunia, juga seseorang yang mengabdi pada agama.
Namun ketika sang anak lahir, istri Imran mendapati anak yang dilahirkan ternyata perempuan. Timbul rasa kecewa dari istri imran sebab ia telah bernazar mengabdikan anaknya kelak, sedang perempuan tidak seperti pria yang luas langkahnya untuk bersyi'ar.
Allah SWT berfirman:
"Maka ketika melahirkannya, dia berkata, Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan. Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 36)
Ayat ini menunjukan ketepatan sikap istri imran yang meski ada sedikit kecewa namun kemudian langsung menerima, dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Menyerahkan penjagaan dan pengurusan sang anak pada Allah, juga memintakan perlindungan atas anak yang dilahirkannya.
Seseorang sedang mendengarkan bacaan qur'an Akmal, duduk tak jauh dari sana. Pria paruh baya berkacamata. Tak kalah khusyu untuk mendengarkan.
Sudut mata Akmal melihat itu, segera mengakhiri bacaannya setelah tiba di akhir ayat.
Pria asing itu tersenyum tatkala Akmal menolehnya. "Kenapa berhenti, Apa saya mengganggu?" tanyanya kemudian.
Akmal menggeleng, tentu saja tidak. Tapi bagaimana ia bisa mengabaikan seseorang yang duduk mendekat ke arahnya. "Tidak pak, tidak seperti itu. Saya pikir bapak ingin meminta bantuan tadi."
"Bukan. Saya hanya iseng mendengar bacaan indah kamu."
Gelengan ditunjukan Akmal, tak setuju dengan selubung pujian dari pria asing itu.
"Aamiin." kata itulah satu-satunya yang keluar dari mulut Akmal.
"Oh iya. Kenalkan, nama saya Basit. Saya pindahan baru di lingkungan ini."
"Saya Akmal, pak." ucap Akmal, menyambut uluran tangan Basit.
Pria berkaca mata itu tersenyum, menunjukan keriput yang sudah banyak.
"Nak Basit masih kuliah, atau sudah mengajar?"
"Masih kuliah, Pak. Masih jauh untuk mengajar."
Basit mengangguk. "Ngambil jurusan apa?"
"Bisnis."
"Bisnis?" Basit mengernyit, keriput di wajahnya semakin terlihat. Bukan yang berhubungan dengan agama? pikirnya.
"Iya, pak." Akmal menegaskan.
"Maaf, saya pikir kamu mengambil jurusan yang berkaitan dengan ilmu agama."
__ADS_1
Akmal tersenyum, tidak masalah. "Bagi saya, mempelajari dunia bisnis juga sama pentingnya dengan belajar mengaji. Bahkan rasulullah juga berdagang, dan bagaimana kita bisa menegakan kebaikan dalam berbisnis jika kita sendiri tidak tahu mengenai itu. Akan sangat berbahaya jika perniagaan lebih dikuasai mereka yang mau menghalalkan segala cara untuk berjaya."
Basit mengangguk setuju, itu menjawab semua pertanyaan di benaknya. "Ya, saya suka pemikiran kamu. Dunia butuh pemuda-pemuda seperti kamu."
"Tapi, dimana kamu belajar mengaji?" tanya Basit lagi.
"Dari orang tua saya." jawab Akmal, dengan senyum teduhnya.
***
"Al-Ikhlas. Surat ke 112 dalam Alqur'an. Siapa yang sudah hafal tunjuk tangan!" Agnia duduk melingkar bersama beberapa anak berusia lima hingga delapan tahun, perhatian tertuju padanya.
Beberapa dari anak-anak perempuan itu mengangkat tangan, hampir setengah dari mereka. Sisanya anak-anak yang masih berada di bangku PAUD yang belum lancar dan lainnya belum bisa membaca huruf-huruf hijaiyah dengan sempurna.
"Coba! yang sudah hafal baca sambil matanya merem. Yang belum hafal boleh ngikutin, lihat Alqur'annya!"
"Baca dengan tajwidnya! 'Audzubillahiminasyaithonirrajim... Bismillahirrahmaanirrahim.."
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa."
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)
اللَّهُ الصَّمَدُ
"Allah tempat meminta segala sesuatu."
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 2)
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
"(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan."
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 3)
وَلَمْ يَكُنْ لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ
"Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 4)
Agnia tersenyum, menatap senang anak didiknya itu. Bacaan mereka meski belum sempurna namun sudah luar biasa untuk mereka yang masih anak-anak.
"Pinter! Nah, minggu malam selanjutnya.. mbak mau tes siapa yang paling bagus bacaannya. Dan yang hafal terus bacaanya paling bagus, mbak kasih hadiah. Siap?"
"Siap, Mbak." jawab mereka hampir bersamaan, bersemangat mendengar kata hadiah.
"Bagus. Sekarang, mbak akan menjelaskan isi dari surat Al-Ikhlas ini. Tutup mulutnya, siapkan telinganya!"
"Al-Ikhlas, artinya kemurnian keesaan Allah. Ulangi!"
"Kemurnian keesaan Allah." jawab mereka serentak, setengah berteriak.
"Pinter! Surat ini adalah tauhid paling dasar. Nah, minggu kemarin tauhid itu apa?"
"Mengesakan Allah."
"Betul! Mengesakan Allah, bahwasannya Allah yang maha esa. Allah satu-satunya yang patut kita ibadahi. Laa ilaaha illa Allah. Tiada tuhan selain Allah."
"Ayat selanjutnya, Allahush-shomad. Allah tempat meminta segala sesuatu. Ngerti, ya kalo ini? Allah lah satu-satunya tuhan yang disembah, dan satu-satunya tempat kita meminta."
"Lalu.. Lam yalid wa lam yuulad, Allah tidak beranak juga tidak diperanakan. Kenapa? Karena Allah itu mukholapatulil hawadits, artinya tidak sama dengan mahluk ciptaannya. Belum ngerti, ya kalo ini? Gak papa. Nanti ilmunya ditambah lagi."
"Sekarang kalian cukup pahami bahwa Allah itu esa, satu-satunya yang haq disembah. Dan satu-satunya tempat meminta segala sesuatu."
"Dua ayat selanjutnya kita bahas minggu malam selanjutnya, karena sebentar lagi isya. Sodaqollohul Adzim..."
***
Akbar memijat pangkal hidungnya, pening setengah mati. Duduk di bibir ranjangnya dengan wajah lelah. Ia saat ini berharap Agnia segera pulang dan membawa Zain yang seperti mainan dengan baterai super pergi dari kamarnya.
"Zain hati-hati!" ucap Akbar pelan, kali ini benar-benar menyerah memperingatkan ponakan satu-satunya ini.
Zain nyaman saja berlarian menyentuh koleksi mainan mahal milik Akbar yang dipajang di atas meja rendah yang terjangkau saja olehnya. Tak peduli dengan Akbar yang terlihat frustasi.
Bak mentari yang ditunggu Akbar disaat sulitnya, seseorang datang membuka pintu kamar Akbar. "Zain, Assalamualaikum.." Agnia muncul dari balik pintu kamar Akbar, membuat Zain langsung berlari menuju auntynya itu.
"Zain kok belum tidur? seneng, ya. Main sama uncle?"
Zain mengangguk saja dengan polosnya, sementara Akbar menggeleng tegas. Tidak benar, dan tidak lagi.
Agnia terkekeh, lihatlah kamar berantakan ini beserta wajah pemiliknya yang dua kali lipat lebih berantakan itu. "Kenapa kamu?"
"Gak usah tanya, Mbak. Sekarang aku ngerti kenapa gaji baby sitter itu mahal."
__ADS_1
"Dasar! Kamu aja, yang payah. Jaga Zain kok sampe gak shalat berjamaah." ledek Agnia. "Mau mbak kasih pinjem mukena?"
Akbar manyun, ia serius. Bagaimana seorang ibu bisa mengurus segala hal bersamaan dengan baik, sementara ia setengah mati khawatir dengan segala hal ketika hanya punya tugas untuk menjaga Zain?