Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
165. bau-bau masa lalu


__ADS_3

"Sayang.. gak papa?" tanya Agnia, setibanya Akmal di rumah. Sampai lupa menjawab salam, heboh memeriksa Akmal dari atas hingga bawah.


"Gak papa." jawab Akmal, setengah bingung. "Emangnya kenapa?"


"Bener? Akbar gak ngapa-ngapain kamu, kan?"


"Oh!" Akmal terkekeh. Lucu sekali kakak adik itu. Yang satu bertanya apakah dirinya mengapa-apakan, satu lagi bertanya apakah dirinya diapa-apakan atau tidak.


"Kok malah ketawa?!" omel Agnia, wajah seriusnya berubah sebal.


"Lucu. Kalian itu lucu. Bikin aku iri."


"Lucu apa?"


"Ya lucu. Akbar khawatir sama Mbak, Mbak khawatir sama aku."


"Gak jelas kamu.. jadi apa dia bilang?"


Akmal beranjak duduk ke atas sofa, diikuti Agnia yang masih butuh penjelasan. "Akbar nanya kenapa Mbak bisa nangis sesenggukan kayak semalem."


"Terus? Kamu jawabnya apa?"


Akmal tersenyum, mencubit dua pipi Agnia. "Aku bilang, kalo istriku yang sedang mengandung ini.. emosinya meledak-ledak kayak petasan. Kadang meledak gak tertahan, kadang melempem karena kualitasnya jelek."


Agnia mengernyit, menarik wajahnya. "Petasan? Kamu nyamain aku sama petasan, Hem?"


Candaan itu harusnya berlangsung lama, namun getaran yang berasal dari saku celana menghentikan niat Akmal. "Sebentar.." ujarnya sembari mengeluarkan ponselnya. Agnia penasaran, ikut mengintip. Ada nomor tak dikenali di layar ponsel Akmal. "Siapa?" tanya Agnia.


"Gak tau, nomornya gak kenal." jawab Akmal disertai kernyitan, tak yakin pernah berhubungan dengan nomor itu. "Aku kan gak kayak Mbak yang ingatannya bagus meskipun nomor suaminya gak disimpan."


"Ih.. kamu nyindir aku?! Masih dendam karena itu."


"Becanda.." Akmal terkekeh, menarik Agnia yang manyun ke pelukannya. "Jangan tegang mulu ah! Wajahnya.."


Agnia mengendus pelan, hendak kesal pun apa guna. Posisi seperti ini ternyaman yang selalu Akmal berikan padanya. "Yaudah.. jawab telponnya, nanti penting lagi."


"Harus?"


"Iya.." Agnia mengangguk, mendongakkan tatapannya singkat. Untuk selanjutnya memainkan kancing baju sang suami, sembari sesekali melirik pria yang terlihat serius dengan panggilannya itu.


"Siapa?" tanya Agnia, pelan sekali. Gerakan bibirnya yang berbicara.


Akmal tak menjawab, balas tersenyum tipis hingga akhirnya tak mengatakan sepatah apapun padanya maupun pada seseorang di sebrang sana sampai panggilan itu berakhir.


"Siapa?" ulang Agnia, bangkit dari pelukan Akmal.


"Temen lama."


"Oiya?" Agnia menautkan alisnya. "Orang kamu gak ngomong apa-apa.. gimana bisa tau."


"Kan di ngomong, sayang.." kata Akmal gemas, mencubit pelan hidung Agnia. "Yaudah. Aku pergi sebentar, ya.. dia ngajak ketemu."


"Sekarang?"

__ADS_1


"Iya. Sebentar kok. Sebelum waktu buka aku balik."


"Yaudah. Jangan lama, tapi.."


"Iya.." Akmal terkekeh, bergerak mengecup puncak kepala Agnia. "Nanti pulangnya aku bawain sop buah, Hem?"


Agnia menghela, lihatlah pria yang terburu-buru itu. Tak tau siapa yang sebenarnya akan ditemui, namun Agnia membaca hal lain dari wajah sang suami. Persis sekali saat Akmal berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


.


.


.


.


Mendung itu terlihat lagi, bersama langit yang menggelap dan angin yang mulai berhembus dingin. Seirama dengan mendung di wajah Akmal.


Agnia yang menunggu bosan di meja makan langsung berlari antusias mendengar deru motor di luar, hingga saat wajah Akmal tampak muram dan dipaksakan tersenyum setelah melihat dirinya. Agnia urung bertanya aneh-aneh.


"Aku lama, ya?"


Agnia mengangguk dengan wajah tertekuk, untuk tak lama tersenyum. "Terus mana?"


"Apa?"


"Katanya mau bawa sop buah.."


Agnia menggeleng. "Gak papa..aku gak minta juga." kata Agnia, kembali diiringi senyum. Dalam hati mulai berpikir ada apa dan siapa yang ditemui Akmal. Wajah khawatir Akmal jelas sekali tadi, Agnia melihatnya dari balik jendela, sesaat sebelum suaminya itu masuk ke dalam rumah dengan wajah baik-baik saja.


"Memangnya temen kamu yang mana?" tanya Agnia, mulai mencari celah suaminya untuk bicara.


"Ada. Temen SMA."


"Siapa namanya?"


"Itu. si Husni."


"Emh ." Agnia mengangguk. "Kalian ngobrol banyak, ya.."


"Ya.. cukup banyak."


"Padahal ajak aja ke rumah, kalian jadi lebih nyaman dan lebih bebas ngobrol."


"Gak akan.."


"Hemh?"


"Dia sibuk."


"Aku mau dong, dikenalin sama temen-temen kamu."


Akmal tersenyum. "Kan ada Ripda, Mbak.. dia temen aku juga."

__ADS_1


"Emh.." Agnia mengangguk, iya juga.


"Jadi apa menu buka kita malam ini?" Akmal jelas mengalihkan obrolan, segera merangkul sang istri menuju dapur. Baik gurat wajah maupun nada bicaranya terdengar dipaksakan untuk baik-baik saja.


...


Malam itu, bersama rintik hujan yang kencang berjatuhan, beserta lembutnya angin melambaikan dedaunan, bersamaan dengan enggannya mata Akmal tertutup. Bahkan wajah manis nan teduh Agnia tidak cukup membuatnya tenang. Hatinya dilanda resah, pertemuan dengan teman lamanya berjalan buruk.


Namanya Govin, dan bukan Husni seperti yang ia katakan pada Agnia. Pemuda itu teman satu sekolahnya, pemuda dengan perangai sengit yang selalu menandinginya.


Termasuk soal Ulya, pemuda itu juga menyainginya. Dan soal Ulya lah yang membawa pemuda itu kembali menemuinya hari ini. Kisah lama tampaknya cukup membekas di hati Govin.


"Apa kabar?"


Akmal tertegun untuk sesaat, mengenali nama itu. ia sampai harus menahan ekspresi terkejutnya sebab ada Agnia.


"Ayo bertemu.. gue mau ngucapin selamat atas pernikahan dan kehamilan istri Lo."


Akmal bangkit dari tidurnya, beranjak menuju bibir ranjang. Mengusap wajahnya gusar, dendam Govin benar-benar membawanya hingga hari ini. Dan itu jelas mengganggunya.


"Lo gak banyak berubah." ujar Govin dengan seringainya. Duduk dengan tangan terlipat di depan dada.


"Ada apa? Kenapa repot-repot kesini? Bukannya lo tinggal di Jogja?"


"Lo tau kabar gue juga ternyata.. kenapa? Waspada?"


"Jangan omong kosong, Govin!"


"Gue cuma mau menepati janji. Sebab kalo bukan karena lo Ulya gak akan.." pemuda dengan alis dan hidung tegas itu menghela, menggantung kalimatnya. Tersenyum miring untung, hendak membelokkan obrolannya. "Gue ikhlas kalo dia sama orang lain, tapi kalo orang lain itu jadi penyebab nyawa dia terenggut gue.."


"Lo sesuka itu sama Ulya?" potong Akmal. "Bahkan gue bisa melanjutkan hidup saat ini, meski gue amat menyukai dia dulu. Jadi mari hentikan."


"Omong kosong! Okay. Gue akui kita punya cara berbeda dalam mencintai. Kalo buat lo cinta itu dengan mudah melupakan dan bangkit, tapi menurut gue.." Govin menggeleng. "Wujud cinta gue sama Ulya adalah dengan membuat hidup lo gak tenang."


Akmal mendengus. "Lo pikir Ulya akan senang dengan ini? Menurut lo apa dia akan senang kalo tau dia jadi alasan perselisihan ini?"


"Dan lo pikir Ulya akan senang kalo tau lo lupain dia dengan mudahnya dan kemudian menikahi perempuan lain?" tanya Govin balik, sesaat itu membangkitkan kesedihan pada diri Akmal. Tak tau saja jika untuk melupakan Ulya juga sulit baginya.


"Apa mau lo?"


"Hidup lo. Gue mau hancurin hidup lo, kebahagiaan lo.. bahkan.. istri cantik Lo."


"Govin!" Akmal spontan bediri, menarik kerah baju Govin tanpa ampun. Dengan napas tersengal penuh emosi. "Jangan melewati batas! Jangan ganggu istri gue."


"Santai! Kenapa gue ganggu istri lo? Jangan salah paham.. cari bermain gue gak gitu. Mari bekerja sama.. karena dulu lo rebut Ulya dari gue.. sekarang gue mau istri lo."


Deg


Bak dihantam batu, Akmal tiba-tiba takut. Bukan tentang kehilangan Agnia ke pelukan orang lain, sebab itu tak mungkin. Namun Govin terdengar bersungguh-sungguh di telinganya, ia takut jika terjadi masalah pada Agnia. Lihatlah Govin yang niat sekali mencari tau tentangnya hingga pernikahannya.


Akmal menghela, marah pun tak akan jadi jalan keluar. Melepas cengkraman tangannya di kerah baju Govin. "Okay. Lakuin apapun, sampe lo puas. Kalo lo pikir apa yang lo lakuin itu bener, silahkan. Gue hanya akan lindungi diri gue dan istri gue. Tapi denger.. kalo lo pikir gue alasan meninggalnya Ulya, lo salah besar Govin.. semoga secepatnya lo paham soal itu."


"Brengsek.." Akmal mengepalkan tangannya, ancaman Govin sungguh mengganggunya. Menumbuhkan ketakutan pada dirinya, Akmal menoleh Agnia yang terlelap. Entah kenapa hatinya takut sekali kehilangan Agnia, bahkan meski ia tau jika tak semudah itu perasaan istrinya beralih.

__ADS_1


__ADS_2