
Kepulan asap yang membawa bau menyebar ke sekitar rumah menarik langkah Khopipah keluar. "Emh.. aromanya harum.." ucapnya, tersenyum. Para bujang yang sedang bergelut dengan asap itu menoleh, mengangguk sopan.
"Ibu gak tau, kalian pandai memasak.."
Fiki si paling percaya diri langsung berdiri, menebar senyum. "Aku chef-nya disini, Bu. Dijamin enak."
"Oiya?"
"Ibu mau coba?"
"Boleh.. Emh tapi ada baiknya pandai memasak diiringi juga dengan pandai membereskan sisa kekacauannya."
"Siap, Bu.."
"Bagus. Kalo gitu ibu tinggal, kalian jangan sampai buat keributan.."
.
.
.
.
Agnia resah sekali, wajah resahnya itu kentara sekali. Namun tetap datang ke meja makan, lapar juga tak bisa membuat ibunya menunggu. Namun helaan napas keluar dari mulutnya, saat tak ada siapapun disana entah kemana ibunya. Akhirnya Agnia hanya duduk, kembali meresapi keresahannya.
Khopipah datang tak lama, menilik wajah anak gadisnya sesaat. Seraya menarik kursi kemudian duduk.
"Kenapa? Ada yang salah?"
Agnia menggeleng. "Gak ada, Bu."
Khopipah menghela pelan, tau ada sesuatu yang mengganggu anak gadisnya. Namun percuma saja bertanya jika yang ditanya tak mau menjelaskan. "Yasudah, kalo begitu segera siapkan makanannya."
Agnia mengangguk, mulai menyajikan semua ke atas meja. Sesaat resahnya terlupa.
"Kamu membuat saus untuk ikan bakar?" tanya Khopipah, menoleh sedikit kala Agnia tak kunjung kembali dari dapur.
"Iya, Bu." singkat Agnia, setengah berteriak.
"Buatkan yang banyak, beri Akbar sebagian."
"Iya.."
Cukup lama Agnia berkutat dengan saus kecap racikannya. Baru setelah siap dan memisahkan ke wadah berbeda, kembali ke meja makan.
"Ini, Bu.."
"Lho! Kenapa disimpan disini? Kasih Akbar yang itu.."
"Hah?! Aku?" Agnia setelah mengenal Akmal jadi banyak pertimbangan tentang apapun yang berkaitan dengan kawannya Akbar.
"Harus ibu?"
"Ah! Enggak, aku kasih sekarang.."
Agnia menenteng mangkuk itu, melangkah pergi, meninggalkan Sang Ibu yang tersenyum. Siapapun bisa membaca situasi yang tengah dipertimbangkan Agnia.
"Ada-ada aja.." gumam Khopipah.
Mangkuk itu, satu-satunya yang jadi perhatian Agnia kini. Perasaannya tak tentu. Khawatir jika cincin itu hilang atau rusak. Bagaimana ia mengatakannya pada Akmal. Saat itu, langkah Agnia terhenti kala berpapasan dengan seseorang. Mendongak. Akmal ternyata, bisa tepat sekali. Padahal sedang diingat.
Keduanya diam untuk sejenak, menunggu satu sama lain untuk bicara.
"Emh.. Mbak gak papa?"
Agnia mengangguk, menyungging senyum tipis.
Akmal mengangguk, anehnya canggung. Entah kenapa tak bisa bersikap seperti biasa setiap bertemu di rumah itu. Mata Akmal mengarah pada jari Agnia, jujur saja berharap Agnia supaya secepat mungkin mau mengenakan cincin pemberiannya.
"Emh.. Mbak udah mempertimbangkan mengenakan cincin itu?"
Agnia mengangguk samar. Menarik sudut bibirnya tipis.
"Lalu?"
"Hanya saja.. masih ada satu pertanyaan di kepala saya." jawab Agnia, menatap Akmal. Hal yang biasanya tak dilakukan Agnia, biasanya sebisa mungkin mengalihkan pandangannya.
Dilain sisi Akbar melangkah masuk seraya bersenandung, langkahnya spontan ikut berhenti di tempat sama saat berpapasan dengan dua orang itu di ambang pintu. Terkaget, menatap dua orang di hadapannya bergantian.
"Lagi.. ngapain?" tanya Akbar, ragu-ragu bertanya.
"Ini. Ibu nyuruh Mbak ngasih ini.." jawab Agnia cepat, menyodorkan mangkuk di tangannya.
Akbar tersenyum puas, menghilangkan senyum canggungnya. "Pas banget, aku baru mau minta Mbak buatin ini."
"Hemh.." Agnia tersenyum malas. "Kalo gitu lanjutkan, pesta kalian." lanjut Agnia, sekali lagi menoleh Akmal, lantas pergi.
.
.
.
.
Sebuah mobil kembali sejak berjam-jam pergi dari halaman luas kediaman Sidiq, satpam disana membukakan segera saat suara klakson terdengar.
Retno dan Sidiq keluar dari mobil itu, segera melangkah menuju rumah. Dibuat penuh pertanyaan saat tak melihat mobil Akmal di tempatnya.
"Kira-kira Akmal kemana?" gumam Retno pelan, tak berharap di dengar suaminya yang sudah melangkah lurus menuju kamar. Tak kuat jika belum membersihkan tubuh.
Umumnya seorang Ibu, Retno dibuat tak tenang. Langsung membuka ponselnya, menelpon Akmal. Sejenak menanti, namun tak ada jawaban.
__ADS_1
"Dia tidur dimana?" Retno melihat jam di ponselnya, sudah hampir pukul dua belas. "Ah! Iya.." Retno kembali memeriksa ponselnya, teringat panggilan dari Khopipah yang belum sempat ia angkat. Tanpa ragu menelpon balik sahabatnya itu.
"Halo, Mbak.. Mbak sudah tidur?.. Oh.." wajah Retno kembali dihiasi senyum setelah mendengar ucapan Khopipah. "Berarti Akmal disana juga ya, Mbak?.. Syukur deh, Mbak.."
Akmal yang sudah dijalan pulang, tak sempat menjawab panggilan dari Ibunya. Tanggung, tak mungkin menjawab telpon di situasi seperti ini. Apalagi jika harus berhenti di jalanan sepi yang ia lalui, terlalu beresiko.
Helaan napas keluar dari mulut Akmal, matanya lurus menatap jalanan. Teringat ucapan Agnia.
"Hanya saja.. masih ada satu pertanyaan di kepala saya..."
"Pertanyaan?"
Agnia mengangguk. "Sebenarnya.. kamu memiliki banyak hal yang membuat saya teringat pada seseorang.." Agnia tersenyum, menjeda ucapannya. "Saya penasaran, apa kamu punya sesuatu yang berbeda dari orang itu. Sesuatu yang saya bisa kenali, bahwa itu kamu."
Akmal mendnegus, sulit dipercaya. Agnia menyamakannya dengan seseorang yang sudah menyakitinya di masa lalu. Itu terasa seperti penghinaan.
"Padahal gue gak kenal pria itu, tapi rasanya gue udah punya dendam sama dia." gumam Akmal, pada dirinya sendiri.
Akmal tiba, memarkirkan mobilnya di sebelah mobil lainnya. Milik orang tuanya. Segera tau bahwa dua orang itu sudah kembali.
"Assalamu'alaikum.."
"Iya, ini anaknya baru pulang. Heem. Yaudah, aku tutup telponnya ya Mbak.." Retno yang sedang berbincang di telpon, langsung menoleh. Mengakhiri panggilan itu, tersenyum. Wajah lelahnya hilang. "Waalaikumsalam.."
"Bunda belum tidur?"
"Belum. baru aja nyampe." jawab Retno. "Kamu dari mana? Ibu telpon kok gak di angkat."
"Oiya? Maaf, Bun." Akmal nyengir. "Aku lagi nyetir, tadi."
"Dan.."
"Apa?"
"Kamu belum jawab pertanyaan tadi. Kamu dari mana?"
"Oh! Aku dari rumah Akbar.. Kita makan bersama. ah iya.." Akmal teringat hal lain. "Bude tadi siang kesini, mampir katanya. Dan bawa banyak banget seafood. Jadi, aku bawa untuk dimakan sama temen-temen. Boleh kan?"
Retno mengernyit. "Boleh gak ya, tapi kalo gak boleh pun udah terlanjur.." Retno kemudian tersenyum. "Lagipula Bunda udah tau, Budemu tadi nelpon. Dan.."
"Dan apa lagi?"
"Calon besan ibu juga udah nelpon."
Akmal terkekeh, mengangguk. Baiklah, untuk yang satu itu tampaknya memang sangat berarti bagi Ibunya.
***
Sepagi ini Agnia sibuk mengobrak-abrik ranjangnya, bingung sekali sebab cincin itu tak kunjung ditemukan. Hampir frustasi dibuatnya.
"Kenapa ceroboh hah? Itu untukmu mungkin gak penting, tapi bagi orang lain itu berharga." omel Agnia pada dirinya sendiri.
Sayang sekali sudah waktunya pergi ke sekolah, sekali lagi Agnia menghela napas.
"Baiklah.. Nanti kita lanjut."
"Mbak kenapa? Dari semalem wajahnya kusut."
"Gak kenapa-kenapa. Cuman.. memang ada beberapa hal yang mengganggu di kepala."
Akbar menaikkan bahunya, jawaban yang sangat tidak meyakinkan. Tapi terserah saja.
"Oiya, Mbak.." Akbar kembali teringat hal lain. " Mbak lagi merah?"
"Marah? Engggak. Marah kenapa?"
"Aku bilang merah, maksudku haid." pelotot Akbar, gemas. Entah apa yang terjadi dengan kakaknya ini.
"Oh! Enggak, belum. Kenapa? Sejak kapan kamu peduli dengan urusan seperti itu."
"Gini, kemarin pas Mbak ninggalin kantung belanjaan.."
Wajah Agnia langsung berubah khawatir. "Kamu periksa isinya?"
Akbar menggeleng. "Tapi isinya keliatan, kreseknya kan warna putih."
Ah! Agnia merutuki dirinya sendiri. "Bodoh sekali, kenapa ceroboh?"
"Memang.. ceroboh sekali." Akbar tersenyum lebar. Setuju sekali. Membuat Agnia mendelik tajam, mengingatkan jika dirinya sedang tidak meminta persetujuan.
.
.
.
.
Perihal kecerobohan yang menggangu pikirannya, Agnia menunda dulu tentang itu. Sekarang saatnya mengajar dan mengenyampingkan permasalahannya. Urusan pribadi tidak harus diikut sertakan dalam pekerjaan.
"Mbak.." Ripda melambai dari jauh, berlari menghampiri Agnia yang baru saja tiba.
"Hemh? Ada apa, Ripda?" tanya Agnia, saat rekan paling mudanya itu mendekat.
Ripda menggeleng, menyamakan langkahnya dengan Agnia. "Emh.. soal kemarin, Mbak harusnya lihat bagaimana wajah panik Bu Resma kemarin."
"Panik karena?"
"Murid-murid Mbak. Katanya mereka menggila waktu tau Mbak gak hadir."
"Oh.." Agnia terkekeh mendengar itu. "Anak-anak cuma gak biasa, belum biasa dengan orang baru."
"Aku juga bilang kayak gitu.. dan Mbak tau jawaban Bu Resma?"
__ADS_1
"Apa?"
Ripda tersenyum, berdehem. Siap menirukan Resma. "Kamu mau coba?"
Sekali lagi Agnia tersenyum, menggeleng pelan. "Kamu itu.."
Ripda yang memang selalu penuh percaya diri memasang senyum lebar, bangga. "Ah.. satu lagi, Mbak.. aku mau memastikan sesuatu."
"Sesuatu seperti?"
"Mbak Agni beberapa hari yang lalu pernah diantar seseorang yang kayaknya aku kenal."
"Akbar? Kamu memang kenal dia kan?"
"Bukan Akbar, Mbak.."
"Emh.. Akmal?"
"Iya, dia.. jadi bener itu Akmal?"
"Kamu kenal Akmal?"
Ripda mengangguk. "Kita temen sekelas waktu SMA."
"Tapi.. Dari mana Mbak kenal Akmal? Setahuku dia gak begitu gampang kenal dengan orang baru."
"Dia teman Akbar, itu sebabnya." jawab Agnia diplomatis.
.
.
.
.
Agnia tengah mengeringkan rambutnya, menguraikan rambut panjangnya ke depan. Saat Akbar masuk ke kamarnya itu tanpa permisi, kaget sendiri melihat Agnia begitu.
"Mbak ngapain?"
"Ngeringin rambut, kamu gak liat?"
Akbar menghela napas. "Ya.. tapi itu menyeramkan. Lagian ngapain keramas di jam segini."
"Ada larangannya?"
"Enggak."
"Kalo gitu diem! Mbak udah tiga hari gak keramas."
"Ish! Jorok! Gimana kalo Akmal tau."
Agnia mendengus, mengangkat wajahnya. "Kenapa ngungkit Akmal, Hah?!"
"Akmal kan calon suami Mbak, dia harus tau. Seenggaknya dia harus bersiap dengan kebiasaan jorok Mbak."
"Heh! Tutup mulut! Jangan bahas soal calon suami atau calon istri, atau mulut kamu mbak keringin pake hair dryer."
"Okay." Akbar diam, ampuh oleh ancaman Agnia.
"Terus ngapain kamu kesini?"
Akmar nyengir. "Tolong setrikain bajuku.. Mau aku pake sekarang.."
"Baiklah, terserah." Agnia langsung bangkit, keluar dari kamarnya terlebih dulu. Meninggalkan Akbar, terserah bocah itu ingin disana atau tidak. Ingin sesegera mungkin membuat Akbar pergi dari hadapannya.
"Gitu aja gak bisa. Gimana kamu bisa hidup tanpa Mbak, Huh?!" rutuk Agnia.
Akbar mengendik, tak peduli. Prinsipnya; selagi ada sumber daya manusia, maka kenapa tidak dipergunakan?
Mata tajam Akbar melihat ke bawah bantal Agnia, kala ia bangkit hendak ikut keluar. Matanya memicing, memastikan. Bisa melihat apa yang tak nampak bagi Agnia. Tangannya meraih bantal itu, menemukan hal menarik di sela sarung bantal itu.
"Wah.. cincin? Sejak kapan Mbak Agni punya cincin kayak gini." Akbar mengernyit, mengangkat cincin itu searah matanya.
***
"Gue cuma penasaran." ucap Akmal, tersemyum. Menatap Akbar yang santai menyeruput minumnya.
Akbar mencebik. "Itu susah, gimana caranya gue nunjukin Adi.."
"Jadi namanya Adi?"
"Ya."
"Katakan, gimana kepribadiannya?"
"Kepribadiannya?" Akbar berpikir sejenak. "Dia baik, gak banyak bicara, selalu klop sama Mas Hafidz, Emh.. Pekerja keras, ramah, apalagi ya.. ah.. entahlah. Emangnya kenapa lo penasaran?"
"Cuma mau tau." jawab Akmal, tak meyakinkan. " Tapi gue salut, Lo cuma bilang yang baik-baik soal dia."
"Tentu. Lo nanya kepribadiannya, bukan kegoblo**nnya."
"Terus.. apa karakternya ada kesamaan sama gue?"
"Ah! Iya." Akmal tersenyum lebar. "Itu.. sekarang gue tau kenapa lo jadi satu-satunya orang setelah Adi yang bisa buat Mbak Agni buka hati. Karena kalian mirip." jelas Akbar, membuat Akmal makin kecewa mendengarnya. "Emh.. apa Mbak Agni pernah bilang kayak gitu?" Akmal bertanya, matanya membesar penuh antusias.
Akmal menggeleng cepat. "Enggak."
Akbar mengangguk. "Pokonya, kalian punya kesamaan."
"Oiya? Tapi.. pasti ada yang satu hal mungkin yang beda."
"Ada lah.." Akbar memotong cepat, membuat Akmal lega untuk sesaat. "Bedanya, lo klop sama gue, kalo Adi klop sama Abang gue."
__ADS_1
"Gitu?" Akmal menggaruk tengkuknya tak gatal. Itu bahkan bukan hal yang baik ia rasa.
Akbar mengangguk, tersenyum lebar. Menikmati wajah frustasi Akmal yang entah apa sebabnya.