
Sebuah pelukan hangat memgagetkan Akmal. Agnia memeluknya dari belakang. Membuat tangannya yang semula terkepal kini mengendur hingga berganti mengelus pelan punggung tangan yang melingkar di perutnya itu. Tak tau sejak kapan Agnia terbangun, ia tak mendengar pergerakan apapun di atas ranjang.
Terdengar helaan, Agnia meletakkan kepalanya di salah satu bahu Akmal. Dengan tangan satunya beralih menepuk bahu Akmal. Bak tau jika hal itu bisa sedikit menenangkan seorang Akmal yang bergejolak. Meski Agnia tak tau, apa yang yang jadi sebab bergejolaknya hati sang suami.
Sesaat, Akmal membiarkan sentuhan Agnia menenangkannya. Hingga tak berselang lama, ia melepas pelukan itu dan menghadapkan tubuhnya pada sang istri. Wajah teduh Agnia kini tersenyum padanya. "Gak bisa tidur lagi?" tanya perempuan yang tengah mengandung anaknya itu, yang hanya dibalasnya dengan senyum tipis.
Mereka masih belajar mengenali diri masing-masing juga diri satu sama lain dalam rumah tangga ini. Semuanya berbeda setelah menikah, hingga memandang sesuatu bukan saja menurut diri sendiri namun harus memperhatikan sudut pandang pasangan. Dan untuk saat ini, Agnia yang dalam senyumannya menyimpan pertanyaan besar, enggan bertanya. Demi apa yang tak ia ketahui tentang perasaan Akmal, ia siap menunggu hingga suaminya itu mau menceritakan keluh kesahnya sendiri.
"Sini.. aku kelonin." kata Agnia, setelah tak ada jawaban sama sekali dari Akmal. Menuntun pria itu untuk kembali ke bantalnya. Akmal terkekeh saat Agnia memiringkan tubuh ke arahnya sembari menopang kepala dengan gangan, persis seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Tampaknya Agnia serius dengan kata 'kelonin yang ia ucapkan.
"Kenapa ketawa?!" tanya Agnia gemas, memanyunkan bibir Akmal dengan tangannya.
"Kelonin?" tanya Akmal dengan sisa senyum di wajahnya, berganti memiringkan tubuhnya dan meniru pose Agnia hingga mereka berhadapan.
Agnia mengangguk, tersenyum dari jarak yang sangat dekat itu. Mengecup kening Akmal singkat, lantas turun ke dua bibir merah di hadapannya. Untuk kemudian tingkahnya itu membuat dirinya tersipu sendiri, kini mengulum bibirnya.
Rona itu jelas sekali, Akmal tersenyum simpul akannya. Dari sudut manapun istrinya ini tampak sempurna. Dan rona itu menambah indah wajah manis Agnia, bagaimana bisa ia berpaling. Dan.. bagaimana tidak jika Govin mengincar istrinya ini.
"Apa?! Jangan liatin aku.." Agnia menekuk wajahnya, tak nyaman sekali dengan tatapan Akmal saat ini. Tatapan mematikan seakan siap menerkamnya kapan saja.
Akmal menahan wajah Agnia, membuat wajah itu tak menjauh dan tak bersembunyi dari pandangannya. Tak lelah memberi tatapan yang membuat istrinya tak nyaman itu. "Kata orang.. kalo punya istri cantik itu, penyebab terbesar gak bisa tidur. Aku baru tau kalo itu bener.."
Agnia mencebik, tak terpengaruh dengan pujian tipis-tipis Akmal. Manis sekali, namun ia masih harus tahan harga, itu prinsipnya. "Tidur, sayang.. tidur! Jangan banyak omong kosong."
"Omong kosong? Tapi itu pujian, istriku sayang.." kata Akmal gemas. "Mbak gak suka aku bilang cantik?"
"Su.. suka. Tapi.." Agnia menggaruk tengkuknya tak gatal. Bingung. Jika bilang tidak ia takut Akmal jadi tak bersikap manis lagi, tapi jika bilang iya.. sudah pasti habis dirinya diganggu begini.
"Tapi apa?" Akmal mendekatkan wajahnya, menyudutkan Agnia hingga berbaring di bawah kungkungannya. Wajah Agnia tak panik seperti biasanya, namun sibuk berpikir. Hal itu menggelitik Akmal, menggemaskan sekali, menikahi perempuan yang tiga tahun lebih tua darinya ini memberi kesan luar biasa. Agnia bisa bijaksana, bisa manja, bisa juga menggemaskan seperti saat ini. Tergantung situasi yang memang menyempurnakan hubungan mereka.
__ADS_1
"Emh.." Agnia mengakhiri kernyitan di dahinya, kembali menatap Akmal. "Sayang.."
"Hemh?" Akmal membelai rambut Agnia, menatap mata istrinya sekilas untuk kembali fokus memainkan rambut Agnia.
"Pernyataan yang menurut kamu pujian itu buat aku penasaran.."
"Maksudnya?"
"Iya.. aku penasaran apa kamu lebih suka wajahku, atau hatiku?"
Pertanyaan mengejutkan, Akmal kembali terkekeh. "Emh.. hati atau wajah? Aku suka semuanya. Tapi.. lebih suka dad* mu!"
"Sayang.." Agnia melotot penuh peringatan, mencubit perut Akmal. Membuat pria itu kembali tumbang ke sisi ranjangnya diiringi tawa pelan. Sebal sekali, Agnia tak mengharapkan jawaban semacam itu dari Akmal. Dan lihatlah pria yang justru tertawa setelah tanpa dosa berucap demikian.
Seperti itulah bagaimana Agnia yang berniat membuat suaminya tertidur, tapi justru berakhir membuat Akmal bangun sepanjang malam hanya untuk berbagi cerita bodoh. Lucunya kantuk mereka tiba-tiba hilang, berganti tawa renyah yang membangunkan malam dingin itu.
...
"Maaf ya, Mbak.. gak bawa apa-apa." kata Ripda, meletakan bingkisan buah ke atas meja. "Bingung aku, kalo sama orang kaya harus bawa buah tangan apa."
"Ya Allah.. Ngomongnya.."
"Becanda, Mbak.." kata Ripda, tersenyum lebar. "Pokoknya buat bumil, buah aja."
"Gak papa, lah.. Mbak yang harus minta maaf. Kamu dateng gak di kasih apa-apa, bahkan air sekali pun."
"Tenang, Mbak.." Ripda mengeluarkan tatapan jahilnya, menaik turunkan alisnya singkat. "Lagi pula.. ana shoimun. Aku puasa."
Agnia tersenyum tipis. "Bisa aja kamu. Tapi kenapa tumben.. ada hal penting?"
__ADS_1
Senyum Ripda menghilang kala ditanya begitu, berganti tatapan serius. Seakan siap menceritakan hal penting. "Mbak.. inget aku pernah ceritain segala hal soal Akmal?"
"Ya.."
"Sebenernya.. ada yang terlewat."
"Hemh? Soal apa? Ulya?"
"Iya." Ripda mengangguk. "Awalnya aku pikir gak perlu cerita soal ini, tapi.. setelah belum lama ini ada seseorang yang datang dan nanya soal Akmal.. aku ngerasa harus nyampein ini."
"Apa sih?! Seseorang siapa? Bicara yang jelas, Ripda.."
"Jadi.. Mbak.. dalam hubungan Akmal dan Ulya, ada satu orang lainnya. Dia bukan orang ketiga, tapi dia merasa dirinya begitu.." Ripda menghela, terlalu banyak hal di kepalanya hingga bingung untuk menjelaskan. "Aku rasa dia suka banget sama Ulya, orang itu paling patah hati saat Akmal dan Ulya bersama. Juga.. saat kecelakaan itu." Ripda menoleh Agnia sesaat, untuk kemudian menatap asal sembari menerawang jauh. "Dia menyalahkan Akmal atas kejadian itu. Namanya Govin, dia datang beberapa hari lalu. Nanya soal Akmal. Mbak harus ingat nama itu.. Yang aku takut.. dia datang dan nemuin Mbak. Dia.. gimana harus aku bilang?" Ripda mengernyit. "Gini Mbak.. pokoknya hati-hati, ya?"
Govin? Agnia mematung sepanjang cerita panjang lebar Ripda, kepalanya sibuk bekerja menyambungkan kisah itu bersama perubahan perangai Akmal setelah menemui teman lamanya. Apa itu Husni atau sebenarnya Govin? Tapi kenapa suaminya sampai sebegitu terpengaruh ya oleh sosok itu?
"Mbak, hati-hati ya.." kata Ripda sekali lagi. "Jangan tanya kenapa, cuma Akmal yang bisa jelasin ini sama Mbak.
Agnia mengangguk. "Makasih.. sebenernya Akmal gak pernah cerita soal ini, jadi Mbak makasih.. apapun itu Mbak pasti dengerin kamu."
Ripda mengangguk, tersenyum tipis. Masih terpengaruh dengan ceritanya lagi. Jika diceritakan memang terdengar sederhana, namun masa lalu yang terlewai itu jelas tak sederhana. Ia menyaksikan itu secara langsung.
"Oiya.." Agnia memutus lamunan Rioda. "Apa kalian punya temen yang namanya Husni?"
"Husni? Enggak." jawab Rioda cepat. "Teman SMA kan maksud Mbak?"
"Iya."
Ripda menggeleng. "Kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Ah!" Agnia tersenyum canggung, lantas menggeleng. "Siapa tau.. Mbak cuma penasaran, ada kenalan Akbar yang namanya Husni."