Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
49. King of bulshit


__ADS_3

Agnia menekuk wajahnya lima menit terakhir, menatap sebal pada Akmal yang duduk bersebrangan dengannya. Akmal tak gentar sama sekali, asik melakukan tanya jawab bersama Silmi.


"Cih!" Sebal sekali, bahkan Akmal mengabaikannya saat ini. Tak sekalipun meliriknya seperti biasa. Agnia menghela napas, mengeluarkan ponselnya. Hendak mencari kesibukan apa selain mendengar dua orang di dekatnya membual. Tidak tahu saja, demi melihat Agnia begitu Akmal tersenyum gemas. Untuk kemudian pura-pura tak memperhatikan.


Agnia mencari nama Akbar di daftar kontaknya, mengetikkan beberapa kata dengan huruf kapital.


'KAMU DALAM MASALAH!!!'


Obrolan Akmal dan Silmi makin lama makin membuat Agnia resah sendiri. Mulai bertanya kapan kalian bertemu, dimana kalian bertemu. Mulai khawatir jangan-jangan setelah ini bertanya kapan menikah.


Selang beberapa saat seorang pelayanan datang, tersenyum ramah, menyajikan makanan yang dipesankan Silmi sebenarnya.


"Silahkan.."


"Makasih, Mas.." ucap Silmi pada pelayanan di kedai itu, mie ayam dan beberapa antek-anteknya sudah tersuguh di atas meja.


"Silahkann.." Silmi mengulangi ucapan pelayan itu seraya memindahkan makanan lain ke tengah meja.


Agnia tak menunggu hingga dipersilahkan, segera mengambil sumpit, mengaduk mie ayam di mangkuknya. Mengabaikan Silmi yang sudah persis seorang ibu yang sedang memberi makan anak-anaknya. Juga Akmal yang memperhatikannya beberapa saat.


Uniknya, Silmi berhasil membuat Akmal dan Agnia duduk satu meja untuk makan, yang orang tua mereka saja belum berhasil untuk itu. Silmi memang keterlaluan, meski Agnia ingin sekali mempersingkat kebersamaannya dengan Akmal tapi berkat Silmi keinginannya gagal.


.


.


.


.


Akbar kaget saat dilihatnya pesan dari Agnia. Segera melempar ponselnya ke atas sopa. Menengok sekitar, berjaga-jaga jika Agnia sudah pulang. Helaan napas keluar dari mulutnya begitu saja, yang ditakuti belum pulang. Dia dalam masalah besar, entah akan diapakan dirinya oleh Agnia nanti. Namun disela takutnya itu, timbul penasaran. Tak berselang lama Akbar kemudian mengambil ponselnya lagi, membaca lagi pesan itu.


Khopipah yang berjalan menuju ruang tengah menjadi tertarik dengan apa yang dibaca Akbar saat ini. Mendekat.


"Ada berita apa?" tanya Khopipah, memicing ke layar ponsel Akbar.


"Allahu Akbar.. " Akbar memekik, ia yang siaga akan kedatangan Agnia, terkejut.


Khopipah mengernyit. Memukul Akbar pelan dengan bantal. "Malah teriak.." Khopipah melotot. "Ibu cuman nanya!"


Akbar nyengir. "Maaf, Bu. Spontan.."


"Dasar! Ada apa emangnya?"


"Mbak Agni, Bu.. Ngambek dia.."


Khopipah menghela pelan, dua orang ini memang tak ada habisnya. "Pasti kamu melakukan kesalahan..."


Akbar mengulum bibirnya sejenak, berpikir. Apa membiarkan dua orang saling mengenal lebih jauh termasuk kesalahan?


"Kamu ngelakuin apa?" tanya Khopipah yang beranjak duduk di sebelah anak bungsunya.


"Emh.." Akbar mengendikkan bahunya. "Gak ada. Aku cuman minta Akmal gantiin aku nganter Mbak Agni, itu aja." jawab Akmal santai, tak merasa bersalah sama sekali.


Khopipah terkekeh mendengar jawaban Akbar. "Kalo begitu, itu sama sekali bukan kesalahan."

__ADS_1


"Pinter dong, aku?" Akbar nyengir, minta dipuji ketika jawaban ibunya terasa membela.


"Pinter lah.. Anak ibu." ucap Khopipah bangga, seraya mengacak rambut Akbar.


.


.


.


.


"Emh.. Agni.. Aku duluan, ya." seperti biasa Silmi terburu-buru kala mendapat pesan dari suaminya. Segera meraih tas kecilnya.


Agnia mengangguk. "Iya. Hati-hati."


"Pasti. Kalian juga.." ucap Silmi lantas bangkit. "Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam."


Senyum Agnia spontan hilang saat beralih menatap Akmal. Pria itu tersenyum, sementara Agnia kesal dengan senyuman itu. Berani-beraninya Akmal tersenyum setelah sejak tadi mengabaikannya.


"Tinggal kita berdua?" tanya Akmal, berniat mengganggu Agnia dengan celotehannya lagi.


Agnia mendengus. "Jangan salah.. Pikirkan dirimu sendiri!" ucap Agnia, lalu bangkit. "Sampai jumpa.. Dan jangan lupa bayar semuanya."


Akmal terkekeh saja melihat kepergian Agnia. Mengerti sekali pikiran Agnia yang saat ini berniat membalas untuk mengerjainya.


"Baiklah.. Calon istri.." ucap Akmal, seraya bangkit menuju meja kasir. Sebab sudah pergi, Agnia tak sempat mendengar kata itu.


Cukup lama, Akmal keluar dari kedai itu dengan dua bungkus mie ayam. Senyum tipis kembali tersungging saat mata Akmal mendapati Agnia yang masih berada di sana, berdiri tak jauh dari motor Akmal dengan kedua lengan di depan dada.


Agnia menoleh, kedua lengannya makin erat berada di depan dada.


"Tadinya.."


"Padahal aku gak keberatan kalo Mbak ninggalin aku."


Agnia mendelik, payah sekali. Ia butuh tumpangan! Apa itu tak jelas? Bahkan biasanya Ia meminta Akbar untuk menjemput ke tempat ini.


"Saya yang keberatan."


Akmal mengangguk, dirinya dimanfaatkan sebagai supir ternyata. Parah sekali.


"Oiya Mbak, setelah ini kalo aku ajak ke rumah aku, mau gak?"


"Emh.. Ide bagus." ucap Agnia, menatap Akmal. "Tapi tidak, terimakasih."


Akmal mendengus, ia pikir setelah kata positif akan ada kalimat menyenangkan. Ternyata tidak. Apa seperti itu cara perempuan mematahkan hati?


"Emh.."


"Aaah. Kita mau pulang, atau kamu mau terus bicara?" Agnia memotong 'Emhh' Akmal yang berarti banyak hal.


Akmal tersenyum, menelan lagi pertanyaannya untuk dirinya sendiri. baiklah. Segera beranjak menuju motornya.

__ADS_1


Agnia menatap Akmal tak percaya, heran dengan kenyataan ia yang terjebak dengan pria yang lebih muda darinya ini. Padahal jika ditanya Agnia lebih suka pria yang jauh lebih tua darinya. Namun seperti itulah hidup, tak selalu tentang terwujudnya keinginan. Bahkan kebanyakan justru mengenai penerimaan diri akan takdir yang tertulis di depan mata.


Akmal kembali tersenyum, menyadari tatapan lekat dari Agnia kala hendak memberikan helm.


"Jangan senyum!" peringat Agnia. "Saya gak lagi liatin kamu.." ucapnya lagi, mengambil helm dari tangan Akmal. "Baju kamu mengganggu!"


"Baju?" Akmal spontan menunduk, melihat bagian bajunya yang mana yang mengganggu. "Mbak gak suka baju ini? Kalo gitu gak akan aku pakai lagi." ucapnya kemudian, menatap Agnia.


Agnia mencebik mendengar ucapan Akmal yang baginya sok manis itu. "Lupakan! Lagi pula itu cocok buat kamu." ucap Agnia, tersenyum tipis. "King of bulshit!"


.


.


.


.


Akbar masih berjalan-jalan santai di dalam rumahnya, meski sudah berencana untuk bersembunyi saat Agnia pulang. Hingga ketika Akbar datang dari dapur sambil bersenandung, Agnia muncul dengan wajah garangnya. Akbar pontang panting berlari menuju kamarnya, namun sempat dicengkram leher bajunya oleh Agnia.


"Mau kabur?" tanya Agnia datar, namun terdengar menyeramkan bagi Akbar.


Akbar nyengir lebar, tertangkap sudah dirinya.


"Enggak kok." Akbar menggeleng dengan senyuman tengil terpasang. "Kabur kenapa? Aku gak punya salah."


Agnia mengangguk, masih mencengkram bagian belakang baju Akbar.


"Cuma orang yang merasa salah yang memilih kabur.."


Agnia kembali mengangguk, mendengar omong kosong Akbar.


"Tapi aku enggak.."


Agnia kembali mengangguk. "Bagus. Monolognya indah."


"Terimakasih.."


"Ish.." Agnia geram sekali, Akbar justru bercanda. "Bohongin mbak seneng? Menjebak mbak seneng?"


"Itu.." Akbar menghela. "Maaf. Tapi itu bukan kebaikan, Mbak.. Itu sesederhana ketika Mbak naik ojek."


Agnia menghela napas pelan, makin mengeratkan cengkramannya. Akbar mulai lagi melantur.


"Sederhana kamu bilang?" Agnia mulai menaikkan suaranya. "Kalo gitu bagian mana yang sederhananya?"


"Udah-udah. Ini, Akbar.. Lihat siapa yang datang." Khopipah datang menengahi, membuat Akbar lega.


Akmal masuk, mengekor di belakang Khopipah. Melihat itu Agnia tak heran namun juga tak senang. Memilih melepaskan Akbar, dan sekali lagi memberi tatapan maut pada Akbar, seakan berkata. KITA LANJUTKAN NANTI! lalu pergi ke kamarnya.


"Tunggu sebentar, tante buatkan minum.."


Akmal mengangguk, tersenyum. Khopipah pergi ke dapur, Akbar yang baru lepas dari cengkraman singa betina lantas menghampiri Akmal. Duduk di seberang nya.


"Gue harap lo masih yakin setelah melihat pemandangan tadi." Akbar berucap santai, seakan tak terjadi apa-apa barusan.

__ADS_1


Akmal balas tersenyum. "Gue gak punya saudara, jadi gue gak ngalamin hal semacam itu. Tapi.. Kalian lucu.."


Akbar mendengus, lucu dia bilang. "Kalo lucu artinya harus selalu menghadapi maut, gue gak setuju."


__ADS_2