Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
51. klise?


__ADS_3

"Entah kenapa dia masih sama.. Meski aku yang dipermainkan, tapi selalu dia yang terlihat lebih kacau." lirih Agnia, diiringi helaan napas.


.


.


.


Seseorang ikut menghela pelan, mendengar lirih ucapan Agnia. Berada di sana tanpa diketahui.


Hingga saat Agnia sesaat kemudian berniat kembali, disuguhkan kehadiran Akmal.


"Sejak kapan di sini?" tanya Agnia, aneh dengan kehadiran Akmal, namun tak terkejut sama sekali. Beberapa hari ini dirinya seakan sudah terbiasa dengan Akmal.


Akmal tersenyum, senyuman yang lebih bersahabat dari biasanya. "Belum lama."


"Terus mau ngapain ke sini?"


"Jemput Mbak, lah.. Lagian Mbak juga gak ngabarin aku.. Padahal bisa aku anter.."


Agnia mengernyit. "Kamu merasa diri kamu penting? Buat apa saya ngasih tau kamu.."


"Kan latihan, Mbak.." Akmal nyengir, simulasi sebagai suami istri yang ia maksud.


"Dih! Jangan percaya diri!" ucap Agnia, seraya mengendikkan bahu lalu pergi.


Akmal tersenyum saja, kebal dengan reaksi Agnia. Malah reaksi semacam itu terkesan menggemaskan di matanya.


Akan lelah jika Agnia melarang Akmal, akhirnya Agnia hanya membiarkan Akmal sesuka hati. Masih beberapa saat sebelum pulang, kembali menghampiri para wali murid dengan senyum semringah.


.


.


.


.


Agnia akhirnya selesai, cuaca mendung membuat semua kegiatan dipersingkat. Semua pulang lebih awal. Agnia langsung teringat dengan Akmal, segera mencari dimana Akmal menunggu. Sebab pria itu tak kunjung muncul kembali.


"Bisa-bisanya tidur.." Agnia mengeluh tertahan, melihat Akmal berbaring di atas kursi panjang. Matanya memejam, napasnya beraturan.


Sesaat Agnia lihat wajah tenang Akmal, entah mengapa hal itu menimbulkan senyum tipis di wajah Agnia. Tak lama senyum itu, Agnia segera sadar, mendengus pelan melihat wajah tenang Akmal.


"Akmal.."


Yang dipanggil terusik, memicingkan matanya. Lantas mendudukan tubuhnya. Satu panggilan saja cukup untuk membangunkan.


Agnia menghela napas pelan, membiarkan Akmal yang masih mengumpulkan nyawanya.


"Kalo ngantuk harusnya tidur di rumah, bukan datang ke sini." ucap Agnia.


"Aku gak ngantuk, cuman.. Bosan. Mbak gak ngajak aku kesana."


"Mau ngapain, Mau ikut merajut? Udah, ayo pulang..."


Akmal mengangguk, bangkit. Ia sudah persis anak yang menurut perintah ibunya. Akmal menghela napas pelan, melangkah mengekor Agnia. Sama sekali bukan rencananya untuk tidur di sana.

__ADS_1


"Mbak, Mau jalan-jalan dulu gak sebelum pulang?" Akmal memulai penawarannya, ikhtiar, mata penuh semangatnya kembali. Siapa tahu ucapannya disambut baik oleh Agnia.


Agnia tersenyum, lantas menggeleng. Membuat Akmal langsung paham tanpa dijelaskan. Segera menyalakan motornya, Agnia gemas sekali, diberi hati minta jantung namanya. Diijinkan menjemput, bocah itu justru meminta hal lain.


.


.


.


.


"Zain.. Gak boleh makan permen!" Puspa memperingatkan, mengangkat telunjuknya. Di perjalanan menuju dapur sempat melihat Zain meraih sebungkus permen.


Zain kembali meletakan permen ke atas meja, patuh. Kembali sibuk pada mainannya.


"Zain.. Sini.." Akbar yang duduk bersandar nyaman di sopa, meluruskan posisi duduknya. Melambaikan tangannya.


Zain antusias bukan main ketika Akbar memengeluarkan sebuah permen dari balik sakunya. Meloncat menuju unclenya itu. Hitungan detik saja sudah bertengger di atas pangkuan Akbar.


"Cium dulu.." Akbar menarik kembali permen yang sudah Zain genggam. Zain menurut, mendaratkan kecupan di kedua pipi Akbar bergantian.


"Pinter.. Nih.." Akbar kembali mengeluarkan pernyataan tadi, dengan matanya menengok kanan kiri terlebih dahulu.


Belum tangan Zain meraih permen itu, sebuah tangan lainnya berhasil mendapatkan pernah itu. Akbar spontan menoleh ke belakang.


"Aunty punya hadiah yang lebih baik dibanding permen.. Zain mau?" Agnia dengan senyum lembutnya tiba-tiba muncul. Zain langsung mengangguk, merentangkan tangannya minta digendong.


"Dan kamu!" Agnia beralih menatap Akbar. "Gak baik mengajarkan anak-anak bersikap tak patuh di belakang orang tua.."


Akbar manyun, diam kala mendapat tatapan intimidasi dari Agnia.


"Ngapain dia disini?" Akbar kembali memasang wajah pura-pura tak tahunya, namun terlihat bodoh saja di mata Agnia.


"Memangnya dia yang mbak maksud siapa? Kamu berucap tanpa bertanya.." sindir Agnia.


Akbar tak menjawab, langsung bangkit. Ketahuan sudah jika ia yang memberitahu Akmal untuk menemui kakaknya. "Harusnya Mbak yang nemenin Akmal, kenapa aku.. Calon istrinya itu Mbak.. Bukan aku.." keluh Akbar, terus bicara. Hingga saat sadar tatapan tajam Agnia, akhirnya ciut kembali. "Maaf.."


Agnia yang menggendong Zain beranjak setelah memastikan Akbar keluar menemui Akmal. Lagi pula siapa yang menyuruh Akmal datang mengganggu harinya jika bukan Akbar. Dua orang itu.. Benar-benar mengganggu hari tenangnya.


"Mbak.." sapa Agnia, seraya mendudukkan Zain ke atas kursi. "Tunggu sebentar, ya.." ucapnya pada Zain, lalu melangkah menuju kulkas.


"Eh.. Agni.. Baru pulang, ya?" Puspa yang sedang di dapur menoleh.


"Iya Mbak.." Agnia kembali setelah mendapat sesuatu dari dalam kulkas, sejenak menoleh ke arah Puspa. "Masak banyak? Dalam rangka apa?"


"Kan katanya kamu bawa seseorang.."


Agnia langsung diam, mendengus pelan. Semua sudah direncanakan ternyata. "Itu jebakan, Mbak.."


Puspa terkeleh saja mendengar ucapan Agnia, melanjutkan kegiatannya. Sedangkan Agnia membawa satu piring berisi puding, ia letakan di depan Zain.


"Puding spesial buat Zain.." ucapnya, seraya mengambil dua sendok. Memberikan satu sendok itu untuk Zain gunakan.


Zain yang memang suka puding tak mengeluh, meski permen yang ia mau hanya digantikan dengan puding saja.


"Zain suka?"

__ADS_1


Zain mengangguk, dan jika ditanya bagian mana yang ia paling suka adalah bagian dimana dirinya menyendok sendiri puding itu.


Agnia juga ikut menikmati puding itu, menemani Zain. Belum sempat ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Ibu mana, Mbak?"


"Ada. Tadi katanya gak enak badan, istirahat kayaknya.."


Agnia mengangguk. "Yaudah, Aku bantu." ucap Agnia, melangkah menuju Puspa. Meninggalkan Zain yang anteng.


"Kok kamu bisa pergi sama Akmal?" tanya Puspa, bertanya saat Agnia berdiri di dekatnya mengambil alih beberapa tugas.


"Aku gak pergi sama dia, Mbak. dianya aja yang tiba-tiba ada di semua tempat."


"Tandanya dia serius.."


"Serius atau enggak, dia tetap menjengkelkan."


"Jangan terlalu kesel, nanti terlalu cinta." goda Puspa, tertawa renyah.


Agnia mendengus. "Klise."


"Tapi ucapan klise itu berdasarkan fakta lho, jangan sembarangan."


"Jadi itu juga yang terjadi antara Mbak sama Mas Hafidz?"


Puspa terkekeh mendengar ucapan Agnia, bisa saja membalikan ucapannya. Tapi juga mengakui, kisah seperti itu memang terjadi antaranya dan Hafidz.


Hening sejenak, semua fokus pada pekerjaan masing-masing. Agnia mengupas bawang-bawang dengan semangkuk air di sisinya supaya menghalau perih yang sering menyerang matanya. Sedangkan Puspa sedang membagi daging ayam utuh ke beberapa potong.


"Emh.. Mbak denger dari Akbar, Alisya nyekolahin anaknya di tempat kamu ngajar.. Bener?"


"Iya.."


"Kamu gak keberatan?"


"Mau keberatan pun gak berhak Mbak, itu tempat umum."


"Kalo kamu merasa gak nyaman, Mbak bisa cariin sekolah lain buat kamu. Di sekolah Zain juga bisa.."


Agnia tersenyum mendengar ucapan Puspa. Faktanya ia tak pernah kehilangan perhatian semacam ini sejak dulu.


"Apa harus?" tanya Agnia, seraya membasuh tangannya. Selesai mengupas bawang.


"Gak harus, tapi jangankan kamu.. Mbak aja kalo liat dia pasti gak habis pikir.. Pengen ngeluarin unek-unek, tapi satu sisi kita gak berhak mendikte orang lain. Apa yang mereka lakukan jadi kesalahan buat mereka tapi jadi pelajaran buat kita. Ahhh.. Mbak jadi bingung sendiri."


Agnia mengangguk, menatap Puspa. Bersandar dengan sebelah tangannya bertumpu pada meja kompor.


"Jadi gimana?"


"Gak usah lah Mbak, kehadiran dia gak akan nyakitin aku. Malah gak pantes kalo hanya karena dia aku pindah ngajar."


"Tunggu.. Mbak jadi penasaran kenapa kamu sebijak itu.. Apa karena ada Akmal?" tanya Puspa, santai tak bermaksud menggoda Agnia. "Soalnya mbak yakin jawaban kamu akan berbeda kalo belum ketemu Akmal."


Agnia mendengus sebal, obrolan ini malah berakhir pada Akmal juga.


"Bukan!" ucap Agnia setengah berteriak, membuat Puspa terkejut, sadar ucapannya yang terlalu jujur. "Kenapa juga dia tiba-tiba menjadi penting dan berarti.." sungut Agnia, lantas membuang napas gusar. "Apa sebaiknya aku pindah? Semua mendadak aneh dan menyuruh aku menikah dengan bocah itu.."

__ADS_1


Puspa menelan salivanya, menatap Agnia yang sedang bermonolog. Salah besar mulutnya menyebut nama Akmal.


Agnia memajukan bibirnya, sebal. Meski hatinya tak menafikan jika berkat Akmal lah dirinya bisa lebih percaya diri di depan Alisya. Hatinya tak berontak saat Akmal tampil sebagai calon suaminya, entah ia merasa Akmal memang orang yang tepat atau ia merasa jika Akmal menutupi kekurangannya. Tapi Akmal banyak membantu Agnia saat ini.


__ADS_2