Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
52. Ketulusan Akmal


__ADS_3

Agnia memasang wajah malas, kala Akmal menginterupsi langkahnya. Membalikkan tubuhnya menghadap Akmal.


"Aku punya permintaan, Mbak.. Mbak mau mendengar permintaan itu?"


Agnia menghela napas pelan. "Katakan.."


"Kalo Mbak memang merasa harus menolak aku, aku harap Mbak mengatakan itu dengan baik-baik.. Tanpa menyisakan rasa sakit bagi siapapun.. Maksud aku... Keluarga kita."


Agnia mendengus pelan, kalimat Akmal terdengar seperti ucapan perpisahan antara sepasang kekasih.


"Kamu harusnya mundur lebih awal jika takut dengan rasa sakit.. Cinta, hubungan, pernikahan, semua memiliki resiko yang berbeda. Dan saya sudah peringatkan kamu sebelumnya.. Jadi pergilah, selagi masih ada kesempatan.."


Akbar menghela napas pelan, kembali menatap Agnia. "Tapi anehnya aku gak merasa harus mundur, Mbak.. Dan aku tidak melihat kesungguhan ketika Mbak menyuruh aku berhenti." Akbar menjeda, tersenyum tipis. "Aku punya harapan besar di hubungan ini." tandasnya.


Agnia spontan mengalihkan pandangannya, entah apa yang terjadi. Hatinya tiba-tiba menghangat mendengar ucapan Akmal.


"Kamu.. Tunggu disini, saya panggilkan Akbar.. Dan jangan pergi kemanapun! Saya bisa kena marah karena kamu.." Agnia entah mengapa menjadi gugup, setelah mengatakan kalimatnya segera masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Akmal yang bingung.


"Apa gue salah ngomong?"


.


.


.


.


Agnia menghela napas gusar, duduk di tepi ranjang. Wajahnya tampak resah, mengusap wajahnya berkali-kali. Apa yang terjadi? Agnia tak mengerti mengapa jantungnya berdetak lebih kencang hanya karena ucapan Akmal. Hal biasa jika jatuh cinta, namun mengapa harus Akmal?


Jujur saja Agnia tak ingin membiasakan dirinya dengan Akmal, tapi kenyataannya hatinya memang mulai terbiasa dengan kehadiran Akmal. Pria sederhana itu berhasil dengan cepat mengetuk pintu hatinya. Bahkan aroma parfum Akmal terasa mengisi indra penciumannya, senyum manis Akmal juga tak henti membayang di matanya.


Agnia mengeluh tertahan, menggelengkan kepalanya. Tidak, semua itu harus hilang dari kepalanya.


"Tunggu.. Mbak jadi penasaran kenapa kamu sebijak itu.. Apa karena ada Akmal? Soalnya mbak yakin jawaban kamu akan berbeda kalo belum ketemu Akmal."


Belum lagi ucapan Puspa terdengar fakta di telinganya. Agnia hingga lupa sejak kapan malam sunyinya berakhir, juga sejak hari mana masa lalunya tak lagi merenggut ketenangannya.


Jujur saja Agnia tak ingin mengakuinya, tapi Akmal membuat hal-hal kecil menjadi tampak berharga. Perasaan itu, perasaan tenang yang pernah dulu Agnia rasakan bertahun lalu saat dirinya punya Adi dan Alisya.


Agnia menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya, sumpah demi apapun Agnia takut jika dirinya kembali jatuh cinta.


Tok.. Tok.. Tok..


Bak making tertangkap basah, Agnia panik bukan main, spontan berhambur ke bawah selimut. Antisipasi siapa yang datang ke kamarnya.


"Aunty.."


"Iya.. Iya sayang?" Agnia yang sadar dirinya heboh sendiri, langsung bangkit saat mendengar suara lembut Zain. "Sebentar.."


"Aunty tidur?" tanya Zain, saat Agnia sudah ada di hadapannya.


Agnia tersenyum, menggeleng. "Enggak.."


"Ibu bilangnya kaya gitu.. Aunty lama. Katanya tidur."


"Enggak.. Baru selesai mandi, kenapa? Ibu manggil Aunty?"

__ADS_1


Zain mengangguk cepat. "Katanya harus makan.."


"Makan? Okay.. Kalo gitu kita meluncur.."


Dert


"Sebentar.. Zain pergi duluan, Aunty nyusul."


Zain mengangguk lagi, lalu melangkah cepat. Kembali menuju meja makan. Sementara Agnia masuk lagi ke kamarnya, meraih ponselnya yang berdering di atas nakas.


Alis Agnia bertaut saat melihat no asing memanggilnya. Lantas meletakan kembali ponselnya itu. Namun hatinya bimbang, merasa harus menjawab panggilan itu. Pada akhirnya menjawab saja panggilan itu, berjaga-jaga jika memang penting.


"Halo.."


"Emh.. Bily?"


.


.


.


.


Akbar dan Akmal juga sudah dipanggil Zain untuk makan siang bersama, keduanya berjalan bersamaan menuju ruang makan sambil berbincang. Saat itu, Agnia yang terburu-buru berpapasan dengan dua sekawan itu.


Akbar mengernyit, penasaran yang terjadi. Agnia sudah berpakaian rapih siap pergi.


"Mbak!" Akbar menghentikan Agnia, menatap bingung. "Mau kemana?"


"Ada urusan penting."


"Pokoknya penting. Ya, Mbak buru-buru. Kalian makan aja.."


Akbar dan Akmal saling tatap, tak mengerti. Namun sudah merasa ada yang tidak beres.


"Boleh aku anter?"


Agnia menoleh, langkahnya sudah tiba di ambang pintu. Menatap Akmal yang menawarkan tumpangan. Kepalanya mengangguk pelan tanpa diduga.


.


.


.


.


Bily sedang duduk tak tenang di kursinya, menghadap seorang petugas berseragam.


"Kapan kakak kamu itu tiba?"


"Sebentar lagi sepertinya, Pak." ucap Bily yakin, menoleh ke arah pintu masuk beekali-kali. Hingga tak lama Wajah resahnya sedikit berbinar kala yang dinanti tiba. "Mbak.." lirihnya, malu sebenarnya oleh Agnia.


Akmal yang mengekor mengangguk ramah pada beberapa petugas yang ada di ruangan itu, matanya mengedar sejenak melihat situasi yang ada.


"Silahkan duduk.."

__ADS_1


Agnia tentu duduk, menatap Bily beberapa saat untuk kemudian menatap pria berseragam di hadapannya.


"Anda wali dari anak ini?"


"Betul, Pak.. Saya kakaknya."


"Jadi begini, Mbak.. Adik ini tertangkap di area publik pagi ini saat tim kami melakukan penyisiran. Dan yang disayangkan.. adik juga pedagang kaki lima lainnya ini masih tertangkap meski sudah beberapa kali peringatan."


Agnia mengangguk, mendengarkan.


"Oleh sebab itu, sesuai peraturan.. Adik dikenai denda. Jadi Mbak selaku wali diharuskan membayar sejumlah uang."


Mendengar kata denda diucapkan membuat Bily menundukkan kepalanya, itulah yang ia resahkan sejak tadi. Agnia menghela pelan, menatap Bily sekilas.


"Mari.. Saya antar, kita bicarakan hal lainnya di dalam.."


"Iya.." Agnia bangkit, namun sejenak dirinya mematung. Baru ingat jika dirinya tak membawa uang sepeserpun. Mengeluh tertahan.


Akmal langsung paham, tersenyum. "Biar aku, Mbak.." ucapnya. Lantas menatap petugas tinggi itu. "Mari, Pak.."


Agnia menghela napas dalam-dalam, tak habis pikir kenapa Bily bisa berakhir di kantor satpol PP. Duduk kembali di sebelah Bily, menatap anak itu penuh pertanyaan.


"Kok bisa?"


Bily ragu-ragu mengangkat kepalanya, menatap Agnia. "Aku.. Seminggu ini jualan, Mbak.." ucapnya.


"Ya.. Mbak tau. Maksud mbak, kok bisa kamu jualan? Siapa yang suruh kamu?"


"Ini kemauan aku, Mbak.."


"Buat apa?"


"Aku mau mandiri."


Agnia menggeleng, ia sangat mengenal Bily. "Bukan itu jawabannya.. Sekali lagi mbak tanya.. Buat apa?"


"Aku serius, Mbak.. Aku mau mandiri, Aku gak mau terus nyusahin Mbak Agni.."


Hening sejenak, Agnia menatap Bily. Tak lama mengangguk. "Gak mau nyusahin mbak ya.. Terus kenapa orang yang kamu hubungi itu mbak?"


Bily mendongak, membalas tatapan Agnia.


"Kalo kamu gak mau nyusahin mbak, harusnya kamu pikir sendiri cara bebas dari sini.. Kenapa menghubungi mbak?"


"Karena.. Aku gak punya siapapun." lirih Bily, kembali menundukkan kepalanya. "Cuma Mbak yang Aku ingat di situasi ini."


Agnia sekali lagi menghela napas gusar. "Kalo gitu berarti kamu harus dengerin Mbak, dong.. Mbak gak pernah nyuruh kamu kerja lho, di usia kamu saat ini.. Kamu cuma harus belajar. Kerja itu ada waktunya, tapi nanti setelah usia kamu cukup. Nanti.. setelah sekolah kamu selesai, ada tuntutan lain yang membuat kamu harus bekerja. Dan saat itu kamu gak akan bisa nolak proses itu meski gak mau.."


"Tapi.. Aku harus, Mbak.. Aku mau sekolah di tempat yang nyaman, dan aku gak mau terlalu nyusahin Mbak."


"Nyusahin? Siapa bilang? Mbak pernah bilang seperti itu?"


Bily menggeleng. "Aku denger Bu Lisda sama Bu Rika berbicara soal pengeluaran panti akhir-akhir Ini, katanya semua makin sulit, dan pengeluaran semakin membengkak. Dan Bu Lisda melarang Bu Rika untuk mengatakan itu sama Mbak, juga sama Mbak Silmi. Ibu panti tahu kalo Mbak sama Mbak Silmi pasti gak akan tinggal diam, dan itu membuat mereka gak enak." Bily menjeda, menatap Agnia. "Padahal Mbak Agni dan Mbak Silmi punya kehidupan sendiri yang juga sulit, kami gak mau terlalu membebani kalian.."


Agnia menatap lembut Bily, itu sebabnya ternyata.


"Kita.. Obrolin ini lain kali.." ucap Agnia, saat Akmal akhirnya kembali. Beralih menatap Akmal penuh terimakasih.

__ADS_1


"Kita bisa pulang.." ucap Akmal, tersenyum menatap wakah resah di hadapannya.


Sekali lagi, Akmal membantunya Di masa-masa tersulit. Seakan takdir-Nya memuluskan keterkaitan baik antara Akmal dan Agnia.


__ADS_2