Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
140. Ijab Qabul


__ADS_3

Rombongan pengantin pria tiba, Akmal turun dengan gagahnya dari mobil. Wajahnya secerah langit pagi ini, Senyumnya sehangat sambutan penuh cinta keluarga besar Agnia.


Shalawat menggema, sebagai penyambutan datangnya pengantin pria. Khopipah menanti paling depan, pun puluhan pasang mata yang bersiap dengan ponsel mereka masing-masing.


Bagi keluarga Agnia ini mengejutkan, tak ada kabar apapun kecuali undangan pada H-7 pernikahan. Hingga semua mulai menebak-nebak bagaimana sosok pria pilihan Agnia, lebih baik kah dari pria yang sebelumnya hampir menikahinya?


Kegagalan pernikahan jadi noda yang tetap terkenang di ingatan semua, apa lagi fakta bahwa gagalnya pernikahan itu sebab perselingkuhan. Membuat Agnia setiap saat jadi buah bibir di keluarga besarnya, banyak persangkaan yang tak bisa ia jelaskan berlarut begitu saja.


Tak bisa ditutupi jika mereka yang harusnya menyayangi justru paling semangat membumbui, hingga itu jadi luka tersendiri bagi Agnia. Dirinya memutuskan tak mau melibatkan keluarga besarnya selain pada hari-H.


Dan hari ini jadi pembuktian, mereka tak perlu tau apapun sebelumnya. Mereka hanya tinggal hadir dan perlu mendo'akan.


Suasana penuh haru, ketika Khopipah mengalungkan untaian melati ke leher Akmal dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya begitu bagi mereka yang tau proses dari keterpurukan yang dialami Agnia hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk membuka hatinya.


Akmal menunjukan senyum teduhnya, berharap Khopipah tau jika dirinya seseorang yang tepat. Yang akan menjaga Agnia sepenuh hati, niatnya setulus dan semurni makna yang dilambangkan untaian bunga melati. Sisanya biar Allah, yang menjagakan niat baik ini.


...


Puspa datang bersama Zain, memastikan jika Agnia siap. Sesaat masuk ke kamar Agnia, Zain yang sejak semalam tak bisa bertemu Auntynya itu langsung berhambur ke pelukan Agnia.


Hal itu sesaat mengalihkan Agnia dari debaran resahnya, tersenyum menyambut Zain yang kini melepas pelukannya dan berusaha naik ke pangkuan Agnia.


Puspa menghela, ada-ada saja anaknya ini. "Zain sini.. malu loh, sama kakaknya.. tuh diliatin!" ucapnya, mengarah pada Indri yang juga tersenyum gemas melihat Zain.


Zain menurut, berlari pada sang ibu. Tentu saja sebab kehadiran Indri, Zain langsung bersembunyi dalam pelukan Puspa.


"Deg-degan?" tanya Puspa, yang langsung diangguki Agnia.


Tak perlu ditanya, Agnia merasa dirinya lebih dari sedang gugup. Dan tak ada penyebab lain dari kegugupan Ini selain buncahan bahagia di hatinya. Sulit dipercaya, pemuda yang sempat ia tolak mentah-mentah dengan alasan lebih muda itu dalam hitungan jam atau bahkan kurang dari itu, akan jadi suaminya.


Setelah ini mereka akan bersama dalam satu atap, saling berbagi segala hal. Menua bersama, dan jangan pikirkan soal perpisahan.

__ADS_1


Perasaan ini menakjubkan, semua tentu merasakan itu. Getaran demikian jadi kesan berbeda yang mengharukan, hingga ingin rasanya secepat mungkin mengakhiri saat ini. Secepat mungkin sah, secepat mungkin perasaan tak menentu ini berakhir.


.


.


.


Sambutan yang terasa lama itu sudah berakhir, tamu yang datang untuk menyaksikan pernikahan itu juga sudah tak sabaran ingin melihat bintang dalam acara ini, yakni pengantin wanita. Begitu juga Akmal. Ia tak bisa menafikan jika merindukan Agnia. Dua orang itu sudah sejak satu bulan kemarin tak dipertemukan, kecuali sekali untuk mengurus perintilan pernikahan.


Akmal duduk di kursinya dengan wajah semakin tegang. Ditemani penghulu, dua saksi yang salah satunya adalah Hafidz, juga Fauzan. Sepanjang mendengar serah terima yang diperdengarkan dua belah pihak keluarga besar, Akmal hanya sibuk dengan dirinya dan kegugupannya.


Ini saatnya, ijab qobul yang jadi penentu sesaat lagi dilaksanakan. Akmal melirik ke arah tangga tak sabaran, menunggu Agnia turun dan duduk di sebelahnya.


Zain berjalan paling depan, diikuti Agnia yang menuruni tangga didampingi Bridesmaids nya. Puspa juga Yesa setia mendampingi, menuntun sang pengantin wanita untuk duduk di kursinya.


Tatapan semua terkunci pada sosok anggun Agnia dalam balutan baju pengantin khas sunda, anggun dan manis. Yang semula cantik dipoles lebih cantik, membuat semua sibuk berbisik. "Pangling, ya.."


Perasaan macam apa ini? Gugupnya terganti dengan buncahan bahagia. Akmal menyungging senyum lama, dirinya amat bahagia. Dan tak bisa menutupi itu, dengan ini dirinya jadi sosok paling bahagia dalam acara ini dan memang seharusnya.


Semua tau arti senyum di wajah Akmal, termasuk Asma sebagai pengagum lama si pengantin pria. Melihat itu bibirnya spontan mencebik, melihat senyum bahagia Akmal mencubit hatinya sedikit.


Qori menyadari itu, spontan menoleh dan menepuk bahu Asma pelan sembari tersenyum miring. "Tenang aja, ada gantinya.." bisiknya sembari menunjuk Akbar yang duduk tak jauh dari mereka.


Asma tak bergeming, balas mencebikkan bibirnya lagi dan kali ini ditujukan pada Qori. Mimik wajahnya menunjuk ke arah pengantin, menyuruh Qori untuk fokus saja pada dua orang disana dan bukan padanya.


Satu frekuensi, Fiki yang tak bisa dipercaya itu kini menggeleng takjub dan sengaja berdecak kagum menarik perhatian Akbar. Ardi di sebelahnya segera menoleh, begitupun Akbar. "Kayak lirik lagu, ya.." ujarnya menggantung. "Harusnya aku yang disana." tandasnya dengan wajah serius yang memantik kekehan dari Ardi.


Akbar mendengus pelan, setelah mengarahkan sorot tajamnya pada Fiki, pemuda itu kembali mengalihkan pandangannya pada akad yang sudah akan dimulai. Lupakan saja tentang Fiki, bocah itu memang gila.


...

__ADS_1


Situasi berubah mendebarkan, kala Fauzan mengucap basmalah dan mulai melafalkan ijab sembari menjabat tangan Akmal dengan erat.


"Ananda Muhammad Akmal Abdullah Sidiq bin Sidiq, saya nikahkan kamu pada putri saya Zihan Agnia Nur Fauzan binti Fauzan.. dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas 47 gram, tunai."


Yesa yang berdiri memegang ponsel sambil merekam, tanpa sadar menahan napas. Ini lah saat paling mendebarkan, namun melihat calon kakak iparnya yang tampak serius itu, Yesa menaruh percaya.


"Saya terima nikahnya, Zihan Agnia Nur Fauzan binti Fauzan.. dengan maskawin terebut, dibayar tunai."


Dalam satu tarikan napas qobul terucap, sempurna lah ijab qobul. Akmal spontan menoleh penghulu yang kini bertanya pada saksi.


"SAH!" Serempak semua berucap, itu membuat Yesa kembali menghela lega.


Haru sekali rasanya, Akmal tak bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini. Ia tak sendiri lagi kini, dirinya bisa dengan bangga mengenalkan dirinya sebagai suami Agnia. Senyum tak kunjung usai, saat do'a diucapkan ia mengaminkan dengan mata berkaca-kaca.


Jangan tanya soal Agnia, ia seketika merasakan detak jantungnya bak melompat hebat. Bulir air mata menetes di pipinya, tangis haru yang mengungkapkan segalanya.


Akmal berhasil menjadikannya sebagai seorang istri, menyadari sang ayah yang menyerahkan segala penjagaan dirinya pada Akmal membuat hatinya terenyuh. Namun ini perjalanan, semua wanita mengalami keharuan yang sama pada waktunya.


"Barakallahhu laka wabaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fil Khair."


Hati bergetar, seluruh tanggung jawab berubah hanya dalam hitungan detik. Akmal jadi seseorang yang harus ia hormati, patuhnya juga berganti pada pria itu.


Akbar turut dilanda haru, yang semula ia sembunyikan kini jelas di wajahnya. Fiki yang melihat itu terbit rasa untuk mengganggu. Menyikut pelan lengan Akbar sembari menyeringai lebar. "Apa gue bilang? Sebelum wisuda Akmal pasti beristri."


Akbar memalingkan wajahnya sesaat, tak mau memperlihatkan raut sedihnya. Fiki bisa salah paham, dia tak tau posisinya dan takkan mengerti perasaannya sebagai adik yang melihat kakak perempuan kesayangannya menikah. Berdasar proses yang ia lihat, bahkan semua orang tak kan paham meski dijelaskan.


"Ih.. sedih dia!" sindir Fiki dengan kekehan.


"Enggak!" ucap Akbar tegas, meluruskan punggungnya.


"Gak papa, nangis aja.." ujar Fiki sembari menepuk bahunya. "Ada ini, bahu gue.."

__ADS_1


__ADS_2