
Aroma daging yang dipanggang menyebar, menyentuh lembut hidung untuk kemudian menguap ke angkasa. Di halaman atap rumah Fauzan yang luas, kini semua berkumpul.
Demi keinginan Yesa setelah pulang dari rumah Hafidz mereka menyempatkan diri pergi ke swalayan. Yesa ingin sekali barbeque-an. Memanfaatkan dana yang disediakan ayahnya, ia ngotot sekali membeli banyak daging juga bumbu yang dibutuhkan demi terwujudnya keinginan hati.
Agnia dan Yesa jadi operator memanggang. Akbar, seperti biasa bolak-balik mengganggu. Membual tak jelas untuk kemudian sama sekali tidak membantu, hanya sibuk memotret sana sini dengan ponsel Yesa. Yang entah hasilnya bagus atau tidak, Yesa meragukan sepupunya itu.
Malam itu angin berhembus lembut, namun cukup untuk membuat tubuh menggigil dan membawa pergi aroma menggoda dari panggangan.
Para tetua duduk bersama, berbincang sambil melingkari meja panjang yang sudah disusunkan piring juga gelas masing-masing. Satu teko es jeruk jadi pelengkap, Akbar bahkan sudah meneguk satu gelas habis.
Hingga akhirnya Agnia dan Yesa selesai dan membawa hasil panggangan mereka ke atas meja. Mulai dari jagung bakar, sosis, bakso, hingga menu utama steak ala-ala rumahan buatan Yesa.
Semua langsung larut dalam kehangatan lainnya, berbincang banyak hal sembari menyantap hidangan di depan mereka. Ya, hari-hari ini rumah Fauzan diisi kebahagiaan. Selepas lamaran yang cukup mengejutkan semua, hingga malam ini yang ditemani bintang dan sinar temaram bulan.
...
Malam penuh tawa itu berakhir, baik Agnia juga Yesa lelah sekali. Namun memilih tetap di halaman sana, demi merasakan lagi hembusan pelan angin yang memabukkan. Hembusan lembut yang seakan siap menghempas keluh kesah yang menimpa diri.
Dua cangkir kopi menjadi teman malam itu, menghangatkan tubuh disela dingin angin, juga penyempurna semua yang sudah masuk ke dalam perut.
kepulan asapnya nyaman sekali masuk ke dalam hidung, mencipta rileks dengan sedikit rasa pahit yang membuat candu.
Sepasang saudara sepupu itu duduk bersebelahan, duduk tepat di depan pagar kaca sambil bersila diatas kursi portable. Pagar kaca itu langsung menyuguhkan pemandangan kota dari atas sana, cantik meski jika dilihat siang hari akan biasa saja. Kelap-kelip lampu sepanjang jalan, juga diperumahan padat penduduk memang tampak menakjubkan jika dilihat malam hari.
Rasanya perjalanan kali ini tak sia-sia, Yesa dibuat ingin memekik keras akannya. Dua hari ini ia mencoba banyak hal dan pergi ke beberaoa tempat bersama Agnia. Tak ada sesal meski singkat dan besok sudah harus kembali ke kotanya.
Terima kasih pada Agnia yang membuat semua ini terasa lebih baik, sebab ada perbedaan besar pada Agnia. Semula kakak sepupunya itu tak pernah mau jika diminta menemaninya, yang membuat hari-hari berkunjungnya ke tempat ini selalu hambar. Agnia selalu sibuk dengan urusannya, mengajar lah, ikut kajian lah, ke panti.. untuk sekejap hal itu membuatnya merasa tak dianggap. Namun lihatlah hari ini..
"Mbak.."
"Hemh?" Agnia bergumam sembari matanya tak beralih dari pemandangan favoritnya itu.
Yesa menghadapkan tubuhnya pada Agnia, siap bercerita panjang lebar. "Nyadar gak?"
Agnia menggeleng, sekilas menoleh dengan tawa kecil. "Enggak, soal apa?"
"Mbak itu berubah tau.."
Agnia terkekeh, lihatlah wajah serius Yesa saat berkata demikian. "Berubah apanya? Jadi lebih tua?"
"Ih!" Yesa balas menatap heran, padahal ia serius. "Kalo itu jelas, aku juga makin tua.. tapi gini lho.. dulu Mbak itu sering sibuk, gak pernah mau jalan sama aku kalo aku kesini. Sibuk di kamar aja kerjanya, tapi sekarang.."
"Dari pada sebut ibu berubah, Mbak lebih suka bilang.. kalo Mbak kembali ke diri Mbak sebelumnya.." potong Agnia, menunggu Yesa bicara hanya akan membongkar aibnya saja.
"Ah!" Yesa mengangguk, memang benar. "Iya yah, terus tiga tahun ke belakang Mbak yang ini kemana aja!" ujarnya, dengan tawa lebar.
Agnia mengangkat bahunya pelan, tangannya terulur mengambil gelas kopinya. Menyeruput cairan pekat itu perlahan. Selama hampir empat tahun bahkan dirinya jadi sosok yang berbeda. Namun itu tak bisa disalahkan sama sekali, itu murni reaksi sesuai keadaan hatinya. Dan sekarang semuanya sudah membaik, hingga perlahan dirinya yang semula kembali.
Diri yang bisa bahagia, bisa juga sedih, bisa marah, bisa juga baik. Diri yang bisa menghargai tiap proses itu dengan baik.
Tak ada paksaan atau kepura-puraan, hari ini tak ada ketakutan untuk mengenal dan berbaur dengan orang lain. Meski hidup tak menjanjikan kebahagiaan kedepannya, namun setelah hari ini Agnia berjanji akan semakin kuat dan bijaksana.
Sesaat Yesa memperhatikan wajah Agnia yang seakan menerawang jauh, bibirnya ikut tersungging tinggi. Pikiran bodoh terlintas di kepalanya. "Kayaknya kekuatan berondong itu beda, ya Mbak.." katanya dengan seringai lebar.
"Hemh?" Agnia mengernyit, jin menatap Yesa bingung. Berharap yang ia dengar itu salah.
Yesa nyengir, menggelengkan kepalanya pelan. "Mbak harus liat senyum Mbak sendiri, sekarang.. lebih cerah dibanding waktu dulu diwisuda."
"Waktu itu masih hangat-hangatnya kabar kegagalan pernikahan mbak, menurut kamu mbak bakal bisa senyum gitu aja di depan teman-teman mbak?" tanya Agnia, untuk kemudian mendesah pelan. Kembali menerawang ke masa lalunya itu. "Rasa malu mengalahkan kebahagiaan jadi wisudawati terbaik.. sebab yang saat itu terdengar hanya bisikan semua tentang gagalnya pernikahan Mbak."
Yesa mendengarkan, ia paham bagaimana sulitnya saat itu. Dirinya sendiri yang jadi saksi, jangankan orang lain. Beberapa kerabat saja ada yang menggunjing, mengemukakan pendapat yang menyakitkan dan bukan diam demi kebaikan. Yesa ikut menghela dalam, kesulitan itu disebabkan dua orang yang tega sekali. Tak tau bagaimana kabar dua orang itu..
__ADS_1
"Oiya, Mbak.. dua orang itu.. Mbak tau kabar mereka?"
Agnia mengakhiri sesi menerawangnya, balas menoleh Yesa untuk kemudian mengangguk. "Mereka nikah, bahkan udah punya anak."
"Seriusan?"
"Iya.. kenapa? Alur yang mengejutkan?"
"Itu gak mengejutkan, tapi.. buat aku itu menyedihkan.. bisa-bisanya mereka sama-sama setelah mematahkan hati seseorang.." ujar Yesa sebal.
"Ya gitu.. awalnya Mbak ngerasa getir. Timbul satu pertanyaan.. saat mereka saja bahagia kenapa Mbak sendiri yang terjebak masa lalu? Tapi sekarang gak masalah, keberadaan mereka gak lagi jadi keluhan.." terang Agnia seraya tersenyum.
Untuk sesaat Yesa takjub, perubahan seperti inilah yang dinanti semua. Saat kisah lalu itu tak lagi mengganggu masa kini mereka. "Emh.. kekuatan berondong memang dahsyat..." celetuknya kemudian, sembari tersenyum lebar.
Agnia mendengus sebal, sudah dua kali Yesa mengungkit soal berondong. Sengaja sekali sepertinya. "Jangan bahas berondong! Kamu sengaja menyinggung mbak?"
"He.. be-can-da, Mbak.." Yesa memasang senyum dengan mata menyipit andalannya. Toh ucapannya asal saja, mengetes apa Agnia akan marah sebab ini. Dan ternyata memang iya.
"Tapi aku serius, lho.."
"Apa sekarang?"
"Aku takjub gimana dia bisa membawa Mbak Agni jadi merasa lebih baik." jawab Yesa jujur. "Emh.. kira-kira apa yang dia punya?" Yesa bertanya dengan antusias, sembari mengikis jarak menuju Agnia. "Apa dia spesial?"
Agnia bergeser, tak nyaman dengan tatapan menuntuk Yesa. Ia lantas mengendikkan bahunya, tak mau menjawab pertanyaan seperti itu. Mengakui jika ia sudah dilamar saja sudah menciptakan rona merah di pipinya, apa lagi jika harus menjelaskan pandangannya tentang Akmal.
"Ish! Ayo lah Mbak.." mulai lagi, Yesa mengeluarkan jurus renggekannya. Yang ditanggapi gelengan cepat Agnia.
"Apa itu penting?" tanya Agnia, spontan membuat Yesa kecewa dan wajahnya tertekuk sempurna. "Pokoknya kamu cuma perlu tau kalo Mbak bahagia, itu aja. Selebihnya jangan kepo! Pamali budak mah ulah nyaho.."
Yesa mencebik. "Iya deh, bocah mah gak boleh tau. Hemh. Padahal dianyaa malu-malu.."
"Enggak.."
Agnia teguh, tak tertarik tergoda untuk tersenyum sebab ledekan Yesa. Memalingkan wajahnya ke depan, dengan tangan menggenggam secangkir kopi yang mulai dingin itu.
Salah tingkah? Enak saja. Tak ada sejarahnya Agnia begitu. Bahkan saat bersama Adi, mereka tidak disatukan sebagai pasangan yang menggemaskan melainkan pasangan yang sama-sama bersikap dewasa. Dan mungkin itu yang membuat Adi berpaling, jika dipikirkan lagi Alisya memang punya karakter manja tak seperti dirinya.
Ah! Apa sikap manja wajib dimiliki dalam sebuah hubungan?
...
Meja makan ramai isinya, berjejer menu sarapan yang dibuat spesial sebab Nenek, Paman, bibi, juga Yesa akan kembali ke Tasikmalaya. Hari ini juga.
Beberapa kantong belanjaan sudah menunggu di teras tinggal dimasukkan ke dalam mobil, itu oleh-oleh yang akan dibawa untuk sanak saudara disana.
Hening tercipta. Hanya suara sendok beradu piring yang terdengar, juga sekali Akbar iseng saja nyeletuk. Menghentikan gerakan tangannya, dan senyum dengan percaya diri. "Apa kita lagi makan di kuburan? Kenapa semua mendadak jadi pendiam?'
Celetukan itu tak direspon baik, termasuk Agnia yanng melotot memberi isyarat untuk diam. Berusaha memberitahu jika itu tidak lucu, dan tidak menyenangkan untuk didengar.
Akbar mendengus sebal, entah semua mabok daging atau mabok angin sebab acara semalam tapi mereka tak menyenangkan dan aneh sekali.
Anehnya hening itu seketika berakhir setelah semua selesai dengan sarapannya, dimulai dengan Yesa yang minta diambilkan apel. Setelah itu semua kembali berbincang seperti niasa. Sesaat Akbar mengernyit, lihatlah semua yang kini mulai terlihat normal. Hal itu membuatnya merasa menjadi satu-satunya yang aneh disana. Sepertinya mereka memang sengaja.
Akbar mengakhiri sarapannya dengan meneguk habis segelas air, baru setelah itu menoleh Agnia. "Mbak, aku berangkat pagi hari ini. Gak papa gak aku anter?"
Agnia yang baru saja berdiri, menumpuk piring bekas semua di dekatnya untuk dibawa ke bak cuci piring. Sejenak ia mengangkat bahunya, membalas tatapan Akbar. "Gak papa, lagi pula gak perlu tanya. Biasanya juga kalo pergi kamu gak pernah ngomong dulu."
Akbar mencebik, itulah kenapa ia tak suka jadi adik yang baik. Sekalinya bersikap sesuai aturan pasti ditanggapi begitu, Ah! Harus sabar.. lihatlah senyum Agnia yang sengaja menjawab begitu, belum lagi Yesa yang puas dengan itu.
"Yaudah.." Akbar tak mau kalah, juga mengendikkan bahunya. "Emh.. mau titip salam gak?"
__ADS_1
"Titip salam sama siapa?" tanya Agnia spontan, sembari meneruskan pekerjannya.
"Yeh! Sama calon suami Mbak, lah.. siapa lagi." jawab Akbar diiringi seringai lebar, bodoh sekali kakaknya itu menanggapi pertanyannya.
Hal itu membuat semua di meja makan menoleh ke arah yang sama, Agnia hanya bisa membalas menatap tajam Akbar. Bahkan Yesa yang biasanya tak akur dengan Akbar dan selalu duduk menjauh darinya kini jadi yang paling mendukung, tersenyum melihat reaksi Agnia.
Yang lainnya hanya mesem, ingin ikut menggoda tapi takut-takut sebab mengantisipasi reaksi Agnia.
Sudahlah, Agnia memilih tak menanggapi dan tak mengurungkan tujuannya menuju dapur. Sadar saja, sebagai calon pengantin ledekan seperti itu sesuatu yang biasa. Jika tak bisa menanggapi dengan canda lagi maka lebih baik abikan saja, atau semua akan tau jika ia salah tingkah setiap membahas tentang Akmal.
Seperginya Agnia, Yesa terkekeh sembari inisiatif menyodorkan tangannya untuk tos ke arah Akbar.
Akbar tersenyum bangga, menyambut telapak tangan Yesa. Dan itu menjadi perhatian khusus bagi Khopipah. "Kalian ngapain?"
.
.
.
.
Pelukan hangat didapat Agnia dari sang nenek, lebih lama dari pelukan untuk yang lainnya. Juga ciuman hangat di dahi. Akbar di sebelah mereka hanya bisa menatap iri, cukup lama menunggu hingga akhirnya mendecak. "Udah, Mbak.. giliran aku.."
Agnia menghela, lantas tersenyum. Setelah melepas pelukannya dari sang nenek ia langsung bergeser. Memberi tempat untuk Akbar yang kini berlagak ngambek, tak berubah sejak mereka kecil dulu.
"Nenek lebih suka aku, atau Mbak Agni?" Akbar bertanya seraya tangannya terlipat di depan dada, membuat sang nenek tersenyum kecil sembari mencubit gemas pipi Akbar. Cucunya yang satu ini memang paling manja, selalu bersikap manis padanya. Tak seperti Hafidz yang lebih cuek.
"Lebih suka aku atau Mbak Agni?" ulang Akbar.
"Lebih suka Akbar."
"Aku atau Yesa?"
"Akbar.."
"Aku nomor berapa?"
"Satu."
"Okay." Akbar mengakhiri aksi kekanak-kanakanya, tangannya terbuka memeluk sang nenek. Memang selalu begitu, sejak kecil Akbar yang cemburuan selalu mengajukan pertanyaan begitu. Bahkan kali ini menatap Yesa dengan sombongnya, seakan berusaha memberi tahu jika ia yang menang.
Melihat itu mencebik Yesa hanya mencebik, merotasikan bola matanya. "Dasar pemaksa!" cibirnya.
Akbar tak peduli, beda dengan Agnia yang diberi ciuman hangat kini Akbar lah yang memberi ciuman hangat itu pada sang nenek.
"Udah, sekarang giliran ibu.." Khopipah menginterupsi, meniru ucapan Akbar tadi.
Perpisahan itu sedikit membuat Agnia sedih, baru dua malam padahal. Ia baru sekali terbiasa dengan Yesa, dan justru harus berpisah. Sayangnya jarak Jakarta—Tasikmalaya cukup jauh untuk mereka sering bertemu.
Yesa tersenyum, menepuk punggung Agnia sekilas. "Sering-sering telpon aku, ya.." ucapnya.
"Emh.." Agnia menggeleng. "Kamu ngaji aja yang bener, jangan minta Mbak telpon."
"Alasan.. bilang aja gak mau nelpon.." sindir Yesa, dibalas senyum Agnia.
"Mbak sibuk, Yesa.."
"Awas aja kalo udah nikah nanti malah jauh sama aku!" cicit Yesa, yang langsung menghasilkan sikutan dari ibunya. Menegur dengan tatapannya.
"Jangan dengerin, Agni.. Hemh? Yang penting kamu bahagia. Dan.. sering-sering telpon bibi, nanti kita kajian pra nikah."
__ADS_1
"Hih, Mama.." Yesa menoleh tak percaya, pikirnya teguran itu supaya ia tak mengganggu kakak sepupunya ternyata memang mamanya juga mau lebih dekat dengan Agnia.
Agnia tersenyum, mengangguk. Sepasang ibu dan anak itu ternyata sama saja, ingin sekali seperti ya untuk di telpon. "Iya, Bi. Pasti."